Wednesday, August 25, 2010

masalah

paling mudah memang mencari kesalahan orang lain,
paling mudah memang menghakiminya.

tetapi,
bukankah proses pencarian kesalahan itu memakan energi?
bukankah menghakimi orang lain juga memakan energi?

diujungnya,
bagaimana kalau kemudian tidak terbukti kesalahan itu?
bagaimana kalau kemudian kita menghakimi orang yang salah?
 selain itu, 
walaupun kemudian terbukti kesalahan itu,
walaupun kemudian terhakimi orang itu,
tetap saja energi yang terbuang akan jauh lebih besar
daripada mengikhlaskannya.

kalau percaya pada hari pembalasan,
mengapa harus membalas berlebihan sekarang?


hidup sudah penuh masalah,
mengapa harus cari lagi masalah?

Tuesday, August 17, 2010

bapak

Bapak, berpulang pada Tanggal 28 Juli 2010, pukul 03.45 pagi.
14 November 1939 Bapak hadir di bumi ini, tujuh puluh satu tahun lalu.
Kanker Hati menjadi perantara takdir.  Setelah jodoh dan rejeki tentunya.
Dua puluh satu hari terbaring di rumah sakit AWS, Teratai Satu.
Kamar 5, empat hari, untuk keluhan perih pada maag-nya.
Pulang seminggu, lalu masuk lagi untuk keluhan sesak nafasnya.
Kamar 2, tujuh belas hari, paru-paru dan gangguan hati, itu yang utama.  
Lima hari menjelang panggilan-Nya, barulah diketahui,
bahwa kanker hati itu telah menggerogotinya sejak lama.
Tidak ada yang tau, karena Bapak memang tidak pernah mengeluh sakit.
Bahkan tidak kepada Ibu yang selalu ada di sampingnya.
Bapak mengajariku memancing.  Sejak dulu, sejak aku masih sekolah dasar.
Pancing, joran, reel, dan piranti terbaiknya, diberikannya padaku kala itu, sampai sebulan sebelum Bapak berpulang.
"Coba pakai ini, mungkin cocok", itu yang selalu dikatakannya.  Tanpa pernah berkata bahwa pirantinya adalah pilihan, bukan sembarangan.
Sekarang, puluhan pirantinya, tersimpan rapi di lemari.  Tidak kemana-mana, tapi akan melaut lagi, bersamaku, suatu hari nanti.

Bapak adalah orang pintar.  Pintar dalam arti sesungguhnya.
Aku tau betul Bapak adalah pengajar.  Tapi baru aku tau kepintaran Bapak, setelah kubereskan buku-buku, ruang dan tas kerjanya.
Bapak mengajar di banyak tempat.  Di Samarinda, Kutai Barat, Penajam Paser Utara.  Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah, FKM Unmul, Universitas Widyagama Mahakam, dan entar dimana lagi.
Kesehatan Lingkungan, Statistik, Biostatistik, Filsafat, Air Bersih, dan banyak lagi.
Bapak adalah pecinta off-road sejati.
Dalam ingatanku, CJ-6, Land Rover, Toyota Land Cruiser, dan terakhir CJ-7.  Itu semua kendaraan dinasnya.  Beberapa menjadi kendaraan pribadi kami.
Bisa dihitung dengan jari berapa kali mobil-mobil itu masuk bengkel.  Yang paling sering justru di-opreknya sendiri. 
Ribuan onderdil kecil-kecil memenuhi lemari kerja dan gudang di sudut rumah.  Bapak tidak pernah membuang onderdil bekas.  "pasti nanti ada gunanya", ini prinsipnya.

Bapak adalah pembayar pajak terhebat.  
Di dalam lemari kerjanya.  Sebuah map super tebal menggangguku.
Isinya tak lain adalah bukti pembayaran pajak, sejak Bapak resmi menjadi pegawai negeri.
Ya, bukti-bukti itu disimpannya.  Mungkin maksudnya untuk menunjukkan pada aku, anaknya ini, bahwa menjadi warga negara yang baik tak usahlah banyak cakap.  Jika tak mampu membangun langsung, maka bayarlah pajak.
Sebuah surat peringatan dari kantor pajak kutemukan, berbunyi "Bapak telah melakukan kesalahan pembayaran pajak, yaitu membayar pajak lebih besar dari ketentuan yang ada.."
Untunglah saat itu Gayus belum menjadi pegawai pajak.
Sekarang aku duduk di ruang kerjanya, di meja kerjanya.  Betapa kurasakan bahwa Bapak adalah orang yang well-organized.  Semua dokumen yang disimpannya sesuai catatan waktu.  Semua peralatan kerjanya tersusun rapi.  Sungguh Bapak telah mempersiapkan semuanya.

Bapak sudah pergi.
Jika mengingat kata guru agamaku, maka Bapak pasti dialiri pahala yang tak putus.
Karena Bapak pasti mendapatkannya dari ilmu yang bermanfaat yang telah diajarkannya,
dan amal jariyah yang dibayarnya melalui pajak itu.
Tinggal, doa dari anak-anaknya.  Mudahan kami menjadi anak yang sholeh.

Selamat jalan, Bapak.
Pasti nanti kita mancing bersama lagi,
Karena kupercaya bahwa bukan cuma bidadari dan kolam susu yang dijanjikanNya.
Tapi juga spot mancing yang maha hebat, dengan sambaran monster-monster terbaik juga menjadi janji-Nya.  Itu juga akan menunggu kita.  

Selamat jalan, Bapak.


[rambai sembilan, vorfoo, samarinda]