Tuesday, October 13, 2009

kekuatan doa

Adalah perkara wajib bagi kami, para pemancing suka-suka ini, untuk tidak berbicara busuk saat hendak pergi memancing.

Pada awal-awal kesadaran ini mulai berlaku, kami hanya menangkap karma bicara saja. Artinya, barang siapa bicara busuk, niscaya ia akan menjadi pendiam selama di laut, alias tak mendapat sedikitpun sambaran ikan.

Kesadaran itu perlahan mulai meningkat. Bukan karena kami yang mendadak menjadi ahli surga, tetapi entah mengapa akhirnya bukan cuma karma bicara belaka yang berlaku. Belakangan, karma perilaku berlaku, lalu puncaknya karma pikiran berlaku pula. Artinya lagi, tak usah bicara, tak usah berisyarat, bahkan kini berpikir busuk pun beresiko membuat kami menjadi pendiam. Sungguh sebuah perkara aneh.

Lalu, apa yang harus kami lakukan? karena bicara busuk adalah bagian dari canda-tawa kami, para pemancing suka-suka ini. Memancing dengan khusuk, tanpa lontaran kalimat-kalimat busuk, bukanlah moment yang indah buat kami.
Tak masalah kalau joran tak berhenti disentak ikan. Tanpa lontaran busuk, jika reel terus berderit-derit, kami masih bisa tertawa-tawa (camkan dengan seksama: tertawa-tawa itulah yang kami cari saat memancing bersama!). Pusing delapan setengah keliling kami mencari cara menyiasati perkara ini.

Hingga, tiba suatu hari, saya menemukan solusi mujarab bin manjur, yaitu dengan do'a. Ya, cukup dengan do'a saja, ditambah seperempat mati menahan lontaran-lontaran busuk, maka berderit-deritlah reel kami. Ya tentulah juga dengan usaha, semisal menaruh umpan pada mata kail (sinting apa, mancing kok gak pake umpan. sebego-begonya ikan, ya tetep butuh umpan, entah umpan buatan atau alami).

Kekuatan do'a memang tiada tara. Kita tidak pernah tau bilamana do'a akan terjawab, dengan cara apa, dan berapa persen terkabul-nya. Hanya memang kadang ditunjukkan-Nya secara jelas sebuah garis penghubung antara do'a dan kemakbulan. Walau lebih sering samar, tentunya.

Seorang teman (yang senyum dan giginya jelek itu), bersedu-sedan tentang kehidupan percintaannya yang menurutnya selalu diliputi awan mendung setebal gedung tiga belas tingkat. Sudah berulangkali ia ceritakan masalahnya pada saya, dan berulangkali juga saran yang sama saya sampaikan. Ujung dari mendayu-dayunya percintaan itu hanya persoalan keberanian belaka. Lalu, saya terpikir untuk mengusulkan padanya agar berdoa saja, karena sepertinya ia tak mampu berusaha. Jika usaha tak mampu, cobalah dengan keras berdoa, why not? (Tapi, sesungguhnya, kami lebih menyukai ia tetap bersedu-sedan soal percintaannya. karena, itu bisa menghibur kami. istilah kami: penderitaanmu adalah kesenangan kami. ha..ha..)

Pada lain dimensi, seorang teman dekat baru saja mendapat pengabulan dari do'a-nya. Kebahagian sedang menyelimutinya. Ia bercerita panjang lebar tentang kemungkinan hubungan do'a-do'a yang sudah dipanjatkannya (dan juga orang-orang di sekitarnya). Ia mendapatkan anugerah untuk melihat hubungan do'a-do'a yang telah lama ia panjatkan dengan kebahagiaan yang menyelimutinya saat ini. Tidak pernah saya melihat pancaran kebahagiaan yang teramat cemerlang di wajahnya seperti saat ini. Sungguh menawan.
Selamat berbahagia, jalani dengan benar, hanya itu pesan saya padanya.

Apapun yang anda percayai sebagai Tuhanmu, berdo'alah. Karena, kekuatan do'a memang sungguh luar biasa.

Wednesday, October 7, 2009

sebulan lalu

sebulan lalu, tulisan terakhir di blog ini, http://priyandoko.blogspot.com. (sengaja saya tulis alamatnya, supaya teman-teman tau alamat sesungguhnya. karena, saya link dengan facebook, maka kebanyakan teman-teman membaca tulisan ini via facebook).

ada banyak kejadian yang "mengganggu" yang layak ditulis. tapi yang namanya menulis itu memang ternyata terbukti mirip proses buang air besar. kalau sudah kebelet, enak keluarnya. sebaliknya, kalau belum pas waktunya, walaupun nongkrong sampai busuk, tetap barang itu diam di dalam. memaksakan proses buang air besar bukanlah perkara ringan. salah-salah malah dapat bonus kambuhnya hemorroid.

yang sulit, ada banyak yang harusnya bisa dikeluarkan, tapi entah mengapa proses kebeletnya ndak datang juga. apakah harus pakai bantuan pencahar?

jadi, saat ini saya sedang tidak dalam kondisi kebelet. walaupun banyak yang berlintasan di kepala, dan banyak gangguan yang menohok pikiran. karenanya, saya putuskan untuk nongkrong sebentar disini, berharap barang busuk itu segera keluar. entah sekerat dua.

sayang seribu sayang, jangankan ampasnya, baunya pun tak keluar.

walhasil, inilah dia, tulisan sepotong, yang terpaksa saya tuliskan, hanya karena ingatan niat bahwa harus menulis paling sedikit sebulan sekali, itulah pencaharnya.

tak mau saya memaksanya, daripada otak ini terserang wasir.