Wednesday, October 27, 2010

keyakinan dalam merapi dan mentawai

keyakinan itu telah melukai.

mbah marijan sudah pulang,
pulang dalam arti luas.

merapi yang diyakininya punya kekuatan,
keyakinan yang absurb untuk beberapa kalangan,
tetapi yang jelas, kekuatan itu sudah membantunya untuk pulang.

Tuesday, October 26, 2010

kasihan perempuan

kasihan perempuan,

di bandara berskala internasional,
di tahun dua ribu sepuluh,
petugas penerima tiket berkata,
maaf, saya tidak bisa berikan kursi di jendela emergency kepada anda,
karena teman anda perempuan.

dan petugas itu,
berkerudung, 
dia pun perempuan.
hanya menjalankan regulasi maskapai.

kasihan perempuan.

Sunday, October 24, 2010

perilaku

menemukan perilaku-perilaku,
yang biasa dan tidak.

mari me-nyampah; perempuan petugas bandara itu santai saja membuang potongan kertas pembungkus permen, tanpa menoleh sedikitpun. padahal, lantai itu cukup kinclong untuk ukuran sebuah bandara, di depan pintu toilet sekalipun. kecerdasan perempuan petugas bandara ini, pasti melebihi derajat ayunan lenggak-lenggoknya kala berjalan. mungkin ia pikir, dialah satu-satunya orang yang paling mahir berlenggak-lenggok sambil nyampah seantero bandara itu.

jangan antri; tidak ada kata "antri" dalam kamus orang-orang ini. berkali-kali saya harus bergeser, hanya untuk memberikan jalan pada sekelompok orang yang memotong antrian panjang didepan bapak-ibu renta yang hanya bisa terpukau melihat kecerdasan orang-orang itu. bukan pula mereka sekelompok orang dengan tas jinjing kantong plastik lusuh, dengan kardus-kardus bertali plastik pudar di pundak. tapi, mereka adalah sekelompok orang berpakaian licin, berkacamata mewah, bersepatu dengan sol yang tak terkikis, yang tak henti mengoceh kepada segepok handphonenya. kecerdasan orang-orang ini pasti lebih tinggi dari wangi parfum tengik (yang menurut mereka) kelas atas itu.

silahkan merokok; tulisan "no smoking" mungkin belum cukup untuk membuat mereka tak berasap. selasar ruang tunggu itu sudah tidak lagi membuka jendelanya. logo rokok bersilang merah itu berpuluh berjajar. petugas cantik itu tak jemu berkeliling dengan segelas air mineral, yang selalu disorongkan ke hadapan para cerdas rokokcendikiawan itu. si cantik berlalu, asap mengepul, diselingi celetukan cerdas tentang si cantik. jelas nampak, bahwa kalimat peringatan pemerintah pada bahaya rokok harus ditambah: "rokok menyebabkan peningkatan ketololan pada orang-orang yang duduk di selasar ruang tunggu bandara".

tidak perlu bagasi; puluhan orang itu berkumpul disudut, dihadapannya bertumpuk barang-barang. tak mungkinlah semua masuk kabin pikir saya. benar juga, kardus-kardus dan tas besar itu semua diproses, dicatat, masuk perut pesawat. ternyata, di ruang tunggu, saya bertemu dengan orang-orang cerdas terpelajar dan paling paham soal dimensi barang kabin. seorang lelaki paruh baya, berambut tipis klimis, sedikit tambun, berjalan lurus sambil menyeret sebuah koper besar, tak peduli bocah kecil di sampingnya meringis tergores ujung koper berlabel internasional itu. petugas maskapai yang menyapa dan meminta agar koper besar yang mungkin berisi emas permata berlian jaya itu didaftarkan sebagai isi perut pesawat malah dibalas pelototan mata yang jelas jauh dari rupawan, sambil berkata "repot, penuh orang". rupanya, ini dia maestro teknis dimensi bagasi kabin. dia yang paling tau, bahwa ukuran kopernya pasti dibawah batas dimensi bagasi kabin, kalau koper itu dipotong tiga. di dalam pesawat, tiga pramugari sibuk mondar mandir mencari ruang untuk koper besar keramat milik si klimis itu. entah ditaruh dimana akhirnya, toh perdebatan seru mereka berakhir dengan gerutu, si klimis maupun tiga bidadari pesawat.

satu kursi bisa pangku tiga;  seorang bapak menggendong anak batita-nya. bediri menunggu bidadari pesawat mencari alternatif tempat duduknya.  di depannya, seorang ibu berkerudung berdiri lemah, juga menanti bidadari pesawat mencari alternatif tempat duduknya, bernomor sama dengan sang bapak penggendong batita.  di belakang keduanya, seorang pria sedikit botak, jelek, menggendong tas hitam termangu bak kutu kupret, berdiri juga menanti hal yang sama.  sebuah kursi diperebutkan tiga penumpang.  ini bukan kursi empuk di parlemen, atau kursi jabatan negara.  ini benar-benar sebuah kursi, di dalam pesawat.  di jaman seupdate ini, masih saja ada double (bahkan triple) seat.  aneh.   sepuluh menit kemudian, sang bidadari pesawat kembali, meminta si ibu duduk di kursi deretan depan, kabin terpisah, business class.  si bapak penggendong batita mendapat jatah tak jauh dari kursi depan, setelah meminta penghuninya pindah ke deretan emergency seats.  lalu, si bidadari pesawat berkata pada saya, "silahkan duduk di kursi belakang pak, sudah ada yang kosong di belakang".  ya, si pria botak jelek ini akhirnya mendapatnya satu kursi di deretan belakang, dekat toilet. 

perilaku apa yang biasa dan tidak? entahlah.  saya cuma mau meneruskan tulisan saya tentang perilaku ini.
tulisan yang terputus, sekian lama.