Sunday, September 6, 2009

ikhlas bersyarat

Seperti biasa, jika harus menempuh perjalanan yang lumayan makan waktu, saya merasa perlu membekali diri dengan buku bacaan. Kali ini pertemuan tahunan kantor memaksa saya untuk membeli dua buah novel pendek setelah sebelumnya empat buku karya Andrea Hirata itu saya baca habis dalam dua kali perjalanan (jangan salah kira, dua perjalanan yang saya maksudkan itu saya lakukan berseling 3 bulan. Jadi, 4 novel dalam 3 bulan. Ini cukup untuk menunjukkan bahwa saya bukanlah pembaca novel sejati). Bukan cuma karena perkara jarak tempuh lokasi pertemuan yang lumayan jauh, tapi juga karena kali ini pertemuan dilakukan di bulan puasa. Saya bisa pastikan bahwa dari total 60-an peserta pertemuan nanti, sayalah satu-satunya yang berpuasa. Jika tidak ada yang dibaca, lalu saat break makan siang, saya mau bikin apa? Tidur bukanlah pilihan yang tepat, karena seperti biasa pasti ada saja gangguan dari teman sekamar. Membaca adalah satu pilihan yang menarik, jika koneksi wifi tak ada, tentunya.

Tidak seperti biasanya, paling tidak cari-cari referensi bacaan yang bagus sebelum membeli, kali ini saya main comot saja dua novel, salah satunya berjudul "9 matahari".
Walaupun novel ini tidak terlalu menarik, bertele-tele dan terkesan mendayu-dayu, seperti novel-novel sebelumnya, saya pantang menghentikan membaca jika belum menyelesaikannya. Madhu, fasilitator India itu (satu-satunya peserta pertemuan yang memahami bahwa puasa yang saya lakukan bukan untuk dikasihani) tertawa saat saya sampaikan prinsip itu. Dia bilang bahwa saya sedang buang-buang waktu saja. ha..ha...

Satu-satunya yang menarik buat saya dari novel ini adalah peringatan akan arti dari sebuah ikhlas. Bukan, bukan karena hanya membaca novel inilah lalu ikhlas itu "mengganggu" saya. Tapi pada saat yang bersamaan saya harus menemukan sebuah ikhlas yang bersyarat, atas nama Tuhan pula.

Dalam novel itu, sebuah wejangan sederhana terceritakan. "Ikhlas itu tanpa tapi", begitu tertulis. Selanjutnya, mudah ditebak maksudnya, bahwa jika anda ikhlas, tak usah pula menambahkan "tapi" di belakangnya. Ikhlas adalah one hundred percent! Titik. Bahkan tidak pula kepada Tuhan. Karena soal imbalan balik, itu urusanNya.
Tepat saat saya sedang berada pada konsetrasi tertinggi soal ikhlas itulah, sebuah SMS muncul, mengabarkan tentang sebuah email, yang entah disadari atau tidak oleh pengirimnya, ia sedang bermain-main dengan ke-ikhlas-an.

Buat saya, keterusterangan adalah proses. Perkara bahwa itu kemudian menyakitkan, itulah kehidupan. Saya balas email itu dengan keterusterangan saya soal ketidaksukaan saya tentang cara si pengirim email bertutur-bahasa. Saya belum lagi masuk pada soal bagaimana ia mempermainkan ke-ikhlas-an. Karena ini point berbeda. Tapi, entah mengapa, kali ini saya seperti berhadapan dengan loudspeaker, berbentuk seperti telinga tapi tak berfungsi untuk mendengarkan, melainkan hanya memperkeras penyampaian maksud. Sekali lagi, tak berfungsi mendengarkan, hanya berbentuk seolah-olah ingin mendengarkan.
Saya urungkan niat saya untuk mengingatkannya soal ikhlas itu. Karena saya tidak menangkap secuilpun peluang bahwa saran saya akan didengarkan (atau kalau via sms dan email: dibaca). Jika anda sudah bersikeras bahwa anda adalah yang paling benar, lalu buat apa anda bertanya tentang kebenaran itu? Saya merasa ia hanya mencari justifikasi saja.

Akhirnya, saya mencoba mempertemukan keihklasan versi novel itu dan versi si pengirim email ini. Sungguh saya mendapat hikmah yang luar biasa. Sebuah novel menjemukan yang tiba-tiba menjelma menjadi kalimat-kalimat bermakna versus email dan sms yang berulang kali menegaskan tentang keihklasan bersyarat yang kemudian menjelma menjadi kalimat-kalimat yang memualkan.

"Tuhan tidak tidur", "Tuhan tau cara mengingatkan orang", "Biar nanti urusan dia dengan Tuhan". Saya harus membaca email dan sms berisi kalimat-kalimat ini, berkali-kali.

Seorang teman tertawa keras saat saya ceritakan soal proses ini. Sambil memandangi alat-alat pancing, ia berkata santai, "kamu harus ikhlas, Thom". Sompret!
Dia melanjutkan, "Ini kali ketiga kamu ceritakan soal itu padaku. Jika kamu ikhlas menerima cara orang itu, tak usahlah kamu ceritakan soal ini padaku, apalagi berkali-kali, sambil membawa-bawa nama Tuhan pula. Ucapkan saja bahwa kamu ikhlas menerima caranya, lalu sampaikan itu pada Tuhanmu, jangan padaku", katanya sambil menunjukkan senyumnya yang sungguh teramat jelek itu.

"Bagaimana kalau kita besok siang kita mancing sambil bawa teh botol dingin dan lapis legit?", ia bertanya sambil mengerlingkan matanya yang butek itu. Setan udel! ini bulan puasa!

Mungkin saya sedang diberi anugerah untuk bisa melihat setan bertanduk. Karena tiba-tiba saja saya melihat sepasang tanduk merah muncul di kepalanya. ha..ha...