Sunday, May 15, 2011

macam-macam

Lumayan lama saya tidak menulis.  Macam-macam kesibukan ada saja datang menghalangi.  Padahal bagus juga semua itu dituliskan. Begitu yang selalu terpikir.

Bekerja tanpa kantor, lagi-lagi nyaris tidak menyisakan waktu untuk berleha-leha, kecuali indikator batas kekuatan fisik sudah menjerit-jerit.  Tak ada pilihan lain selain rehat sejenak.  Umur sudah tak memberikan kelenturan yang panjang.
Problem-problem pekerjaan yang kerap gagal dirubah menjadi aset dan potensi itu, kadang membuat muak juga.  Kadang saya lebih suka membuangnya, lalu memungutnya kembali saat energy kembali.  Tetapi, setiap kali dipungut, perlu energy satu setengah kali dibanding saat membuangnya.  Proses yang sulit.
Saya masih saja berfikir, bagaimana orang bisa dengan mudah membuang persoalan-persoalan (yang lebih tepat disebut sebagai tanggungjawab) itu? saya menemukan itu pada orang-orang di sekeliling saya (dan saya lebih suka menyebut mereka sebagai orang-orang yang tidak bertanggung jawab.  ha.ha.. judging sekali..)



Ah, tentang hal lain saja.  Baru saja, saya menangkap energy luar biasa yang dimiliki oleh sekelompok anak muda di utara Kalimantan.  Ini saat saya diberi kesempatan untuk "mengganggu" motivasi diri para pemuda itu oleh sebuah perusahaan penyedia jasa peningkatan kapasitas (saya sebut saja begitu, karena buat saya, yang mereka lakukan memang peningkatan kapasitas dalam arti sebenarnya).  
Mereka belajar mengoperasikan software pengelolaan keuangan desa.  Dengan laptopnya, dengan keterbatasan supply listrik, dan (tentunya) dengan bayang-bayang tak dihitung oleh pemerintah Kabupaten dan Propinsi.  Jangan tanya mengapa saya berpikiran begitu.  Bagi mereka yang fasih bekerja dengan pemerintah Kabupaten di Kalimantan Timur, pasti sudah mahfum betapa para petugas Kabupaten itu sangat superior.  Apalah arti pengurus desa bagi mereka (lagi, judging sekali).

Bagi saya, bukan persoalan apakah hasil pelatihan itu akan berhasil atau tidak, akan mencapai target 70% (seperti kata teman saya, Direktur lembaga itu), atau juga akan diimplementasikan atau tidak.  Buat saya, keberanian para peserta untuk memutuskan memulai menggunakan tools baru, sudah menjadi point positif.  Sudah menjadi modal besar untuk menjadi lebih baik.  Pelaksanaan menjadi tidak penting lagi.  Karena dengan modal positif itu, pelaksanaan hanya seperti tinggal menjentikkan ibu jari saja.  Ini persoalan teknis saja.

Saya hanya teringat saja, bagaimana mengukur keberhasilan.  Beberapa pengalaman langsung saya, menunjukkan bahwa bukanlah banyaknya individu yang menjadi indikator berhasil atau tidaknya intervensi yang kita lakukan.   Tetapi justru kesuksesan itu ada pada berapa besar perubahan yang berani individu-individu itu lakukan.  Sesimpel itu, serumit itu.

hmm.. pukul 03.37 pagi, dan saya tidak ingin menulis lagi.  tidak juga mengantuk.  mungkin saya harus kembali ke pekerjaan saja.  membunuhnya satu persatu dari daftar, yang panjang itu.  ah, salah.  yang tak pernah ada ujungnya itu.
ya, hidup adalah bekerja.  Lagi, bagimana mereka bisa dengan mudah tak bertanggungjawab? entahlah.






 

No comments: