Thursday, May 14, 2009

Kecerdasan Tanpa Budaya, posting dari Arya Hadi Dharmawan

Ini posting dari Arya Hadi Dharmawan, Dosen Ekologi Politik dan Teori Sosial Hijau - Pascasarjana IPB.
Saya mendapatkan posting ini dari milis Komunitas Vibrant. Adalah Dani Wahyu Moenggoro yang mem-forward-nya.
Isinya menarik, memberi pencerahan dan kesadaran akan sisi lain dari proses bernegara selama ini.
Kepada Arya Hadi Dharmawan, saya mohon ijin untuk menampilkan posting anda dalam blog saya. Terima kasih atas posting yang bermanfaat ini.

*****
Kecerdasan Tanpa Budaya

Teman-teman FB..sekitar seminggu yang lalu tepatnya tgl 6/5/2009 di Puspiptek Serpong, aku mendapat "kemewahan" yang luar biasa. Kusebut kemewahan, karena peristiwa ini jarang terjadi bagiku. Hari itu, aku bisa ikut ambil bagian dalam sebuah diskusi ilmiah amat-sangat terbatas dengan sekitar 40an gurubesar sepuh yg juga "begawan-begawan ilmuwan negeri ini".
Mereka asset bangsa yang pikirannya masih sangat kaya. Kusebut saja, ada Prof. BJ Habibie, Prof. Emil Salim, Prof. Tjondronegoro, Prof. Toeti H Nurhadi, Prof. Sangkot Marzuki, Prof. FG Winarno, Prof. Taufik Abdullah, dsb..aku menjadi terasa "sangat kecil" di tengah-tengah mereka...:-)

Intinya, mereka memikirkan hendak kemana bangsa Indonesia yg sedang "carut-marut" seperti ini.. Tinjauannya sangat luas...Indonesia ke depan dari perspektif "auronotika" ala Prof. Habibie, "ekonomi-ekologi" ala Prof.Emil Salim, "kebudayaan" ala Prof. Toeti, dan "biologi-molekuler" ala Prof. Sangkot Marzuki.

Sulit kutuliskan "long-version lecture" yg kuterima dari para begawan pada hari itu disini, tetapi inti-intinya hendak kubagikan kepada teman-teman sekalian. Dalam catatan-catatan terpisah berikut ini.

1. Tesis Habibie tentang Indonesia dalam "Kecerdasan tanpa Budaya" di Indonesia

Lecture dari Prof. BJ Habibie yang menghabiskan waktu hampir dua jam dan memukau para gurubesar lain adalah pengajuan tesisnya dari hasil diskusi panjang dengan seorang gurubesar dari Chatolische Universitaet Switzerland. Ia adalah Prof. Kuhn yang menulis buku "Spueren die Religion" (jejak-jejak agama). Intinya, ditanyakan oleh Prof. Habibie: mengapa bangsa-bangsa di
dunia (termasuk Indonesia) mengalami stagnasi peradaban, meskipun proses pendidikan digalakkan dengan dukungan dana yang luar biasa? Kata Habibie, bangsa-bangsa di dunia saat ini mengalami kecerdasan luar biasa karena proses PENDIDIKAN namun bukan karena proses PEMBUDAYAAN.

Habibie mengatakan pendidikan hanya mengasah KECERDASAN otak. Sementara pembudayaan yang (sangat tidak mendapat tempat dan perhatian dari pemerintah kita) sebenarnya hendak mengasah VERNUENFT (KEARIFAN) agar manusia menjadi vernuenftig (arif-bijaksana) . Inilah yang tidak berlangsung di negeri ini. Alhasil, kita menghasilkan banyak orang PINTAR TETAPI TIDAK ARIF BIJAKSANA.

Habibie mengatakan, bila kepadanya diberikan dua orang untuk dipilih, maka ia akan mendahulukan orang yang BERBUDAYA dari pada cerdas tetapi tanpa budaya (pintar tetapi tidak arif-bijaksana) . Tentu akan senang bila Indonesia hari ini memiliki banyak orang yang PINTAR SEKALIGUS ARIF-BIJAKSANA. Namun, kata Habibie lebih lanjut disain pengembangan SDM di Indonesia mengerucut pada kutub PENCERDASAN semata-mata, tanpa proses PEMBUDAYAAN. Hasilnya, para pemimpin negeri ini adalah ORANG-ORANG PINTAR
(di bidangnya) tetapi TIDAK ARIF dalam melihat totalitas peradaban bangsa ini. Prof. Habibie lalu bertanya: mau kemanakah Indonesia sebenarnya hendak dibawa oleh para pimpinan negeri ini?

Tesis Habibie ini mengguncang dan "meresahkan" pikiranku selama diskusi berlangsung hingga acara selesai. Lalu seolah muncul kerinduanku pada pikiran-pikiran kenegarwanan dan kebangsaan serta kecendekiaan- kearifan ala Habibie yang hari ini sulit kudapatkan di negeri ini.....sepulang dari Serpong aku melongok ke Senayan (DPR-RI).... kupandangi lama gedung ini, lalu kulihat siapa-siapa saja kelak yg mengisi dan meramaikan gedung ini...keprihatinank u terjawab sudah...dua hari lalu tgl 9/5/2009 diumumkan nama anggota-anggota legislatif definitif hasil Pemilu 2009....melihat nama-nama mereka...jangankan harapan ttg "kearifan", bahkan "kecerdasan" pun menjadi barang langka di gedung ini...pantas bila lembaga ini diragukan banyak pihak....mungkin inilah jawaban pertanyaan Prof. Habibie...Peradaban Indonesia memang baru "sampai disini" saja....:-)

2. Etika Ekonomi Pasar (yang memporakporandakan)

Tesis kebudayaan dan peradaban berikutnya kudapatkan dari Prof. Emil Salim (ekonom senior terbaik yang dipunyai negeri ini). Ia seolah hendak mengiyakan keresahan-keresahan Stiglitz atau Amartya Sen. Pikirannya ia "mainkan" melintasi beberapa mazhab ekonomi. Namun, ia sangat terasa beranjak dari ekonomi klasik dan mengakirinya dengan kritik kepada ekonomi neo-liberalisme pasar.

Prof. Emil Salim memulai dengan KRISIS ETIKA EKONOMI di Indonesia. Setiap jiwa warga Indonesia yang dididik di negeri ini untuk mempelajari ilmu ekonomi, meng-amini satu-satunya doktrin yang seolah-olah itulah DOKTRIN TUNGGAL EKONOMI yang ada di dalam jagad ilmu Ekonomi kita. Doktrin tersebut dikatakan oleh Prof. Emil Salim sebagai "ETIKA EKONOMI PASAR". Dalam etika tersebut diyakini bahwa perilaku setiap jiwa yang hidup ini selalu diorientasikan kepada upaya-upaya rasional untuk MEMAKSIMISASI MANFAAT apapun yang ada di hadapan mereka. Setiap peluang, dilihat sebagai manfaat yang harus di-utilisasi secara maksimal.

Apa kesalahan dari etika ini terhadap peradaban bangsa Indonesia hari ini? Beginlah kata Prof. Emil Salim lebih lanjut:

1. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku memaksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah POLITIK, maka hasilnya adalah pandangan bahwa KEKUASAAN ADALAH PELUANG EKONOMI untuk DIMANFAATKAN semaksimal mungkin. Resultan dari pandangan ini, maka POWER IS COMMERCIALIZED (kekuasaan diperdaganngkan) ...fakta inilah yang hari-hari ini kita lihat sejak PILKADA, PILEG, hingga PILPRES nanti...akankah bangsa Indonesia terus memelihara salah cara-pandang seperti ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya. ...

2. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku memaksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah EKOLOGI, maka ENVIRONMENT IS COMMERCIALIZED dan NATURAL-RESOURCES mengalami proses CAPITALIZED (SDA dipandang obyek eksploitasi manusia semata-mata barang dagangan yang dijual-jual dengan harga murah seolah tanpa memiliki nilai-nilai "Illahiah/sunatulla h" lainnya). Hasilnya, Indonesia mengalami kehancuran SDA dan lingkungan yang sangat akut sekaligus kronis tak tertolongkan. Pertanyaannya: akankah bangsa Indonesia meneruskan tradisi etikal seperti ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya. ...

3. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku maksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah SCIENCE & TECHNOLOGY serta PENDIDIKAN, maka hasilnya pun sama IPTEK dan PENDIDIKAN yang DIKAPITALISASI dan DIPERDAGANGKAN. ...(catatanku: oleh karena itu muncullah UU Badan Hukum Pendidikan - UU BHP yang kontroversial itu). Hasilnya, pendidikan makin elitis dan mahal. Pertanyaannya: akankah Indonesia meneruskan tradisi etikal semacam ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya. ... Demikianlah, akra KRISIS PERADABAN bangsa Indonesia terletak pada KRISIS ETIKA yang dipeliharanya. Pertanyaan dari Prof. Emil Salim saat itu adalah: bagaimana caranya bangsa ini melepaskan etika yang seperti itu? Pertanyaan ini hampir pasti tidak dapat dijawab secara memuaskan, bahkan oleh Prof. Habibie sekalipun pada waktu diskusi itu.

3. Kepunahan Generasi (Pandangan Biologi Modern) Indonesia dan Dunia

Isyu ini dikemukakan oleh Prof. BJ Habibie dan disambut oleh Prof. Sangkot Marzuki (Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkmann di Jakarta). Prof. Habibie mangatakan, bahwa peradaban pada saat ini (secara biologis) "terancam" (atau ditakdirkan) oleh sebuah kenyataan yang sulit (sangat musykil) untuk dielakkan. Para ilmuwan (iptek dan sosial) serta pemimpin negeri ini seolah ditantang untuk berpacu melawan waktu atas sebuah "sunatullah" (takdir alam) yang sulit dibendung berkaitan dengan fakta yang disebutkan sebagai "DEGENERASI KROMOSOM Y" (silakan lihat jurnal-jurnal biologi modern yang mengungkap Y Chromosome degeneration di internet).

Apa "bahayanya" fakta degenerasi kromosom Y ini? Dengan sangat sigap dijelaskan oleh Prof Habibie dan "di-amini oleh Prof. Sangkot) bahwa spesies homo-sapiens (manusia berbudaya) yang ada secara genetik dibentuk oleh kromosom XX (bagi wanita) dan XY (bagi yg berkelamin pria). Singkat cerita dalam kromosom X ataupun Y, disana "diinstall" oleh Allah SWT - Tuhan YME berbagai macam kode-genetik (gen) dalam bentuk informasi-informasi perilaku, ciri fisik, ketahan tubuh, dsb dalam bentuk DNA (bhs Indonesianya: asam dioksiribo nukleat). Penelitian-peneliti an biologi molekuler modern membuktikan bahwa KODE-GENETIK yang ada dalam KROMOSOM X terbukti SANGAT STABIL selama paling tidak 5000 tahun terakhir. Artinya, ciri-ciri genetik (kewanitaan) yang dibawa oleh kromosom X tidak berubah selama masa itu
hingga saat ini.

Apa yang terjadi dengan kromosom Y adalah 180 derajat berbeda dengan kromosom X. Hasil penelitian membuktikan bahwa selama kurun waktu yang sama KODE GENETIK YANG HILANG PADA KROMOSOM Y hampir mencapai 60%. Apa artinya semua ini? Artinya KROMOSOM Y MEMILIKI VIABILITAS yang SANGAT RENDAH dan TERUS MENERUS MENURUN EKSISTENSINYA. Dengan kata lain, setiap perkawinan (pembuahan sel sperma thd sel telur) yang terjadi di dunia, peluang untuk mendapatkan kombinasi XY (anak laki-laki) semakin SULIT atau semakin kecil.
Sebaliknya, kombinasi XX akan semakin menguat. Ini berarti kedepan, akan terjadi KRISIS POPULASI, dimana jumlah penduduk perempuan akan makin banyak dan mendominasi populasi spesies manusia. Boleh dibayangkan, bila suatu saat kelak TIADA LAGI MANUSIA BERJENIS KELAMIN PRIA karena kromosom Y yang terus melemah. Maka, menurut keyakinan agama-agama, dan juga (keyakinan ilmu biologi), disanalah KIAMAT sedang menjelang. Mengapa? Jawabannya sederhana... .apa jadinya sebuah peradaban, bila hanya diisi oleh spesies berjenis kelamin tunggal saja...REGENERASI TIDAK AKAN TERJADI dan kepunahan manusia, di depan mata....:-)

(lihat selanjutnya: Biecek, P and Cebrat, S. 2008. "Why Y Chromosome is Shorter and Women Live Longer" dan artikel-artikel sejenis di www.springerlink. com)

Keresahan saintifik seperti ini sudah dibahas di jurnal-jurnal biologi dan medicinal sciences. Juga, ia telah dibahas oleh para gurubesar mumpuni di negeri ini.

Kini pertanyaannya adalah: sampai manakah Indonesia mengantisipasi fakta-fakta sosio-ekono- biologi yang menggerakkan ECO-CIVILIZATION and POPULATION CRISIS seperti yg dikemukakan di atas? Bagaimana kita "mengatasi" hal-hal itu? Etika apakah yang perlu dikembangkan agar kehilangan kode-genetik pada kromosom Y tidak terus berlanjut?

Dalam wilayah ekonomi: Etika ekonomi apakah yang perlu dibangun agar bangsa ini tidak "membabi-buta" dalam mengelola negara ini? dan segudang pertanyaan lainnya.....

Jawabannya: hanya bangsa Indonesialah yang bisa menjawabnya. ....hanya bangsa Indonesialah yang bisa menjawabnya. ....

Teman-teman waktu dan tempat membatasiku untuk bercerita lebih lanjut, mudah-mudahan ada hal lain yang bisa kubagikan lain waktu....salam negeriku dalam keprihatinan. ....

Arya Hadi Dharmawan
Dosen Ekologi Politik dan Teori Sosial Hijau - Pascasarjana IPB
(PSP3IPB/KPM IPB)
www.psp3ipb. or.id