Sunday, August 2, 2009

kota yang aneh

Tabel-tabel dan kolom-kolom, bikin aku lupa kalau perut belum diisi.
Layanan kamar sudah tutup, padahal tadi kulirik jam setempat baru di angka sebelas. "Tinggal roti bakar, Pak", suara dari seberang sana.
Aneh, pengalamanku, jam duabelas adalah jam mulai tutup layanan. Itupun jarang.

Malas, kucoba melongok jalan raya di depan. "Nasi Goreng, Mie Goreng,..." begitu tulisan di kain buruk penutup gerobak. Lumayanlah.

Mana ada istilah nyaman jikalau bersantap ditengah-tengah asap pekat. Apalagi diwarnai pertanyaan bernada penolakan dari si tukang nasi goreng saat kubilang telor ceplok dua dijadikan satu setengah matang. Katanya, "mana bisa aku membuat telor ceplok semacam itu, Bang. Hancur kuningnya nanti, tak enak, Bang". Tapi, dibikin jua olehnya saat kujawab dengan senyum saja. Masih mantap juga senyumku ini, setidaknya buat tukang nasi goreng.

Kulahap cepat nasi goreng rasa datar plus telor ceplok dua setengah matang, sambil menikmati asap super pekat hasil bakaran gambut-gambut itu. Satu yang kupikirkan, cepat mengisi perut dan kembali ke kamarku. Batuk berdahak ini bisa kumat lagi nanti.

Menjelang suapan terakhir, baru kusadari betapa banyaknya manusia bermotor di kota asap ini. Mereka lalu lalang, hilir mudik - ada segerombolan manusia bermotor yang sejak aku duduk di bangku ini, kuhitung sudah empat kali lalu-lalang, sambil menambah asap lewat knalpotnya -, sedangkan sebagian besar lagi duduk dibangku-bangku kedai tak beratap menghirup minuman entah apa, sambil ketawa-ketiwi.

Aneh, manusia-manusia bermotor itu seperti gembira ria dengan asap pekat hasil bakaran gambut ini. Dari gaya dan perilakunya, yakinlah aku kalau mereka menghirup oksigen yang tidak sedikit. Itu artinya pekat pula asap yang dihirupnya.

Perih sudah mataku karena asap ini, ditambah habis rasanya oksigen dalam paru-paru ini. Cepat saja aku habiskan teh manis rasa ke kiri enggak ke kanan juga enggak itu.

Perih mata, perih tenggorokan, sesak nafasku.
Sementara manusia-manusia bermotor itu mulai memekakkan telinga, ketawa-ketiwi menghirup asap pekat. Mungkin mereka kecanduan asap kebakaran lahan.

Aneh.