Thursday, January 10, 2008

punan & gaharu

Dalam sekali putaran waktu, saya memahami satu komunitas yang sedang bergerak.

Adalah Masyarakat Adat Punan Adiu, bermukim di bagian selatan Kabupaten Malinau, yang sedang giat menanam Gaharu di kawasan Adat mereka. Tujuannya sederhana saja, keinginan untuk memiliki tabungan Gaharu di masa depan, untuk anak-anak mereka yang pasti butuh banyak biaya. Sambil tetap berburu babi hutan, memanen buah hutan dan sedikit membuka ladang, mereka menanam hingga ribuan bibit Gaharu, di semua kawasan yang mereka akui sebagai Kawasan Adat.

Beberapa kelompok lain mencibir dan memuji. Cibiran datang karena dianggap pekerjaan yang tak jelas tujuannya. Tanah yang ditanami, jelas akan dialokasikan untuk sesuatu yang lebih berharga untuk orang banyak, ialah perkebunan kelapa sawit. Jadi, untuk apa menanam jika dalam hitungan bulan akan digusur paksa? Lebih baik klaim lahan saja, toh nanti dapat ganti rugi. Sedangkan pujian datang karena menganggap kerja mereka adalah suatu investasi jangka panjang yang mulia. 5000 bibit, jika mati setengahnya, masih ada 2500 pohon yang tumbuh. jika hanya setengahnya saja yang menghasilkan bongkah Gaharu, maka akan ada 1250 pohon yang tegak, menghasilkan oksigen, melindungi tanah, menghasilkan makanan untuk serangga, kupu-kupu dan semut.

Mereka terus melakukan itu, jauh sebelum hiruk-pikuk gerakan menanam oleh rejim ini, yang hanya diikuti secara seremonial oleh para penjahat kerah putih itu. Masyarakat Punan Adiu di ujung Kalimantan Timur, sudah memulai dalam diamnya. Mereka tak terlalu peduli dengan teriakan soal diskriminasi, dipinggirkan, minoritas, karena mereka sudah kenyang dengan pengalaman dianiaya, bahkan oleh saudara mereka sendiri. Mungkin, inilah yang membuat mereka memilih untuk berkarya dalam diam.

Mereka terus menanam, jauh dari hiruk-pikuk para pegiat lingkungan yang bergelimang gaji rutin, perdiem, dan koar-koar atas jasa menyelamatkan negri ini dari nuklir. Jauh dari perdebatan saudara-saudara mereka soal bagaimana etnis asli harusnya memimpin negri ini. Jauh dari orang seperti saya yang suka cita menghabiskan waktu dan rupiah dengan mengakses internet hanya untuk menuangkan pikiran menjadi tulisan ini. Mereka terus menanam dalam diam.

Masyarakat Adat Punan Adiu, hanya baru berhasil menanam 5000-an bibit Gaharu, sederhana saja, "untuk anak-anak kami, supaya mereka punya tabungan dan tidak kelaparan nanti", begitu kata seorang dari mereka, nyaris tak terdengar.

No comments: