Tuesday, June 5, 2007

selamat hari lingkungan hidup dunia

Selamat hari lingkungan hidup dunia, 5 juni 2007.

Jam 3 pagi, listrik mati, asap tebal dari tumpukan sampah di depan rumah.  Asap mati, lalu jadi api besar sebarkan percikan bara, kalau saja ada atap rumbia, wassalam!

Jam 5 listrik masih mati, gak ada dalam jadwal, gak tau ini karena apa.  Mungkin juga cuma alasan pemadaman belaka, atau kerusakan mesin utama.  Padahal utang bahan bakar makin menumpuk gak pernah diungkapkan.  Propinsi kaya minyak kok gelap gulita.  Jadwal padam listrik seperti papan catur saja, rutin, berdempet.  Bulan ini selang dua hari rutin direncanakan si listrik mampus, itu di luar bonus padam tanpa pemberitahuan.  Sementara genset dijual disana sini dengan harga menggantung leher, plus beli bensin bonus pelototan dari petugas selang.  Tentang ini, si gondrong Rudi AMZ pernah bercerita, rumah sakit dirgahayu itu dulu dilarang keras memiliki mesin pembangkit listrik sendiri, alasan pelarangan jelas-jelas gak jelas.  Dua bulan lalu datang surat dari perusahaan monopoli listrik itu, isinya himbauan untuk memiliki mesin pembangkit listrik sendiri.  Kami tertawa bersama setelah mendengar ceritanya.  Siapa yang goblok, coba?

Mobil-motor pagi ini tetap buang kentut asap mengepul-kepul.  Gak ada urusan dengan hari lingkungan, ini soal mudah memiliki sepeda motor dengan duit ratus ribu saja, cicilan bulanan nomer seribu tujuh ratus tujuh puluh sembilan.  Sepertinya menjadi kewajiban untuk berdesak-desakan di jalan raya, bersenggol-senggolan, sambil kentut asap.  Gak ada urusan dengan hari lingkungan.

Dua restoran waralaba di dua pusat belanja berbeda, menjawab sama.  Merokok silahkan saja, dimana saja, larangan merokok itu tidak apa. Bahkan di lantai dan pojok arena main anak-anak, bolehlah merokok, silahkan saja racuni anak-anakmu dengan asap nikotin itu.  Waralaba goblok!

Di luar mendung, sebentar lagi hujan.  Banjir sih sudah biasa.  Salahkan Tuhan saja, kenapa kasih hujan melebihi curah normalnya.  Salahkan danau saja kenapa mau ditumbuhi gulma dan mau mendangkal?  Jangan terlalu perduli dengan berapa banyak pohon hidup di sekitar hulu mata airnya, dan jangan juga terlalu pusing dengan runtinitas kebakaran hutan yang sudah jadi hobby itu.

Di kepala tetap lengket bayangan mobil-mobil, entah angkot, plat merah, hitam mengkilat, berkaca gelap, atau keropos karat disana-sini, sama saja.  Penumpang dan pengemudinya sama pinter-nya, membuang tisu – kotak & puntung rokok – karcis parkir – kertas togel – bungkus permen – botol kaleng minuman – langsung dari jendelanya.  Bertebaranlah sampah-sampah itu mencari wadah parkir.  Paling mudah, parit, selokan, sungai.  Kalau nanti hujan datang, lalu air sampai bawah tilam, salahkan saja lagi si hujan kenapa datang waktu sampah numpuk.  Mau miskin atau kaya, sama aja gobloknya soal ini.  

Selamat hari lingkungan hidup dunia, ini semua gak ada hubungannya denganmu.

 

 

3 comments:

Uus said...

Samarinda dapat Adipura-kah? Masih mimpikah walikotanya handak jadi Gubernur?

joko waluyo said...

akhirnya kutemukan juga blog kamu yang baru, semoga rajin ngeblog, eit tapi kok bulan juni baru satu posting? hehehe

windede said...

biasa sajalah... :p