Wednesday, August 1, 2007

sepulang kerja

Dari jauh sudah terlihat lambaian tangan dua anak, seperti mencegat angkot, berharap mobil saya berhenti. Jelas dua bocah itu mengharap bisa menumpang, setidaknya sampai di ujung jalan keluar sana.
Kantor saya berjarak sepuluh kilometer dari jalan utama ibukota kabupaten (masih perlu dua kilometer lagi untuk bisa sampai ke rumah kontrakan.. -- siapa yang nanya?). Setiap sore, dalam perjalan pulang, saya selalu disajikan pemandangan rutin. Puluhan pemancing rawa, beberapa pengendara searah dan anak-anak kucel yang melambai-lambaikan tangan berharap mendapatkan tumpangan.
Kemarin, dua bocah itu menumpang mobil saya. Hitam, kucel, ingusnya banyak dan hampir menyentuh bibir. Keduanya berpenampilan sama. Tapi yang menarik perhartian saya, adalah aroma yang mereka bawa, aroma lumpur rawa. Di kedua lengan bocah itu terlihat bercak lumpur-lumpur setengah basah, bisa saya duga mereka sudah mencoba membasuh seadanya. Dashboard mobil saya seketika belang-belonteng saat tangan berlumpur mereka menyentuhnya. Anak yang lebih besar seperti tertegun saat telapaknya merasakan aliran udara dingin dari AC mobil saya. Yang kecil tiba-tiba mengusap-usap dashboard, langit-langit dan jok mobil saya. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tiba-tiba saya merasa sesak saja.
Mereka tidak sekolah, hampir setiap hari pergi ke tempat dimana mereka saya ajak tadi, untuk memancing ikan. Ikan-ikan yang mereka dapatkan tidak dibawa pulang, tapi dikumpulkan dulu di salah satu rumah yang mereka akui sebagai "tempat teman". Pertanyaan saya tentang akan diapakan nanti ikan-ikan itu tidak mendapat jawaban. Bapak tidak kerja, begitu kata mereka hampir bersamaan. "Jual-jual tanah orang", begitu mereka menjelaskan pekerjaan sang ibu. Minta ini om, ujar yang lebih besar sambil mengacungkan tiga buah permen yang ia temukan di kantung pintu mobil. Tidak ada ucapan terima kasih saya dengar. Saya sama sekali tidak keberatan.
Rumah yang mereka tinggali masih dua kilometer lagi dari tempat mereka minta diturunkan. Jalan kaki saja, begitu mereka bilang. Kami berbeda arah. Saya berharap bisa bertemu mereka lagi.

No comments: