Thursday, April 5, 2007

atas nama kepentingan

Ini hanya pikiran sekelebat, tentang betapa kepentingan berada diatas segalanya.

Dipicu oleh sebuah posting pada sebuah milis yang saya ikuti.  Posting itu menggugat sebuah kejadian yang menurut si penulis adalah sebuah kebohongan konservasi bagi publik.  Buat saya, tidak terlalu penting soal aturan-aturan konservasi yang si penulis ungkapkan, dan tidak penting juga bagi saya soal keteledoran si staf organisasi yang disasar oleh si penulis itu.  Karena bukan itu inti tulisan saya.  Biarlah sistem yang sama-sama mereka percayai berkolaborasi menyelesaikan, jika mungkin.

Kelebat pikiran soal kepentingan ini juga dipicu oleh kejadian saat saya bertemu dengan seorang yang mencalonkan dirinya menjadi ketua ormas pemuda.  Ia pernah satu sekolah dengan saya ketika SMU dulu.  Masih agak terbayang peristiwa usang ketika si calon dihajar beramai-ramai oleh kawannya sendiri karena kedapatan menggondol kotak amal mushala.

Kelebat pikiran juga dipicu oleh pemandangan sikap beberapa anggota wakil rakyat yang jika berjalan seperti terganjal leher depannya sehingga dagunya haram menyentuh ujung bawah lehernya.  Mungkin mereka berjalan sambil menghitung berapa tinggi tiang listrik.

Kelebat pikiran saya ini juga dipicu oleh berita tentang rencana perubahan pengelola sebuah kawasan konservasi di sebuah kecamatan sedikit agak utara di Kalimantan timur.  Mereka berencana mengganti para pengurus kelola dengan orang-orang teknis yang notabene juga bekerja sebagai pegawai negeri di sebuah dinas yang berhubungan langsung dengan kegiatan konservasi itu.   Perubahan lucu yang menunjukkan kualitas komitmen mereka terhadap gagasan awal dibangunnya kawasan konservasi itu.

Kepentingan, berada pada empat berita picu di atas.  Dalam kasus pertama, jelas tak ada untungnya berita itu dikonsumsi segera.  Buat saya lucu saja berita basi masih harus dipelihara.  Masih banyak kejadian konservasi lain yang lebih terkini yang layak dipelihara, lebih kental sisi konservasinya, dan juga bermanfaat untuk orang banyak.  Buat saya, kepentingan untuk pembusukan lebih kental didalam posting itu.  Mungkin ini soal sakit hati belaka.  Sayang sekali.  Hari gini masih berselimutkan kesalahan orang lain sebagai balas dendam, kampungan amat. He..he..he..

Dalam kasus kedua, tak pentinglah masa lalu dan perilaku seseorang.  Si calon yang perutnya sudah melebihi besar perut saya, bahkan hampir dua kali jarak diameter kepalanya itu, toh dipilih oleh komunitasnya untuk menempati posisi penting itu.  Toh pada saat yang sama saya tau perilaku sampingannya yang aduhai dalam hal merampok uang rakyat.  Itu gak penting, sekali lagi, kepentingan komunitas itu untuk menjadi lebih berkuasalah yang mengalahkan proses fit and proper test yang sesungguhnya.  Memualkan buat saya.  Lagi, saya musti tambahkan he..he..he.. dalam kemualan saya.  He..he..he…

Dalam kasus ketiga, saya hampir putus asa dengan perilaku sebagian wakil-wakil rakyat yang terhormat itu.  Bermobil mewah, menguasai jalan,  berlaku pongah, entahlah apa yang mereka pikirkan.  Setiap bertemu rakyat yang memilihnya itu, kebanyakan mereka malah merasa dialah raja atas rakyat-rakyat itu.  Lagi, dagunya runcing menunjuk langit, sementara tangannya sibuk menggapai proyek-proyek negara yang dibiayai dengan uang hak rakyat itu.  Aneh, di kepala saya selalu saja ada pertanyaan, kepentingan siapa yang kalian wakili hai anggota dewan?  Bagaimana kepentingan-kepentingan itu kalian artikan? Ck.. aneh!

Dalam kasus terakhir, tidak perlu susah mencari kepentingan apa yang disasar oleh para pegawai negeri itu.  Cukuplah bukti bahwa selama ini pengalokasian uang dan alat tidak pada porsi yang sesungguhnya.  Sekarang mereka ingin menempati posisi penentu pula dalam pengelola kawasan konservasi itu.  Tak susahlah melihat kepentingan apa yang ada di balik keinginan aneh itu.  Untuk mereka yang paham prinsip organisasi, maka kasus ini bisa dijadikan penawar stress, karena lucu banget keinginan mereka ini! He..he..he…

Atas nama kepentingan, entah kepentingan siapa.