Thursday, September 29, 2011

nulis aja

nulis aja, apa yang di kepala.


ngapain kerjain semua ini?
kalau gak punya utang, pasti gak urus lagi.
idealisme koplo..


mending juga nongkrong bersama tukang agen perjalanan 
dan tukang pancing itu,
bisa ketawa-ketiwi,
gak usah berpalsu-palsu cengengesan,
toh uangnya nanti lari ke mereka yang suka pelesiran
atas nama pertemuan antar pegiat.
gombal.


susah memahami mereka yang pekerjaannya seolah-olah.
seolah-olah atas nama petani,
seolah-olah atas nama kelestarian
seolah-olah atas nama nama nama nama... 
lagi, idealisme gundul.


soal lain,
multi-tasking.  
bukan perkara mudah.
multi-tasking, identik jongos kata temanku
jongos berlevel jongos, atau jongos berlevel majikan.
bukan perkara mudah,
karena itu susah mendapatkan orang yang mau.
ini persoalan hati,
bukan persoalan kantong.


ya, akhirnya...
bukan perkara mudah juga untuk memahami,
kalau diri sendiri tak mau memahami.
bagaimana mau memahami,
kalau merasa tak dipahami.
paling enak memang memahami diri sendiri,
yang paling ngawur adalah 
bahkan diri sendiripun tak memahami mau kemana diri sendiri 
lha? bingung kan?


sudah malam, waktunya istirahat,
dengan kepala berdentam..
ngantuk urusan ke sekian.
kalau mata terpejam, lalu tertidur,
itu perkara metabolisme saja.
syukur metabolisme masih waras...


selamat malam.


(bangka 8, 11.40 pm waktu saya)



Sunday, September 4, 2011

Gajah Tua


Seperti gajah tua, katamu.
Diucapkan biasa saja, dengan senyuman.
seolah tiada beban yang menyertai kata itu..

Seperti gajah tua, katamu.
Berjalan menjauh dari koloni, 
Seolah koloni tak pernah berfikir tentang dirimu.

Seperti gajah tua, katamu.
Diam-diam saja, dengan badan besarnya.
Sebelum siapapun menyadarinya.

...

Kau bisa memilih, kawan...
menjadi gajah tua dungu,
atau menjadi gajah tua cerdas.
Ujung ceritamu, toh sama juga.

Persiapkan dengan cermat, 
itu kuncinya.

Lalu menjadilah gajah tua yang mengagumkan,
dengan gading yang bermakna, tak cuma berharga.

Tak penting bersusah payah menjelaskan mengapa.
Biarkan matahari kelak menjelaskan pada mereka, sobat.

[bengkuring, wanyi, september 2011]