Wednesday, August 1, 2007

elesem juga manusia

Tanggal 1 juli 2007, AN-tv, superdeal dua milyar. Acara ini tidak sengaja terpilih, karena saya pikir tadinya acara sulap-sulap. Saya selalu kagum dengan kecepatan tangan para pesulap itu.

Setelah berputar-putar kanal tivi dan tidak menemukan acara yang ngeh, saya berhenti di kanal ini. Nico Siahaan masih membawakan acara. Sambil buka laptop, saya nonton. Pertama, bingung juga mengapa banyak lambang Panda, hewan langka asal Cina tercetak di t-shirt peserta. Kebetulan, mungkin. Penasaran, saya lebih perhatikan lagi. Satu peserta memakai dasi, ada tulisan vertikal di dalamnya, walhi. Saya tidak tau peserta lainnya, tak memakai emblem atau bendera mereka. Lalu, kira-kira saya menebak, rupanya kali ini adalah edisi elesem atau lembaga swadaya masyarakat. Kalau anda yang elesem tidak berkenan dengan sebutan itu, bolehlah saya ganti dengan en-ji-o atau NGO atau non-government-organization, yang lebih suka diterjemahkan sebagai organisasi bukan pemerintah.. halah!! Rupanya beberapa orang staf Walhi dan WWF sebagai pesertanya.

Semua peserta nampak sumringah merebutkan dua sampai puluhan juta rupiah. Sepeda motor juga blender dan mangkok yang jadi hadiah juga disumringahi. Bahkan paket jalan-jalan ke Bali dijawab dengan harap. Tidak nampak secuilpun wajah-wajah menolak atas semua hadiah dan proses entertainment yang kalau pada milist seringkali disumpahi sebagai produk dan pendekatan kapitalis itu (untuk istilah ini, maaf, saya gak setuju..). Yang terlihat adalah tampang-tampang sumringah, persis mirip sama dengan wajah para eksekutif muda, ibu-ibu arisan Menteng, bapak-ibu pejabat Kabupaten, para slankers, dancers, dan lain-lain, yang pernah ikut sebagai peserta acara Nico Siahaan ini. Dari kesumringahan ini, sadarlah saya bahwa mereka juga manusia. Elesem juga manusia.

Tapi, saat Nico Siahaan komentar dan men-canda-i model yang membawa nomor-nomor keberuntungan dengan kalimat yang berbau pelecehan seksual, mengapa mereka juga ketawa-ketiwi? Ah, saya lupa, mereka aktivis lingkungan, bukan pembela kaum perempuan atau aktivis sosial yang peka terhadap isu semacam ini. Pantas saja.

No comments: