Sunday, September 28, 2008

Rektor UNMUL skorsing Mahasiswa karena laporan ke Kejati?

Update 30 september 2008: Berita Tribun Kaltim; Humas Rektorat meralat ucapannya, Juminter bukan di skors karena belum bayar SPP, tapi karena menghina Rektor. Pada saat demo, Juminter menyebut Rektor sebagai drakula, dan itu dianggap penghinaan. Dalam berita itu disebutkan juga bahwa Rektor Unmul akan dipanggil DPRD Kaltim untuk menjelaskan kasus skorsing ini.
Pertanyaannya: Apakah prosedur skorsing telah dilakukan dengan benar oleh Rektorat? atau ini hanya show of force belaka? apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan oleh Rektorat? Mengapa aroma pendekatan kekuasaan sangat kental dalam kasus ini?


***

Rektor Unmul Skorsing Mahasiswa; Laporkan Rektorat ke Kejati soal Dugaan Korupsi, begitu salah satu judul berita Tribun Kaltim (27 September 2008, halaman 13).

Berita disajikan dengan cukup berimbang, kedua versi (versi Juminter, koordinator AFB dan versi Muliadi, humas Unmul) diberitakan.
Juminter bilang bahwa skorsing diterimanya karena ia dan AFB melaporkan Rektor ke Kejati. Muliadi bilang skorsing diberikan karena Juminter gak bayar SPP. Juminter juga bilang dia bayar SPP, kok ("kok" ini saya salin dari tulisan di Tribun). :-)
Muliadi bilang skorsing ini hasil rapat Senat FISIP dan disetuji Rektorat. Muliadi bilang bahwa Juminter juga dinilai mencemarkan nama baik rektorat dengan aksi yang dipimpinnya di kampus beberapa waktu lalu.
Juminter bilang gak pernah dapet teguran-teguran pendahuluan (yang harusnya dilakukan Rektorat sebelum menjatuhkan sanksi skorsing itu), tetapi langsung diskors dengan SK Rektor Unmul nomor 362/AK/2008 tanggal 24 September 2008.
Soal tahapan skorsing yang tidak sesuai dengan Statuta Unmul, Muliadi bilang "kita tidak pakai Statuta Unmul, kita pakai PP 60/99".

Sebagai pembaca (dan juga alumni Unmul), saya merasa perlu mencari kelanjutan berita ini. Paling mudah ya tunggu berita lanjutan dari koran yang sama (atau yang beda).

Sambil menunggu berita lanjutannya, saya mengira-ngira, apa yang sebenarnya terjadi?
Saya coba pisahkan saja menjadi dua hal, yaitu skorsing & laporan Juminter ke Kejati.

Pertama, soal skorsing; Pertanyaannya, kalau memang benar blum bayar SPP, mengapa sanksi langsung dengan skorsing? bagaimana dengan para mahasiswa miskin Unmul yang juga blum bisa bayar SPP? Bakal menangis bombay mereka karena skorsing yang "tak perlu ikuti tahapan dalam Statuta Unmul" itu. Tak ada teguran lisan, tak ada teguran tertulis, langsung skorsing! bukan main!
- Lagi pula, aneh juga memilih dasar hukum dengan mengabaikan aturan paling dekat. Mengabaikan Statuta Unmul adalah tindakan gegabah. Kalau tidak perlu dirujuk, mengapa tidak sekalian saja tak perlu berstatuta Unmul ini. Menurut saya, sedetil apapun PP60/99, jelas ia berlaku umum (silahkan lihat PP60/99). Dan aturan terdekat jelaslah Statuta Unmul (silahkan baca). Saya kok menangkap kesan bahwa telah diberlakukannya standart ganda untuk kasus Juminter ini. Jika tak bisa dikenai pasal-pasal dalam Statuta Unmul, maka kenakan saja pasal-pasal dalam PP60/99, begitukah?

Kedua, soal laporan ke Kejati; Apa yang dimaksud dengan "mencemarkan nama baik rektorat?". Apakah melaporkan ke Kejati itu maksudnya? Atau ada kalimat-kalimat selama Juminter berdemo yang bisa dimaksudkan sebagai pencemaran nama baik? Apakah menjadi terlapor itu sama dengan menjadi cemar nama baik seseorang? Aneh juga, jika memang Juminter melakukan pencemaran nama baik Rekorat, mengapa Rektorat tidak melaporkan saja Juminter ke polisi? Ataukah skorsing tanpa melalui tahapan ini adalah hukuman bagi tindakan yang digolongkan sebagai pencemaran nama baik itu? Ataukah ini dimaksudkan sebagai shock therapy bagi mahasiswa lain agar tak mengusik Rektorat?

Menurut saya, untuk dapat membangun kampus yang demokratis dan hidup, adalah dengan memberikan ruang yang luas pada proses demokrasi itu sendiri, tentu disertai dengan penerapan aturan-aturan secara tepat, dan bukan atas interpretasi sepihak, apalagi dengan pendekatan kekuasaan.
Jika tidak segera berubah, maka waktu yang akan membuktikan, dan itu pasti lebih menyakitkan.

Barusan buka-buka Tribun Minggu, tidak ada berita lanjutan soal ini. Mungkin Senin nanti?


Saturday, September 27, 2008

tentang oreo wafer stick ber-melamin

"Produk yang itu tidak dilarang, lihat saja edaran itu", begitu kasir sebuah toko makanan di jalan Dr. Soetomo Samarinda menjawab pertanyaan saya soal masih dipajangnya produk Oreo wafer stick di counter makanan kemasan.

Fotocopy Keterangan Pers BPOM No. KH.00.1.5.531 tanggal 24 September 2008 tentang Isu Produk Cina yang Mengandung Melamin bahkan dipajang secara mencolok, ditempel pada rak makanan.  Karena penasaran, saya baca seksama isi keterangan pers ini.  Pada tabel di dalamnya tercantum dua jenis Oreo Wafer Stick yang dianjurkan oleh BPOM untuk tidak dikonsumsi, yaitu yang berkode produksi ML 227109001450 dan ML 827109002450.  

Benar-benar membingungkan.  Betapa tidak, karena Oreo Wafer Stick yang dipajang memang bernomor produksi yang berbeda, walaupun dengan awalan kode yang sama, yaitu ML, artinya memang produk import.  "Kode produksinya beda, walaupun ada kode ML, tapi aman dikonsumsi, ada edaran dari distributor juga", begitu jelas si kasir sambil meminta saya melihat lembaran di belakang keterangan pers itu.

Ternyata, edaran yang dimaksud si kasir itu adalah edaran dari supplier (saya lupa nama supplier-nya) yang berisi Question & Answer untuk membantu para distributor dan reseller produk mereka (termasuk Oreo Wafer Stick itu) jika menghadapi pertanyaan konsumen.  Yang unik, salah satu Q&A kira-kira berbunyi: "Bagaimana jika konsumen tetap bersikeras menyatakan produk tersebut dilarang?", dan answer-nya kira-kira berbunyi "Tunjukkan pada konsumen Keterangan Pers BPOM, dan sampaikan bahwa hanya produk-produk dengan kode produksi yang sama yang disebutkan dalam keterangan pers itulah yang diajurkan tidak dikonsumsi".  Lalu, di akhir surat edaran itu ada kalimat yang kira-kira berbunyi "distributor/reseller dipersilahkan memilih menarik atau tetap menjual produk-produk yang disebutkan sampai ada keterangan resmi dari hasil uji laboratorium BPOM".

Konsumen memang harus jeli, Karena kesehatan dan keselamatan konsumen bukan point utama bagi para produsen dan penjual.  Intinya, profit harus tetap dijaga.  Karenanya, berhati-hatilah, karena tidak ada yang dapat melindungi kita sebagai konsumen, kecuali diri kita sendiri.  

Update 28 September 2008:
Nampaknya semua produk Oreo Wafer Stick memang tidak boleh dikonsumsi.  Lihat berita di Tribun Kaltim.
   


Thursday, September 25, 2008

laskar pelangi


Saya termasuk follower, pengikut trend saja.
Dari Nunuk Kasyanto, si "kuro kandas" itulah kali pertama saya dengar tentang novel Laskar Pelangi.  Ia memborong enam novel Laskar Pelangi dari sebuah toko buku terkenal di Yogyakarta.  "Sebenarnya satu untuk kamu", seperti biasa dia selalu bermurah hati.  "Tapi adik-adikku membajak semuanya, habislah", jelasnya untuk menerangkan mengapa akhirnya tak ada novel Laskar Pelangi untuk saya.  Lalu ia menceritakan panjang lebar tentang isi novel itu.  Entah karena saya yang tak konsentrasi, atau cara bertutur Nunuk kurang meyakinkan, saya tak ambil perhatian pada Novel ini.  


Kejadian sekian bulan lalu itu berlalu begitu saja.
Kemudian beberapa milis yang saya ikuti mulai membahasnya.  Aneh, karena rata-rata milis itu bukan milis sastra atau semacamnya.  Milis teknis, eksak.  Ada apa?  Tapi, inipun tidak membuat saya membeli novel ini.  Saya pikir, ini dejavu, seperti waktu novel Supernova-nya Dewi meledak.  Saya tidak tertarik pada saat semua orang tertarik.



Kick Andy, ya.. acara itu yang akhirnya membuat saya membeli novel ini.  Ditambah lagi bayangan perjalanan ke Quezon City yang bakal membosankan, akhirnya saya beli novel ini berbulan-bulan lalu, entah kapan pastinya, lupa.  Penasaran, itu bonus alasannya.  Versi hardcover saya beli, nanggung lah kalau beli versi softcover.
Kualitas novel ini? hmm.. saya bukan kritikus.  Seperti yang saya bilang, saya cuma follower belaka.  Percaya atau tidak, saya baru menyelesaikan novel ini minggu lalu, dalam perjalanan ke Melak, Kutai Barat, setelah berbulan-bulan lalu saya beli novel yang tak terlalu tebal ini.
 
 
mereka akan tayang sejak hari ini, 25 September 2008.  
Seperti biasa, saya tidak akan mau berdesak-desakan di bioskop, cukuplah menunggu versi DVD-nya.  Kali ini saya berniat membeli versi original.  
Semoga hasil penjualan film ini bisa bermanfaat untuk mereka, 
Laskar Pelangi lainnya, di Belitong.


Tuesday, September 23, 2008

ke melak, sekarang beda sedikit sama

Ke Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur, 
sekarang sedikit beda, walaupun ada yang tetap sama...


07.30 pagi, dua kapal Tujuan Samarinda - Melak - Long Iram sudah berangkat. Ya, sekarang hanya ada dua kapal setiap hari.  Dulu empat kapal perhari.  Sejak rute darat Samarinda-Melak lancar, transportasi sungai bukan lagi primadona. 6-7 jam perjalanan menggunakan mobil rupanya lebih menarik, dibanding 15-16 jam melalui sungai.
Tidur beralas kasur tipis, bantal sedikit butut, kadang kaki menggantung, 
bonus asap rokok penumpang sebelah, kadang bonus plus-plus aroma ketiak, kadang tak ada angin, bikin gerah.
Begitulah kalau jadi penumpang kapal Samarinda-Melak.  Tiketnya duaratus duapuluh ribu rupiah, termasuk sepeda motor.  Tidak termasuk ongkos porter tigapuluh ribu rupiah untuk naik-turunkan sepeda motor.


aktivitas sepanjang sungai tetap saja. 
MCK, keramba, perahu bertambat, rumah rakit.












aktifitas pemindahan batubara semakin marak.
yang besar dan tua, sampai yang baru mulai membuka 
dan menumpuk seadanya.


sedikit kayu sebetan, sekarang masih ada.  tumpukan tinggi kayu hasil hutan tanaman di atas ponton tak sempat diabadikan.  rakit-rakit kayu diameter kecil yang ditarik kapal-kapal kecil dan hanya berjalan malam hari, seperti menegaskan sisi illegalnya, tak sempat juga diabadikan.


Pembangkit listrik yang baru dan yang lama, dengan latar depan ponton batu-bara.  Potensi listrik, supaya gak byar-pet dimasa depan.  Mudahan lebih murah harga per KwH-nya. 

Samarinda-Melak-Samarinda 
[19-21 September 2008]

Thursday, September 18, 2008

Iwan Fals, Kekasih & TVS


Bukan sesuatu yang spesial buat mereka yang tak kenal Iwan Fals dan pasti sangat spesial buat mereka yang tergabung dalam OI (Orang Indonesia, kelompok fans Iwan Fals yang ada di semua propinsi se-Indonesia).

Walaupun bukan masuk daftar OI, dan tidak pernah hadir dalam live concert-nya, buat saya, Iwan Fals selalu istimewa. Termasuk juga dua langkah yang bulan-bulan terakhir ini dilakukannya.  Yaitu bermain dalam film Kekasih sekaligus menciptakan sountrack-nya, dan menjadi icon untuk produk motor India, TVS.

Istimewa buat saya, karena Iwan Fals hanya melakukan apa yang biasa orang lain lakukan, dan gerak tubuh dan pikirannya akan menjadi komando bagi para pengikutnya.  Ia melakukan hal yang biasa dengan luar biasa.  Ini yang tidak dipahami oleh mereka yang selalu mengagung-agungkan keluar biasaan, padahal sebenarnya mereka tengah melakukan hal yang biasa saja.

Maka, menjadi tidak mengherankan jika kemudian member OI berbondong-bondong antri tiket bioskop untuk nonton film Kekasih, padahal mungkin ini kali pertama seumur hidup mereka nonton film Indonesia.  Dan jangan heran kalau kemudian lapangan parkir konser Iwan Fals dipenuhi oleh motor bermerk TVS, padahal sebelumnya mereka penggemar berat vespa butut atau anggota BTW kelas jamur. 

Karenanya, biasa sajalah dengan cara luar biasa.

 

Monday, September 15, 2008

martabat saat memancing

Memancing memang ajang mencari martabat,
tentu bukan martabat serius, ini bagian dari fun..
Setidaknya buat kami, yang lebih mengutamakan fun, 
ketimbang hasil tangkapan.

Jenis dan ukuran ikan yang berhasil dipancing,
akan menentukan martabat pada hari itu.

Martabat akan berubah di sessi pemacingan berikutnya,
tergantung hasil tangkapan.

Kakap, peringkat lumayan. 
Herman ingin menaikkan martabatnya,
padahal jelas itu bukan hasil pancingannya.
Biasa, foto memang menipu.
[pangempang, badak, 7 sep 2008]  




DIG; memang ikan kecil, tapi hasil tangkapan sendiri.
Hari itu beruntung dia, martabatnya naik disaat-saat kritis.
[pangempang, badak, 7 sept 200]


Yudi Tuyul; sedikit mengherankan,
dia nampak gembira dengan hasil pancingannya,
ini biasa disebut ikan Otek, berlendir pula!  
padahal ini martabat terendah,
lebih rendah dari mereka yang tak berhasil mendapat apa-apa.

Tapi, jangan salah.  Otek-nya sendiri bukan jenis ikan murahan.
Kalau sudah berubah menjadi ikan asin goreng, 
martabat penyantapnya langsung naik tiga point.

"suka ikannya, tapi jangan sampai mancing ikannya",
begitu prinsip DIG soal otek.

[foto Yudi Tuyul dapat Otek, 14 sept 2008] 




Thursday, September 4, 2008

mbengkel atau mancing?

Mbengkel, ini istilah kami, kalau ada satu rekan yang masih saja sibuk dengan piranti mancingnya, sementara yang lain sudah santai menunggu kapal mencapai spot mancing.

Dialah Taufik, rekan sehobi yang bangga dengan joran Lemax-nya. Karena lupa atur drag, merasa strike, lemax disentak, melengkung dahsyat.  
Derawan memang terkenal dengan ikan ukuran jumbo, mungkin karena itu Taufik tidak mau kehilangan kesempatan.  Joran Lemax terus dipertahankan dan cenderung di sentak terus, sementara drag gak diperhatikan. Taufik ketawa girang, sambil ngelirik saya, dia teriak "ikan besar nih, satu kosoooong...".  
Memang, kami selalu saling ejek.  Yang paling sial adalah mereka yang strike ikan terkacil. 
Hati saya sudah menciut, masalahnya baru satu ikan seukuran telapak tangan saya naikkan, itupun di-release balik.
  
Tapi, moment buruk terjadilah, saat kapal bergerak mengikuti gelombang, saat itulah kenur mengencang sampai pada batas lenturnya, dan joran juga mencapai batas lengkungnya.  Krak!! Lemax andalan patah menjadi dua, tepat satu sentimeter dekat sambungan.
Juragan kapal mendekat, meraih kenur, dan sambil senyum dia berkata "Pak, ini karang, bukan ikan"... apess!!! 

Jadilah Taufik mbengkel, melakukan kanibal joran Hamingway menjadi salah satu organ Lemax.  Nunuk yang memang murah hati, bersedia membantu melakukan operasi berat itu.  Sedangkan kami, cukup membantu dengan senyum-senyum dan niat buruk untuk mejadikan ini sebagai bahan cerita.  Setidaknya sampai ada moment mancing bersama lagi.

Taufik, kalau karang ya karang aja, jangan pura-pura bilang strike ikan jumbo!! Dasar pemancing!

[kepulauan Derawan, Berau, akhir Agustus 2008]















fishing dan jalan-jalan, derawan

Gak niat jalan-jalan, tadinya cuma pengen mancing,  di sela waktu yang mepet, menjelang kembali ke Samarinda.  Hujan lebat dan gelombang memaksa kami merapat ke Pulau Derawan, Berau.  Lumayan, santap siang di Pulau Derawan, dokumentasi dikit.  Mancing kali ini lebih berkesan, karena campur jalan-jalan.

[kepulauan Derawan, Berau, akhir Agustus 2008]










Tuesday, September 2, 2008

marhaban ya ramadhan,

ramadhan tiba,

milis penuh dengan ucapan selamat ramadhan,
sms masuk bilang selamat ramadhan,
warung-warung makan tutup,
atau pasang kain, cuma betis pelanggan yang nampak.
penjual dawet lesu masih menutup gerobaknya.
warung makan kecil nampak melompong.
kasihan mereka yang tidak puasa,
karena sulit mencari makan siang hari.
kasihan mereka yang puasa,
karena godaan makin hari makin berkurang.

hormatilah orang yang tidak berpuasa,
dengan cara membiarkan kedai-kedai makanan buka,
atau biarkan tanpa penutup kain.

jangan menghina orang yang berpuasa,
dengan menyembunyikan mereka yang sedang makan,
di balik kain-kain penutup kedai.
memangnya orang berpuasa gak kuat godaan?
biarkan karaoke dan kelab malam buka,
memangnya orang berpuasa gak kuat godaan?

biasa sajalah,
karena puasa adalah hal yang biasa.
meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah,
gak musti nunggu ramadhan.
memangnya 11 bulan lainnya, kita ngapain?

ini bulan baik, lebih baik dari 1000 bulan.
ya iyalah! namanya juga ramadhan.
kata teman saya, kalau mau dihapus dosa,
setelah tobat, jangan ulangi lagi.
kalau diulangi lagi, enak dong..
minta ampun tiap ramadhan,
11 bulan lainnya, jadi bajingan lagi.
ntar minta ampun di ramadhan tahun depan.
bajingan amat!

biasa sajalah,
ramadhan itu bulan baik, tapi bukan tarawih.
ramadhan itu bulan suci, tapi bukan cuma baju gamis, sajadah & mukenah.
ramadhan tidak semurah itu.

biasa sajalah,
berbuat baik saja, beribadah yang tulus,
memberi yang ikhlas, menasehati dengan jujur,
jangan ambil hak orang lain, jangan menipu,
jangan menindas.
lakukan ini selama 11 bulan lainnya,
lalu lakukan hal yang sama pada ramadhan.
mari sama-sama berusaha menjadi lebih baik.

marhaban ya ramadhan.