Thursday, November 12, 2009
siapakah bedebah-bedebah itu
[tuntutan rutin, sebulan sekali, harus menulis...
jika sudah diniatkan, maka jalankan, bukan cuma seperti janji-janji yang hanya terucap.
inilah dia, tulisan sebulan sekali, karena sudah terlanjur janji pada diri sendiri.]
[sambil menunggu jadwal melaut, tentunya]
***
Seperti biasa, ada banyak lompatan-lompatan di kepala ini. entah ingin mulai darimana.
Cicak versus Buaya, analogi dari KPK versus Polri dan Kejagung. Kasus ini melahirkan banyak reaksi, termasuk munculnya istilah "bedebah" dari puisi Adhie M Massardi.
Seingatku, kata makian "bedebah" sering dilontarkan oleh Kapten Haddock, salah satu tokoh kocak dalam serial komik jadul Tintin. Dalam komik bergambar itu, Kapten Haddock hampir selalu menyertakan kata-kata makian lain, macam "kutu busuk", "kecoa nungging", "haram jadah", dan lain-lain. Setidaknya, begitulah terjemahan versi Indonesianya.
Begitu mengemukanya kata "bedebah" ini, sehingga membuatku tertarik untuk memanfaatkannya dalam sebuah lontaran pikir; Siapakah bedebah-bedebah yang akan selalu untung, baik saat negeri ini busuk maupun berseri? Inilah bedebah versi oportunis.
Kupikir, tadinya hanya orang-orang yang berlatar belakang LSM-lah yang layak disebut sebagai bedebah-bedebah versi oportunis ini. Tadinya kupikir saat negeri ini kacau balau, miskin dina, luluh rantak, dan hancur liur (ini istilah lokal), maka bermunculanlah kegiatan LSM-LSM untuk "memfasilitasi", "mendorong", "mengintroduksi", dan "me-" lainnya. (Tentu, munculnya kegiatan ini bukan dengan modal angin bin abab belaka. Tak ada uang, abang melayang. Ada uang, ditanya dulu dari mana donor datang). Intinya, apapun hasil dan niatnya, busuk-nya negeri ini menjadi berkah bagi para pegiat LSM itu.
Tapi, nanti dulu, bagaimana jika negeri ini sedang berseri? Ah, ternyata aku salah. Tak banyak LSM yang berseri saat negeri ini berseri. Wajar saja, jika semua sudah well-done, lalu, apa kerja LSM-LSM itu? suntik mati saja, itu lebih bagus, daripada nanti malah mencari-cari perkara.
Ini jelas proses yang wajar saja. Sebagai tukang tambal, LSM-LSM itu memang berdurasi pendek, tapi fokus. Salah tambal, bakal menuai makian. Tapi kalau tak ada yang perlu ditambal, jangan pasang paku di jalanan. Atau, jangan lubangi ban yang tak berlubang. Neraka jahanam itu namanya.
Jadi, kupikir, bukanlah LSM-LSM itu sebagai bedebah versi oportunis. Karena tak untung mereka pada semua kondisi (kecuali tentunya LSM-LSM yang ke kiri tidak, ke kanan juga males. kemana uang mengalir, kesitu pula program berjalan. by order, lah).
Apakah lalu para pedagang itulah sesungguhnya bedebah. Ah, tak bisa. Pedagang itu hanyalah bagian dari rantai makanan saja. Mereka menyediakan pasokan, siapapun yang membutuhkan silahkan beli. Walaupun kesannya oportunis, tetapi jika negeri ini sedang busuk, maka busuk pula penghasilan pedagang itu. So? pasti bukan para pedaganglah bedebah-bedebah itu.
Lalu, siapa sesungguhnya yang bernyanyi-nyanyi diatas semua kondisi negeri ini? Mau busuk, mau berseri, mau hitam, mau putih, mau abu-abu, mereka tetap dapat untung, pesta pora, walaupun berpura-pura ikut larut dalam suasana.
Siapakah mereka, para bedebah jahanam itu?
Tuesday, October 13, 2009
kekuatan doa
Adalah perkara wajib bagi kami, para pemancing suka-suka ini, untuk tidak berbicara busuk saat hendak pergi memancing.
Pada awal-awal kesadaran ini mulai berlaku, kami hanya menangkap karma bicara saja. Artinya, barang siapa bicara busuk, niscaya ia akan menjadi pendiam selama di laut, alias tak mendapat sedikitpun sambaran ikan.
Kesadaran itu perlahan mulai meningkat. Bukan karena kami yang mendadak menjadi ahli surga, tetapi entah mengapa akhirnya bukan cuma karma bicara belaka yang berlaku. Belakangan, karma perilaku berlaku, lalu puncaknya karma pikiran berlaku pula. Artinya lagi, tak usah bicara, tak usah berisyarat, bahkan kini berpikir busuk pun beresiko membuat kami menjadi pendiam. Sungguh sebuah perkara aneh.
Lalu, apa yang harus kami lakukan? karena bicara busuk adalah bagian dari canda-tawa kami, para pemancing suka-suka ini. Memancing dengan khusuk, tanpa lontaran kalimat-kalimat busuk, bukanlah moment yang indah buat kami.
Tak masalah kalau joran tak berhenti disentak ikan. Tanpa lontaran busuk, jika reel terus berderit-derit, kami masih bisa tertawa-tawa (camkan dengan seksama: tertawa-tawa itulah yang kami cari saat memancing bersama!). Pusing delapan setengah keliling kami mencari cara menyiasati perkara ini.
Hingga, tiba suatu hari, saya menemukan solusi mujarab bin manjur, yaitu dengan do'a. Ya, cukup dengan do'a saja, ditambah seperempat mati menahan lontaran-lontaran busuk, maka berderit-deritlah reel kami. Ya tentulah juga dengan usaha, semisal menaruh umpan pada mata kail (sinting apa, mancing kok gak pake umpan. sebego-begonya ikan, ya tetep butuh umpan, entah umpan buatan atau alami).
Kekuatan do'a memang tiada tara. Kita tidak pernah tau bilamana do'a akan terjawab, dengan cara apa, dan berapa persen terkabul-nya. Hanya memang kadang ditunjukkan-Nya secara jelas sebuah garis penghubung antara do'a dan kemakbulan. Walau lebih sering samar, tentunya.
Seorang teman (yang senyum dan giginya jelek itu), bersedu-sedan tentang kehidupan percintaannya yang menurutnya selalu diliputi awan mendung setebal gedung tiga belas tingkat. Sudah berulangkali ia ceritakan masalahnya pada saya, dan berulangkali juga saran yang sama saya sampaikan. Ujung dari mendayu-dayunya percintaan itu hanya persoalan keberanian belaka. Lalu, saya terpikir untuk mengusulkan padanya agar berdoa saja, karena sepertinya ia tak mampu berusaha. Jika usaha tak mampu, cobalah dengan keras berdoa, why not? (Tapi, sesungguhnya, kami lebih menyukai ia tetap bersedu-sedan soal percintaannya. karena, itu bisa menghibur kami. istilah kami: penderitaanmu adalah kesenangan kami. ha..ha..)
Pada lain dimensi, seorang teman dekat baru saja mendapat pengabulan dari do'a-nya. Kebahagian sedang menyelimutinya. Ia bercerita panjang lebar tentang kemungkinan hubungan do'a-do'a yang sudah dipanjatkannya (dan juga orang-orang di sekitarnya). Ia mendapatkan anugerah untuk melihat hubungan do'a-do'a yang telah lama ia panjatkan dengan kebahagiaan yang menyelimutinya saat ini. Tidak pernah saya melihat pancaran kebahagiaan yang teramat cemerlang di wajahnya seperti saat ini. Sungguh menawan.
Selamat berbahagia, jalani dengan benar, hanya itu pesan saya padanya.
Apapun yang anda percayai sebagai Tuhanmu, berdo'alah. Karena, kekuatan do'a memang sungguh luar biasa.
Pada awal-awal kesadaran ini mulai berlaku, kami hanya menangkap karma bicara saja. Artinya, barang siapa bicara busuk, niscaya ia akan menjadi pendiam selama di laut, alias tak mendapat sedikitpun sambaran ikan.
Kesadaran itu perlahan mulai meningkat. Bukan karena kami yang mendadak menjadi ahli surga, tetapi entah mengapa akhirnya bukan cuma karma bicara belaka yang berlaku. Belakangan, karma perilaku berlaku, lalu puncaknya karma pikiran berlaku pula. Artinya lagi, tak usah bicara, tak usah berisyarat, bahkan kini berpikir busuk pun beresiko membuat kami menjadi pendiam. Sungguh sebuah perkara aneh.
Lalu, apa yang harus kami lakukan? karena bicara busuk adalah bagian dari canda-tawa kami, para pemancing suka-suka ini. Memancing dengan khusuk, tanpa lontaran kalimat-kalimat busuk, bukanlah moment yang indah buat kami.
Tak masalah kalau joran tak berhenti disentak ikan. Tanpa lontaran busuk, jika reel terus berderit-derit, kami masih bisa tertawa-tawa (camkan dengan seksama: tertawa-tawa itulah yang kami cari saat memancing bersama!). Pusing delapan setengah keliling kami mencari cara menyiasati perkara ini.
Hingga, tiba suatu hari, saya menemukan solusi mujarab bin manjur, yaitu dengan do'a. Ya, cukup dengan do'a saja, ditambah seperempat mati menahan lontaran-lontaran busuk, maka berderit-deritlah reel kami. Ya tentulah juga dengan usaha, semisal menaruh umpan pada mata kail (sinting apa, mancing kok gak pake umpan. sebego-begonya ikan, ya tetep butuh umpan, entah umpan buatan atau alami).
Kekuatan do'a memang tiada tara. Kita tidak pernah tau bilamana do'a akan terjawab, dengan cara apa, dan berapa persen terkabul-nya. Hanya memang kadang ditunjukkan-Nya secara jelas sebuah garis penghubung antara do'a dan kemakbulan. Walau lebih sering samar, tentunya.
Seorang teman (yang senyum dan giginya jelek itu), bersedu-sedan tentang kehidupan percintaannya yang menurutnya selalu diliputi awan mendung setebal gedung tiga belas tingkat. Sudah berulangkali ia ceritakan masalahnya pada saya, dan berulangkali juga saran yang sama saya sampaikan. Ujung dari mendayu-dayunya percintaan itu hanya persoalan keberanian belaka. Lalu, saya terpikir untuk mengusulkan padanya agar berdoa saja, karena sepertinya ia tak mampu berusaha. Jika usaha tak mampu, cobalah dengan keras berdoa, why not? (Tapi, sesungguhnya, kami lebih menyukai ia tetap bersedu-sedan soal percintaannya. karena, itu bisa menghibur kami. istilah kami: penderitaanmu adalah kesenangan kami. ha..ha..)
Pada lain dimensi, seorang teman dekat baru saja mendapat pengabulan dari do'a-nya. Kebahagian sedang menyelimutinya. Ia bercerita panjang lebar tentang kemungkinan hubungan do'a-do'a yang sudah dipanjatkannya (dan juga orang-orang di sekitarnya). Ia mendapatkan anugerah untuk melihat hubungan do'a-do'a yang telah lama ia panjatkan dengan kebahagiaan yang menyelimutinya saat ini. Tidak pernah saya melihat pancaran kebahagiaan yang teramat cemerlang di wajahnya seperti saat ini. Sungguh menawan.
Selamat berbahagia, jalani dengan benar, hanya itu pesan saya padanya.
Apapun yang anda percayai sebagai Tuhanmu, berdo'alah. Karena, kekuatan do'a memang sungguh luar biasa.
Wednesday, October 7, 2009
sebulan lalu
sebulan lalu, tulisan terakhir di blog ini, http://priyandoko.blogspot.com. (sengaja saya tulis alamatnya, supaya teman-teman tau alamat sesungguhnya. karena, saya link dengan facebook, maka kebanyakan teman-teman membaca tulisan ini via facebook).
ada banyak kejadian yang "mengganggu" yang layak ditulis. tapi yang namanya menulis itu memang ternyata terbukti mirip proses buang air besar. kalau sudah kebelet, enak keluarnya. sebaliknya, kalau belum pas waktunya, walaupun nongkrong sampai busuk, tetap barang itu diam di dalam. memaksakan proses buang air besar bukanlah perkara ringan. salah-salah malah dapat bonus kambuhnya hemorroid.
yang sulit, ada banyak yang harusnya bisa dikeluarkan, tapi entah mengapa proses kebeletnya ndak datang juga. apakah harus pakai bantuan pencahar?
jadi, saat ini saya sedang tidak dalam kondisi kebelet. walaupun banyak yang berlintasan di kepala, dan banyak gangguan yang menohok pikiran. karenanya, saya putuskan untuk nongkrong sebentar disini, berharap barang busuk itu segera keluar. entah sekerat dua.
sayang seribu sayang, jangankan ampasnya, baunya pun tak keluar.
walhasil, inilah dia, tulisan sepotong, yang terpaksa saya tuliskan, hanya karena ingatan niat bahwa harus menulis paling sedikit sebulan sekali, itulah pencaharnya.
tak mau saya memaksanya, daripada otak ini terserang wasir.
ada banyak kejadian yang "mengganggu" yang layak ditulis. tapi yang namanya menulis itu memang ternyata terbukti mirip proses buang air besar. kalau sudah kebelet, enak keluarnya. sebaliknya, kalau belum pas waktunya, walaupun nongkrong sampai busuk, tetap barang itu diam di dalam. memaksakan proses buang air besar bukanlah perkara ringan. salah-salah malah dapat bonus kambuhnya hemorroid.
yang sulit, ada banyak yang harusnya bisa dikeluarkan, tapi entah mengapa proses kebeletnya ndak datang juga. apakah harus pakai bantuan pencahar?
jadi, saat ini saya sedang tidak dalam kondisi kebelet. walaupun banyak yang berlintasan di kepala, dan banyak gangguan yang menohok pikiran. karenanya, saya putuskan untuk nongkrong sebentar disini, berharap barang busuk itu segera keluar. entah sekerat dua.
sayang seribu sayang, jangankan ampasnya, baunya pun tak keluar.
walhasil, inilah dia, tulisan sepotong, yang terpaksa saya tuliskan, hanya karena ingatan niat bahwa harus menulis paling sedikit sebulan sekali, itulah pencaharnya.
tak mau saya memaksanya, daripada otak ini terserang wasir.
Sunday, September 6, 2009
ikhlas bersyarat
Seperti biasa, jika harus menempuh perjalanan yang lumayan makan waktu, saya merasa perlu membekali diri dengan buku bacaan. Kali ini pertemuan tahunan kantor memaksa saya untuk membeli dua buah novel pendek setelah sebelumnya empat buku karya Andrea Hirata itu saya baca habis dalam dua kali perjalanan (jangan salah kira, dua perjalanan yang saya maksudkan itu saya lakukan berseling 3 bulan. Jadi, 4 novel dalam 3 bulan. Ini cukup untuk menunjukkan bahwa saya bukanlah pembaca novel sejati). Bukan cuma karena perkara jarak tempuh lokasi pertemuan yang lumayan jauh, tapi juga karena kali ini pertemuan dilakukan di bulan puasa. Saya bisa pastikan bahwa dari total 60-an peserta pertemuan nanti, sayalah satu-satunya yang berpuasa. Jika tidak ada yang dibaca, lalu saat break makan siang, saya mau bikin apa? Tidur bukanlah pilihan yang tepat, karena seperti biasa pasti ada saja gangguan dari teman sekamar. Membaca adalah satu pilihan yang menarik, jika koneksi wifi tak ada, tentunya.
Tidak seperti biasanya, paling tidak cari-cari referensi bacaan yang bagus sebelum membeli, kali ini saya main comot saja dua novel, salah satunya berjudul "9 matahari".
Walaupun novel ini tidak terlalu menarik, bertele-tele dan terkesan mendayu-dayu, seperti novel-novel sebelumnya, saya pantang menghentikan membaca jika belum menyelesaikannya. Madhu, fasilitator India itu (satu-satunya peserta pertemuan yang memahami bahwa puasa yang saya lakukan bukan untuk dikasihani) tertawa saat saya sampaikan prinsip itu. Dia bilang bahwa saya sedang buang-buang waktu saja. ha..ha...
Satu-satunya yang menarik buat saya dari novel ini adalah peringatan akan arti dari sebuah ikhlas. Bukan, bukan karena hanya membaca novel inilah lalu ikhlas itu "mengganggu" saya. Tapi pada saat yang bersamaan saya harus menemukan sebuah ikhlas yang bersyarat, atas nama Tuhan pula.
Dalam novel itu, sebuah wejangan sederhana terceritakan. "Ikhlas itu tanpa tapi", begitu tertulis. Selanjutnya, mudah ditebak maksudnya, bahwa jika anda ikhlas, tak usah pula menambahkan "tapi" di belakangnya. Ikhlas adalah one hundred percent! Titik. Bahkan tidak pula kepada Tuhan. Karena soal imbalan balik, itu urusanNya.
Tepat saat saya sedang berada pada konsetrasi tertinggi soal ikhlas itulah, sebuah SMS muncul, mengabarkan tentang sebuah email, yang entah disadari atau tidak oleh pengirimnya, ia sedang bermain-main dengan ke-ikhlas-an.
Buat saya, keterusterangan adalah proses. Perkara bahwa itu kemudian menyakitkan, itulah kehidupan. Saya balas email itu dengan keterusterangan saya soal ketidaksukaan saya tentang cara si pengirim email bertutur-bahasa. Saya belum lagi masuk pada soal bagaimana ia mempermainkan ke-ikhlas-an. Karena ini point berbeda. Tapi, entah mengapa, kali ini saya seperti berhadapan dengan loudspeaker, berbentuk seperti telinga tapi tak berfungsi untuk mendengarkan, melainkan hanya memperkeras penyampaian maksud. Sekali lagi, tak berfungsi mendengarkan, hanya berbentuk seolah-olah ingin mendengarkan.
Saya urungkan niat saya untuk mengingatkannya soal ikhlas itu. Karena saya tidak menangkap secuilpun peluang bahwa saran saya akan didengarkan (atau kalau via sms dan email: dibaca). Jika anda sudah bersikeras bahwa anda adalah yang paling benar, lalu buat apa anda bertanya tentang kebenaran itu? Saya merasa ia hanya mencari justifikasi saja.
Akhirnya, saya mencoba mempertemukan keihklasan versi novel itu dan versi si pengirim email ini. Sungguh saya mendapat hikmah yang luar biasa. Sebuah novel menjemukan yang tiba-tiba menjelma menjadi kalimat-kalimat bermakna versus email dan sms yang berulang kali menegaskan tentang keihklasan bersyarat yang kemudian menjelma menjadi kalimat-kalimat yang memualkan.
"Tuhan tidak tidur", "Tuhan tau cara mengingatkan orang", "Biar nanti urusan dia dengan Tuhan". Saya harus membaca email dan sms berisi kalimat-kalimat ini, berkali-kali.
Seorang teman tertawa keras saat saya ceritakan soal proses ini. Sambil memandangi alat-alat pancing, ia berkata santai, "kamu harus ikhlas, Thom". Sompret!
Dia melanjutkan, "Ini kali ketiga kamu ceritakan soal itu padaku. Jika kamu ikhlas menerima cara orang itu, tak usahlah kamu ceritakan soal ini padaku, apalagi berkali-kali, sambil membawa-bawa nama Tuhan pula. Ucapkan saja bahwa kamu ikhlas menerima caranya, lalu sampaikan itu pada Tuhanmu, jangan padaku", katanya sambil menunjukkan senyumnya yang sungguh teramat jelek itu.
"Bagaimana kalau kita besok siang kita mancing sambil bawa teh botol dingin dan lapis legit?", ia bertanya sambil mengerlingkan matanya yang butek itu. Setan udel! ini bulan puasa!
Mungkin saya sedang diberi anugerah untuk bisa melihat setan bertanduk. Karena tiba-tiba saja saya melihat sepasang tanduk merah muncul di kepalanya. ha..ha...
Tidak seperti biasanya, paling tidak cari-cari referensi bacaan yang bagus sebelum membeli, kali ini saya main comot saja dua novel, salah satunya berjudul "9 matahari".
Walaupun novel ini tidak terlalu menarik, bertele-tele dan terkesan mendayu-dayu, seperti novel-novel sebelumnya, saya pantang menghentikan membaca jika belum menyelesaikannya. Madhu, fasilitator India itu (satu-satunya peserta pertemuan yang memahami bahwa puasa yang saya lakukan bukan untuk dikasihani) tertawa saat saya sampaikan prinsip itu. Dia bilang bahwa saya sedang buang-buang waktu saja. ha..ha...
Satu-satunya yang menarik buat saya dari novel ini adalah peringatan akan arti dari sebuah ikhlas. Bukan, bukan karena hanya membaca novel inilah lalu ikhlas itu "mengganggu" saya. Tapi pada saat yang bersamaan saya harus menemukan sebuah ikhlas yang bersyarat, atas nama Tuhan pula.
Dalam novel itu, sebuah wejangan sederhana terceritakan. "Ikhlas itu tanpa tapi", begitu tertulis. Selanjutnya, mudah ditebak maksudnya, bahwa jika anda ikhlas, tak usah pula menambahkan "tapi" di belakangnya. Ikhlas adalah one hundred percent! Titik. Bahkan tidak pula kepada Tuhan. Karena soal imbalan balik, itu urusanNya.
Tepat saat saya sedang berada pada konsetrasi tertinggi soal ikhlas itulah, sebuah SMS muncul, mengabarkan tentang sebuah email, yang entah disadari atau tidak oleh pengirimnya, ia sedang bermain-main dengan ke-ikhlas-an.
Buat saya, keterusterangan adalah proses. Perkara bahwa itu kemudian menyakitkan, itulah kehidupan. Saya balas email itu dengan keterusterangan saya soal ketidaksukaan saya tentang cara si pengirim email bertutur-bahasa. Saya belum lagi masuk pada soal bagaimana ia mempermainkan ke-ikhlas-an. Karena ini point berbeda. Tapi, entah mengapa, kali ini saya seperti berhadapan dengan loudspeaker, berbentuk seperti telinga tapi tak berfungsi untuk mendengarkan, melainkan hanya memperkeras penyampaian maksud. Sekali lagi, tak berfungsi mendengarkan, hanya berbentuk seolah-olah ingin mendengarkan.
Saya urungkan niat saya untuk mengingatkannya soal ikhlas itu. Karena saya tidak menangkap secuilpun peluang bahwa saran saya akan didengarkan (atau kalau via sms dan email: dibaca). Jika anda sudah bersikeras bahwa anda adalah yang paling benar, lalu buat apa anda bertanya tentang kebenaran itu? Saya merasa ia hanya mencari justifikasi saja.
Akhirnya, saya mencoba mempertemukan keihklasan versi novel itu dan versi si pengirim email ini. Sungguh saya mendapat hikmah yang luar biasa. Sebuah novel menjemukan yang tiba-tiba menjelma menjadi kalimat-kalimat bermakna versus email dan sms yang berulang kali menegaskan tentang keihklasan bersyarat yang kemudian menjelma menjadi kalimat-kalimat yang memualkan.
"Tuhan tidak tidur", "Tuhan tau cara mengingatkan orang", "Biar nanti urusan dia dengan Tuhan". Saya harus membaca email dan sms berisi kalimat-kalimat ini, berkali-kali.
Seorang teman tertawa keras saat saya ceritakan soal proses ini. Sambil memandangi alat-alat pancing, ia berkata santai, "kamu harus ikhlas, Thom". Sompret!
Dia melanjutkan, "Ini kali ketiga kamu ceritakan soal itu padaku. Jika kamu ikhlas menerima cara orang itu, tak usahlah kamu ceritakan soal ini padaku, apalagi berkali-kali, sambil membawa-bawa nama Tuhan pula. Ucapkan saja bahwa kamu ikhlas menerima caranya, lalu sampaikan itu pada Tuhanmu, jangan padaku", katanya sambil menunjukkan senyumnya yang sungguh teramat jelek itu.
"Bagaimana kalau kita besok siang kita mancing sambil bawa teh botol dingin dan lapis legit?", ia bertanya sambil mengerlingkan matanya yang butek itu. Setan udel! ini bulan puasa!
Mungkin saya sedang diberi anugerah untuk bisa melihat setan bertanduk. Karena tiba-tiba saja saya melihat sepasang tanduk merah muncul di kepalanya. ha..ha...
Sunday, August 2, 2009
kota yang aneh
Tabel-tabel dan kolom-kolom, bikin aku lupa kalau perut belum diisi.
Layanan kamar sudah tutup, padahal tadi kulirik jam setempat baru di angka sebelas. "Tinggal roti bakar, Pak", suara dari seberang sana.
Aneh, pengalamanku, jam duabelas adalah jam mulai tutup layanan. Itupun jarang.
Malas, kucoba melongok jalan raya di depan. "Nasi Goreng, Mie Goreng,..." begitu tulisan di kain buruk penutup gerobak. Lumayanlah.
Mana ada istilah nyaman jikalau bersantap ditengah-tengah asap pekat. Apalagi diwarnai pertanyaan bernada penolakan dari si tukang nasi goreng saat kubilang telor ceplok dua dijadikan satu setengah matang. Katanya, "mana bisa aku membuat telor ceplok semacam itu, Bang. Hancur kuningnya nanti, tak enak, Bang". Tapi, dibikin jua olehnya saat kujawab dengan senyum saja. Masih mantap juga senyumku ini, setidaknya buat tukang nasi goreng.
Kulahap cepat nasi goreng rasa datar plus telor ceplok dua setengah matang, sambil menikmati asap super pekat hasil bakaran gambut-gambut itu. Satu yang kupikirkan, cepat mengisi perut dan kembali ke kamarku. Batuk berdahak ini bisa kumat lagi nanti.
Menjelang suapan terakhir, baru kusadari betapa banyaknya manusia bermotor di kota asap ini. Mereka lalu lalang, hilir mudik - ada segerombolan manusia bermotor yang sejak aku duduk di bangku ini, kuhitung sudah empat kali lalu-lalang, sambil menambah asap lewat knalpotnya -, sedangkan sebagian besar lagi duduk dibangku-bangku kedai tak beratap menghirup minuman entah apa, sambil ketawa-ketiwi.
Aneh, manusia-manusia bermotor itu seperti gembira ria dengan asap pekat hasil bakaran gambut ini. Dari gaya dan perilakunya, yakinlah aku kalau mereka menghirup oksigen yang tidak sedikit. Itu artinya pekat pula asap yang dihirupnya.
Perih sudah mataku karena asap ini, ditambah habis rasanya oksigen dalam paru-paru ini. Cepat saja aku habiskan teh manis rasa ke kiri enggak ke kanan juga enggak itu.
Perih mata, perih tenggorokan, sesak nafasku.
Sementara manusia-manusia bermotor itu mulai memekakkan telinga, ketawa-ketiwi menghirup asap pekat. Mungkin mereka kecanduan asap kebakaran lahan.
Aneh.
Layanan kamar sudah tutup, padahal tadi kulirik jam setempat baru di angka sebelas. "Tinggal roti bakar, Pak", suara dari seberang sana.
Aneh, pengalamanku, jam duabelas adalah jam mulai tutup layanan. Itupun jarang.
Malas, kucoba melongok jalan raya di depan. "Nasi Goreng, Mie Goreng,..." begitu tulisan di kain buruk penutup gerobak. Lumayanlah.
Mana ada istilah nyaman jikalau bersantap ditengah-tengah asap pekat. Apalagi diwarnai pertanyaan bernada penolakan dari si tukang nasi goreng saat kubilang telor ceplok dua dijadikan satu setengah matang. Katanya, "mana bisa aku membuat telor ceplok semacam itu, Bang. Hancur kuningnya nanti, tak enak, Bang". Tapi, dibikin jua olehnya saat kujawab dengan senyum saja. Masih mantap juga senyumku ini, setidaknya buat tukang nasi goreng.
Kulahap cepat nasi goreng rasa datar plus telor ceplok dua setengah matang, sambil menikmati asap super pekat hasil bakaran gambut-gambut itu. Satu yang kupikirkan, cepat mengisi perut dan kembali ke kamarku. Batuk berdahak ini bisa kumat lagi nanti.
Menjelang suapan terakhir, baru kusadari betapa banyaknya manusia bermotor di kota asap ini. Mereka lalu lalang, hilir mudik - ada segerombolan manusia bermotor yang sejak aku duduk di bangku ini, kuhitung sudah empat kali lalu-lalang, sambil menambah asap lewat knalpotnya -, sedangkan sebagian besar lagi duduk dibangku-bangku kedai tak beratap menghirup minuman entah apa, sambil ketawa-ketiwi.
Aneh, manusia-manusia bermotor itu seperti gembira ria dengan asap pekat hasil bakaran gambut ini. Dari gaya dan perilakunya, yakinlah aku kalau mereka menghirup oksigen yang tidak sedikit. Itu artinya pekat pula asap yang dihirupnya.
Perih sudah mataku karena asap ini, ditambah habis rasanya oksigen dalam paru-paru ini. Cepat saja aku habiskan teh manis rasa ke kiri enggak ke kanan juga enggak itu.
Perih mata, perih tenggorokan, sesak nafasku.
Sementara manusia-manusia bermotor itu mulai memekakkan telinga, ketawa-ketiwi menghirup asap pekat. Mungkin mereka kecanduan asap kebakaran lahan.
Aneh.
Friday, July 17, 2009
gang bersyukur
Gang bersyukur, adalah sebutan kami - saya dan iving - untuk gang terusan dari gang sopoyono, samarinda.
cobalah sekali-sekali anda melintasinya, masuk gak sopoyono, pakai kendaraan roda dua, atau jalan kaki, percuma pakai kendaraan roda empat, karena memang jalannya gak muat!
disitu masih ada sumur, rumah berdinding papan bolong-bolong, dan keluhan harian soal bahan pangan. gerobak-gerobak bakso, krupuk, jajan murah anak-anak, berkumpul disitu. sehari terkumpul duabelas ribu rupiah, masih harus dipotong buat beli modal jualan besok. berkumpul mereka disitu.
di satu tempat yang baru saja saya kunjungi. juga bisa dibilang desa bersyukur.
rumah berdinding bambu bolong-bolong, dengan listrik 10 watt. pagi buta sudah sibuk bersiap ke sawah, bukan miliknya, hanya buruh saja. berbekal nasi dingin lauk ikan peda curah. anak-anaknya dibiarkan berjuang sendiri, berjuang ala anak-anak, melakukan apa saja untuk bisa makan.
sore hari menjelang magrib, pulang ke rumah, tak bingung soal makanan, karena memang tak ada yang bisa dimakan. syukur-syukur ada kiriman tetangga, sepiring ikan bakar plus nasi hangat. dimakan bersama tiga anaknya, serasa di surga. tak penting kenyang, yang penting hidup. besok, begitu lagi, lagi, lagi, sampai ada yang berkenan merubah nasib.
di tempat lain lagi, mendengar cerita dari pendamping masyarakat urban, tentang seorang lulusan sekolah menengah pertama, bisa kunamai dia gadis bersyukur, bercerita tentang tahu diri. tak perlu berharap banyak. menjadi tulang punggung keluarga. menghidupi keluarganya, plus keponakannya yang tak cukup lurus mental-nya. seminggu harus mengumpulkan satu koma dua juta rupiah. untuk semua kebutuhan, termasuk pengobatan di kurang lurus mental itu. lalu, kerja apa? tukang pijat plus-plus. katanya dia menjawab pertanyaan itu dengan datar saja. (untuk anda yang sok goblok nanya apa itu plus-plus, itu ya artinya bersedia untuk melayani hubungan seksual dengan imbalan uang, terserah, laki-laki atau perempuan, emangnya penting?).
katanya, si lulusan es-em-pe ini cerdas, bicara terstruktur, analisisnya cemerlang. kutanya, mengapa tidak dipekerjakan saja sebagai sukarelawan, dijawab sambil melotot, siapa yang kuat bayar enam juta rupiah sebulan? ironis.
melihat mereka itu, bersyukurlah kita,
masih bisa jalan kesana kemari, walaupun atas biaya tempat bekerja. masih bisa tidur di kamar sejuk, dengan kasur dan boneka disana-sini, walaupun kontrakan. masih bisa milih menu makan hari ini, walaupun setelahnya sedikit sakit kepala lihat nota makanan. masih bisa pakai baju yang berbeda dengan kemarin, walaupun kreditan, itupun harganya tak mahal-mahal. masih bisa beli sabun cuci muka dan obat pengharum ketiak, walaupun mereknya pasaran.
bersyukurlah dengan hidupmu, masih banyak yang lebih sulit dan sengsara dari dirimu, kawan.
bersyukurlah.
Thursday, June 25, 2009
sudah terbiasa
saat belum terbiasa,
aroma kencing dan kotoran kucing jelas mengganggu,
membersihkannya tak bisa ditunda,
bisa-bisa tak selera makan.
ketika mulai terbiasa,
aroma kencing dan kotoran kucing sudah mulai tak mengganggu,
membersihkannya kadang terpikir bisa ditunda,
jika tak terpikirkan, selera makan masih bisa datang.
karena sudah terbiasa,
maka aroma kencing dan kotoran kucing sudah tak lagi mengganggu,
membersihkannya bisa ditunda.
makan terasa nikmat saja.
kencing dan kotoran kucing, bisa sama dengan pungli, korupsi, suap dan mark-up.
bagaimana status anda? sudah terbiasa?
aroma kencing dan kotoran kucing jelas mengganggu,
membersihkannya tak bisa ditunda,
bisa-bisa tak selera makan.
ketika mulai terbiasa,
aroma kencing dan kotoran kucing sudah mulai tak mengganggu,
membersihkannya kadang terpikir bisa ditunda,
jika tak terpikirkan, selera makan masih bisa datang.
karena sudah terbiasa,
maka aroma kencing dan kotoran kucing sudah tak lagi mengganggu,
membersihkannya bisa ditunda.
makan terasa nikmat saja.
kencing dan kotoran kucing, bisa sama dengan pungli, korupsi, suap dan mark-up.
bagaimana status anda? sudah terbiasa?
Tuesday, June 2, 2009
Comen, Rest In Peace, 2007-2009
Kucing kami, Comen namanya, baru saja berpulang, 1 Juni 2009..Meninggalkan tiga anaknya, yang baru berumur dua bulan...
Nampaknya sesuatu telah terjadi padanya, tertabrak kukira...
Mengapa harus sedih? entahlah...
Kalau setiap kali pulang, ada suara mengeong menyambut, lalu berputar-putar di kaki,
Kalau setiap kali sedang makan, ada sepasang mata melihat penuh harap tak berkedip,
Kalau setiap kali sedang kerja, ada yang melintas menginjak laptop tanpa peduli,
Kalau setiap kali sedang nonton tivi sambil tiduran, ada yang nyungsep di ketek, ikutan tidur,
Kalau setiap kali mau mandi, ada yang sedang nongkrong di toilet, pipis disitu.
Begitulah Comen, ia melakukan hal-hal yang biasa dan tidak biasa sebagai seekor kucing.
Terbayang semua, itu menjawab mengapa harus bersedih..
Selamat jalan, Comen...
Thursday, May 14, 2009
Kecerdasan Tanpa Budaya, posting dari Arya Hadi Dharmawan
Ini posting dari Arya Hadi Dharmawan, Dosen Ekologi Politik dan Teori Sosial Hijau - Pascasarjana IPB.
Saya mendapatkan posting ini dari milis Komunitas Vibrant. Adalah Dani Wahyu Moenggoro yang mem-forward-nya.
Isinya menarik, memberi pencerahan dan kesadaran akan sisi lain dari proses bernegara selama ini.
Kepada Arya Hadi Dharmawan, saya mohon ijin untuk menampilkan posting anda dalam blog saya. Terima kasih atas posting yang bermanfaat ini.
*****
Kecerdasan Tanpa Budaya
Teman-teman FB..sekitar seminggu yang lalu tepatnya tgl 6/5/2009 di Puspiptek Serpong, aku mendapat "kemewahan" yang luar biasa. Kusebut kemewahan, karena peristiwa ini jarang terjadi bagiku. Hari itu, aku bisa ikut ambil bagian dalam sebuah diskusi ilmiah amat-sangat terbatas dengan sekitar 40an gurubesar sepuh yg juga "begawan-begawan ilmuwan negeri ini".
Mereka asset bangsa yang pikirannya masih sangat kaya. Kusebut saja, ada Prof. BJ Habibie, Prof. Emil Salim, Prof. Tjondronegoro, Prof. Toeti H Nurhadi, Prof. Sangkot Marzuki, Prof. FG Winarno, Prof. Taufik Abdullah, dsb..aku menjadi terasa "sangat kecil" di tengah-tengah mereka...:-)
Intinya, mereka memikirkan hendak kemana bangsa Indonesia yg sedang "carut-marut" seperti ini.. Tinjauannya sangat luas...Indonesia ke depan dari perspektif "auronotika" ala Prof. Habibie, "ekonomi-ekologi" ala Prof.Emil Salim, "kebudayaan" ala Prof. Toeti, dan "biologi-molekuler" ala Prof. Sangkot Marzuki.
Sulit kutuliskan "long-version lecture" yg kuterima dari para begawan pada hari itu disini, tetapi inti-intinya hendak kubagikan kepada teman-teman sekalian. Dalam catatan-catatan terpisah berikut ini.
1. Tesis Habibie tentang Indonesia dalam "Kecerdasan tanpa Budaya" di Indonesia
Lecture dari Prof. BJ Habibie yang menghabiskan waktu hampir dua jam dan memukau para gurubesar lain adalah pengajuan tesisnya dari hasil diskusi panjang dengan seorang gurubesar dari Chatolische Universitaet Switzerland. Ia adalah Prof. Kuhn yang menulis buku "Spueren die Religion" (jejak-jejak agama). Intinya, ditanyakan oleh Prof. Habibie: mengapa bangsa-bangsa di
dunia (termasuk Indonesia) mengalami stagnasi peradaban, meskipun proses pendidikan digalakkan dengan dukungan dana yang luar biasa? Kata Habibie, bangsa-bangsa di dunia saat ini mengalami kecerdasan luar biasa karena proses PENDIDIKAN namun bukan karena proses PEMBUDAYAAN.
Habibie mengatakan pendidikan hanya mengasah KECERDASAN otak. Sementara pembudayaan yang (sangat tidak mendapat tempat dan perhatian dari pemerintah kita) sebenarnya hendak mengasah VERNUENFT (KEARIFAN) agar manusia menjadi vernuenftig (arif-bijaksana) . Inilah yang tidak berlangsung di negeri ini. Alhasil, kita menghasilkan banyak orang PINTAR TETAPI TIDAK ARIF BIJAKSANA.
Habibie mengatakan, bila kepadanya diberikan dua orang untuk dipilih, maka ia akan mendahulukan orang yang BERBUDAYA dari pada cerdas tetapi tanpa budaya (pintar tetapi tidak arif-bijaksana) . Tentu akan senang bila Indonesia hari ini memiliki banyak orang yang PINTAR SEKALIGUS ARIF-BIJAKSANA. Namun, kata Habibie lebih lanjut disain pengembangan SDM di Indonesia mengerucut pada kutub PENCERDASAN semata-mata, tanpa proses PEMBUDAYAAN. Hasilnya, para pemimpin negeri ini adalah ORANG-ORANG PINTAR
(di bidangnya) tetapi TIDAK ARIF dalam melihat totalitas peradaban bangsa ini. Prof. Habibie lalu bertanya: mau kemanakah Indonesia sebenarnya hendak dibawa oleh para pimpinan negeri ini?
Tesis Habibie ini mengguncang dan "meresahkan" pikiranku selama diskusi berlangsung hingga acara selesai. Lalu seolah muncul kerinduanku pada pikiran-pikiran kenegarwanan dan kebangsaan serta kecendekiaan- kearifan ala Habibie yang hari ini sulit kudapatkan di negeri ini.....sepulang dari Serpong aku melongok ke Senayan (DPR-RI).... kupandangi lama gedung ini, lalu kulihat siapa-siapa saja kelak yg mengisi dan meramaikan gedung ini...keprihatinank u terjawab sudah...dua hari lalu tgl 9/5/2009 diumumkan nama anggota-anggota legislatif definitif hasil Pemilu 2009....melihat nama-nama mereka...jangankan harapan ttg "kearifan", bahkan "kecerdasan" pun menjadi barang langka di gedung ini...pantas bila lembaga ini diragukan banyak pihak....mungkin inilah jawaban pertanyaan Prof. Habibie...Peradaban Indonesia memang baru "sampai disini" saja....:-)
2. Etika Ekonomi Pasar (yang memporakporandakan)
Tesis kebudayaan dan peradaban berikutnya kudapatkan dari Prof. Emil Salim (ekonom senior terbaik yang dipunyai negeri ini). Ia seolah hendak mengiyakan keresahan-keresahan Stiglitz atau Amartya Sen. Pikirannya ia "mainkan" melintasi beberapa mazhab ekonomi. Namun, ia sangat terasa beranjak dari ekonomi klasik dan mengakirinya dengan kritik kepada ekonomi neo-liberalisme pasar.
Prof. Emil Salim memulai dengan KRISIS ETIKA EKONOMI di Indonesia. Setiap jiwa warga Indonesia yang dididik di negeri ini untuk mempelajari ilmu ekonomi, meng-amini satu-satunya doktrin yang seolah-olah itulah DOKTRIN TUNGGAL EKONOMI yang ada di dalam jagad ilmu Ekonomi kita. Doktrin tersebut dikatakan oleh Prof. Emil Salim sebagai "ETIKA EKONOMI PASAR". Dalam etika tersebut diyakini bahwa perilaku setiap jiwa yang hidup ini selalu diorientasikan kepada upaya-upaya rasional untuk MEMAKSIMISASI MANFAAT apapun yang ada di hadapan mereka. Setiap peluang, dilihat sebagai manfaat yang harus di-utilisasi secara maksimal.
Apa kesalahan dari etika ini terhadap peradaban bangsa Indonesia hari ini? Beginlah kata Prof. Emil Salim lebih lanjut:
1. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku memaksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah POLITIK, maka hasilnya adalah pandangan bahwa KEKUASAAN ADALAH PELUANG EKONOMI untuk DIMANFAATKAN semaksimal mungkin. Resultan dari pandangan ini, maka POWER IS COMMERCIALIZED (kekuasaan diperdaganngkan) ...fakta inilah yang hari-hari ini kita lihat sejak PILKADA, PILEG, hingga PILPRES nanti...akankah bangsa Indonesia terus memelihara salah cara-pandang seperti ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya. ...
2. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku memaksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah EKOLOGI, maka ENVIRONMENT IS COMMERCIALIZED dan NATURAL-RESOURCES mengalami proses CAPITALIZED (SDA dipandang obyek eksploitasi manusia semata-mata barang dagangan yang dijual-jual dengan harga murah seolah tanpa memiliki nilai-nilai "Illahiah/sunatulla h" lainnya). Hasilnya, Indonesia mengalami kehancuran SDA dan lingkungan yang sangat akut sekaligus kronis tak tertolongkan. Pertanyaannya: akankah bangsa Indonesia meneruskan tradisi etikal seperti ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya. ...
3. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku maksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah SCIENCE & TECHNOLOGY serta PENDIDIKAN, maka hasilnya pun sama IPTEK dan PENDIDIKAN yang DIKAPITALISASI dan DIPERDAGANGKAN. ...(catatanku: oleh karena itu muncullah UU Badan Hukum Pendidikan - UU BHP yang kontroversial itu). Hasilnya, pendidikan makin elitis dan mahal. Pertanyaannya: akankah Indonesia meneruskan tradisi etikal semacam ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya. ... Demikianlah, akra KRISIS PERADABAN bangsa Indonesia terletak pada KRISIS ETIKA yang dipeliharanya. Pertanyaan dari Prof. Emil Salim saat itu adalah: bagaimana caranya bangsa ini melepaskan etika yang seperti itu? Pertanyaan ini hampir pasti tidak dapat dijawab secara memuaskan, bahkan oleh Prof. Habibie sekalipun pada waktu diskusi itu.
3. Kepunahan Generasi (Pandangan Biologi Modern) Indonesia dan Dunia
Isyu ini dikemukakan oleh Prof. BJ Habibie dan disambut oleh Prof. Sangkot Marzuki (Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkmann di Jakarta). Prof. Habibie mangatakan, bahwa peradaban pada saat ini (secara biologis) "terancam" (atau ditakdirkan) oleh sebuah kenyataan yang sulit (sangat musykil) untuk dielakkan. Para ilmuwan (iptek dan sosial) serta pemimpin negeri ini seolah ditantang untuk berpacu melawan waktu atas sebuah "sunatullah" (takdir alam) yang sulit dibendung berkaitan dengan fakta yang disebutkan sebagai "DEGENERASI KROMOSOM Y" (silakan lihat jurnal-jurnal biologi modern yang mengungkap Y Chromosome degeneration di internet).
Apa "bahayanya" fakta degenerasi kromosom Y ini? Dengan sangat sigap dijelaskan oleh Prof Habibie dan "di-amini oleh Prof. Sangkot) bahwa spesies homo-sapiens (manusia berbudaya) yang ada secara genetik dibentuk oleh kromosom XX (bagi wanita) dan XY (bagi yg berkelamin pria). Singkat cerita dalam kromosom X ataupun Y, disana "diinstall" oleh Allah SWT - Tuhan YME berbagai macam kode-genetik (gen) dalam bentuk informasi-informasi perilaku, ciri fisik, ketahan tubuh, dsb dalam bentuk DNA (bhs Indonesianya: asam dioksiribo nukleat). Penelitian-peneliti an biologi molekuler modern membuktikan bahwa KODE-GENETIK yang ada dalam KROMOSOM X terbukti SANGAT STABIL selama paling tidak 5000 tahun terakhir. Artinya, ciri-ciri genetik (kewanitaan) yang dibawa oleh kromosom X tidak berubah selama masa itu
hingga saat ini.
Apa yang terjadi dengan kromosom Y adalah 180 derajat berbeda dengan kromosom X. Hasil penelitian membuktikan bahwa selama kurun waktu yang sama KODE GENETIK YANG HILANG PADA KROMOSOM Y hampir mencapai 60%. Apa artinya semua ini? Artinya KROMOSOM Y MEMILIKI VIABILITAS yang SANGAT RENDAH dan TERUS MENERUS MENURUN EKSISTENSINYA. Dengan kata lain, setiap perkawinan (pembuahan sel sperma thd sel telur) yang terjadi di dunia, peluang untuk mendapatkan kombinasi XY (anak laki-laki) semakin SULIT atau semakin kecil.
Sebaliknya, kombinasi XX akan semakin menguat. Ini berarti kedepan, akan terjadi KRISIS POPULASI, dimana jumlah penduduk perempuan akan makin banyak dan mendominasi populasi spesies manusia. Boleh dibayangkan, bila suatu saat kelak TIADA LAGI MANUSIA BERJENIS KELAMIN PRIA karena kromosom Y yang terus melemah. Maka, menurut keyakinan agama-agama, dan juga (keyakinan ilmu biologi), disanalah KIAMAT sedang menjelang. Mengapa? Jawabannya sederhana... .apa jadinya sebuah peradaban, bila hanya diisi oleh spesies berjenis kelamin tunggal saja...REGENERASI TIDAK AKAN TERJADI dan kepunahan manusia, di depan mata....:-)
(lihat selanjutnya: Biecek, P and Cebrat, S. 2008. "Why Y Chromosome is Shorter and Women Live Longer" dan artikel-artikel sejenis di www.springerlink. com)
Keresahan saintifik seperti ini sudah dibahas di jurnal-jurnal biologi dan medicinal sciences. Juga, ia telah dibahas oleh para gurubesar mumpuni di negeri ini.
Kini pertanyaannya adalah: sampai manakah Indonesia mengantisipasi fakta-fakta sosio-ekono- biologi yang menggerakkan ECO-CIVILIZATION and POPULATION CRISIS seperti yg dikemukakan di atas? Bagaimana kita "mengatasi" hal-hal itu? Etika apakah yang perlu dikembangkan agar kehilangan kode-genetik pada kromosom Y tidak terus berlanjut?
Dalam wilayah ekonomi: Etika ekonomi apakah yang perlu dibangun agar bangsa ini tidak "membabi-buta" dalam mengelola negara ini? dan segudang pertanyaan lainnya.....
Jawabannya: hanya bangsa Indonesialah yang bisa menjawabnya. ....hanya bangsa Indonesialah yang bisa menjawabnya. ....
Teman-teman waktu dan tempat membatasiku untuk bercerita lebih lanjut, mudah-mudahan ada hal lain yang bisa kubagikan lain waktu....salam negeriku dalam keprihatinan. ....
Arya Hadi Dharmawan
Dosen Ekologi Politik dan Teori Sosial Hijau - Pascasarjana IPB
(PSP3IPB/KPM IPB)
www.psp3ipb. or.id
Saya mendapatkan posting ini dari milis Komunitas Vibrant. Adalah Dani Wahyu Moenggoro yang mem-forward-nya.
Isinya menarik, memberi pencerahan dan kesadaran akan sisi lain dari proses bernegara selama ini.
Kepada Arya Hadi Dharmawan, saya mohon ijin untuk menampilkan posting anda dalam blog saya. Terima kasih atas posting yang bermanfaat ini.
*****
Kecerdasan Tanpa Budaya
Teman-teman FB..sekitar seminggu yang lalu tepatnya tgl 6/5/2009 di Puspiptek Serpong, aku mendapat "kemewahan" yang luar biasa. Kusebut kemewahan, karena peristiwa ini jarang terjadi bagiku. Hari itu, aku bisa ikut ambil bagian dalam sebuah diskusi ilmiah amat-sangat terbatas dengan sekitar 40an gurubesar sepuh yg juga "begawan-begawan ilmuwan negeri ini".
Mereka asset bangsa yang pikirannya masih sangat kaya. Kusebut saja, ada Prof. BJ Habibie, Prof. Emil Salim, Prof. Tjondronegoro, Prof. Toeti H Nurhadi, Prof. Sangkot Marzuki, Prof. FG Winarno, Prof. Taufik Abdullah, dsb..aku menjadi terasa "sangat kecil" di tengah-tengah mereka...:-)
Intinya, mereka memikirkan hendak kemana bangsa Indonesia yg sedang "carut-marut" seperti ini.. Tinjauannya sangat luas...Indonesia ke depan dari perspektif "auronotika" ala Prof. Habibie, "ekonomi-ekologi" ala Prof.Emil Salim, "kebudayaan" ala Prof. Toeti, dan "biologi-molekuler" ala Prof. Sangkot Marzuki.
Sulit kutuliskan "long-version lecture" yg kuterima dari para begawan pada hari itu disini, tetapi inti-intinya hendak kubagikan kepada teman-teman sekalian. Dalam catatan-catatan terpisah berikut ini.
1. Tesis Habibie tentang Indonesia dalam "Kecerdasan tanpa Budaya" di Indonesia
Lecture dari Prof. BJ Habibie yang menghabiskan waktu hampir dua jam dan memukau para gurubesar lain adalah pengajuan tesisnya dari hasil diskusi panjang dengan seorang gurubesar dari Chatolische Universitaet Switzerland. Ia adalah Prof. Kuhn yang menulis buku "Spueren die Religion" (jejak-jejak agama). Intinya, ditanyakan oleh Prof. Habibie: mengapa bangsa-bangsa di
dunia (termasuk Indonesia) mengalami stagnasi peradaban, meskipun proses pendidikan digalakkan dengan dukungan dana yang luar biasa? Kata Habibie, bangsa-bangsa di dunia saat ini mengalami kecerdasan luar biasa karena proses PENDIDIKAN namun bukan karena proses PEMBUDAYAAN.
Habibie mengatakan pendidikan hanya mengasah KECERDASAN otak. Sementara pembudayaan yang (sangat tidak mendapat tempat dan perhatian dari pemerintah kita) sebenarnya hendak mengasah VERNUENFT (KEARIFAN) agar manusia menjadi vernuenftig (arif-bijaksana) . Inilah yang tidak berlangsung di negeri ini. Alhasil, kita menghasilkan banyak orang PINTAR TETAPI TIDAK ARIF BIJAKSANA.
Habibie mengatakan, bila kepadanya diberikan dua orang untuk dipilih, maka ia akan mendahulukan orang yang BERBUDAYA dari pada cerdas tetapi tanpa budaya (pintar tetapi tidak arif-bijaksana) . Tentu akan senang bila Indonesia hari ini memiliki banyak orang yang PINTAR SEKALIGUS ARIF-BIJAKSANA. Namun, kata Habibie lebih lanjut disain pengembangan SDM di Indonesia mengerucut pada kutub PENCERDASAN semata-mata, tanpa proses PEMBUDAYAAN. Hasilnya, para pemimpin negeri ini adalah ORANG-ORANG PINTAR
(di bidangnya) tetapi TIDAK ARIF dalam melihat totalitas peradaban bangsa ini. Prof. Habibie lalu bertanya: mau kemanakah Indonesia sebenarnya hendak dibawa oleh para pimpinan negeri ini?
Tesis Habibie ini mengguncang dan "meresahkan" pikiranku selama diskusi berlangsung hingga acara selesai. Lalu seolah muncul kerinduanku pada pikiran-pikiran kenegarwanan dan kebangsaan serta kecendekiaan- kearifan ala Habibie yang hari ini sulit kudapatkan di negeri ini.....sepulang dari Serpong aku melongok ke Senayan (DPR-RI).... kupandangi lama gedung ini, lalu kulihat siapa-siapa saja kelak yg mengisi dan meramaikan gedung ini...keprihatinank u terjawab sudah...dua hari lalu tgl 9/5/2009 diumumkan nama anggota-anggota legislatif definitif hasil Pemilu 2009....melihat nama-nama mereka...jangankan harapan ttg "kearifan", bahkan "kecerdasan" pun menjadi barang langka di gedung ini...pantas bila lembaga ini diragukan banyak pihak....mungkin inilah jawaban pertanyaan Prof. Habibie...Peradaban Indonesia memang baru "sampai disini" saja....:-)
2. Etika Ekonomi Pasar (yang memporakporandakan)
Tesis kebudayaan dan peradaban berikutnya kudapatkan dari Prof. Emil Salim (ekonom senior terbaik yang dipunyai negeri ini). Ia seolah hendak mengiyakan keresahan-keresahan Stiglitz atau Amartya Sen. Pikirannya ia "mainkan" melintasi beberapa mazhab ekonomi. Namun, ia sangat terasa beranjak dari ekonomi klasik dan mengakirinya dengan kritik kepada ekonomi neo-liberalisme pasar.
Prof. Emil Salim memulai dengan KRISIS ETIKA EKONOMI di Indonesia. Setiap jiwa warga Indonesia yang dididik di negeri ini untuk mempelajari ilmu ekonomi, meng-amini satu-satunya doktrin yang seolah-olah itulah DOKTRIN TUNGGAL EKONOMI yang ada di dalam jagad ilmu Ekonomi kita. Doktrin tersebut dikatakan oleh Prof. Emil Salim sebagai "ETIKA EKONOMI PASAR". Dalam etika tersebut diyakini bahwa perilaku setiap jiwa yang hidup ini selalu diorientasikan kepada upaya-upaya rasional untuk MEMAKSIMISASI MANFAAT apapun yang ada di hadapan mereka. Setiap peluang, dilihat sebagai manfaat yang harus di-utilisasi secara maksimal.
Apa kesalahan dari etika ini terhadap peradaban bangsa Indonesia hari ini? Beginlah kata Prof. Emil Salim lebih lanjut:
1. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku memaksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah POLITIK, maka hasilnya adalah pandangan bahwa KEKUASAAN ADALAH PELUANG EKONOMI untuk DIMANFAATKAN semaksimal mungkin. Resultan dari pandangan ini, maka POWER IS COMMERCIALIZED (kekuasaan diperdaganngkan) ...fakta inilah yang hari-hari ini kita lihat sejak PILKADA, PILEG, hingga PILPRES nanti...akankah bangsa Indonesia terus memelihara salah cara-pandang seperti ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya. ...
2. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku memaksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah EKOLOGI, maka ENVIRONMENT IS COMMERCIALIZED dan NATURAL-RESOURCES mengalami proses CAPITALIZED (SDA dipandang obyek eksploitasi manusia semata-mata barang dagangan yang dijual-jual dengan harga murah seolah tanpa memiliki nilai-nilai "Illahiah/sunatulla h" lainnya). Hasilnya, Indonesia mengalami kehancuran SDA dan lingkungan yang sangat akut sekaligus kronis tak tertolongkan. Pertanyaannya: akankah bangsa Indonesia meneruskan tradisi etikal seperti ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya. ...
3. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku maksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah SCIENCE & TECHNOLOGY serta PENDIDIKAN, maka hasilnya pun sama IPTEK dan PENDIDIKAN yang DIKAPITALISASI dan DIPERDAGANGKAN. ...(catatanku: oleh karena itu muncullah UU Badan Hukum Pendidikan - UU BHP yang kontroversial itu). Hasilnya, pendidikan makin elitis dan mahal. Pertanyaannya: akankah Indonesia meneruskan tradisi etikal semacam ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya. ... Demikianlah, akra KRISIS PERADABAN bangsa Indonesia terletak pada KRISIS ETIKA yang dipeliharanya. Pertanyaan dari Prof. Emil Salim saat itu adalah: bagaimana caranya bangsa ini melepaskan etika yang seperti itu? Pertanyaan ini hampir pasti tidak dapat dijawab secara memuaskan, bahkan oleh Prof. Habibie sekalipun pada waktu diskusi itu.
3. Kepunahan Generasi (Pandangan Biologi Modern) Indonesia dan Dunia
Isyu ini dikemukakan oleh Prof. BJ Habibie dan disambut oleh Prof. Sangkot Marzuki (Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkmann di Jakarta). Prof. Habibie mangatakan, bahwa peradaban pada saat ini (secara biologis) "terancam" (atau ditakdirkan) oleh sebuah kenyataan yang sulit (sangat musykil) untuk dielakkan. Para ilmuwan (iptek dan sosial) serta pemimpin negeri ini seolah ditantang untuk berpacu melawan waktu atas sebuah "sunatullah" (takdir alam) yang sulit dibendung berkaitan dengan fakta yang disebutkan sebagai "DEGENERASI KROMOSOM Y" (silakan lihat jurnal-jurnal biologi modern yang mengungkap Y Chromosome degeneration di internet).
Apa "bahayanya" fakta degenerasi kromosom Y ini? Dengan sangat sigap dijelaskan oleh Prof Habibie dan "di-amini oleh Prof. Sangkot) bahwa spesies homo-sapiens (manusia berbudaya) yang ada secara genetik dibentuk oleh kromosom XX (bagi wanita) dan XY (bagi yg berkelamin pria). Singkat cerita dalam kromosom X ataupun Y, disana "diinstall" oleh Allah SWT - Tuhan YME berbagai macam kode-genetik (gen) dalam bentuk informasi-informasi perilaku, ciri fisik, ketahan tubuh, dsb dalam bentuk DNA (bhs Indonesianya: asam dioksiribo nukleat). Penelitian-peneliti an biologi molekuler modern membuktikan bahwa KODE-GENETIK yang ada dalam KROMOSOM X terbukti SANGAT STABIL selama paling tidak 5000 tahun terakhir. Artinya, ciri-ciri genetik (kewanitaan) yang dibawa oleh kromosom X tidak berubah selama masa itu
hingga saat ini.
Apa yang terjadi dengan kromosom Y adalah 180 derajat berbeda dengan kromosom X. Hasil penelitian membuktikan bahwa selama kurun waktu yang sama KODE GENETIK YANG HILANG PADA KROMOSOM Y hampir mencapai 60%. Apa artinya semua ini? Artinya KROMOSOM Y MEMILIKI VIABILITAS yang SANGAT RENDAH dan TERUS MENERUS MENURUN EKSISTENSINYA. Dengan kata lain, setiap perkawinan (pembuahan sel sperma thd sel telur) yang terjadi di dunia, peluang untuk mendapatkan kombinasi XY (anak laki-laki) semakin SULIT atau semakin kecil.
Sebaliknya, kombinasi XX akan semakin menguat. Ini berarti kedepan, akan terjadi KRISIS POPULASI, dimana jumlah penduduk perempuan akan makin banyak dan mendominasi populasi spesies manusia. Boleh dibayangkan, bila suatu saat kelak TIADA LAGI MANUSIA BERJENIS KELAMIN PRIA karena kromosom Y yang terus melemah. Maka, menurut keyakinan agama-agama, dan juga (keyakinan ilmu biologi), disanalah KIAMAT sedang menjelang. Mengapa? Jawabannya sederhana... .apa jadinya sebuah peradaban, bila hanya diisi oleh spesies berjenis kelamin tunggal saja...REGENERASI TIDAK AKAN TERJADI dan kepunahan manusia, di depan mata....:-)
(lihat selanjutnya: Biecek, P and Cebrat, S. 2008. "Why Y Chromosome is Shorter and Women Live Longer" dan artikel-artikel sejenis di www.springerlink. com)
Keresahan saintifik seperti ini sudah dibahas di jurnal-jurnal biologi dan medicinal sciences. Juga, ia telah dibahas oleh para gurubesar mumpuni di negeri ini.
Kini pertanyaannya adalah: sampai manakah Indonesia mengantisipasi fakta-fakta sosio-ekono- biologi yang menggerakkan ECO-CIVILIZATION and POPULATION CRISIS seperti yg dikemukakan di atas? Bagaimana kita "mengatasi" hal-hal itu? Etika apakah yang perlu dikembangkan agar kehilangan kode-genetik pada kromosom Y tidak terus berlanjut?
Dalam wilayah ekonomi: Etika ekonomi apakah yang perlu dibangun agar bangsa ini tidak "membabi-buta" dalam mengelola negara ini? dan segudang pertanyaan lainnya.....
Jawabannya: hanya bangsa Indonesialah yang bisa menjawabnya. ....hanya bangsa Indonesialah yang bisa menjawabnya. ....
Teman-teman waktu dan tempat membatasiku untuk bercerita lebih lanjut, mudah-mudahan ada hal lain yang bisa kubagikan lain waktu....salam negeriku dalam keprihatinan. ....
Arya Hadi Dharmawan
Dosen Ekologi Politik dan Teori Sosial Hijau - Pascasarjana IPB
(PSP3IPB/KPM IPB)
www.psp3ipb. or.id
Tuesday, April 28, 2009
percakapan dengan CS Telkomsel di grapari lembuswana
Karena penasaran dengan koneksi 3G Telkomflash Unlimited Corporate yang bisa konek tapi gak bisa browsing hampir seminggu ini, dan setelah mendapat advice yang tidak membawa solusi dari Customer Care Online, saya putuskan ambil jalan terakhir, datang ke Grapari Lembuswana.
Saya: ..bla..bla... (cerita masalah)
CS: "laptop harus dibawa, pak".
Saya: ..(ambil laptop di mobil, pasang).. "silahkan check".
CS: (oprek-oprek setting koneksi di laptop, pindahkan koneksi dari 3G ke 2G).. "bener aja settingnya, pak. Ini bisa koneksi".
Saya: "..lha? bukan GPRS, Mbak. 3G nya bisa gak?".
CS: "oh, kalau 3G memang sudah seminggu ini ada masalah, pak. Karena ada pemindahan xxx ke Medan" (gak inget nyebut apa yang dipindah).
Saya: (duh! kenapa gak dibilang dari tadi sih? pake minta saya nyalain laptop dulu).. "lho? tapi mengapa flash saya yang lain tidak ada masalah koneksi?"
CS: "memang ada nomor2 yang bisa ada yang tidak bisa, pak".
Saya: ???????
CS: "ada yang lain, pak?"
Saya: "ya, kalau ingin mengetahui tagihan berjalan, atau pemakaian internet, dimana ngecheck-nya? katanya bisa dengan ketik apa gitu, trus kirim sms ke nomer tertentu?"
CS: "fasilitas yang seperti itu kami matikan untuk semua kartu yang flash-nya diaktifkan, pak. Soalnya, kalau fasilitas itu diyalakan, salah-salah malah gak bisa konek internetnya".
Saya: "kalau gitu, gimana caranya supaya flash yang volumebased saya gak melampaui limit quota?"
CS: "Tidak masalah kok, pak. tidak mungkin melampaui batas quota".
Saya: ??????????????????????? malah bingung. mending pulang.
Saya: ..bla..bla... (cerita masalah)
CS: "laptop harus dibawa, pak".
Saya: ..(ambil laptop di mobil, pasang).. "silahkan check".
CS: (oprek-oprek setting koneksi di laptop, pindahkan koneksi dari 3G ke 2G).. "bener aja settingnya, pak. Ini bisa koneksi".
Saya: "..lha? bukan GPRS, Mbak. 3G nya bisa gak?".
CS: "oh, kalau 3G memang sudah seminggu ini ada masalah, pak. Karena ada pemindahan xxx ke Medan" (gak inget nyebut apa yang dipindah).
Saya: (duh! kenapa gak dibilang dari tadi sih? pake minta saya nyalain laptop dulu).. "lho? tapi mengapa flash saya yang lain tidak ada masalah koneksi?"
CS: "memang ada nomor2 yang bisa ada yang tidak bisa, pak".
Saya: ???????
CS: "ada yang lain, pak?"
Saya: "ya, kalau ingin mengetahui tagihan berjalan, atau pemakaian internet, dimana ngecheck-nya? katanya bisa dengan ketik apa gitu, trus kirim sms ke nomer tertentu?"
CS: "fasilitas yang seperti itu kami matikan untuk semua kartu yang flash-nya diaktifkan, pak. Soalnya, kalau fasilitas itu diyalakan, salah-salah malah gak bisa konek internetnya".
Saya: "kalau gitu, gimana caranya supaya flash yang volumebased saya gak melampaui limit quota?"
CS: "Tidak masalah kok, pak. tidak mungkin melampaui batas quota".
Saya: ??????????????????????? malah bingung. mending pulang.
Subscribe to:
Posts (Atom)


