Thursday, December 15, 2011

...

tiga titik...


tiga titik untuk pekerjaan yang tak henti berlapis ini.
tiga titik untuk pekerjaan yang tak berpangkal ini, pada asal, maupun ujungnya.


tiga titik pula pada perilaku yang seperti tak mengingat janji-janji pada diri sendiri itu,
tiga titik pada kalimat bungkus tentang tanda-tanda.
tiga titik pada alasan-alasan yang mengada-ada.


tiga titik pada excuse yang berpotensi pada kebohongan
tiga titik pada mencari-cari alasan


tiga titik pada  hubungan kehabisan waktu dan perhatian
tiga titik pada resiko mengalihkan perhatian pada pemerhati lainnya


jika memang tak bisa menjaga janji pada diri sendiri,
jika memang tak nyaman dengan janji pada diri sendiri,
jika memang merasa tak guna dengan janji pada diri sendiri,
tak perlu kau cari alasan agar orang lain sebagai penyebabnya.


janjimu bukan untuk siapa-siapa.
janjimu untuk dirimu, dan masa depanmu.


maka, tak harus ada janji, jika hanya akan luluh oleh kibasan angin.
tak harus ada janji...


tiga titik untuk tidak ada janji...

Sunday, November 27, 2011




sangsot

Kata ini paling sering digunakan oleh 
masyarakat Pontianak pada umumnya, terutama para ABG. 
Kata ini mempunyai arti bahwa ada ketidak beresan pada sesuatu, 
dengan kata lain adanya hal yang aneh pada sesuatu 
yang menjadi objek perhatian. 

Bisa berarti tidak jelas, bodoh, 
bahkan bisa berarti tidak waras atau sedikit gila. 
Kata ini biasanya ditujukan kepada seseorang 
atau benda yang jadi objek pembicaraan. 

contoh: "Sangsot kitak neh yang bace ni.. Masak ndak tau seh.."



Thursday, November 24, 2011

capek; tired; fatigue




capek = tired = fatigue

Fatigue (also called exhaustionlethargylanguidnesslanguorlassitude, and listlessness) is a state of awareness describing a range of afflictions, usually associated with physical and/or mental weakness, though varying from a general state of lethargy to a specific work-induced burning sensation within one's muscles. Physical fatigue is the inability to continue functioning at the level of one's normal abilities.[1][2][3] It is widespread in everyday life, but usually becomes particularly noticeable during heavy exercise. Mental fatigue, on the other hand, rather manifests in somnolence (sleepiness).
Fatigue is considered a symptom, as opposed to a medical sign, because it is reported by the patient instead of being observed by others. Fatigue and ‘feelings of fatigue’ are often confused.[4]
[source: wikipedia]

Sunday, November 20, 2011

Sunday, November 13, 2011

trust




Trust is both and emotional and logical act. 

Emotionally, it is where you expose your vulnerabilities to people, 
but believing they will not take advantage of your openness. 

Logically, it is where you have assessed the probabilities of gain and loss, 
calculating expected utility based on hard performance data, 
and concluded that the person in question will behave in a predictable manner.


Friday, November 11, 2011

back to default



apa itu back to default?
tidak ada arti yang khusus.
ini hanya soal bagaimana bersikap saja.

jika tidak lagi harus ada harapan,
jika tidak lagi harus berjuang,
jika tidak lagi harus berfikir diluar kotak jenuh,
maka, kembali saja pada standart,
kembali pada default.

referensi pada setting gadget-gadget, 
selalu membawa default sebagai comfort zone.
bahwa semua akan berjalan sesuai kemauan pabrik.
jika menemukan malfunction, tidak pusing,
reset saja, dan back to the factory setting,
alias back to default.

padahal, dalam "default", ada makna "fault",
yang bisa dengan lancang diartikan sebagai kesalahan.
pilihannya ada pada niat saja.

[11.11.11]
[1.24am, selepas ngantuk]



Monday, October 10, 2011

1, 2, 3, ...

cukup 24 jam dibagi 7...
bisa membuat hilang energi... 


1) antisipasi yang tak diperhitungkan
2) sensitivitas yang arah sensitifnya entah kemana
3) panggilan yang segera menjadi niat menjauhi wilayah jenuh
4) unlimited limited logistic 
5) konsekuensi logis yang tak dipercayai sebagai logika
6) dengarkan untuk tidak mendengar
7) problem tree, root of roots, no limit.


lalu, kemana mereka semua menghilang?


lihat tivi, seorang artis tersenyum manis,
lalu berkata "... cantik sejati, datangnya dari hati ..." 
marshanda namanya.  


satu pertanyaan, jika waktu berjalan sampai sepuluh, 
dapatkah membuktikan sampai sepuluh, 
dan tidak lupa pada lima atau bahkan dua?

Thursday, September 29, 2011

nulis aja

nulis aja, apa yang di kepala.


ngapain kerjain semua ini?
kalau gak punya utang, pasti gak urus lagi.
idealisme koplo..


mending juga nongkrong bersama tukang agen perjalanan 
dan tukang pancing itu,
bisa ketawa-ketiwi,
gak usah berpalsu-palsu cengengesan,
toh uangnya nanti lari ke mereka yang suka pelesiran
atas nama pertemuan antar pegiat.
gombal.


susah memahami mereka yang pekerjaannya seolah-olah.
seolah-olah atas nama petani,
seolah-olah atas nama kelestarian
seolah-olah atas nama nama nama nama... 
lagi, idealisme gundul.


soal lain,
multi-tasking.  
bukan perkara mudah.
multi-tasking, identik jongos kata temanku
jongos berlevel jongos, atau jongos berlevel majikan.
bukan perkara mudah,
karena itu susah mendapatkan orang yang mau.
ini persoalan hati,
bukan persoalan kantong.


ya, akhirnya...
bukan perkara mudah juga untuk memahami,
kalau diri sendiri tak mau memahami.
bagaimana mau memahami,
kalau merasa tak dipahami.
paling enak memang memahami diri sendiri,
yang paling ngawur adalah 
bahkan diri sendiripun tak memahami mau kemana diri sendiri 
lha? bingung kan?


sudah malam, waktunya istirahat,
dengan kepala berdentam..
ngantuk urusan ke sekian.
kalau mata terpejam, lalu tertidur,
itu perkara metabolisme saja.
syukur metabolisme masih waras...


selamat malam.


(bangka 8, 11.40 pm waktu saya)



Sunday, September 4, 2011

Gajah Tua


Seperti gajah tua, katamu.
Diucapkan biasa saja, dengan senyuman.
seolah tiada beban yang menyertai kata itu..

Seperti gajah tua, katamu.
Berjalan menjauh dari koloni, 
Seolah koloni tak pernah berfikir tentang dirimu.

Seperti gajah tua, katamu.
Diam-diam saja, dengan badan besarnya.
Sebelum siapapun menyadarinya.

...

Kau bisa memilih, kawan...
menjadi gajah tua dungu,
atau menjadi gajah tua cerdas.
Ujung ceritamu, toh sama juga.

Persiapkan dengan cermat, 
itu kuncinya.

Lalu menjadilah gajah tua yang mengagumkan,
dengan gading yang bermakna, tak cuma berharga.

Tak penting bersusah payah menjelaskan mengapa.
Biarkan matahari kelak menjelaskan pada mereka, sobat.

[bengkuring, wanyi, september 2011]

Monday, July 11, 2011

Google+



Apa itu GooglePlus?
Kata sebagian iseng-ers, dialah Facebook Killer. LOL.

Tidak itu yang mau aku tulis.
Aku mau tulis kalau GooglePlus harus dicoba.

Bukan karena soal fiturnya yang bagus,
Bukan pula karena soal integrasinya dengan bermacam produk google.




Harus dicoba karena:
1. Masih Beta
2. facebook sudah menjemukan
3. mainan baru
4. dicoba saja.

GooglePlus, dicoba saja, check di https://plus.google.com/

Itu saja.

(Juli ini musti nulis sesuatu, ini sebenernya alasan kenapa ngeblog ini)

Tuesday, July 5, 2011

bebaskan Dian-Randy

Menjual iPad ditangkap polisi, dengan alasan tidak ber-panduan Bahasa Indonesia.  Potret buram penegakan hukum di Indonesia.

Dian ditangkap polisi saat melakukan COD (Cash on Delivery) di City Walk, Tanah Abang, atas penjualan dua buah iPad 3G, Wi-Fi, 64 GB yang di beli di Singapura. Adapun Randy ditangkap karena menawarkan enam buah  iPad 3G, Wi-Fi, 16 GB. Keduanya menawarkan iPadnya lewat situs Kaskus.

Saya ingin anda semua membaca tulisan seorang blogger ini, Anggara.  Ulasan dari sisi hukum, membuat kita terbuka, atau setidaknya mendapat perspektif lain tentang kasus in.

Bebaskan Dian dan Randy!

Monday, June 27, 2011

Edy "Enzo" Insutiyo

Edy "Enzo" Insutiyo

Edy Insutiyo, kami biasa menulis namanya dengan Edy "Enzo" Insutiyo.  Edy baru saja berpulang.  Kawan satu ini mendahului kami menghadap Tuhan, tanggal 25 Juni 2011, sekitar pukul 14.30, di Rumah Sakit Haji Darjat, Samarinda.  Tak usahlah obrolkan apa penyakitnya.  Yang jelas, umurnya 45 tahun saat ia berpulang.  

Teringat akan kalimat kerasnya saat kubilang "kenapa sih para seniman itu sering terlihat lusuh tak mandi?".  Edy sambil melotot berkata "itu sudah keinginan mereka, sama juga dengan kamu yang pilih tetap rambut pendek padahal semua temanmu berambut gondrong.  Jangan sembarang omong".  Langsung ciut aku dibuatnya.  

Edy bukan type orang yang mudah menyerah.  Bukan type peminta, bukan pula type pencari belas kasihan.  Edy adalah orang yang keras dengan pilihannya.  Posturnya yang kekar, tak tertandingi jika di hutan.  Terakhir, aku tau Edy menjadi camp manager sebuah perusahaan perkayuan, di jalur sungai Mahakam.  Dari foto-fotonya, dari cerita-ceritanya, ia masih sangat akrab dengan hutan, masih berjalan-jalan di hutan.  

Teringat dulu kami bersama di kampus, akhir tahun 80-an, menjadi anggota Mahasiswa Penyayang Flora dan Fauna (Mapflofa) Fahutan Unmul.  Saat itu, aku baru bergabung, tepat disaat organisasi mahasiswa ini berada pada titik terendah kejayaannya.  Saat hanya tak lebih dari hitungan jari tangan saja mahasiswa yang masih setia mempertahankan eksistensi organisasi ini, di tengah-tengah makian mahasiswa lain, dibawah ancaman pembubaran oleh Dekan Fahutan.  Salah satu orang yang bisa membuatku tertarik bergabung adalah sosok Edy Insutiyo ini.  Ingat saat itu ia berkata, "bubarkan saja Mapflofa ini, kami akan lanjutkan diluar sana".  Secara khusus ia berkata padaku. "kalau kamu serius, silahkan bergabung.  tapi kalau cuma cari kegiatan di kampus saja, pergi saja kamu dari sini".  Kalimat itu bukan sekedar ancaman belaka.  Edy membuktikan membawa Mapflofa kembali pada titik jayanya, dua tahun kemudian, dimana hampir seluruh mahasiswa kampus berbangga hati jika mengenakan slayer berlogo burung itu di leher mereka.  Mereka bangga, mereka suka cita, termasuk mereka yang selama ini menghujat kehadiran organisasi itu.  Edy Insutiyo lagi-lagi hanya tersenyum saat kusampaikan kegeramanku soal mereka.  Ia berkata ringan, "bukankah ini yang kita rencanakan, memperbanyak anggota, menambah simpatisan.  Biarkan saja". 

Edy Insutiyo, di balik wajah kerasnya, adalah sosok penyuka cerita lucu.  Jika kami berkumpul, ia selalu punya cerita lucu baru, yang dibawanya dari tempat ia bekerja, atau ditemukannya saat ia berpetualang.  Kali terakhir ia melucu, sesaat setelah ia berbaring setelah terjatuh itu.  Masih sempat ia mengenali Nuripto, kawan kami yang sekarang mulai botak itu.  Di sela kesadarannya yang mulai menurun, Edy masih sempat menempelkan telapak tangannya tepat di dahi Nuripto yang mulai tak berambut itu, sambil berkata "silau, bro!".  Ha.ha..ha..

Edy Insutiyo, penyuka lagu Iwan Fals juga, seperti kebanyakan kami.  Satu lagu yang tak pernah absen ia nyanyikan jika kami berkumpul, adalah Esek-Esek Udug-Udug (Nyanyian Ujung Gang).  Liriknya aku taruh disini, sebagai penghormatan terkahirku pada kawanku ini.

Esek-Esek Udug-Udug (Nyanyian Ujung Gang)
- Iwan Fals -
Menangis embun pagi yang tak lagi bersih
Jubahnya yang putih tak berseri ternoda
Daun daun mulai segan menerima
Apa daya tetes embun terus berjatuhan

Mengalir sungai sungai plastik jantung kota
Menjadi hiasan yang harusnya tak ada
Udara penuh dengan serbuk tembaga
Topeng topeng pelindung harus dikenakan

Ini desaku
Ini kotaku
Ini negeriku
Ya

Robot robot bernyawa tersenyum menyapaku
Selamat datang kawan di belantara batu
Kulanjutkan melangkah antara bising malam
Mencari tempat mencari harapan

Aku melihat
Aku bertanya
Aku terluka
Ya

Wahai kawan hei kawan bangunlah dari tidurmu
Masih ada waktu untuk kita berbuat
Luka di bumi ini milik bersama
Buanglah mimpi mimpi
Buanglah mimpi mimpi

***

Selamat jalan kawan, selamat bertemu Sang Pencipta.
Kami akan menyusulmu dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Tunggu kami disana.  Mungkin kita bisa dirikan organisasi penyayang flora dan fauna disana nanti.  Tuhan pasti suka dengan kerasnya prinsipmu itu.
Selamat jalan...

ps: salam dari Nunuk "Kuro" Kasyanto, yang tak sempat mengiringimu pergi karena ia harus menjaga hutan Wehea itu saat kamu pergi.  Salam juga dari Kang Dadang Imam Ghozali yang harus berada di Jakarta untuk satu urusan saat kamu pergi.  Juga salam dari Inab Geiger yang meneleponku dari negaranya saat kamu sedang dimandikan, ia meneleponku sambil menahan tangisnya, karena tak sempat menyapamu.  Tapi saat kamu mulai sakit itu, mereka berpesan padaku untuk mendampingi dan membantu kamu selama mereka tidak ada disini.  Biarlah nanti mereka berkunjung ke tempat peristirahatan terakhirmu.  Aku akan tunjukkan pada mereka dimana itu.

[27 juni 2011; 3.04 am]
 

Saturday, June 25, 2011

blog, ditinggalkan?

Konon, blog sudah ditinggalkan, benarkah?
Tidak juga. walaupun "note" di jejaring sosial sebelah begitu mirip, begitu lebih berfasilitas.

Kesetiaan pada blog, bukan semata-mata pada karena ia dapat berdiri sendiri, bukan pula karena saat login ia menjadi seolah independen, atau bukan pula melulu soal kesetiaan.
Kesetiaan pada blog adalah sebuah kesetiaan pada janji, untuk tetap menulis walaupun sebulan sekali.  Kesetiaan pada sebuah tanggungjawab pada diri sendiri, pada tanggungjawab yang sudah dipegang.

Walaupun tiap kali menulis di blog ini, lalu link-up pada "note" jejaring sosial itu, tetapi tetap saja blog ini menjadi lebih bermakna saat membacanya.  Trik mudah, beberapa blogger memanfaatkan fitur "original post" pada jejaring itu untuk menuju blog-nya.  Saya lebih suka manual, mengetikkan alamat link-nya, di bawah potongan posting.

Konon blog sudah ditinggalkan? 
Tidak juga.  Kesetiaan ini adalah kesetiaan pada janji dan tanggungjawab.

[2011 june 25, 6.35am]

Wednesday, June 15, 2011

contek massal; tuhan baru bernama unas

Kasus contek massal, dalam pelaksanaan Ujian Nasional 2011 di SD II Gadel, Tandes, Surabaya, Jawa Timur, yang menempatkan Bu Siami, seorang Ibu, orang tua siswa peserta unas, menjadi bulan-bulanan tetangganya.

Menyaksikan tayangan televisi, miris rasanya melihat Bu Siami dikejar-kejar, nyaris dihajar.  Miris rasanya melihat amarah begitu besar dari para tetangganya, yang juga orang tua siswa peserta unas.
Di koran cetak, Mendiknas M Nuh lebih suka mencari barang bukti berupa lembar jawaban siswa.  Asumsi menteri kita ini, jika pola jawaban sama, maka terbukti ada contek-mencontek massal.  Hasilnya, lantang menteri kita ini berkata bahwa tidak terjadi kecurangan, karena tidak ditemukannya pola jawaban yang sama.

Teringat saya, jaman lalu, saat bersekolah di sekolah menengah pertama, bukan milik pemerintah, yang ujiannya harus menumpang di sekolah negeri.  Menjadi warga kelas dua saat itu, kelas kambing istilah saya.  Bagaimana tidak, saat itu kami diminta (lebih tepatnya diperintahkan) untuk tidak sekalipun menunjukkan bahwa kami lebih unggul dari siswa-siswa sekolah negeri itu.
Jangan keluar dari ruangan sebelum siswa-siswa sekolah negeri itu keluar ruangan.  Jangan meladeni jika mereka menantang.  Jangan meladeni jika mereka mengolok.  Jangan berbuat sesuatu yang bakal membuat mereka (siswa-siswa dan guru2 negeri itu) naik pitam dan bakal bikin sekolah kami susah.
Maka selama empat hari ujian itu, kami menjelma menjadi kutu kupret, yang rela berjalan memutari sekolah ketimbang melintasi segerombolan siswa negeri.  Yang rela berjalan menunduk saat julukan "seragam hutan" menusuk telinga kami. (maklum seragam kami putih-hijau, lusuh pula).  Dan kamipun rela tak jajan di kantin mereka, karena kami mendapat kabar kalau pemilik kantin itupun akan memperlakukan kami secara berbeda.
Tak hanya kami, siswa-siswa, bahkan guru-guru kamipun berubah menjadi person yang berbeda.  Mereka yang kami hormati itu berubah menjadi guru yang tak banyak cakap, terlalu banyak senyum (yang dibuat-buat itu), dan terlalu sering membungkukkan badan saat melintas atau berpapasan dengan para guru sekolah negeri itu.
Setiap hari ujian itu, kami tak langsung pulang.  Kami diperintahkan untuk kembali ke sekolah kami, yang berjarak kurang lebih 3 km dari sekolah negeri itu.  Kami diwajibkan berkumpul sampai waktu sholat dzuhur, melakukan sholat, lalu berdoa.  Memohon pada Tuhan agar kami diluluskan ujian.
Jika siswa-siswa sekolah negeri itu mendapat tekanan dari unas saja, kami yang siswa swasta ini mendapat tekanan dua kali lipat, psikologis pula.

Pak Mendiknas yang baik, jika anda menjadi saya, maka saya yakin anda akan memahami mengapa kami saat itu menjadi demikian takut terhadap proses unas yang anda kawal itu.  Betapa saat itu kami menjadi pecundang-pecundang yang merasa harus menunjukkan bahwa kami mampu menghadapi unas anda itu.  Dan sangat dimungkinkan kami akan melakukan kecurangan serupa SD II Gadel itu.  Terpikirkan kah oleh anda bahwa bencana itu juga telah terjadi hal yang sama di banyak sekolah di Indonesia?  


Pak Mendiknas, unas anda itu, telah menjadi Tuhan baru bagi kami dan seluruh siswa sekolah negeri ini.  Kami menghamba dan bergantung pada Tuhan baru, bernama Ujian Nasional.

Jadi, pertikaian hati untuk mencontek massal atau jujur, pertikaian fisik dan psikologis antara sekelompok warga Gadel dan Bu Siami, adalah karena Tuhan yang baru itu.  Bagaimana, Pak Menteri, anda bertuhan pada apa?


***


ikuti soal contek massal ini, via twitter, #indonesiajujur


Tuesday, June 7, 2011

suka

Bagaimana kok tiba-tiba muncul kembali suka pada Ike Nurjannah?  Padahal rasanya sudah lama tak ingat lagunya?  Kalau Anggun C Sasmi sih memang sudah disuka, overall pokoknya.  Tapi, bagaimana menjelaskan kok tiba-tiba suka Tantri-Kotak?  Apakah karena duet bersama Anggun, atau karena Anggun terang-terus bicara kalau nge-fans Tantri, sampai berkaca-kaca saat bertemu dengannya? Apapun yang disuka idola, maka kusuka juga.  Begitu?

Entahlah.  Jika saja Iwan Fals secara explisit (plus gesture) menyatakan menyukai seorang musisi muda, plus berkaca-kaca saat bertemu dengan sang musisi muda itu, maka sumpah mampus musisi muda itu akan menjadi idolaku juga, hidup-mati.  Sayangnya, Iwan Fals tak pernah menangis untuk hal begitu (kulihat ia menangis hanya sekali, saat acara televisi, ditengah-tengah lagu "Willy", rupanya si "Willy" itu idolanya, sayang dia sudah mati, dan anehnya tak juga Willy ini menjadi idolaku).

Bagaimana bisa menjelaskan bahwa kesukaan ini tiba-tiba bermunculan?  ah, tak perlu risau.  toh tidak mengganggu stabilitas negara kesatuan republik ini.  Pekerjaan jalan, tanggung jawab jalan, kesukaan baru tetap jalan.  Selamat datang kembali Ike Nurjannah, Anggun C Sasmi.  Dan selamat datang Tantri-Kotak.  Senang bisa menikmati ragam lagu anda semua.
Buat Iwan Fals, tenang bos.. ente tetap numero uno!

Tiba-tiba, televisi menayangkan Ruth Sahanaya.  Kesukaan lama muncul kembali.  Selamat datang juga Ruth!  (nunggu trigger saja, untuk kesukaan lama lainnya: Harvey Malaiholo)

Selamat malam, selamat menjalani hidup esok hari.
(41 menit menjelang akhir 7 Juni 2011).   

Friday, June 3, 2011

energy ini, untukmu...


hanya perlu secuil energy untuk mengusulkan perubahan,
tetapi perlu kekuatan yang besar untuk bisa berubah.

sehingga, penghargaan atas sebuah perubahan 
seharusnya bukan untuk pengusul,
melainkan untuk mereka yang berani mengambil resiko
untuk berubah.

anugerah baru saja didapatkan,
untuk bisa mendampingi sebuah proses,
bukan juga tepat disebut perubahan,
karena sejatinya lebih tepat disebut sebagai kedewasaan.
keteguhan hati itu, perjuangan keras itu,
bukan sekedar seperti tulisan di buku-buku,
tetapi lebih dari itu.

janji yang diucapkan,
bahkan sebelum diusulkan, sebelum diusulkan.
menjadi saksi bisu tentang sesuatu yang baru,
yang malu-malu, dan ragu-ragu.
yang akhirnya menjadi keteguhan baru.

tuhan tidak tidur,
jika hanya untuk proses seperti ini.

hanya perlu secuil energy untuk mengusulkan perubahan,
tetapi perlu kekuatan yang besar untuk bisa berubah.

energy ini, untukmu...

(june, 2011)

Sunday, May 15, 2011

macam-macam

Lumayan lama saya tidak menulis.  Macam-macam kesibukan ada saja datang menghalangi.  Padahal bagus juga semua itu dituliskan. Begitu yang selalu terpikir.

Bekerja tanpa kantor, lagi-lagi nyaris tidak menyisakan waktu untuk berleha-leha, kecuali indikator batas kekuatan fisik sudah menjerit-jerit.  Tak ada pilihan lain selain rehat sejenak.  Umur sudah tak memberikan kelenturan yang panjang.
Problem-problem pekerjaan yang kerap gagal dirubah menjadi aset dan potensi itu, kadang membuat muak juga.  Kadang saya lebih suka membuangnya, lalu memungutnya kembali saat energy kembali.  Tetapi, setiap kali dipungut, perlu energy satu setengah kali dibanding saat membuangnya.  Proses yang sulit.
Saya masih saja berfikir, bagaimana orang bisa dengan mudah membuang persoalan-persoalan (yang lebih tepat disebut sebagai tanggungjawab) itu? saya menemukan itu pada orang-orang di sekeliling saya (dan saya lebih suka menyebut mereka sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab.  ha.ha.. judging sekali..)

Friday, April 15, 2011

pikiran kotor berbungkus kata "sunnah Rosul"

Saya tak habis pikir dengan fenomena ini.
Puluhan status yang sama, menghiasi layar laptop saya, dari jejaring sosial itu.
Isinya sama, pada malam yang sama.  Berulang kali, terus menerus.
Mereka menggunakan kata "sunnah Rosul", untuk kegiatan bersenggama di kamis malam.
Selalu saja diulang-ulang, di malam yang sama, dan tetap dalam konteks mengolok-olok.

Buat saya, tak masalah mereka hendak bersenggama kapan saja, dan entah dengan siapa saja.  Urusan pribadi mereka itu.  Urusan moral mereka itu.  Yang menggangu saya adalah cara mereka mencantumkan dan mendiskusikan kata "sunnah Rosul" itu.
Buat saya, lebih baik mereka terbuka menuliskan "saya sedang ingin bersenggama dengan istri/suami", ketimbang bersembunyi di balik gurauan kelas rendah yang selalu saja mencantumkan kata "sunnah Rosul" untuk mengganti kata "bersenggama".  Jelas benar bahwa mereka memanfaatkan kata itu hanya sebagai tameng kedunguan mereka.


Wednesday, March 23, 2011

Telkomsel; susahnya aktivasi layanan BIS dari HALO data


Update 21 Juli 2012: Keluhan ini sudah diterima, dan sedang diperiksa.  Begitu penjelasan dari @tselborneo yang sepertinya dengan lebih sigap merespon. Saya DM nomor HP saya. Dan, saya punya keluhan terbaru saya soal billing GPRS misterius yang membuat tagihan saya membengkak.  Mau tau hasilnya? baca disini.


****


Update 16 Juli 2012:  Ketika merespon twitt seorang teman pada tanggal 15 Juli 2012, @Telkomsel membalas twitt saya: "@ppriyandoko Mhn maaf,slhkan infokan detil kendala yg dialami, utk pngecekan lbh lnjut mhon konfrmsi ke cs@telkomsel.co.id Tks"
Barusan saya email ulang isi tulisan ini.  Kita lihat apakah ada respon dari Telkomsel, dan apa solusi yang disediakan.


****


Update 26 Maret 2011:  Saya ke Grapari, untuk ambil simcard baru untuk nomor lain yang hilang, status nomor utama saya masih priority :-).  

Tapi, ada pula muncul hal baru lainnya.  Saya baru tau kalau yang disebut aktif 1x24 jam itu maksudnya di hari kerja saja.  Aktivasi nomor baru pada hari Sabtu jam 15.30, artinya akan aktif pada hari Senin jam 15.30.  1x24 jam yang aneh! :-)



********


23 maret 2011






Sebenernya saya sudah hampir tak peduli dengan perubahan layanan yang saya terima dari Telkomsel ini.  Tetapi ke-takpeduli-an saya ini terusik lagi saat tadi siang saya menerima telepon dari +62111, nomor resmi layanan Telkomsel.
Suara merdu di seberang sana tidak masalah buat saya.  Yang menjadi masalah adalah saat ia mulai menjelaskan mengapa ia menelepon saya.  Petugas yang saya pikir pasti rupawan wajahnya ini berujar "...kami harus menjelaskan beberapa fitur dan layanan Telkomsel, karena Bapak adalah pelanggan baru.  Data kami menyebutkan Bapak baru berlangganan kartu Halo selama 1 bulan...".  Pitam saya kontan naik (bukankah biasanya kita sebutkan naik pitam?  apa sebenarnya si "pitam" ini ya? nantilah kita bahas pada tulisan yang lain).  Dengan tak kalah merdu, saya jelaskan pada petugas itu, bahwa saya telah menggunakan nomor kartu Halo ini sejak lebih dari sepuluh tahun lalu.  Ya, sepuluh tahun lalu, saat teknologi telepon selular masih baru di kenal (oleh saya.. hehe..).  Atau kata seorang profesor di kampus saya "masih kinyis-kinyis".  Walhasil, si pemilik suara merdu diseberang sana menjadi pendengar setia saya, dan kemudian mengakhiri pembicaraan dengan kalimat "saya akan sampaikan keluhan Bapak..", dan wassalam.

Kronologis dimulai pada Februari 2011, saat itu saya akan aktivasi layanan BIS (BlackBerry internet service) untuk nomor istri.  CS Grapari di Lembuswana, Samarinda, setelah periksa data di komputer bilang bahwa nomor yang saya sebutkan adalah HALO DATA, dan SEHARUSNYA tidak boleh dipakai untuk voice.   Maka, dimulailah kerumitan itu :-)



Friday, February 18, 2011

gadget baru, emang perlu.

Seperti biasa, saya bukan terdepan dalam hal-hal yang berbau kolosal.  Setelah koleksi buku Supernova dan Laskar Pelangi, kali ini saya mulai bergabung dengan dua juta (akhir 2010) para pengguna Blackberry.

Bertahun lalu, saat Blackberry (kita sebut saja selanjutnya sebagai "BB") mulai mewabah, seorang teman bertanya mengapa saya tidak menggunakan layanan ini.  Dan seperti biasa, saya selalu menjawab dengan kalimat sama, itu bukan kebutuhan saya.
Saya dan komunitas kecil "Jama'ah Jempang" (JJ-begitu kami biasa menyebut diri kami), memang bukan gerombolan orang yang tertarik dengan hal-hal kolosal semacam wabah BB itu.  Teknologiya sendiri memang kami bahas, tapi (saat itu) gadget dan layanannya tidak kami perlukan.

Saturday, January 22, 2011

pengulangan perilaku

Saya ingat kalimat Sutewe Abdul Manaf, yang kira-kira bunyinya "hidup itu kan cuma pengulangan saja, perbedaannya cuma apakah pada saat terjadinya pengulangan itu kita telah menjadi lebih baik, sama saja, atau justru lebih buruk?"

Ya, kejadian belakangan ini seperti gambaran nyata dari teori Sutewe Abdul Manaf itu.  Dua kejadian yang berjalan bersamaan.  Yang satu ada di kampus, dan satu lagi dalam pekerjaan.  Keduanya seperti mirip-mirip saja.

Perilaku lama seringkali berupa perilaku tak bagus, wanprestasi, pengingkaran atau sederet negatif lainnya.  Cukup menggangu memang.  Karena selain berpacu dengan waktu untuk mencapai target, bukankah menjadi lebih baik itu penting?

Dan yang perlu saya siapkan adalah reaksi antisipasi untuk pengulangan-pengulangan itu.  Sungguh memakan energi.  Dan seharusnya ini tidak perlu dilakukan.

Jika tidak ada perbaikan, maka kasihan pada keledai, karena nama binatang yang satu ini akan disebut-sebut nantinya.  Hanya karena terperosok pada lubang yang sama, berkali-kali!
 

Saturday, January 15, 2011

Wednesday, January 5, 2011

apa tujuan awal-mu; belajar dari penolakan dekan dan pembantu dekan - I fahutan unmul

Ini tentang penolakan Penjabat Dekan dan Pembantu Dekan I Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman yang diangkat oleh Rektor UNMUL untuk periode 2010-2012.

Saya enggan untuk bicara pasal-pasal tentang penolakan Dekan dan Pembantu Dekan I Fahutan UNMUL disini.  Sudah terlalu panjang diskusinya.  Silahkan akses di milis Fahutan UNMUL  saja.  Ya, memang hanya untuk member saja milis itu, silahkan sign-up.