Tuesday, April 24, 2007

kartini hari gini

“Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia harum namanya.  Ibu kita Kartini, pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka. Wahai Ibu kita Kartini, putri yang mulia, sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia”

Kartini hari gini, ini soal kesetaraan, bukan cuma soal lomba-lomba kebaya bersanggul atau nyupir dump truck, atau juga cuma jadi dokter, polwan atau kernet angkot. Ini soal bagaimana secara hak dan kewajiban setara, setelah disepakati bagaimana kesetaraan itu dirumuskan, bukan cuma soal siapa dapat kesempatan dan siapa yang menciptakan kesempatan.

Kartini hari gini, sudahlah hentikan mengeluh soal kesempatan, atau pasang berita soal muka cengangas-cengenges prestasi mampu berkebaya serapi kue lapis legit.  Sudah jauh hari lalu waktu untuk membuktikan bahwa kualitas pikir adalah ukuran kesetaraan itu.  Tak usahlah selalu berkata tak ada kesempatan, tak ada peluang, tak ada yang memberi.  Jangan berlagak sebagai pengemis begitulah.

Ya, aku taulah, masih ada di tempat-tempat itu diskriminasi diberlakukan atas nama kelemahan, kodrat atau apa sebagainya.  Tapi, Kartini hari gini, mosok masih harus berlindung di balik ketiak berita-berita diskriminasi itu? Mungkin yang bener adalah sambil menghajar diskriminasi itu, sambil pula berinovasi soal kesetaraan pikir?  Entahlah, menurutku begitu.

Kartini hari gini, usang sudah jika masih juga menyoal apa bentuk kelamin di balik pakaian.

 

 

 

1 comment:

tetangga said...

wah, dua kali berturut-turut mbahas kartini??? ehm, jangan-jangan sedang ngalami puber kedua, pak?