Saturday, December 8, 2012

anda dilindungi?

Dalam sebulan ini, setidaknya dua kejadian saya alami, 
yang menempatkan diri saya sebagai pelanggan yang tidak punya perlindungan.
setidaknya, itulah yang saya rasakan.

Kejadian pertama, 29 november 2012, saat menunggu penerbangan menuju balikpapan di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.  Saya yang check-in dan menunggu di ruang tunggu 1,5 jam sebelum waktu keberangkatan harus menerima bentakan dari seorang petugas bandara yang (sepertinya) mengatur penumpang yang akan masuk pesawat.  Masalahnya, menurut petugas bandara itu, pengumuman masuk pesawat sudah dikumandangkan 30 menit lalu, ditambah lagi (menurutnya) teriakannya di dalam ruang tunggu penumpang.  Jadi, petugas itu (mungkin) merasa sah saja menghardik saya dan sepuluh penumpang lainnya.
Saya yang tidak merasa mendengar teriakan yang tak merdu dari petugas itu, mencoba berargumen bahwa saya hanya mendengar pengumuman dari speaker bandara, bahwa penumpang dipersilahkan masuk ruang tunggu, dan bukan masuk pesawat (atau, menurut petugas bandara Makassar itu ruang tunggu = pesawat?).  Argumen saya dibenarkan oleh sepuluh penumpang lain yang juga tidak mendengar ada pengumuman itu.  Baiklah, rupanya budeg massal sedang berlangsung saat itu?  sial amat.

Sebagai penumpang dan membayar (bukan pula gratisan), saya merasa perlakuan petugas bandara Makassar itu tidak pada tempatnya.  Kalaupun saya dan sepuluh penumpang lain itu mengalami budeg massal, maka tetap saja tidak pada tempatnya ia menghardik kami.  Mereka harusnya punya cara lebih sopan untuk mengingatkan kami.  Sekali lagi, kami bayar, dan mereka dibayar.  Kalau dibayar tapi lalu merasa punya hak menghardik yang membayar, baiklah, sini saya saja yang jadi mereka.  Sayangnya saya tidak punya cukup ketololan untuk menjadi seperti mereka.  Intinya, saya tidak mendapat perlindungan sebagai  penumpang yang diperkirakan budeg ini.

Kejadian kedua, baru saja, 8 desember 2012.  Telepon rumah berdering, lalu seseorang mengaku dari PT. Telkom memberitahukan saya bahwa nomor telepon rumah saya telah mendapat hadiah undian TV dan modal usaha 10 juta rupiah.  Pikiran waras saya langsung bekerja (ini tumben juga sih, biasanya saya sedikit tidak waras, dan langsung maki-maki saja).  Si penelepon meminta saya menghubungi Drs. Siswanto di nomor 0888-11-61509 di Telkom Samarinda - Awanglong.
Setelah menutup telepon, saya mulai bingung, kemana sebenarnya harus memeriksa dan melaporkan modus penipuan ini?  saya telepon 147, dan saya tambah bingung karena istilah-istilah yang ada tidak mengindikasikan line untuk "aduan".  Dengan berbekal kebingungan itu, saya coba saja menekan 107, sambungan internasional.  Apa hubungannya? ya manalah saya tau, namanya juga orang bingung.
Petugas yang menerima, perempuan, pasti cantik, soalnya gak mungkin dia tampan, menerima dan langsung menyarankan "abaikan saja".  Sedikit kaget juga.  Tapi okelah, mungkin bukan urusan dia, karena dia bagian sambungan internasional, high class, begitukah?  Saat suara saya meninggi, lalu si perempuan operator yang saya perkirakan cantik itu berkata, "silahkan tekan 1 lalu tekan 3".  Lha?? maksudnya? belum sampai hitungan ke 5, sambungan terputus. Innalilahi wainnalilahi roji'un!  Apa coba maksudnya? hahaha...
Pantang menyerah, saya coba telepon 147, dan masuk ke pilihan "telefoni" dan akhirnya diterima seorang operator (lagi-lagi) perempuan.  Dan, saran yang diberikan sama, "abaikan saja, pak". wah!  Dan nomer penipu ia catat, itupun setelah saya tawarkan untuk mencatat.  
Dan hebatnya, si operator ini justru menawarkan agar saya berlangganan fitur "caller ID", yang katanya bisa memunculkan nomer penelepon di pesawat telepon rumah saya.  Saat saya katakan pesawat telepon saya tidak ber-layar, si operator malah berkata "beli saja pesawat telepon yang berlayar".  Hahaha.. layanan yang hebat!   Lagi, saya tidak merasa dilindungi sebagai pelanggan yang membayar.

Dari dua kejadian itu, saya berfikir dimana sebenarnya posisi pelanggan yang sudah menggunakan jasa para penyedia jasa itu?  Padahal pelanggan membayar, dan bukan mengemis pada para penyedia jasa itu.

Bukankah, petugas bandara itu bisa bersikap lebih sopan, tanpa harus menghardik, karena harusnya dia tau bahwa ia bekerja disitu karena menjual jasa, bukan menjadi majikan dari budak belian.

Bukankah, seharusnya perusahaan sebesar PT Telkom bisa mendidik para karyawannya (atau outsourcing itu) untuk punya standart yang tepat? mereka bisa responsif, bertanya nomor penipu itu, lalu melakukan pemeriksaan, lalu melakukan tindakan jika memang terbukti ada indikasi tindak kejahatan.

Aneh rasanya jika pelanggan yang harus bersusah payah mendapatkan perlindungan, padahal jasa yang digunakan itu bukan pula jasa gratisan.  lagi, itu membayar, sodara-sodara!

Entahlah, negara ini bukan hanya pemerintah-nya saja yang sakit, tak mampu melindungi warganya.  Tapi perusahaan besar sekelas pengelola bandara internasional dan penyedia jasa telekomunikasi besarpun rupanya terjangkit sakit juga.  Pelanggan adalah sumber pendapatan, dan tak perlu dilindungi.  Begitukah?
  

Thursday, December 6, 2012

proses

kejelasan tentang proses ini menjadi penting,
bukan hanya karena proses itu akan membantu kita mempersiapkan diri,
tetapi karena sejatinya, pada proses itulah dampak dari intervensi akan terbukti,
dan bukan pada hasil akhir.

menerima keluhan kawan-kawan, tentang pelibatan dalam proses,
dan dalam bahasa kacau itu disebut "menjerumuskan", 
itu bukan perkara jam terbang, dan bukan pula perkara kedewasaan.
tapi ini juga berhubungan dengan model komunikasi yang dibangun.

untuk mereka yang telah mengalami proses berkali-kali, 
tak sulit untuk terjerumus, dan lalu segera akan ambil alih kendali,
karena memang faktor "berkali-kali" itu.  
jika punya sedikit kedewasaan, proses akan menjadi lebih mudah pula.

tapi, diluar itu, jika komunikasi terhambat, respon melambat,
sehebat apapun cara anda mengambil alih kendali,
maka perlu energi ekstra untuk menjaga proses tetap berjalan sempurna.

pada titik ini, kerap tidak ada lagi tempat untuk mencari referensi,
karena anda adalah referensi itu sendiri,
karena itu, harus membuat sejarah, dan tidak ada lagi waktu untuk bertanya,
karena anda adalah jawaban itu sendiri.

jadi, kalau anda lelah, istirahatlah.
simple saja.

Monday, December 3, 2012

Mengapa organisasi membutuhkan seorang fasilitator? (by Bukik)




Mengapa organisasi membutuhkan seorang fasilitator?

Bukan lagi di TK
Mas, kamu kerja jadi fasilitator ya? | Iya | Ooo yang nyiapkan peralatan & ruangan workshop kan ya? | o o” 
Saya beberapa kali menghadapi pertanyaan serupa ilustrasi diatas. Pertanyaan yang mempersepsikan fasilitator sebagai orang yang menyiapkan fasilitas sebuah workshop atau kegiatan. Anggapannya, fasilitator itu berasal dari kata dasar fasilitas yang mendapat akhiran -or. “Capek deh…..”.
Fasilitator memang belum popular dibandingkan saudara-saudaranya seperti motivator, inspirator, atau trainer. Bahkan dikenalpun, fasilitator lebih dikenal di dunia organisasi sosial atau NGO. Dunia bisnis malah tidak mengenal peran fasilitator.
Apa sih fasilitator itu?
Kalau mengacu pada Wikipedia, ini pengertiannya:
facilitator is someone who helps a group of people understand their common objectives and assists them to plan to achieve them without taking a particular position in the discussion.
Sementara yang saya pelajari dari vibrant facilitation training dari Inspirit, fasilitator adalah pemudah cara. Iya, orang yang memudahkan sekelompok orang mengenali kekuatan dan menggunakannya untuk mencapai sasaran yang mereka impikan.
Mengapa fasilitator dibutuhkan?
Banyak pertemuan berlangsung secara tidak sehat. Hanya segelintir orang yang berbicara. Tujuan pertemuan tidak jelas. Terjebak pada perdebatan yang tidak selesai. Fokus pembicaraan yang melompat-lompat. Proses yang membosankan. Gagal melahirkan keputusan yang inovatif. Pernah merasakannya?
Tugas fasilitator adalah memperjelas tujuan pertemuan, merancang  proses yang partisipatif, menyenangkan dan menarik, mengelola proses percakapan selama pertemuan dan mendorong kelompok untuk berani masuk dalam area kreatif.
Setiap orang punya mimpi
Setiap orang punya mimpi
Seorang manajer mengeluh mengenai kinerja kelompok kerjanya yang tidak bersemangat. Manajer tersebut kemudian berkonsultasi pada seorang fasilitator mengenai rencananya memanfaatkan pertemuan tahunan untuk melejitkan semangat kelompok kerjanya. Fasilitator mulailah bekerja. Fasilitator berdiskusi dengan manajer untuk memperjelas tujuan pertemuan dan hasil yang diharapkan.
Setelah itu, fasilitator akan merancang proses pertemuan yang terfokus pada tujuan pertemuan. Saat pelaksanaan, fasilitator menjalankan rancangan proses ini dan mengelola percakapan selama pertemuan. Bila diperlukan, fasilitator akan melakukan penyesuaian rancangan proses agar sesuai dengan kebutuhan peserta. Selama proses, fasilitator memotivasi peserta untuk berani keluar dari area nyaman dan masuk ke area kreatifnya.
Hasilnya? Proses pertemuan jadi pastisipatif, menyenangkan dan menarik. Hasil pertemuan jadi inovatif. Oleh karena itu, fasilitator bertanggung jawab melejitkan kreativitas kolektif.
Apa bedanya dengan trainer?
Trainer itu perannya mengajarkan sebuah pengetahuan/metode/teknik pada sekelompok orang. Ada proses transfer pengetahuan dari trainer kepada peserta sehingga peserta tahu dan mampu melakukan keterampilan baru. Kewenangan trainer pada isi dan proses pertemuan.
Fasilitator tidak mengajar Peserta belajar dari peserta yang lain bukan dari fasilitator. Kewenangan fasilitator hanya pada proses pertemuan, tidak boleh mempengaruhi isi percakapan dalam sebuah pertemuan. Isi percakapan merupakan kewenangan dari peserta pertemuan.
Suasana presentasi gerilya
Suasana presentasi gerilya
Trainer biasanya bertanggung jawab pada pembelajaran individual yang menghasilkan rencana aksi personal. Seorang peserta yang tidak mampu menjadi mampu melakukan penjualan dan menyusun rencana aksi sebagai seorang agen penjualan.
Fasilitator bertanggung jawab pada pembelajaran kolektif, lingkupnya bisa kelompok, unit kerja atau keseluruhan organisasi. Orang-orang diajak berbagi & merefleksikan pengalaman terbaik, menemukan inovasi dan membuat keputusan bersama. Fasilitator bertanggung jawab atas pembelajaran organisasi (organization learning).
Bila merasa adanya kebutuhan belajar individual pada anggota kelompok kerja, anda berarti butuh seorang trainer. Bila merasa adanya kebutuhan belajar bersama, anda berarti butuh fasilitator.
Mengapa organisasi membutuhkan seorang fasilitator?
Sayangnya, banyak pemimpin organisasi merasa tidak membutuhkan fasilitator. Mereka merasa bisa mengelola pertemuan. Mungkin dalam hatinya berkata, “Toh semuanya bawahan yang harus mengikuti perintah saya”. Sayangnya, anggota organisasi bukanlah robot yang mengikuti apa saja perintah atasan, tapi manusia yang mempunyai emosi dan aspirasi.
Kemungkinan yang akan terjadi, menjadi pertemuan yang membosankan, pertemuan menghasilkan keputusan biasa-biasa saja atau pertemuan menjadi ajang “perang terbuka”. Potensi pertemuan yang luar biasa menjadi tidak optimal dan bahkan seringkali tidak produktif.
Dengan kemampuan sebagai fasilitator, pertemuan menjadi proses pembelajaran yang menarik. Perencanaan adalah pembelajaran kolektif. Pengambilan keputusan adalah pembelajaran kolektif. Evaluasi adalah pembelajaran kolektif.

Thursday, November 22, 2012

sepandai apa anda memadukan mereka?

Profesionalisme 
(prof√©sionalisme) ialah sifat-sifat (kemampuan, kemahiran, cara pelaksanaan sesuatu dan lain-lain) sebagaimana yang sewajarnya ter­dapat pada atau dilakukan oleh seorang profesional. Profesionalisme berasal daripada profesion yang bermakna berhubungan dengan profesion dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, (KBBI, 1994). Jadi, profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran atau kualiti dari seseorang yang profesional (Longman, 1987)

Etika 
berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu “Ethikos” yang berati timbul dari kebiasaan, adalah cabang utama dari filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk dan tanggung jawab.

Pendapatan 
adalah jumlah uang yang diterima oleh seseorang atau badan dari aktivitasnya, kebanyakan berasal dari  penjualan produk dan/atau jasa kepada pelanggan. Bagi investor, pendapatan kurang penting dibanding keuntungan, yang merupakan jumlah uang yang diterima setelah dikurangi pengeluaran.


Pekerjaan Sosial
1. Max Siporin: Pekerjaan Sosial adalah suatu metoda institusi sosial untuk membantu orang mencegah dan memecahkan masalah mereka serta untuk memperbaiki dan meningkatkan keberfungsian sosial.
2. Allan Pincus : Pekerjaan sosial berkepentingan dengan permasalahan interaksi antara orang dengan lingkungan sosialnya, sehingga mereka mampu melaksanakan tugas2 kehidupan, mengurangi ketegangan, mewujudkan aspirasi dan nilai2 mereka.
3. Walter A. Friedlander : Pekerjaan sosial merupakan suatu pelayanan professional yang prakteknya didasarkan kepada pengetahuan dan keterampilan tentang relasi manusia sehingga dapat membantu individu, kelompok dan masyarakat untuk mencapai kepuasan pribadi dan sosial.
4. Charles Zastrow : Kegiatan professional untuk membantu individu, kelompok, dan masyarakat guna meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam berfungsi sosial serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuan.
5. Rex Skidmore : Pekerjaan sosial bertujuan untuk meningkatkan keberfungsian sosial baik secara individual maupun kelompok, di mana kegiatannya difokuskan kepada relasi sosial mereka, khususnya interaksi antara manusia dengan lingkungannya.
6. Leonora Serafika de Guzman: Pekerjaan sosial merupakan profesi yang bidang utamanya berkecimpung dalam kegiatan pelayanan sosial yang terorganisasi, di mana kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan fasilitas dan memperkuat relasi, khususnya dalam penyesuaian diri secara timbal balik dan saling menguntungkan antara individu dengan lingkungan sosialnya melalui penggunaan metoda pekerjaan sosial.
7. Undang2 no. 11 tahun 2009 : Semua keterampilan teknis yang dijadikan wahana bagi pelaksanaan usaha kesejahteraan sosial.

Penipuan 
sebuah kebohongan yang dibuat untuk keuntungan pribadi tetapi merugikan orang lain, meskipun ia memiliki arti hukum yang lebih dalam, detail jelasnya bervariasi di berbagai wilayah hukum.

Korupsi 
(bahasa Latincorruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) atau rasuah adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak.


gak tau

membaca deretan kalimat yang sepertinya tidak berarti apa-apa itu.
seperti dibuat untuk tidak dipahami.  dengan kombinasi singkatan dan bahasa asing.
maksudnya supaya nampak cerdas dan pintar.

jauh sekali dari realita, jauh sekali dari apa yang sedang terjadi.  keringat, tenaga, terkuras untuk kebutuhan nyata saja, itu di kampung sana.

tapi, toh mereka yang membantu bekerja di kampung, tak semua serius.  beberapa target oriented.  sisanya perdiem oriented.

gak tau, ah...

Sunday, November 11, 2012

Tak Pernah Terbayangkan (Iwan Fals)



Tak pernah terbayangkan
Bila harus berjalan tanpa dirimu
Tak pernah terpikirkan
Bila aku bernafas tanpa nafasmu
Nafasmu

Takdir sudah pertemukan kita
Tuk berdua dan saling menjaga
Dan tak mau aku melewati
Semua ini tanpamu

Kau hangatkan genggaman tanganku
Dan berkata akulah milikmu
Dan tak mau aku menjalani
Dunia ini tanpamu

Takdir sudah pertemukan kita

apa

tadi iwan fals di tivi, didampingi coboy junior.
suaranya bagus-bagus.
iwan fals jelas legenda, tapi itu coboy junior, 
sepertinya juga akan menjadi legenda.

kalau suara bagus, berkarakter, tak masalah lirik lagu membingungkan,
tetap idola menyanjung.  lalu membuat tafsir sendiri,
lalu lirik hasil bersin pun bisa menjadi ayat suci.

tidak bisa kuikuti sampai selesai iwan fals dan coboy junior itu.
karena harus ke rumah kawan, lihat bapaknya yang sedang sakit,
biasalah, saling titip kalau sedang tidak di dalam kota.
itulah salah satu guna teman.

... tiba-tiba hilang mood...
(nantilah dilanjutkan..) 

Wednesday, October 17, 2012

ada

ada berita tentara udara mencekik wartawan
ada berita polisi foto-foto artis yang sedang di bawah alam sadar
ada berita pasukan penjarakan petani yang lagi berjuang untuk sawahnya
ada berita pasukan menghajar para pengunjuk rasa
ada berita polisi berseteru dengan KPK

lalu ada berita polisi kurang gaji, karena itu maklumlah, katanya.

lalu?
ya ndak ada lalu, itu beritanya.

sekian.

untuk

baru beberapa saat menggeleng heran,
lihat komentar para sarjana itu,
soal korban perkosaan.
seperti tidak berhati saja mereka,
dengan ringan tertawa riang,
membuat kata berbau meremehkan.

lalu sang mentri pendidikan,
melakukan hal sama,
berkata ringan soal suka sama suka,
seperti menanggapi transaksi jual beli kodok saja,
situ suka, saya suka, halal.

para sarjana dan mentri pendidikan indonesiaku...
tahukah kau bahwa aku sedang berpikir saja,
jika ibumu, anak perempuanmu, atau saudara perempuanmu
berada pada posisi yang sama dengan mereka yang kau remehkan itu,
apakah mulutmu akan berbicara hal yang sama?
apakah masih seringan itu kau katakan suka sama suka?

kusarankan,
nanti malam, waktu kau panjatkan doa pada Tuhanmu,
sisipkanlah doa agar ibumu, anak perempuanmu atau saudara perempuanmu,
tak bernasib sama dengan mereka yang kau tertawakan.
berdoalah, 
karena hanya dengan begitu kau tidak tampak bodoh,
karena hanya kepada Tuhanmu kau bisa malu,
tanpa harus terlihat lemah mengakui kesalahan lidahmu.

dan dari sini,
aku akan berdoa untukmu,
agar tidak terjadi itu semua 
pada ibumu, anak perempuanmu atau saudara perempuanmu.

[untuk korban pelecehan seksual, pelecehan kata-kata, dan peminggiran perlindungan]

Monday, September 10, 2012

ada waktunya...

ada waktunya dimana kita boleh enggan pada apapun itu, 
terutama pada irama yang sama,
yang itu-itu saja, yang seperti tak pernah belajar,
dari persoalan yang sama.

ada waktunya dimana kita dipersilahkan membuang pandang,
untuk perilaku yang sama, 
yang seperti cerdas,
namun nyatanya tak lebih dari kedunguan berbulu domba.

ada waktunya dimana kita boleh pergi,
dari situasi yang entah bodoh atau terbius,
yang tak juga mau berubah,
walau darah sudah muntah.

ada waktunya...


Saturday, July 21, 2012

tagihan GPRS kartu HALO Telkomsel melonjak, complain, dapet pemotongan 50%

Update 18 Agustus 2012: 
Saya buka t-cate, tagihan Agustus 2012 untuk pemakaian Juli 2012, masih ada tagihan GPRS siluman  senilai Rp. 285.908,-.  Sudah enggan tingkat tinggi untuk urus hal ini lagi ke grapari Samarinda.  Simcard HALO saya sudah saya tanam kembali ke E63, gadget jadul, dan kembali ke fungsi dasar: voice dan sms belaka.  Jika bulan depan masih saja saya harus membayar tagihan GPRS siluman, ya harus saya uruslah itu.  Telkomsel dengan kartu HALO ini, masih saja tidak membuat saya tenang menjelang lebaran ini.
Update 2 Agustus 2012: Pukul 12.50 siang.  Saya buka t-care, hasilnya ini:
horeeee!! dan sayapun registrasi Blackberry ke layanan Three, unlimited 69rb sebulan.
mudahan migrasi di bulan Ramadhan ini berkah... sabar..sabar....

Update 1 Agustus 2012:  pukul 9.30 pagi, dengan langkah biasa-biasa saja, saya tiba di Grapari Samarinda.  Antri, 5 pelanggan sebelum saya.  Saya sampaikan segepok dokumen hasil 19 Juli itu.  Awalnya si petugas CS (saya lupa tanya namanya) menjelaskan bahwa proses diskon billing itu biasanya makan waktu 2-3 bulan. Heeekkssss... selama itu??? Dan si CS menyarankan supaya saya membayar penuh sesuai tagihan dulu, dan nanti akan diproses (atau dipotong ya?) sesuai diskon yang diberikan.  Di sela adu obrol kami, si CS sempat berujar "sudah ada pembayaran senilai xxxx".  Hohoho... rupanya data di komputer si CS yang senyum-senyum terus ini berbeda dengan data yang ada pada CS 133.  Lalu, ia berucap "bapak tinggal membayar sisanya saja". Nah..nah... rupanya sudah mulai proses diskonnya.  Setelah sedikit argumentasi, dan memohon supaya saya diperbolehkan mendapat penjelasan tentang progress pengaduan saya, si CS akhirnya meminta saya menunggu.  Akhirnya, seorang petugas CS lainnya (kali ini saya sempet catet namanya), Rista, mendatangi saya, dengan senyum-senyum pula pastinya, dan menjelaskan bahwa sudah ada "surat perintah" untuk menyelesaikan aduan saya, dan saya dipersilahkan membayar tagihan setelah dipotong diskon.  Akhirnya, dengan ditemani mbak Rista itu, saya membayar tagihan baru, dan selang beberapa menit kemudian, blokir terbuka dengan damai.
Niat sudah bulat, akhirnya saya minta Rista, sang CS yang baik hati itu, membantu saya untuk menutup layanan blackberry saya, karena saya tidak mau kejadian ini berulang di kemudian hari.  Runtuh kepercayaan saya kepada Telkomsel, itu pasti.  Saya mendapat form  dari CS yang berisi: "deaktivasi BIS 99K".
Pukul 4 sore, saya telepon 133 untuk mengetahui status deaktivasi ini, dan mendapat jawaban "layanan BIS masih aktif". Saya tidak kaget kali ini, toh pasti alasannya "perlu proses".  Saya langsung minta bantu untuk segera di-deaktivasi.  Setelah verifikasi data, si petugas CS mengeluarkan kalimat sakti Telkomsel: "mohon ditunggu 1 x 24 jam".  Saya senyum-senyum saja (ah, si CS kan gak bisa liat senyum saya, bodoh nian saya ini...).
Pukul 10.30 malam, saya buka t-care, dan hasilnya, paket layanan Blackberry full service saya bukannya non aktif, tapi berubah menjadi paket mingguan Rp. 35.000,-.  Wah.. apa-apaan lagi nih?  Lalu saya tulis update ini, dan saya check lagi pada pukul 11.40, status berubah lagi menjadi "BIS Unlimited Bulanan (Rp 120.000 bulan 1, Rp 150.000 bulan dst)". Waduuhh.... makin bingung saya.
Akhirnya, saya pindahkan simcard HALO Telkomsel ke HP lama saya, dan saya matikan semua fitur akses ke GPRS.  Dalam hati saya berujar "kupenjara kau!".  Kalau bulan depan masih ada tagihan GPRS lagi, itu pasti kerjaan demit lulusan sekolah IT yang iseng menghubungkan simcard saya dengan layanan GPRS.  Dan itu pasti demit luar biasa yang punya privilege masih berkeliaran di bulan Ramadhan ini.   
Saya niatkan untuk check lagi besok sore, seperti slogan baru Telkomsel: "mohon tunggu 1 x 24 jam".

Update 31 Juli 2012: pagi, kira-kira pukul 10 wita, saya mendapat telepon dari seorang perempuan, mengaku petugas dari Grapari Samarinda. Saya sudah sumringah, mengira akan ada progress dari keluhan saya.  Ternyata eh ternyata, si mbak penelepon ini justru meminta saya untuk segera membayar tagihan kartu HALO saya.  "Untuk menghindari pemblokiran", begitu suaranya merdu sekali.  Lagi, saya harus berusaha keras menjelaskan tentang kasus saya, dan menjelaskan mengapa saya sampai deadline 30 Juli saya belum membayar juga.  Bukan pula bokek sangat, tapi karena saya menunggu billing yang telah dikoreksi.  Lagi, si mbak itu bilang "akan kami koordinasikan dulu".  Pukul 7.30 malam, saya mencoba menelepon dari kartu HALO, dan.... blokir! ...amin.  Dengan berbekal wifi yang setia di rumah, saya DM @tselborneo yang kelihatannya lebih cepat tanggap.  Dan mendapat respon "Besok pagi akan kami check".  Alhamdulillah ada respon.

Update 30 Juli 2012:  Karena sampai tanggal 30 Juli 2012 saya belum dapat informasi perkembangan terakhir pemotongan 50% biaya GPRS itu, sementara telah berkali-kali saya mendapat sms cinta kasih dari telkomsel yang mengingatkan saya untuk segera membayar tagihan agar menghindari blokir, maka saya putuskan untuk membayar tagihan pemakaian Juni 2012 ini.  Saat mencoba membayar via ibanking, saya mendapatkan tagihan saya masih dalam posisi semula, tidak ada pemotongan 50% yang dijanjikan tersebut.  Lalu kira-kira pada pukul 9.35 pagi saya putuskan menghubungi 133 untuk menanyakan status tagihan saya, dan diterima oleh CS officer bernama Yayuk.  Setelah menjelaskan secara singkat dan dilakukan pengecekan, Yayuk ini meminta saya kembali ke Grapari Samarinda untuk check setting blackberry saya dan menanyakan langsung soal solusi 50% itu. Waduuuhh... saya putuskan untuk ketawa-ketiwi saja mendengar saran itu.  Dan setelah saya sampaikan kepada Yayuk ini bahwa handheld blackberry saya sudah dicheck tgl 19 Juli dan dinyatakan tidak ada masalah, lalu Yayuk meminta saya menunggu kembali untuk dilakukan "koordinasi" tentang keluhan saya.  Setelah menunggu beberapa menit, inilah hasilnya: Jeng Yayuk meminta saya menunggu proses 1x24 jam (lagi) untuk dilakukan pengechekan. Hmmm.... nampaknya bulan puasa ini Telkomsel sudah sukses merencanakan uji kesabaran bagi pelanggannya.  Akhirnya, saya minta advice dari Mbak Yayuk ini, apakah saya harus membayar tagihan saya secara penuh, atau menunggu hasil akhir dari proses ini? Dan dengan diplomasi dan ramah Mbak Yayuk ini menyerahkan pilihan pada saya. Mantap.  Walhasil, lebih dari 33 menit saya bertelepon dengan Mbak Yayuk ini, dan hasilnya adalah "tunggu 1 x 24 jam".  Nasib...nasib...

Update 24 Juli 2012:   Dapet telepon dari +62111, CS Telkomsel bernama Nazar (mudahan gak salah inget).  Ia melakukan check tentang kasus ini.  Saya jelaskan kronologis kejadian, dan petugas ini berkata "akan berkoordinasi dengan bagian billing".  Sejujurnya, nampaknya Kang Nazar ini belum dapet detail update kasus saya.  Lagi, hanya berharap saja, mudahan billing saya bulan depan gak melonjak lagi..

*** 


Setelah keluhan tahun 2011 itu, kali ini giliran tagihan kartu HALO Telkomsel saya melonjak gara-gara akses GPRS siluman.
Cerita dimulai saat menerima billing bulan Juli, pemakaian Juni 2012.  Tagihan pemakaian melonjak hingga 100%.  Penasaran, saya buka detail pemakaian via TCare, dan menemukan akses GPRS yang (saya sebut sebagai) di luar kebiasaan.  Akses GPRS rutin hampir setiap 5 menit dengan durasi pendek. Hmm.. mulai lagi saya harus berurusan dengan Telkomsel nih... (kepala botak saya tiba-tiba gatal)

Tanggal 18 Juli 2012, pukul 3 sore, saya telepon CS melalui 123, dan diterima oleh CS bernama Neno, dicatat, dan dijanjikan akan dihubungi dalam 1 x 24 jam.  Dan si CS sempat pula berpesan "jika kami belum menghubungi, harap bapak menghubungi kami kembali". 

Tgl 19 Juli pagi, saya lihat twitt seorang teman yang direspon oleh twitt ID @telkomsel.  Iseng, saya mention soal keluhan lama, dan berbalas.  Intinya, saya diminta kirim detail masalah melalui email cs@telkomsel.co.id.  Saya kirim ulang email saya soal keluhan tahun 2011 itu dan saya sampaikan juga soal billing melonjak gara-gara penggunaan GPRS siluman itu.
Tgl 19 Juli sore, belum ada kabar dari Telkomsel.  Sementara saling mention terus berlanjut.

Tgl 20 Juli siang, puasa hari pertama (saya gak ikut anjuran pemerintah soal puasa tgl 21, alesannya, simple saja, saya gak percaya hitungan pemerintah soal start puasa. Lho.. kok jadi ngomongin soal puasa dan soal gak percaya sama pemerintah, sih? nanti kena pasal makar, repot!), saya ke Grapari (Lembuswana) Samarinda, dan pengaduan dicatat oleh CS bernama Lisa, dan diminta kembali pada pukul 3 sore, karena "back office" sedang sholat Jum'at.  (BTW, saya baru tau kalau dalam antrian CS tidak ada lagi pembedaan antara pelanggan priority dan reguler.  Walaupun pada kasir masih terlihat itu).
Tgl 20 Juli pukul 3 sore, saya kembali ke Grapari dan kembali mengantri.  Tidak panjang, syukurlah, hanya ada 2 nomor sebelum saya.  Saya diterima oleh dua orang CS sekaligus (Lisa dan Risna).  Entah apakah ada policy untuk itu, tetapi dari cara mereka menjelaskan pada saya, sepertinya mereka bukan saling mensupervisi.  Singkatnya, para CS itu mencoba check Blackberry saya, dan bertanya apakah saya menggunakan aplikasi akses internet.  Saya jawab bahwa aplikasi telah ada sejak beberapa bulan lalu, dan jika melihat tagihan saya 6 bulan terakhir, tidak pernah sebesar ini penggunaannya.  Saya tambahkan, lagipula, aneh rasanya kalau saya menggunakan GPRS selang setiap 5 menit.  

Setelah detail billing saya dicetak, dan perangkat Blackberry saya dibawa untuk diperiksa di dalam (mungkin itu yang disebut "back office"),   kedua CS (plus satu di sebelahnya yang sesekali juga ikutan nimbrung, saya lupa namanya) menjelaskan bahwa  "back office" telah memeriksa detail billing dan perangkat Blackberry dan menemukan aplikasi yang memungkinkan akses GPRS diluar paket yang disediakan.  Mereka mencontohkan aplikasi "youtube" dan "21 Cineplex", dan menunjukkan email-email komunikasi tim yang menangani masalah saya ini.  Dan akhirnya mereka memberi saya penawaran untuk mendiskon pemakaian GPRS (di luar paket berlangganan BIS yang saya ikuti) sebesar 50%. 

Akhir dari perjalanan keluhan saya ini adalah saya dan Telkomsel "berdamai".  Diskon 50% pemakaian GPRS misterius itu saya terima.  Tentu saya punya alasan tersendiri mengapa saya menerima tawaran itu.

Dari pengalaman ini, saya mendapat pelajaran bahwa:
1) Adalah tidak mungkin pelanggan bisa membuktikan bahwa ia tidak melakukan penggunaan GPRS di luar paket berlangganan (sekalipun dalam gadget mereka telah ter-install aplikasi yang menurut Telkomsel memungkinkan untuk itu).  Karena, pelanggan tidak mempunyai akses terhadap detail aktivitas komunikasinya.  Saya berani bertaruh bahwa dalam bulan Juni itu, saya tidak sekalipun menggunakan aplikasi Youtube dalam gadget saya.  Dan memang sudah berbulan-bulan tidak saya gunakan.  Saya pastikan bahwa saya masih sesekali melakukan akses internet menggunakan gadget saya, karena itu masih ada tagihan GPRS di luar paket berlangganan.  Tetapi, bagaimana saya bisa membuktikan bahwa saya menggunakannya dengan hati-hati dan menggunakan bukan untuk layanan di luar paket? Saya hanya punya "modal" membandingkan dengan penggunaan pada bulan-bulan sebelumnya.  Pada titik ini, pelanggan memang tidak mempunyai bargaining power.  
2) Alasan pemberian diskon/pemotongan biaya penggunaan GPRS yang dilakukan oleh Telkomsel semata-mata adalah "kebijaksanaan" yang diambil dengan pertimbangan "pengecekan gadget".  Ini saya simpulkan dari kalimat di dalam email mereka: "untuk pemakaian GPRS pelanggan, apabila pelanggan tetap tidak ingin membayar, dan sisi tools dan pengecekan tidak dapat dibuktikan penggunaannya dapat dilakukan penyesuaian tagihan 50% dari total tagihan GPRS".  Artinya, karena gadget saya terbukti tidak bermasalah, tetapi ada aplikasi yang memungkinkan terjadinya koneksi GPRS di luar paket berlangganan, maka kebijakan ini diberikan.  Tetapi, bagaimana jika ternyata di kemudian hari system pada Telkomsel yang bermasalah? Yang kemudian menyebabkan seolah-olah pelanggan melakukan akses GPRS di luar paket-nya? Lagi, sulit untuk bisa membuktikan ini.

Maka, dengan kejadian ini, bagi para pelanggan kartu HALO Telkomsel yang juga melengkapi paket mereka dengan layanan BIS, kiranya bisa berhati-hati.  Sebagai pihak lemah dari dua pihak yang sedang mengikat perjanjian, sekiranya kita semua bisa lebih waspada.

Akhirnya, kendati saya masih was-was dengan kemungkinan tagihan GPRS bobol (lagi) pada bulan Juli, dan terbayang-bayang wajah cengengesan teman-teman saya yang sumringah saat saya ceritakan soal billing melonjak itu, saya berharap diskon 50% itu segera diberikan (karena baik CS maupun petugas kasir tidak memberikan kepastian bilamana potongan itu bisa dilaksanakan.  Saya masih punya waktu beberapa hari sebelum tengat pembayaran tagihan yang jatuh pada tanggal 30 July 2012).  

Eh, tapi saya teringat janji CS yang bernama Lisa, ia berkata "jika terjadi blokir, saya akan bantu Bapak buka blokirnya".  Baik sekali dia, mudahan nanti dia bener bisa tolong saya.


Saturday, July 14, 2012

sandjaja kosasih

satu lagi orang baik berpulang.
sandjaja kosasih, orang baik di samarinda, punya peran banyak di bidang IT, dan sepertinya juga kegiatan sosial kemanusiaan.


saya bukan orang yang terlalu dekat dengan sandjaja kosasih ini,
tetapi interaksi sesekali di dunia maya, membuat saya merasa akrab saja.
mungkin interaksi kami di masa lalu, yang membuat saya merasa begitu.


diawali pada tahun 89, kali pertama saya berkenalan dengan dunia internet,
dial masih ala mahal, 
yaitu dengan melakukan panggilan internasional, 
ya, dial ke luar negeri, hanya untuk masuk ke server mereka,
lalu upload dan download email.
hanya itu, dan bukan browsing.


lalu ada sedikit kemajuan, 
jaringan di jakarta membangun server,
lalu pindahlah kami, dial ke jakarta, untuk hal sama,
upload dan download email.
masih mahal, masih tidak boleh browsing.


lalu, bertemulah saya dengan sandjaja kosasih,
yang sedang membangun penyedia koneksi internet,
di samarinda.
bicara punya bicara, akhirnya saya berlangganan koneksi internet,
sandjaja kosasih memberikan banyak kemudahan,
mulai dari setup email, sampai free space untuk website kami.
rupanya iba juga dia melihat LSM seperti kami yang tak punya website.


walhasil, hampir semua LSM samarinda (kala itu), 
saya daftarkan alamat emailnya pada sandjaja kosasih.
dengan senang hati ia membantu, plus diskon besar.
padahal, di tahun itu, membantu LSM adalah satu tindakan beresiko,
maklumlah, di jaman itu, represif adalah sebuah keharusan bagi pemerintah.
tapi, entah mengapa sandjaja kosasih senyum saja saat saya tanya soal ini.
"saya bantu saja, mas", begitu katanya.
sejak itu, dunia maya menjadi terang benderang bagi para LSM itu.


sandjaja kosasih,
mungkin sudah dilupakan oleh para mantan LSM Samarinda,
yang sekarang menikmati koneksi internet serba mobile.
tetapi buat saya, bantuan dan dukungannya 
pada perkembangan civil society samarinda kala itu
adalah point penting dari mulai terbukanya dunia informasi di samarinda.


selamat jalan, Pak SanKo,
semua jasamu akan terus mengalir dalam setiap kilobyte data yang beredar di Samarinda.
Tuhan pasti mempunyai perhitungan tersendiri atas semua upaya muliamu.


selamat jalan, kawan. 

Monday, July 9, 2012

pengen nulis

pengen nulis...


nanti sajalah...


kalau sudah muncul moodnya...

Wednesday, June 13, 2012

juni masuk juli

juni masuk juli
katanya ada banyak kejadian penting
benar penting.
seorang kawan luluh lantak
seorang teman ambil keputusan
trus apa..
ya ndak apa-apa.

juni masuk juli
katanya ada banyak kejadian penting

Wednesday, May 30, 2012

sntly

lebih sebulan ndak nulis apa-apa disini.
sontoloyo!



Saturday, April 28, 2012

corong mesjid ala wapres

Membaca berita Wapres Budiono menghimbau agar corong mesjis diatur, saya inget cerita teman saya.

Bapaknya teman saya itu bisa dibilang yang punya mesjid seberang rumahnya. Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib, Isya, konon ndak pernah absen shalat di mesjid itu. Bapak ini juga yang menjabat kepala pengurus mesjid itu.  
Dan Bapak ini juga yang mencak-mencak waktu suara corong mesjidnya mengganggu tetangga sekitar.  Bapak ini berang bukan karena adzan-nya, tapi karena pra dan pasca adzan itu.   


Pada daerah-daerah tertentu, terdapat kebiasaan untuk mengaktifkan corong mesjid beberapa waktu sebelum masuk waktu shalat.  Di beberapa tempat, bisa terdengar suara orang mengaji, riil, nyata, suara manusia, live show.  Ini biasanya di kampung-kampung, dan rasanya mulai jarang ditemukan.  Sedangkan di beberapa tempat, pengurusnya lebih suka memutar rekaman orang mengaji.  Ya, rekaman saja, tayang ulang, re-run, sementara si penjaga mesjid mungkin masih bercelana pendek, menyapu.
Uniknya, di beberapa tempat lainnya, justru kaset berisi lagu-lagu (yang katanya) dari negara arab, akan diputar menjelang waktu shalat. 


Nah, lalu, apa masalahnya?  Masalahnya ya itu tadi, apa yang diperdengarkan itu.  
Hal lain, juga ada pada ukuran.  Ukuran suara, alias keras-tidaknya suara yang berasal dari corong mesjid itu.  Juga, bilamana diputar, dan seterusnya.
Simpelnya, semua kombinasi dari Apa, Dimana, Kapan, Siapa, dan Bagaimana.


Jadi, himbauan itu mustinya dilihat dari sisi yang lebih luas.  Karena faktanya, banyak juga mesjid yang memperdengarkan hal-hal yang kurang bermanfaat, dengan alasan menunggu masuk waktu shalat atau menunggu waktu berkumpul pengajian.  Ditambah lagi, tetangga sekitarnya (yang mayoritas muslim) juga merasa terganggu.


Jadi, biasa sajalah, himbauan itu himbauan biasa, tak usah sampai perlu mempertanyakan apa agama si Wapres.  Lebih-lebih yang mempertanyakan kemudian merasa dirinya paling Islam sendiri.  Ini soal gangguan ketenangan.  Toh kita menganut ajaran "semua yang berlebihan itu tidak baik".


Bapaknya teman saya itu, sudah tua, shalat 5 kali sehari tak putus, dan dia keberatan dengan suara corong mesjid yang tak perlu, dari mesjid yang dia pimpin.  Dan, dia bukan Wapres.



puasa

sedang ingin puasa saja..
puasa nulis..
atau tetep nulis,
tanpa perlu dibaca ulang...


padahal kata para penulis,
bahaya jika menulis dipuasakan,
karena bisa menjadi penyakit dalam,
kronis,


tapi, 
ya puasa saja,
ndak tau selama apa,
mungkin 10 menit lagi sudah ndak puasa,
siapa peduli..





Saturday, April 21, 2012

repost: kartini hari gini


repost:

TUESDAY, APRIL 24, 2007

kartini hari gini

“Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia harum namanya.  Ibu kita Kartini, pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka. Wahai Ibu kita Kartini, putri yang mulia, sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia”

Kartini hari gini, ini soal kesetaraan, bukan cuma soal lomba-lomba kebaya bersanggul atau nyupir dump truck, atau juga cuma jadi dokter, polwan atau kernet angkot. Ini soal bagaimana secara hak dan kewajiban setara, setelah disepakati bagaimana kesetaraan itu dirumuskan, bukan cuma soal siapa dapat kesempatan dan siapa yang menciptakan kesempatan.

Kartini hari gini, sudahlah hentikan mengeluh soal kesempatan, atau pasang berita soal muka cengangas-cengenges prestasi mampu berkebaya serapi kue lapis legit.  Sudah jauh hari lalu waktu untuk membuktikan bahwa kualitas pikir adalah ukuran kesetaraan itu.  Tak usahlah selalu berkata tak ada kesempatan, tak ada peluang, tak ada yang memberi.  Jangan berlagak sebagai pengemis begitulah.

Ya, aku taulah, masih ada di tempat-tempat itu diskriminasi diberlakukan atas nama kelemahan, kodrat atau apa sebagainya.  Tapi, Kartini hari gini, mosok masih harus berlindung di balik ketiak berita-berita diskriminasi itu? Mungkin yang bener adalah sambil menghajar diskriminasi itu, sambil pula berinovasi soal kesetaraan pikir?  Entahlah, menurutku begitu.

Kartini hari gini, usang sudah jika masih juga menyoal apa bentuk kelamin di balik pakaian.

suhu

kekerasan ada batasnya
keluwesan tak ada batasnya
tak ada kuda-kuda yang tak bisa dijatuhkan
karena itu geseran lebih utama

keunggulan geseran terletak pada keseimbangan
rahasia keseimbangan adalah kewajaran
wajar itu kosong

membentur dapat diukur
menempel sukar dikira
mundur satu langkah maju ke delapan penjuru
kosong dan isi bergantian
menuruti keadaan

[iwan fals]

Wednesday, April 18, 2012

belum ada judul (by iwan fals)


Pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah
Lelah

Pernah kita sama sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masih ingatkah
Kau

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara
Dihati

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku
Sobat

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara
Dihati



[lihat dia menyanyikannya disini: http://tinyurl.com/iwanfals-belum-ada-judul]

apa..

konspirasi,
bantu teman dari kawan,
tetap bernama konspirasi.


tetapi, ini soal kredibilitas.
jadi, pegang teguh saja kesepakatan itu,
habis perkara.


di belakang itu, 
ikatan perkawanan dipertaruhkan,
antara konsistensi dan perkawanan.


jika, bantuan ini dipersoalkan,
lalu menjadi boomerang,
maka,
sejatinya keputusan lama itu akan berlaku,
tak perlu menunggu hitungan detik,
kita lihat saja nanti.


sekali berdusta, 
maka akan diikuti oleh dusta-dusta selanjutnya.
karena itu, jangan berdusta.


... 

Monday, April 16, 2012

repost: contek massal; tuhan baru bernama unas


repost:

WEDNESDAY, JUNE 15, 2011


contek massal; tuhan baru bernama unas

Kasus contek massal, dalam pelaksanaan Ujian Nasional 2011 di SD II Gadel, Tandes, Surabaya, Jawa Timur, yang menempatkan Bu Siami, seorang Ibu, orang tua siswa peserta unas, menjadi bulan-bulanan tetangganya.

Menyaksikan tayangan televisi, miris rasanya melihat Bu Siami dikejar-kejar, nyaris dihajar.  Miris rasanya melihat amarah begitu besar dari para tetangganya, yang juga orang tua siswa peserta unas.
Di koran cetak, Mendiknas M Nuh lebih suka mencari barang bukti berupa lembar jawaban siswa.  Asumsi menteri kita ini, jika pola jawaban sama, maka terbukti ada contek-mencontek massal.  Hasilnya, lantang menteri kita ini berkata bahwa tidak terjadi kecurangan, karena tidak ditemukannya pola jawaban yang sama.

Teringat saya, jaman lalu, saat bersekolah di sekolah menengah pertama, bukan milik pemerintah, yang ujiannya harus menumpang di sekolah negeri.  Menjadi warga kelas dua saat itu, kelas kambing istilah saya.  Bagaimana tidak, saat itu kami diminta (lebih tepatnya diperintahkan) untuk tidak sekalipun menunjukkan bahwa kami lebih unggul dari siswa-siswa sekolah negeri itu.
Jangan keluar dari ruangan sebelum siswa-siswa sekolah negeri itu keluar ruangan.  Jangan meladeni jika mereka menantang.  Jangan meladeni jika mereka mengolok.  Jangan berbuat sesuatu yang bakal membuat mereka (siswa-siswa dan guru2 negeri itu) naik pitam dan bakal bikin sekolah kami susah.
Maka selama empat hari ujian itu, kami menjelma menjadi kutu kupret, yang rela berjalan memutari sekolah ketimbang melintasi segerombolan siswa negeri.  Yang rela berjalan menunduk saat julukan "seragam hutan" menusuk telinga kami. (maklum seragam kami putih-hijau, lusuh pula).  Dan kamipun rela tak jajan di kantin mereka, karena kami mendapat kabar kalau pemilik kantin itupun akan memperlakukan kami secara berbeda.
Tak hanya kami, siswa-siswa, bahkan guru-guru kamipun berubah menjadi person yang berbeda.  Mereka yang kami hormati itu berubah menjadi guru yang tak banyak cakap, terlalu banyak senyum (yang dibuat-buat itu), dan terlalu sering membungkukkan badan saat melintas atau berpapasan dengan para guru sekolah negeri itu.
Setiap hari ujian itu, kami tak langsung pulang.  Kami diperintahkan untuk kembali ke sekolah kami, yang berjarak kurang lebih 3 km dari sekolah negeri itu.  Kami diwajibkan berkumpul sampai waktu sholat dzuhur, melakukan sholat, lalu berdoa.  Memohon pada Tuhan agar kami diluluskan ujian.
Jika siswa-siswa sekolah negeri itu mendapat tekanan dari unas saja, kami yang siswa swasta ini mendapat tekanan dua kali lipat, psikologis pula. 

Pak Mendiknas yang baik, jika anda menjadi saya, maka saya yakin anda akan memahami mengapa kami saat itu menjadi demikian takut terhadap proses unas yang anda kawal itu.  Betapa saat itu kami menjadi pecundang-pecundang yang merasa harus menunjukkan bahwa kami mampu menghadapi unas anda itu.  Dan sangat dimungkinkan kami akan melakukan kecurangan serupa SD II Gadel itu.  Terpikirkan kah oleh anda bahwa bencana itu juga telah terjadi hal yang sama di banyak sekolah di Indonesia?  


Pak Mendiknas, unas anda itu, telah menjadi Tuhan baru bagi kami dan seluruh siswa sekolah negeri ini.  Kami menghamba dan bergantung pada Tuhan baru, bernama Ujian Nasional.

Jadi, pertikaian hati untuk mencontek massal atau jujur, pertikaian fisik dan psikologis antara sekelompok warga Gadel dan Bu Siami, adalah karena Tuhan yang baru itu.  Bagaimana, Pak Menteri, anda bertuhan pada apa? 


***