Thursday, November 12, 2009

siapakah bedebah-bedebah itu


[tuntutan rutin, sebulan sekali, harus menulis...
jika sudah diniatkan, maka jalankan, bukan cuma seperti janji-janji yang hanya terucap.
inilah dia, tulisan sebulan sekali, karena sudah terlanjur janji pada diri sendiri.]


[sambil menunggu jadwal melaut, tentunya]

***

Seperti biasa, ada banyak lompatan-lompatan di kepala ini. entah ingin mulai darimana.

Cicak versus Buaya, analogi dari KPK versus Polri dan Kejagung. Kasus ini melahirkan banyak reaksi, termasuk munculnya istilah "bedebah" dari puisi Adhie M Massardi.
Seingatku, kata makian "bedebah" sering dilontarkan oleh Kapten Haddock, salah satu tokoh kocak dalam serial komik jadul Tintin. Dalam komik bergambar itu, Kapten Haddock hampir selalu menyertakan kata-kata makian lain, macam "kutu busuk", "kecoa nungging", "haram jadah", dan lain-lain. Setidaknya, begitulah terjemahan versi Indonesianya.

Begitu mengemukanya kata "bedebah" ini, sehingga membuatku tertarik untuk memanfaatkannya dalam sebuah lontaran pikir; Siapakah bedebah-bedebah yang akan selalu untung, baik saat negeri ini busuk maupun berseri? Inilah bedebah versi oportunis.

Kupikir, tadinya hanya orang-orang yang berlatar belakang LSM-lah yang layak disebut sebagai bedebah-bedebah versi oportunis ini. Tadinya kupikir saat negeri ini kacau balau, miskin dina, luluh rantak, dan hancur liur (ini istilah lokal), maka bermunculanlah kegiatan LSM-LSM untuk "memfasilitasi", "mendorong", "mengintroduksi", dan "me-" lainnya. (Tentu, munculnya kegiatan ini bukan dengan modal angin bin abab belaka. Tak ada uang, abang melayang. Ada uang, ditanya dulu dari mana donor datang). Intinya, apapun hasil dan niatnya, busuk-nya negeri ini menjadi berkah bagi para pegiat LSM itu.

Tapi, nanti dulu, bagaimana jika negeri ini sedang berseri? Ah, ternyata aku salah. Tak banyak LSM yang berseri saat negeri ini berseri. Wajar saja, jika semua sudah well-done, lalu, apa kerja LSM-LSM itu? suntik mati saja, itu lebih bagus, daripada nanti malah mencari-cari perkara.
Ini jelas proses yang wajar saja. Sebagai tukang tambal, LSM-LSM itu memang berdurasi pendek, tapi fokus. Salah tambal, bakal menuai makian. Tapi kalau tak ada yang perlu ditambal, jangan pasang paku di jalanan. Atau, jangan lubangi ban yang tak berlubang. Neraka jahanam itu namanya.

Jadi, kupikir, bukanlah LSM-LSM itu sebagai bedebah versi oportunis. Karena tak untung mereka pada semua kondisi (kecuali tentunya LSM-LSM yang ke kiri tidak, ke kanan juga males. kemana uang mengalir, kesitu pula program berjalan. by order, lah).

Apakah lalu para pedagang itulah sesungguhnya bedebah. Ah, tak bisa. Pedagang itu hanyalah bagian dari rantai makanan saja. Mereka menyediakan pasokan, siapapun yang membutuhkan silahkan beli. Walaupun kesannya oportunis, tetapi jika negeri ini sedang busuk, maka busuk pula penghasilan pedagang itu. So? pasti bukan para pedaganglah bedebah-bedebah itu.

Lalu, siapa sesungguhnya yang bernyanyi-nyanyi diatas semua kondisi negeri ini? Mau busuk, mau berseri, mau hitam, mau putih, mau abu-abu, mereka tetap dapat untung, pesta pora, walaupun berpura-pura ikut larut dalam suasana.

Siapakah mereka, para bedebah jahanam itu?