Wednesday, December 8, 2010

alangkah lucunya negeri ini

tidak sengaja, menekan tombol remote tivi.  
sebuah kanal televisi menyajikan film 
"alangkah lucunya negeri ini".



sungguh alangkah lucunya negeri ini.
tempat para koruptor menjadi selebritis.
tempat para pemadat menjadi idola.
tempat dimana halal-haram dipertentangkan,
hanya sebatas tulisan kitab belaka.

Tuesday, November 2, 2010

hoek..hoek...

hoek..hoek...
mual aku.
banyak ikan tengik berkeliaran


hoek..hoek...
mual aku.
banyak kutu kupret berjalan nungging

Wednesday, October 27, 2010

keyakinan dalam merapi dan mentawai

keyakinan itu telah melukai.

mbah marijan sudah pulang,
pulang dalam arti luas.

merapi yang diyakininya punya kekuatan,
keyakinan yang absurb untuk beberapa kalangan,
tetapi yang jelas, kekuatan itu sudah membantunya untuk pulang.

Tuesday, October 26, 2010

kasihan perempuan

kasihan perempuan,

di bandara berskala internasional,
di tahun dua ribu sepuluh,
petugas penerima tiket berkata,
maaf, saya tidak bisa berikan kursi di jendela emergency kepada anda,
karena teman anda perempuan.

dan petugas itu,
berkerudung, 
dia pun perempuan.
hanya menjalankan regulasi maskapai.

kasihan perempuan.

Sunday, October 24, 2010

perilaku

menemukan perilaku-perilaku,
yang biasa dan tidak.

mari me-nyampah; perempuan petugas bandara itu santai saja membuang potongan kertas pembungkus permen, tanpa menoleh sedikitpun. padahal, lantai itu cukup kinclong untuk ukuran sebuah bandara, di depan pintu toilet sekalipun. kecerdasan perempuan petugas bandara ini, pasti melebihi derajat ayunan lenggak-lenggoknya kala berjalan. mungkin ia pikir, dialah satu-satunya orang yang paling mahir berlenggak-lenggok sambil nyampah seantero bandara itu.

jangan antri; tidak ada kata "antri" dalam kamus orang-orang ini. berkali-kali saya harus bergeser, hanya untuk memberikan jalan pada sekelompok orang yang memotong antrian panjang didepan bapak-ibu renta yang hanya bisa terpukau melihat kecerdasan orang-orang itu. bukan pula mereka sekelompok orang dengan tas jinjing kantong plastik lusuh, dengan kardus-kardus bertali plastik pudar di pundak. tapi, mereka adalah sekelompok orang berpakaian licin, berkacamata mewah, bersepatu dengan sol yang tak terkikis, yang tak henti mengoceh kepada segepok handphonenya. kecerdasan orang-orang ini pasti lebih tinggi dari wangi parfum tengik (yang menurut mereka) kelas atas itu.

silahkan merokok; tulisan "no smoking" mungkin belum cukup untuk membuat mereka tak berasap. selasar ruang tunggu itu sudah tidak lagi membuka jendelanya. logo rokok bersilang merah itu berpuluh berjajar. petugas cantik itu tak jemu berkeliling dengan segelas air mineral, yang selalu disorongkan ke hadapan para cerdas rokokcendikiawan itu. si cantik berlalu, asap mengepul, diselingi celetukan cerdas tentang si cantik. jelas nampak, bahwa kalimat peringatan pemerintah pada bahaya rokok harus ditambah: "rokok menyebabkan peningkatan ketololan pada orang-orang yang duduk di selasar ruang tunggu bandara".

tidak perlu bagasi; puluhan orang itu berkumpul disudut, dihadapannya bertumpuk barang-barang. tak mungkinlah semua masuk kabin pikir saya. benar juga, kardus-kardus dan tas besar itu semua diproses, dicatat, masuk perut pesawat. ternyata, di ruang tunggu, saya bertemu dengan orang-orang cerdas terpelajar dan paling paham soal dimensi barang kabin. seorang lelaki paruh baya, berambut tipis klimis, sedikit tambun, berjalan lurus sambil menyeret sebuah koper besar, tak peduli bocah kecil di sampingnya meringis tergores ujung koper berlabel internasional itu. petugas maskapai yang menyapa dan meminta agar koper besar yang mungkin berisi emas permata berlian jaya itu didaftarkan sebagai isi perut pesawat malah dibalas pelototan mata yang jelas jauh dari rupawan, sambil berkata "repot, penuh orang". rupanya, ini dia maestro teknis dimensi bagasi kabin. dia yang paling tau, bahwa ukuran kopernya pasti dibawah batas dimensi bagasi kabin, kalau koper itu dipotong tiga. di dalam pesawat, tiga pramugari sibuk mondar mandir mencari ruang untuk koper besar keramat milik si klimis itu. entah ditaruh dimana akhirnya, toh perdebatan seru mereka berakhir dengan gerutu, si klimis maupun tiga bidadari pesawat.

satu kursi bisa pangku tiga;  seorang bapak menggendong anak batita-nya. bediri menunggu bidadari pesawat mencari alternatif tempat duduknya.  di depannya, seorang ibu berkerudung berdiri lemah, juga menanti bidadari pesawat mencari alternatif tempat duduknya, bernomor sama dengan sang bapak penggendong batita.  di belakang keduanya, seorang pria sedikit botak, jelek, menggendong tas hitam termangu bak kutu kupret, berdiri juga menanti hal yang sama.  sebuah kursi diperebutkan tiga penumpang.  ini bukan kursi empuk di parlemen, atau kursi jabatan negara.  ini benar-benar sebuah kursi, di dalam pesawat.  di jaman seupdate ini, masih saja ada double (bahkan triple) seat.  aneh.   sepuluh menit kemudian, sang bidadari pesawat kembali, meminta si ibu duduk di kursi deretan depan, kabin terpisah, business class.  si bapak penggendong batita mendapat jatah tak jauh dari kursi depan, setelah meminta penghuninya pindah ke deretan emergency seats.  lalu, si bidadari pesawat berkata pada saya, "silahkan duduk di kursi belakang pak, sudah ada yang kosong di belakang".  ya, si pria botak jelek ini akhirnya mendapatnya satu kursi di deretan belakang, dekat toilet. 

perilaku apa yang biasa dan tidak? entahlah.  saya cuma mau meneruskan tulisan saya tentang perilaku ini.
tulisan yang terputus, sekian lama.

Thursday, September 23, 2010

apa yang sedang kalian lakukan

semalam menyaksikan tayangan,
tentang penentang perburuan paus laut,
yang justru saling berseteru,
dengan penentang lainnya.
tak ingin berbagi koordinat,
dimana pemburu paus sedang berada.
sinting kukira mereka ini,
tak mau bekerja sama,
padahal pemburu paus tenang melenggang,
membunuh paus laut, terus menerus.
 
membaca koran lokal,
tentang yang katanya teroris,
menyerang mapolsek.
tiga penjaga tewas terjengkang,
diterjang peluru yang disuplai oleh kolega mereka sendiri.
ahli kata beramai-ramai berkomentar,
bahwa ini karena dendam mebara,
bahwa ini karena salah tindakan,
bahwa ini dilakukan oleh manusia terkutuk.
dua ratus penjaga bermobil diutus,
untuk mengejar penyerang-penyerang itu,
akan kami kejar sampai dimanapun,
kata pimpinan penjaga sambil geram.
tidak ada yang berstatement setelah itu,
yang kukira ada adalah mayat-mayat yang nantinya bergelimpangan.
seperti membayar saja,
hutang nyawa dibayar nyawa,
mati satu dibayar tujuh.
mereka penjaga dan yang disangka,
adalah korban tidak tau apa-apa,
kecuali menjadi tumbal permainan penguasa.



sebuah perguruan tinggi swasta di kota ini,
memberikan sanksi kepada mahasiswanya,
karena melakukan aksi anti korupsi.
alasan sanksi karena membawa nama almamater,
tidak berijin dan tanpa memberitahu.
satu nama ditulis yang kukenal,
sudah menjadi pejabat kampus rupanya,
garang berkata sanksi sudah tepat.
padahal waktu dulu masih jadi kucing kurap,
(maaf buat kucing yang punya kurap),
bicara lantang bukan kepalang,
menantang kampusnya sendiri.
sekarang sudah beda,
mungkin harus membela kepeng,
atau kursi yang membuat pantat buriknya itu tersenyum.
kasihan, 
nuraninya berpindah, hanya karena untuk senyum burik pantatnya.

baru saja membaca milis,
tentang tiga pegiat lingkungan dari negeri luar,
yang ditangkap penjaga.
bersamanya lima pegiat lingkungan dalam negeri,
juga ditangkap.
padahal kemarin, satu dari lima pegiat dalam negeri itu,
meneleponku dan berkata,
aku ditangkap tapi sudah dilepaskan,
hanya duapuluh empat jam,
tidak ada masalah.
yang kuheran,
di satu milis tentang hutan,
yang berisi orang-orang cerdas-tangkas,
justru ramai-ramai menghujat si pegiat.
sepertinya justru itulah hal yang paling penting dibicarakan.
seperti anak kecil kehilangan mainan,
karena mainannya diambil kucing kurap,
(maaf lagi kepada kucing yang punya kurap),
sibuk meraung-raung sambil ngompol.
bukannya soal perusakan lingkungan yang diutamakan,
bukan pula soal bagaimana memperbaiki keadaan yang dibicarakan.
para cerdas-tangkas itu,
mungkin menaruh otaknya di dalam toples di rumah,
lalu mengisi tempurung kepalanya dengan celengan babi,
(maaf buat babi, mohon jangan marah),
mungkin maksudnya supaya otaknya selalu prima,
karena tidak pernah terpakai.
mungkin maksudnya supaya banyak uang,
masuk lewat celengan babi di kepalanya.


para penentang pemburu paus yang gemar bertikai sesamanya,
para tumbal penguasa atas nama teroris,
para pejabat kampus yang burik pantatnya,
para cerdas-tangkas yang berubah isi tempurung kepalanya,


apa yang sedang kalian lakukan?

Tuesday, September 7, 2010

atas bawah

di atas, rupa lebih bagus
di atas, pundi lebih menggunung
di atas, bahagia lebih terasa.

di bawah, rupa lebih buruk
di bawah, pundi menjadi kawah
di bawah, bahagia seolah sirna.

lihat ke bawah saja,
supaya, syukur lebih sering terucap.

Friday, September 3, 2010

bisa? (2)

tidak penting beban orang lain,
tidak penting duka yang lain,
tidak penting gundah lainnya.

yang paling utama 
adalah dirimu sendiri,
beban sendiri,
duka sendiri,
gundah sendiri.


sesekali memikirkan orang lain,
bisa?

bisa?

capek membaca perkataanmu,
tidak ada yang benar di dunia ini,
ke kiri salah ke kanan tidak benar.

sekali saja berkata ada yang benar,
bisa?

Wednesday, August 25, 2010

masalah

paling mudah memang mencari kesalahan orang lain,
paling mudah memang menghakiminya.

tetapi,
bukankah proses pencarian kesalahan itu memakan energi?
bukankah menghakimi orang lain juga memakan energi?

diujungnya,
bagaimana kalau kemudian tidak terbukti kesalahan itu?
bagaimana kalau kemudian kita menghakimi orang yang salah?
 selain itu, 
walaupun kemudian terbukti kesalahan itu,
walaupun kemudian terhakimi orang itu,
tetap saja energi yang terbuang akan jauh lebih besar
daripada mengikhlaskannya.

kalau percaya pada hari pembalasan,
mengapa harus membalas berlebihan sekarang?


hidup sudah penuh masalah,
mengapa harus cari lagi masalah?

Tuesday, August 17, 2010

bapak

Bapak, berpulang pada Tanggal 28 Juli 2010, pukul 03.45 pagi.
14 November 1939 Bapak hadir di bumi ini, tujuh puluh satu tahun lalu.
Kanker Hati menjadi perantara takdir.  Setelah jodoh dan rejeki tentunya.
Dua puluh satu hari terbaring di rumah sakit AWS, Teratai Satu.
Kamar 5, empat hari, untuk keluhan perih pada maag-nya.
Pulang seminggu, lalu masuk lagi untuk keluhan sesak nafasnya.
Kamar 2, tujuh belas hari, paru-paru dan gangguan hati, itu yang utama.  
Lima hari menjelang panggilan-Nya, barulah diketahui,
bahwa kanker hati itu telah menggerogotinya sejak lama.
Tidak ada yang tau, karena Bapak memang tidak pernah mengeluh sakit.
Bahkan tidak kepada Ibu yang selalu ada di sampingnya.
Bapak mengajariku memancing.  Sejak dulu, sejak aku masih sekolah dasar.
Pancing, joran, reel, dan piranti terbaiknya, diberikannya padaku kala itu, sampai sebulan sebelum Bapak berpulang.
"Coba pakai ini, mungkin cocok", itu yang selalu dikatakannya.  Tanpa pernah berkata bahwa pirantinya adalah pilihan, bukan sembarangan.
Sekarang, puluhan pirantinya, tersimpan rapi di lemari.  Tidak kemana-mana, tapi akan melaut lagi, bersamaku, suatu hari nanti.

Bapak adalah orang pintar.  Pintar dalam arti sesungguhnya.
Aku tau betul Bapak adalah pengajar.  Tapi baru aku tau kepintaran Bapak, setelah kubereskan buku-buku, ruang dan tas kerjanya.
Bapak mengajar di banyak tempat.  Di Samarinda, Kutai Barat, Penajam Paser Utara.  Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah, FKM Unmul, Universitas Widyagama Mahakam, dan entar dimana lagi.
Kesehatan Lingkungan, Statistik, Biostatistik, Filsafat, Air Bersih, dan banyak lagi.
Bapak adalah pecinta off-road sejati.
Dalam ingatanku, CJ-6, Land Rover, Toyota Land Cruiser, dan terakhir CJ-7.  Itu semua kendaraan dinasnya.  Beberapa menjadi kendaraan pribadi kami.
Bisa dihitung dengan jari berapa kali mobil-mobil itu masuk bengkel.  Yang paling sering justru di-opreknya sendiri. 
Ribuan onderdil kecil-kecil memenuhi lemari kerja dan gudang di sudut rumah.  Bapak tidak pernah membuang onderdil bekas.  "pasti nanti ada gunanya", ini prinsipnya.

Bapak adalah pembayar pajak terhebat.  
Di dalam lemari kerjanya.  Sebuah map super tebal menggangguku.
Isinya tak lain adalah bukti pembayaran pajak, sejak Bapak resmi menjadi pegawai negeri.
Ya, bukti-bukti itu disimpannya.  Mungkin maksudnya untuk menunjukkan pada aku, anaknya ini, bahwa menjadi warga negara yang baik tak usahlah banyak cakap.  Jika tak mampu membangun langsung, maka bayarlah pajak.
Sebuah surat peringatan dari kantor pajak kutemukan, berbunyi "Bapak telah melakukan kesalahan pembayaran pajak, yaitu membayar pajak lebih besar dari ketentuan yang ada.."
Untunglah saat itu Gayus belum menjadi pegawai pajak.
Sekarang aku duduk di ruang kerjanya, di meja kerjanya.  Betapa kurasakan bahwa Bapak adalah orang yang well-organized.  Semua dokumen yang disimpannya sesuai catatan waktu.  Semua peralatan kerjanya tersusun rapi.  Sungguh Bapak telah mempersiapkan semuanya.

Bapak sudah pergi.
Jika mengingat kata guru agamaku, maka Bapak pasti dialiri pahala yang tak putus.
Karena Bapak pasti mendapatkannya dari ilmu yang bermanfaat yang telah diajarkannya,
dan amal jariyah yang dibayarnya melalui pajak itu.
Tinggal, doa dari anak-anaknya.  Mudahan kami menjadi anak yang sholeh.

Selamat jalan, Bapak.
Pasti nanti kita mancing bersama lagi,
Karena kupercaya bahwa bukan cuma bidadari dan kolam susu yang dijanjikanNya.
Tapi juga spot mancing yang maha hebat, dengan sambaran monster-monster terbaik juga menjadi janji-Nya.  Itu juga akan menunggu kita.  

Selamat jalan, Bapak.


[rambai sembilan, vorfoo, samarinda]

Tuesday, June 15, 2010

sekumpulan cerdas tangkas

enam bulan lewat, baru nulis lagi...
ini namanya penghianatan diri sendiri..
***

sekumpulan orang yang merasa dirinya cerdas tangkas,
sedang berkumpul-kumpul dibawah gedung tumpul.
membahas alas gumijau, orang-orang, bukan orang utan,
memproklamirkan diri sebagai pahlawan sejati pembela kebenaran,
saling beradu kedigdayaan soal kampung-kampung nun jauh di ujung dunia.

peneliti dari tetangga sebelah malah jumawa berkata..
kepala dusun itu ndak bisa ngomong disini, saya ndak percaya dia bisa bicara disini,
karena itu saya saja yang bicara.
benar-benar peneliti yang cerdas tangkas ringkas dan nggragas!

yang dari rumah sendiri,
hahahihi sana sini senyum simpul sampai ikatan mati,
tapi sayang senyum super manis hanya untuk pemberi kepeng.
saat si jelata bertanya padanya, yang didapat adalah lengosan wajah,
ditanya sepuluh kalimat, dijawab tiga kata.
seratus delapanpuluh derajat jika si kepeng bertanya,
kalimat satu baris dijawab duapuluh sembilan lembar.

padahal, sepanjang hari hanya bicara seolah-olah ia pelaku utama,
seolah-olah ia terseok dibawah rimbunan kayu kering,
seolah ia menganyam untuk sepotong ubi rebus.

diujung lorong, kulihat mereka tawar-menawar,
apa yang bisa kuperiksakan untukmu wahai kepeng?
si kepeng menjawab sambil tak tersenyum,
buat saja dulu ringkasan, nanti kulihat kepengku.
oh.. rupanya penggadai ilmu juga mereka ini.

mereka menari-nari di panggung depan,
sementara jelata-jelata itu di baris belakang,
termangu tak mengerti apa yang sedang mereka koarkan..

sekumpulan orang yang merasa dirinya cerdas tangkas,
sedang berkumpul-kumpul dibawah gedung tumpul.
membahas alas gumijau, orang-orang, bukan orang utan,
menjual harga diri, menjual harga jelata.

kulihat banyak kepalsuan, antara bicara dan fakta.

(oleh-oleh dari jogja, 14-15 juni 2010)

Sunday, January 31, 2010

Anak

Noong isilang ka sa mundong ito,
Laking tuwa ng magulang mo.
At ang kamay nila
ang iyong ilaw.

At ang nanay at tatay mo,
'Di malaman ang gagawin.
Minamasdan pati pagtulog mo.

Sa gabi napupuyat ang iyong nanay
Sa pagtimpla ng gatas mo.
At sa umaga nama'y kalong
Ka ng iyong amang tuwang-tuwa sa iyo.

Ngayon nga'y malaki ka na,
Nais mo'y maging malaya.
'Di man sila payag,
Walang magagawa.

Ikaw nga'y biglang nagbago,
Naging matigas ang iyong ulo.
At ang payo nila'y,
Sinuway mo.

Hindi mo man lang inisip
Na ang kanilang ginagawa'y para sa iyo.
Pagka't ang nais mo masunod ang layaw mo,
'Di mo sila pinapansin.

Nagdaan pa ang mga araw
At ang landas mo'y naligaw
Ikaw ay nalulon
sa masamang bisyo.

At ang una mong nilapitan
Ang iyong inang lumuluha.
At ang tanong,
"Anak, ba't ka nagkaganyan?"

At ang iyong mga mata'y biglang lumuha
Ng 'di mo napapansin
Pagsisisi ang sa isip mo,
Nalaman mong ika'y nagkamali.

http://www.mainmusik.com/music/freddie-aguilar-anak_061c24.html

Saturday, January 30, 2010

Jampe-Jampe Harupat

Jampe-jampe harupat
Geura gede geura lumpat
Sing jauh tina maksiat anaking
Ngarah salamet akherat

Jampe-jampe harupat
Geura gede geura lumpat
Susah senang omat sholat anaking
Beunghar kade poho zakat

Jampe-jampe harupat
Pek dudunya satakerna
Lir ibarat hidep di dunya
Rek hirup saumur dunya

Jampe-jampe harupat
Prak ibadah satakerna
Lir ibarat hidep di dunya
Rek cacap engke sareupna

Dodoja datang tong kalut
Sanghareupan make imut
Ulah rek aral subaha anaking
Sing percaya ka nu kawasa

Maha welas maha asih
Moal aya pilih kasih
Sagala nu karandapan kuhidep
Tangtuna bongan sorangan

Ti bapa ieu pepeling
Ngarah hidep hirup salawasna eling
Heunteu berang heunteu peuting
Hidep kudu soleh satungtung nyaring

Thursday, January 21, 2010

ternyata..

teman..

senyum-senyum saja waktu beban makin berat..
tetap terlihat sabar saja waktu kesabaran yang lain sudah ditepi..
tak berniat nampaknya menagih budi, dari bajingan-bajingan yang dulu menjilat (kata "PANTATMU" dicoret, terlalu kasar) sepatumu..
senyum saja kamu, melihat mereka melenggang tari diatas susahmu..

tidak nampak para cecunguk yang dulu menggelayuti ketiakmu..
berharap setetes dua keringat, bahkan dari ketiakmu yang bau..
dimana mereka sekarang?
waktu kamu sedang bersimbah darah ini..
waktu kamu sedang meregang nyawa ini..

bahkan waktu kukatakan ini padamu,
hanya senyum itu yang kudapat.

apa yang kamu cari dengan senyum itu? surga yang dijanjikan itu?
pernah aku berencana menjebakmu,
agar hilang senyummu,
agar neraka menunggumu.

tapi rupanya senyummu adalah senjatamu.
kuurungkan niatku mendorongmu menuju api neraka,
saat kubayangkan senyummu.

tapi, curiga juga aku...
jangan-jangan kamu memang hanya bisa tersenyum saja,
mungkinkah senyumanmu palsu belaka?

kau tak mau lebih dari sekedar tersenyum, karena sesuatu menimpamu..
kau tak mau tertawa lebar, karena itu akan membuka katup bibirmu..
kau tak mau marah, karena itu akan membuka rahasiamu..

bahwa sesungguhnya, dengan secara seksama dan sesingkat-singkatnya,
kuketahui ternyata gigi depanmu ompong melompong..

ck!


Saturday, January 16, 2010

lagu buat pansus century

Yth. Pansus DPR-RI untuk Kasus Bank Century

Saya persembahkan lagu Iwan Fals ini untuk anggota Pansus Century.  Semoga anda semua bisa menangkap maknanya.  Kalau anda tidak mampu menangkap maknanya, silahkan panggil Iwan Fals untuk menjelaskannya.  Kalau belum jelas juga, nyebur aja ke laut.

***

NGERIKU (Iwan Fals)

Bersih Bersih Bersih Bersihlah Negeriku
Malu Malu Malu Malulah Hati
Kotornya Teramat Gawat Ya Kotornya Sangat
Inilah Amanat Yang Menjadi Keramat

Bersih Bersih Bersih Bersihlah Diri
Sebelum Menyapu Sampah dan Debu Debu
Nyanyian Berkarat Sampai Ke Liang Lahat
Atas Nama Rakyat Yang Berwajah Pucat

Negeriku Negeri Para Penipu
Terkenal Kesegala Penjuru
Tentu Saja Bagi Yang Tak Tahu Malu
Inilah Sorga Sorganya Sorga
Negeriku Ngeriku

Busuk Busuk Busuk Busuk Bangkai Tikus
Yang Mati Karena Dihakimi Rakyat
Adakah Akhirat Menerima Dirinya
Adakah Disana Yang Masih Bisa Bercanda Dengan Rakus

Negeriku Negeri Para Penipu
Terkenal Kesegala Penjuru
Tentu Saja Bagi Yang Tak Tahu Malu
Inilah Sorga Sorganya Sorga
Negeriku Ngeriku

Bersih Bersih Bersih Bersihlah Negeriku