Tuesday, December 5, 2017

Egosinergi

Kemarin, duduk sejenak bersama beberapa teman, pekerja proyek. Mendiskusikan bagaimana isu unit pengelola hutan di Kaltim ini dapat menjadi optimal.  Jangan mikir negatif dengan kata “proyek”.  Saya sebut sebagai “proyek”, karena sesungguhnya kegiatan-kegiatan itu adalah proyek. Dilaksanakan karena melalui proses penawaran, atau pengajuan proposal. Jadi, kata “proyek” disini tak usahlah dikonotasikan negatif. Karena yang penting nanti bagaimana kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan. Kemana orientasinya, siapa penikmat hasilnya.

Proyek-proyek ini, sebut sajalah: Forclime, GGGI, Belantara, TNC (kemarin sih yang hadir ya empat ini, tambahan lainnya bisa saya sebutin aja: WWF dan proyek-proyek para NGO macam BUMI, BIOMA, KBCF, dan banyak lah) sesungguhnya mendukung hal yang sama. Menyasar tujuan yang sama, yaitu kemampuan unit pengelola hutan (dan lingkungan, dan sumberdaya alam) yang kuat.  
Sayangnya, target-target dari setiap proyek itu, berbeda durasi dan jumlah uang yang dapat digelontorkan (dan dikelola). Belum lagi interest di dalam masing-masing keproyekan. Ini perkara gampang-gampang susah.

Buat saya, pemain bebas ini, yang memungkinkan main dimana-mana ini, yang paling penting adalah sinergi mereka. Tidak sulit sebenernya. Karena toh semua kawan-kawan sendiri, tinggal say hello, semua bisa bertemu. Toh rata-rata saling paham tentang proyek mana punya program apa, dimana area kerjanya, siapa mitranya, berapa dana tersedia.  Simpel sih.

Lalu apa yang membuat seringnya proyek-proyek ini saling balap di tikungan? atau saling menelikung?
Menurut saya sih, ini perkara keengganan untuk duduk bersama dan saling mendengarkan saja.  Dengan dalih sibuk, kejar target, jadwal penuh, maka sarapan nasi kuning bersama, saling berbagi rencana, lalu bersinergi, menjadi barang langka.  Justru yang sering adalah masing-masing proyek makan pagi bersama, tim yang sama, bicara isu yang sama, dan bikin rencana-rencana yang sudah ada dalam perencanaan sebelumnya. Perilaku yang aneh :D

Kecurigaan saya lainnya, ini perkara ego saja. Dan yang bemain adalah ego pribadi saja. Soal sentimen-sentimen kecil yang membercak di hati masing-masing pekerja proyek itu. (tau lah aku, kalau yang beginian ditanya terbuka, gak bakalan diakui, lalu beralasan pakai ribuan bab, chapter, pasal dan pengingkaran, haha).

Situasi yang semacam gunung es ini, yang punya potensi laten ini, sesekali harus dipecahkan.  Cara tergampang sih habisi duitnya. Alias, tunggu durasi proyeknya habis, duit habis, lalu yakinlah, akan ada sinergi. Lha kan gak bisa bikin apa-apa. :D

Cara yang elegan (dan rasanya bener) adalah membuat semua proyek bisa saling berkomunikasi dalam sinergi. Kuncinya sih pada komunikasi. Iya, komunikasi.  Bagaimana agar semua proyek itu bisa sharing rencana, sharing resources, sharing pelaksanaan.
Tugas ini harusnya dilakukan oleh representasi pemerintah sih. Sebagai pemegang otorita atas program-program yang berjalan di wilayahnya. Pada isu lingkungan, sumberdaya alam dan perubahan iklim, di Kalimantan Timur ini, sepertinya fungsi itu dimandatkan pada satu unit kerja yang disebut dengan DDPI itu. Ya, kepanjangan singkatan itu  adalah Dewan Daerah Perubahan Iklim. Sebuah unit kerja non struktural di Kaltim yang diberi kewenangan koordinasi pada isu itu. Tidak untuk mengambil alih fungsi OPD yang ada, tetapi untuk melengkapi. Kira-kira begitu teorinya.

Fungsi unik dari DDPI dalam hal melakukan koordinasi kerja-kerja keproyekan pada isu tadi (lebih banyak pada isu perubahan iklim, tapi melebar juga pada isu pengelolaan kawasan dan peran masyarakat) harusnya bisa dilakukan dengan obyektif. Ini perkara gampang yang sulit :D.
Agak cilakanya, DDPI ini perlahan tidak lagi mendapat pembiayaan dari pemerintah.  Peraturan tidak memungkinkan. 
Artinya, ia harus membiayai dirinya sendiri, untuk kerja yang dilakukan atas nama pemerintah Kaltim. Tak masalah sih, toh pembiayaan dari beberapa donor masih memungkinkan.  Singkatnya, dari beberapa proyek yang ada, bisalah satu-dua memberikan support langsung pada unit ini.
Cilaka kedua, pertanyaan generik saja, apakah DDPI dapat berlaku obyektif bin adil dalam melakukan koordinasi semua proyek yang ada, sedangkan pada saat yang sama ia sedang menerima support dari satu proyek?

So, gimana sentimen proyek, ego pribadi dan potensi ketidakmampuan DDPI berlaku obyekif ini berpengaruh terhadap upaya pencapaian tujuan pengelolaan hutan (dan lingkungan, dan isu perubahan iklim, dan penguatan masyarakat)? Faktualnya apa yang terjadi? Lalu apa yang harus dilakukan bersama segera?

Saya sih bukan evaluator, dan tidak sedang melakukan evaluasi terhadap kerja-kerja proyek beraroma perubahan iklim di Kaltim.  Saya ini sedang menuliskan apa yang ada di kepala saja.  Kalau anda tidak setuju ya ndak apa-apa. Kalau anda setuju, ya juga ndak apa-apa. Gak ngaruh buat proses ketombean di kepala botak saya ini.

Kayaknya sih, ini perlu apa yang disebut sebagai EGOSINERGI. Yaitu sinergi berbasis ego. :D
Apa itu? Ntar lah, kalau ada waktu saya tuliskan lagi. Dikira enak apa nulis ginian? :D

(Lalu tetiba teringat email masuk semalam, minta menghasilkan output tentang ceruk peningkatan kapasitas pengelola hutan. Kontrak belum, deal apa-apa juga belum. Perilakunya mirip-mirip proyek sebelumnya sepertinya. Bagus ditinggalkan aja kayaknya :D. Lalu pusing bayar cicilan kebun yang sudah lama ndak ditengok. Halaaaaah!)

[ lepas subuh ]

Thursday, November 30, 2017

tenggelam

tetiba ingin menulis saja.
tentang pekerjaan-pekerjaan,
tentang moment-moment.

bersyukur ada jadwal menunggu,
dengan begitu ada karya 
yang bisa melaju.

dari dokumen, sampai nasihat.
dari sakramen, sampai hianat.
kompleks sekali pekerjaan ini.

dari dedikasi tinggi
sampai tipu sana-sini
hingga enggan tersaingi
tidak aneh memang perilaku.
dari dulu, tak lewati batas maju.

bagus memang tak perlu pikirkan,
akan mendaki atau menghujam,
tak usah dipikirkan.
kecuali satu saja, yang harus aman.
yang harus sukses. 

mari tenggelam saja
dalam tumpukan dokumen,
tumpukan konsep,
atau mulai berada di belakang
seorang teman yang memulai
langkah politik.

mari tenggelam saja,
dan tak perlu muncul kembali.

bisa jadi.

[ ]

Monday, November 27, 2017

Yayasan Bumi

Baru saja selesai membantu berkumpulnya para pegiat Yayasan BUMI.  Judulnya sih menyusun renstra.  Sesuatu yang banyak orang fasih menyebutkannya.
  
Organisasi ini dibackup oleh orang-orang yang paham tentang seluk beluk perencanaan pengelolaan sumberdaya alam disini.  Punya keahlian spesifik, dan tidak punya interest terhadap sentimen politik.

Senang melihat semangat dan energi baru, yang melihat ke depan, dan bicara tentang optimisme.  Senang melihat mereka masih punya harapan besar terhadap sempurnanya planet ini dikelola.

Sebenarnya, saya tidak membantu apa-apa.  Karena mereka sudah punya semua gagasan itu.  Saya hanya memfasilitasi proses bertemu saja.  Bahkan tidak pula merasa membantu menemukan apa yang diinginkan.  Saya menyediakan suasana saja, supaya mereka nyaman saling bertukar gagasan.

Selamat berkarya, kawan-kawan Yayasan BUMI.  Semoga suasana yang saya sediakan, turut membantu kalian semua meraih apa yang dicitakan.

Organisasi itu bernama Yayasan BUMI.


[Pantai Mentari Compound, Balikpapan. 24-26 Nov 2017.]
[Hari dimana dimulainya langkah baru, untuk kebaikan semua]

Thursday, November 23, 2017

mau kemana?

teman makan teman
itu biasa dalam politik.
kalau project makan project,
itu juga biasa dalam 
perebutan kepeng.

tapi kalau tak ada kepeng
yang perlu diperebutkan,
karena kepeng sudah ada 
di tangan,
maka peperangan berikutnya
ada pada soal klaim hasil,
dan perkelahian durasi
dan lokasi eksekusi.

kalau sedang duduk bersama,
saling tersenyum,
tetapi juga terlihat saling 
menyiapkan amunisi.
saling memaki juga.
saling telikung di punggung juga.

seperti sedang diadu kambing
(domba mahal, kambing saja)
oleh kepentingan 
yang harusnya diperangi.

sebenarnya semua ini
mau kemana?

sekedar bertanya saja,
karena pelan tapi pasti,
tiba waktunya,
memilih menyiangi rumput,
menunggu pohon berbuah,
tanpa hiruk pikuk.

(lalu ingat
cicilan kebun
masih lama
lunasnya, 
sialan!)

[ ]

kantor itu #2

kantor kecil itu,
dengan energy
yang harusnya luar biasa,
rupanya sedang dalam masa
dimana pilihan cuma dua,
maju terus, atau tergerus.

potensinya sungguh menjulang,
yang diperlukan adalah 
kerjasama dan ritme yang 
tak merenggang.

gap itu terlalu jauh,
harus ada ruang untuk
mewarnai,
dan menjadikan
energy tersembunyi
mengisi ruang itu,
lalu menghapus semua
jarak, buang kerak.

aku hanya membantu,
berproses tanpa bereaksi.
itu bagian dari fasilitasi.
apa untungnya?
melihat semangat itu,
melihat laju progress itu,
cukup sudah.
tak perlu yang tersurat.
tak butuh kalimat-kalimat.

penolakan pada ide
dan usulan di luar kotak,
itu biasa. 
karena kotak memang
menutup mata kita
dari apa yang sedang 
bergejolak.
syukur kalau bisa memilih
kotak transparan.
agar gejolak di luar
sudah bisa diperkirakan.
ini proses menjadi dewasa saja.

kantor itu
harus mewarnai 
dengan tegas
pengelolaan negeri ini.

harus.

[ ]