Thursday, November 27, 2008

anda bicara banyak, mereka sudah berbuat sejak lama


Di milis dan banyak pertemuan,
gencar dibicarakan soal melestarikan hutan.

Yang pemerintah sibuk dengan peraturan,
yang akademisi sibuk berteori,
yang LSM sibuk bikin partai lingkungan.

Jika berbicara, semua lantang bergemuruh,
"kamilah satu-satunya ksatria baja hijau,
pembela lingkungan, pengayom masyarakat".
Kalau diberi not balok, iramanya beda,
cara nyanyinya beda.
Yang sama cuma mangap-nya saja.

Nun jauh disana, utara kalimantan,
sekelompok kecil masyarakat Punan,
diam-diam menanam pohon.
Delapan ribu bibit sudah ditanam, untuk menandai wilayahnya,
"juga untuk anak-cucu kami", tidak dengan nada palsu.

Menyusul, babi hutan dan hewan-hewan liar mereka senangkan,
dengan menanam pohon-pohon buah
kesukaan para satwa hutan itu.
"babi-babi kami senangkan,
supaya mereka bisa menyenangkan kami juga
kalau nanti kami buru",
terkekeh mereka mengucapkannya.

Mereka bahkan bertukar cerita,
dengan Penan dari negara tetangga,
yang sebenarnya bukan tetangga, tetapi keluarga.

Cerita tentang bagaimana buldoser merusak hutan mereka,
bagaimana rencana perkebunan sawit membuat mereka was-was,
bagaimana slogan kabupaten konservasi cuma sebatas poster
dan hanya untuk pengumpulan penghargaan belaka.
Juga cerita tentang air sungai yang semakin cepat keruh,
dan banjir yang semakin sering dirasa.

"kalian masih bagus, air kami sudah tak lagi sihat",
saudara dari Serawak mengingatkan
supaya rajin bersyukur,
karena hutan disini masih lebih baik
dibanding hutan di negaranya.

"minta si anu cepat balik, kami rindu padanya",
begitu kalimat perpisahan.
Meminta bantuan untuk menyampaikan
pada saudara mereka yang belasan tahun
tak kunjung pulang kampung.
Ternyata, mereka mengenal banyak orang yang sama.

Sementara di kota-kota,
Seminar demi seminar, peraturan demi peraturan,
dan barisan orang-orang yang seolah-olah berpihak pada masyarakat hutan,
terus saja bergemuruh membendung milyaran uang.

Punan Indonesia dan Penan Sarawak bertemu, diam-diam saja.
"Kami saling belajar saja,
siapa tahu ada yang bisa bermanfaat
untuk anak-cucu nanti",
lirih saja suara itu.

[Penan bertemu Punan, Hutan Adiu, November 2008]

1 comment:

Sqvalkic said...

Luar biasa Pak!

Salam
http://arahmadi.blogspot.com