Monday, June 27, 2011

Edy "Enzo" Insutiyo

Edy "Enzo" Insutiyo

Edy Insutiyo, kami biasa menulis namanya dengan Edy "Enzo" Insutiyo.  Edy baru saja berpulang.  Kawan satu ini mendahului kami menghadap Tuhan, tanggal 25 Juni 2011, sekitar pukul 14.30, di Rumah Sakit Haji Darjat, Samarinda.  Tak usahlah obrolkan apa penyakitnya.  Yang jelas, umurnya 45 tahun saat ia berpulang.  

Teringat akan kalimat kerasnya saat kubilang "kenapa sih para seniman itu sering terlihat lusuh tak mandi?".  Edy sambil melotot berkata "itu sudah keinginan mereka, sama juga dengan kamu yang pilih tetap rambut pendek padahal semua temanmu berambut gondrong.  Jangan sembarang omong".  Langsung ciut aku dibuatnya.  

Edy bukan type orang yang mudah menyerah.  Bukan type peminta, bukan pula type pencari belas kasihan.  Edy adalah orang yang keras dengan pilihannya.  Posturnya yang kekar, tak tertandingi jika di hutan.  Terakhir, aku tau Edy menjadi camp manager sebuah perusahaan perkayuan, di jalur sungai Mahakam.  Dari foto-fotonya, dari cerita-ceritanya, ia masih sangat akrab dengan hutan, masih berjalan-jalan di hutan.  

Teringat dulu kami bersama di kampus, akhir tahun 80-an, menjadi anggota Mahasiswa Penyayang Flora dan Fauna (Mapflofa) Fahutan Unmul.  Saat itu, aku baru bergabung, tepat disaat organisasi mahasiswa ini berada pada titik terendah kejayaannya.  Saat hanya tak lebih dari hitungan jari tangan saja mahasiswa yang masih setia mempertahankan eksistensi organisasi ini, di tengah-tengah makian mahasiswa lain, dibawah ancaman pembubaran oleh Dekan Fahutan.  Salah satu orang yang bisa membuatku tertarik bergabung adalah sosok Edy Insutiyo ini.  Ingat saat itu ia berkata, "bubarkan saja Mapflofa ini, kami akan lanjutkan diluar sana".  Secara khusus ia berkata padaku. "kalau kamu serius, silahkan bergabung.  tapi kalau cuma cari kegiatan di kampus saja, pergi saja kamu dari sini".  Kalimat itu bukan sekedar ancaman belaka.  Edy membuktikan membawa Mapflofa kembali pada titik jayanya, dua tahun kemudian, dimana hampir seluruh mahasiswa kampus berbangga hati jika mengenakan slayer berlogo burung itu di leher mereka.  Mereka bangga, mereka suka cita, termasuk mereka yang selama ini menghujat kehadiran organisasi itu.  Edy Insutiyo lagi-lagi hanya tersenyum saat kusampaikan kegeramanku soal mereka.  Ia berkata ringan, "bukankah ini yang kita rencanakan, memperbanyak anggota, menambah simpatisan.  Biarkan saja". 

Edy Insutiyo, di balik wajah kerasnya, adalah sosok penyuka cerita lucu.  Jika kami berkumpul, ia selalu punya cerita lucu baru, yang dibawanya dari tempat ia bekerja, atau ditemukannya saat ia berpetualang.  Kali terakhir ia melucu, sesaat setelah ia berbaring setelah terjatuh itu.  Masih sempat ia mengenali Nuripto, kawan kami yang sekarang mulai botak itu.  Di sela kesadarannya yang mulai menurun, Edy masih sempat menempelkan telapak tangannya tepat di dahi Nuripto yang mulai tak berambut itu, sambil berkata "silau, bro!".  Ha.ha..ha..

Edy Insutiyo, penyuka lagu Iwan Fals juga, seperti kebanyakan kami.  Satu lagu yang tak pernah absen ia nyanyikan jika kami berkumpul, adalah Esek-Esek Udug-Udug (Nyanyian Ujung Gang).  Liriknya aku taruh disini, sebagai penghormatan terkahirku pada kawanku ini.

Esek-Esek Udug-Udug (Nyanyian Ujung Gang)
- Iwan Fals -
Menangis embun pagi yang tak lagi bersih
Jubahnya yang putih tak berseri ternoda
Daun daun mulai segan menerima
Apa daya tetes embun terus berjatuhan

Mengalir sungai sungai plastik jantung kota
Menjadi hiasan yang harusnya tak ada
Udara penuh dengan serbuk tembaga
Topeng topeng pelindung harus dikenakan

Ini desaku
Ini kotaku
Ini negeriku
Ya

Robot robot bernyawa tersenyum menyapaku
Selamat datang kawan di belantara batu
Kulanjutkan melangkah antara bising malam
Mencari tempat mencari harapan

Aku melihat
Aku bertanya
Aku terluka
Ya

Wahai kawan hei kawan bangunlah dari tidurmu
Masih ada waktu untuk kita berbuat
Luka di bumi ini milik bersama
Buanglah mimpi mimpi
Buanglah mimpi mimpi

***

Selamat jalan kawan, selamat bertemu Sang Pencipta.
Kami akan menyusulmu dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Tunggu kami disana.  Mungkin kita bisa dirikan organisasi penyayang flora dan fauna disana nanti.  Tuhan pasti suka dengan kerasnya prinsipmu itu.
Selamat jalan...

ps: salam dari Nunuk "Kuro" Kasyanto, yang tak sempat mengiringimu pergi karena ia harus menjaga hutan Wehea itu saat kamu pergi.  Salam juga dari Kang Dadang Imam Ghozali yang harus berada di Jakarta untuk satu urusan saat kamu pergi.  Juga salam dari Inab Geiger yang meneleponku dari negaranya saat kamu sedang dimandikan, ia meneleponku sambil menahan tangisnya, karena tak sempat menyapamu.  Tapi saat kamu mulai sakit itu, mereka berpesan padaku untuk mendampingi dan membantu kamu selama mereka tidak ada disini.  Biarlah nanti mereka berkunjung ke tempat peristirahatan terakhirmu.  Aku akan tunjukkan pada mereka dimana itu.

[27 juni 2011; 3.04 am]
 

Saturday, June 25, 2011

blog, ditinggalkan?

Konon, blog sudah ditinggalkan, benarkah?
Tidak juga. walaupun "note" di jejaring sosial sebelah begitu mirip, begitu lebih berfasilitas.

Kesetiaan pada blog, bukan semata-mata pada karena ia dapat berdiri sendiri, bukan pula karena saat login ia menjadi seolah independen, atau bukan pula melulu soal kesetiaan.
Kesetiaan pada blog adalah sebuah kesetiaan pada janji, untuk tetap menulis walaupun sebulan sekali.  Kesetiaan pada sebuah tanggungjawab pada diri sendiri, pada tanggungjawab yang sudah dipegang.

Walaupun tiap kali menulis di blog ini, lalu link-up pada "note" jejaring sosial itu, tetapi tetap saja blog ini menjadi lebih bermakna saat membacanya.  Trik mudah, beberapa blogger memanfaatkan fitur "original post" pada jejaring itu untuk menuju blog-nya.  Saya lebih suka manual, mengetikkan alamat link-nya, di bawah potongan posting.

Konon blog sudah ditinggalkan? 
Tidak juga.  Kesetiaan ini adalah kesetiaan pada janji dan tanggungjawab.

[2011 june 25, 6.35am]

Wednesday, June 15, 2011

contek massal; tuhan baru bernama unas

Kasus contek massal, dalam pelaksanaan Ujian Nasional 2011 di SD II Gadel, Tandes, Surabaya, Jawa Timur, yang menempatkan Bu Siami, seorang Ibu, orang tua siswa peserta unas, menjadi bulan-bulanan tetangganya.

Menyaksikan tayangan televisi, miris rasanya melihat Bu Siami dikejar-kejar, nyaris dihajar.  Miris rasanya melihat amarah begitu besar dari para tetangganya, yang juga orang tua siswa peserta unas.
Di koran cetak, Mendiknas M Nuh lebih suka mencari barang bukti berupa lembar jawaban siswa.  Asumsi menteri kita ini, jika pola jawaban sama, maka terbukti ada contek-mencontek massal.  Hasilnya, lantang menteri kita ini berkata bahwa tidak terjadi kecurangan, karena tidak ditemukannya pola jawaban yang sama.

Teringat saya, jaman lalu, saat bersekolah di sekolah menengah pertama, bukan milik pemerintah, yang ujiannya harus menumpang di sekolah negeri.  Menjadi warga kelas dua saat itu, kelas kambing istilah saya.  Bagaimana tidak, saat itu kami diminta (lebih tepatnya diperintahkan) untuk tidak sekalipun menunjukkan bahwa kami lebih unggul dari siswa-siswa sekolah negeri itu.
Jangan keluar dari ruangan sebelum siswa-siswa sekolah negeri itu keluar ruangan.  Jangan meladeni jika mereka menantang.  Jangan meladeni jika mereka mengolok.  Jangan berbuat sesuatu yang bakal membuat mereka (siswa-siswa dan guru2 negeri itu) naik pitam dan bakal bikin sekolah kami susah.
Maka selama empat hari ujian itu, kami menjelma menjadi kutu kupret, yang rela berjalan memutari sekolah ketimbang melintasi segerombolan siswa negeri.  Yang rela berjalan menunduk saat julukan "seragam hutan" menusuk telinga kami. (maklum seragam kami putih-hijau, lusuh pula).  Dan kamipun rela tak jajan di kantin mereka, karena kami mendapat kabar kalau pemilik kantin itupun akan memperlakukan kami secara berbeda.
Tak hanya kami, siswa-siswa, bahkan guru-guru kamipun berubah menjadi person yang berbeda.  Mereka yang kami hormati itu berubah menjadi guru yang tak banyak cakap, terlalu banyak senyum (yang dibuat-buat itu), dan terlalu sering membungkukkan badan saat melintas atau berpapasan dengan para guru sekolah negeri itu.
Setiap hari ujian itu, kami tak langsung pulang.  Kami diperintahkan untuk kembali ke sekolah kami, yang berjarak kurang lebih 3 km dari sekolah negeri itu.  Kami diwajibkan berkumpul sampai waktu sholat dzuhur, melakukan sholat, lalu berdoa.  Memohon pada Tuhan agar kami diluluskan ujian.
Jika siswa-siswa sekolah negeri itu mendapat tekanan dari unas saja, kami yang siswa swasta ini mendapat tekanan dua kali lipat, psikologis pula.

Pak Mendiknas yang baik, jika anda menjadi saya, maka saya yakin anda akan memahami mengapa kami saat itu menjadi demikian takut terhadap proses unas yang anda kawal itu.  Betapa saat itu kami menjadi pecundang-pecundang yang merasa harus menunjukkan bahwa kami mampu menghadapi unas anda itu.  Dan sangat dimungkinkan kami akan melakukan kecurangan serupa SD II Gadel itu.  Terpikirkan kah oleh anda bahwa bencana itu juga telah terjadi hal yang sama di banyak sekolah di Indonesia?  


Pak Mendiknas, unas anda itu, telah menjadi Tuhan baru bagi kami dan seluruh siswa sekolah negeri ini.  Kami menghamba dan bergantung pada Tuhan baru, bernama Ujian Nasional.

Jadi, pertikaian hati untuk mencontek massal atau jujur, pertikaian fisik dan psikologis antara sekelompok warga Gadel dan Bu Siami, adalah karena Tuhan yang baru itu.  Bagaimana, Pak Menteri, anda bertuhan pada apa?


***


ikuti soal contek massal ini, via twitter, #indonesiajujur


Tuesday, June 7, 2011

suka

Bagaimana kok tiba-tiba muncul kembali suka pada Ike Nurjannah?  Padahal rasanya sudah lama tak ingat lagunya?  Kalau Anggun C Sasmi sih memang sudah disuka, overall pokoknya.  Tapi, bagaimana menjelaskan kok tiba-tiba suka Tantri-Kotak?  Apakah karena duet bersama Anggun, atau karena Anggun terang-terus bicara kalau nge-fans Tantri, sampai berkaca-kaca saat bertemu dengannya? Apapun yang disuka idola, maka kusuka juga.  Begitu?

Entahlah.  Jika saja Iwan Fals secara explisit (plus gesture) menyatakan menyukai seorang musisi muda, plus berkaca-kaca saat bertemu dengan sang musisi muda itu, maka sumpah mampus musisi muda itu akan menjadi idolaku juga, hidup-mati.  Sayangnya, Iwan Fals tak pernah menangis untuk hal begitu (kulihat ia menangis hanya sekali, saat acara televisi, ditengah-tengah lagu "Willy", rupanya si "Willy" itu idolanya, sayang dia sudah mati, dan anehnya tak juga Willy ini menjadi idolaku).

Bagaimana bisa menjelaskan bahwa kesukaan ini tiba-tiba bermunculan?  ah, tak perlu risau.  toh tidak mengganggu stabilitas negara kesatuan republik ini.  Pekerjaan jalan, tanggung jawab jalan, kesukaan baru tetap jalan.  Selamat datang kembali Ike Nurjannah, Anggun C Sasmi.  Dan selamat datang Tantri-Kotak.  Senang bisa menikmati ragam lagu anda semua.
Buat Iwan Fals, tenang bos.. ente tetap numero uno!

Tiba-tiba, televisi menayangkan Ruth Sahanaya.  Kesukaan lama muncul kembali.  Selamat datang juga Ruth!  (nunggu trigger saja, untuk kesukaan lama lainnya: Harvey Malaiholo)

Selamat malam, selamat menjalani hidup esok hari.
(41 menit menjelang akhir 7 Juni 2011).   

Friday, June 3, 2011

energy ini, untukmu...


hanya perlu secuil energy untuk mengusulkan perubahan,
tetapi perlu kekuatan yang besar untuk bisa berubah.

sehingga, penghargaan atas sebuah perubahan 
seharusnya bukan untuk pengusul,
melainkan untuk mereka yang berani mengambil resiko
untuk berubah.

anugerah baru saja didapatkan,
untuk bisa mendampingi sebuah proses,
bukan juga tepat disebut perubahan,
karena sejatinya lebih tepat disebut sebagai kedewasaan.
keteguhan hati itu, perjuangan keras itu,
bukan sekedar seperti tulisan di buku-buku,
tetapi lebih dari itu.

janji yang diucapkan,
bahkan sebelum diusulkan, sebelum diusulkan.
menjadi saksi bisu tentang sesuatu yang baru,
yang malu-malu, dan ragu-ragu.
yang akhirnya menjadi keteguhan baru.

tuhan tidak tidur,
jika hanya untuk proses seperti ini.

hanya perlu secuil energy untuk mengusulkan perubahan,
tetapi perlu kekuatan yang besar untuk bisa berubah.

energy ini, untukmu...

(june, 2011)