Wednesday, February 29, 2012

tunai sudah

tunai sudah...
menunggu mitra kerja yang tak beres urusan imigrasinya...
sudah tiba dia, selamat sentosa...
mringas-mringis nelepon sambil berujar pilih berkumpul dengan sejawatnya.
baguslah, tak repot aku siapkan kamar sebelah.


tunai sudah...
email pendek ke kantor seberang...
ceritakan kalau mitra sudah tiba dengan senang...
sayangnya, email si otak berbilik banyak itu lagi-lagi bounce...
terpaksalah kirim sms, berujar kalau harus bersihkan lagi email-email lama.
sudah kubilang berbayar saja, kotak surat elektroniknya itu jumlah sekatnya sama banyak dengan otaknya.
tetap saja tak mampu menampung dokumen kiriman koleganya.
kirim sms jam segini, 
jangan bilang tak wajar,
kami memang beraktivitas secara tak wajar,
selama itu berjudul pekerjaan, 
tak ada beda siang-malam, kerja-libur, tinggi-rendah.
begitulah.


tunai sudah...
segepok dokumen itu...
sebentar lagi, harus konfirmasi sana-sini.
melelahkan juga.


yang belum tunai,
hanya soal rehat belaka.
3.10 pagi sudah.
lalu mata belum pula berat.
kalau tak dipaksa, 
sebentar pagi pasti berserat.


nanti lagi...
sekarang hentikan dulu..
begitulah, jika ingin berhasil.
istirahatlah, sebelum terlambat...


tunai sudah...


[berbodoh ria, membunuh waktu dengan segepok dokumen.  bukan main..]

Sunday, February 26, 2012

hari ini sedikit beda

hari ini sedikit beda,
sedikit produktif menuliskan apa yang ada di kepala.
mungkin karena dentaman dokumen-dokumen menjemukan itu,
atau mungkin juga karena isi kepala sedang tumpah ruah.


hari ini sedikit beda,
selalu ada kali pertama, 
hari ini beberapa "kali pertama" aku lakukan.


dimulai dari komunikasi pagi tak sengaja, dengan Ganden, kawan lama.
tak berencana, super mendadak belaka.
janji baku temu di stasiun kereta bogor, 
lokasi termudah yang bisa kami capai.


perjalanan dimulai, 
entahlah, senang aku naik komuter, 
walaupun harus berdiri sepanjang perjalanan,
dari pasar minggu.
menurutku, aneh-aneh saja kelakuan pengguna angkutan murah meriah ini.
(ah, tapi aku belum pernah mencoba versi ekonominya, konon lebih seru lagi).


tengah perjalanan, di atas komuter,
entah apa yang menyebabkan aku begitu memperhatikan sekelompok orang,
yang seperti mengatur posisi, saling memberi kode,
dan menurutku, sedikit tolol, 
karena orang seawam aku dengan mudah membaca perilaku ini.
setidaknya tiga orang yang kuperhatikan.


benar saja, 
seorang warga negara asing rupanya menjadi sasaran mereka.
sudah terkepung dia, dan beraksilah mereka.


entah karena baru magang, atau karena mimpi buruk semalam,
si copet sial itu beradu tarik dompet dengan sang bule.
tak menunggu lama, beberapa orang yang rupanya turut pula memasang mata,
kontan menghardik si copet sial.


entah sebuah kerugian, atau juga kesempatan,
dua copet itu (entah yang ke tiga, aku tak lagi perhatikan) mendekat ke depanku.
posisi ini memberikan peluang untukku.


maksud hati ingin membuat si copet tenang,
tapi dua copet itu sendiri yang menghentak-hentak,
sehingga seorang ibu dan anaknya terdorong nyaris tumbang.


entahlah, karena ibu itu, atau dipicu dengan sebuah tangan melayang dari belakangku,
atau karena isi kepala yang hampir tumpah ruah ini.
yang kulihat hanya hitam saja, dan wajah satu copet sial itu.
sesaat hiruk pikuk, lalu terang.
kulihat si copet meringis, memerah hidung dan sebagian matanya.
yang kudengar selanjutnya cuma seruan untuk mengusir keluar copet-copet sial itu,
saat itu kurasa kereta berhenti bergerak.


dan sebuah tangan menahanku, 
di sebelahku, seorang bapak tua, berbaju muslim, 
tersenyum dan berkata, "sudah...jangan...".


dua copet sial itu turun, entah berapa stasiun sebelum pemberhentian akhir.
yang ada tinggal obrolan para penumpang, dan seperti berirama sama,
"seharusnya jangan diturunkan, matiin saja disini".
"saya paling demen yang begituan pak, coba tadi kasih ke saya aja, saya habisin tuh copet"


bukan main, amarah-amarah itu seperti seragam,
penghuni kota besar ini sedemikian geram,
mungkin akumulasi dari ketidakberdayaan mereka,
dari berbagai penyebab, dari berbagai tekanan itu,


mereka seperti tak akan memberikan ampun,
dan mereka yang menghalangilah yang kemudian bersalah.
"siapa tadi yang peganging tangan gua, kalau enggak, sudah mati tu copet".
"tadi yang halangin gua, siapa tuh? temennya copet juga ya?"


energi negatif kota besar ini sedemikian hebat,
tak terbendung, dan cenderung tak bersahabat.
harusnya "non-violence", harusnya tanpa kekerasan.
dalam hatiku, kumaki orang-orang yang gemar menghakimi ini.


dan bapak tua itu, berbaju muslim itu, 
sambil memegang bahuku, bertanya,
"sakit tangannya, pak? 
keras sekali bapak pukul copet itu tadi, 
hampir pingsan dia".


selanjutnya aku tak merasa apa-apa, 
kecuali kepalan tanganku yang mendadak nyeri.


hari ini sedikit beda.
maafkan...


[komuter menuju bogor, 26 pebruari 2012, kira-kira pukul 3 sore]




Saturday, February 25, 2012

pelita

pelita,
bukan nama teman sekolah dulu,
bukan juga nama jalan,
bukan pula jargon negara di jaman orde baru itu.


ini pelita, lampu minyak, kata orang dulu.
entah berbahan bakar nabati atau hewani,
atau pula minyak bumi yang tak terbarukan itu.
namanya tetap pelita.


tetapi ada yang khas,
pelita selalu identik dengan kecil, tak terang, redup.
mungkin karena itu ia diragukan kemampuannya.
padahal buatku, justru keredupannya itu adalah kekuatannya.



pelita,
bukan nama teman sekolah dulu,
bukan juga nama jalan,
bukan pula jargon negara di jaman orde baru itu.


kekaguman untuk pelita itu bukan main-main,
apalagi mengingat jasanya di masa lalu.
sarjana-sarjana ia hasilkan, dari desa, dari malam yang gelap,
waktu sarjana-sarjana itu masih ingusan.


entah apa yang ada dipikiran banyak orang,
mungkin dipikir pelita tak ada gunanya lagi,
setelah perusahaan lampu terang negeri ini merajalela,
menebar apa yang mereka sebut sebagai lampu listrik.
(ah, tapi aku perlu juga lampu listrik itu)
(ini bukan mengeluh, ini cerita soal pelita saja)


setelah tak ada lagi kampung yang tak terjangkau listrik,
lalu sang pelita pun menghilang,
menjelma menjadi hiasan-hiasan restoran atau hotel-hotel,
dipajang di taman, dengan fungsi yang berbeda,
lebih dekat pada estetika, nilai palsunya, bukan fungsi utamanya.
tak apa, mungkin memang sudah jamannya.


mungkin memang bukan hanya sulit menemukan pelita 
yang berfungsi sesuai aslinya.
bahkan mungkin jika menemukan pelita semacam itu,
sukar kiranya dinyalakan.


entah karena sumbu yang beku,
entah karena tak kita tahu apa bahan bakar yang biasa ia gunakan,
entah karena hembusan angin
entah karena justru pelita itu sendiri berjiwa, 



pelita,
bukan nama teman sekolah dulu,
bukan juga nama jalan,
bukan pula jargon negara di jaman orde baru itu.


hanya pada mereka yang memiliki keteguhan hati,
maka mereka akan temukan kunci untuk menyalakan sebuah pelita.
kecuali pelita itu memilih sendiri jalannya,
untuk mengalah pada silau lampu kimia,


atau



memilih untuk menganut aliran estetika,
bersinar untuk cahaya palsunya, 
yang hanya disukai karena remangnya,
bukan karena fungsi sejatinya.


[..mendekati 36 jam, overheating, harus didinginkan dulu mesin laptop ini]



















Friday, February 24, 2012

lingkaran gombal

lingkaran gombal...
itu adalah janjinya berputar...
sejenak di atas, sejenak di bawah...


nyatanya tak semanis janji...
berputar karena kepentingan...
atas nama perputaran itu sendiri...
bukan karena janji...


jadi...



lingkaran gombal...
itu adalah janjinya berputar...
sejenak di atas, sejenak di bawah...




[what the hell are you doing?]

Tuesday, February 21, 2012

belajar...

belajar itu membuka diri...belajar itu untuk mengetahui...
belajar itu untuk menjadi bisa...
belajar itu untuk menjadi lebih positif.

lalu,
belajar tetapi ditutupi...
belajar tetapi malu...
belajar tetapi enggan proses itu dibuka...

belajar pada siapa sebenarnya?
belajar apa?

percaya pada hasil,
bukan percaya pada proses,
itu strategi mudah patah namanya.

proses, itu kuncinya.
terseok, itu kuncinya.
terantuk, itu kuncinya.
terjatuh, itu kuncinya.

kalau terseok, terantuk, terjatuh itu diperbaiki dengan cara sendiri,
dengan ketidaktahuan sendiri,
dengan ketertutupan itu,
itu bukan belajar.

dan jangan lagi pakai kata belajar sebagai alasan...
karena sejatinya, ketertutupan itu, bukan belajar...
itu eksperimen namanya.

percaya pada hasil,
bukan percaya pada proses,
itu strategi mudah patah namanya.

...


Saturday, February 11, 2012

kriping singkong pedas

kripik singkong pedas,
perjalanan panjangmu.


pelajaran selalu ada dari apapun, 
jika hendak membuka mata.
juga dari sepotong kripik singkong pedas,
hasil keringat sekelompok kawan lama.






jika dikilas balik,
perjalanannya bukanlah selompat dua,
melainkan beribu anak tangga,
tak seperti pandangan sebelah mata,
jika tak mampu, lelah saja diterima.




kripik singkong pedas,
perjalanan panjangmu.


membuat singkong rebus, singkong goreng, singkong sayur,
mudah meriah, tak perlu sampai peluh terguyur.
tinggal kupas, cuci bersih, masukkan semua,
tambah sedikit perasa, entah asin, manis, selesai.


tapi, kripik singkong tidak seremeh itu.
terlalu tua umurnya, rusak ia.
terlalu muda umurnya, tak baik ia.
tanah berpengaruh, jenis berpengaruh,
berpeluh.


belum lagi prosesnya.
kualitas minyak jadi pertimbangan,
sembarang minyak akan bikin semua berantakan.
panas minyak harus tepat,
supaya renyah kualitas tinggi didapat.
lagi, berpeluh, dalam artian sesungguhnya kudengar. 


mendapatkan rasa pedas yang pas, 
bukan persoalan hanya menarik nafas,
tapi ini soal pemenuhan rasa puas,
hingga akhirnya formula didapat,
dari usaha yang bukanlah cepat.



kripik singkong pedas,
perjalanan panjangmu.


saat ia ada dihadapanmu,
mungkin ia hanya sekerat kripik pedas,
yang mungkin dalam sekejab kau habiskan,
atau berakhir di tong sampah,
karena rasa yang tak tepat menurutmu.


tapi tahukah engkau,
bahwa ia terwujud dari proses yang panjang,
penuh peluh, penuh pengorbanan,
penuh rugi, penuh pertikaian.
hingga ia berwujud,
itupun masih selalu disempurnakan.


ia mungkin hanya sepotong kripik singkong pedas,
yang tak mengeluh kalau tak kau sentuh.
yang tak bergerak kalau kau sepak.
tapi, ia tetap menjadi sepotong kripik pedas,
yang telah melalu proses yang tak mudah.
dan, ia tetap menjadi sepotong kripik pedas,
karena keteguhan hatinya. 


jadi,
saat itu, saat ia tiba di tanganmu,
tahukah apa yang kumaksudkan.


kripik singkong pedas,
perjalanan panjangmu.


ia menjadi begitu mengagumkan,
karena perjalanan panjangnya,
karena keberhasilannya,
karena keteguhan hatinya.
...


[5.05am, setelah bermandikan segepok dokumen,] 
[bersiap untuk kerja lainnya, yang berbeda]
[untuk keheningan itu...]

Friday, February 10, 2012

(+) (-)

lambang itu, disebut plus dan minus
rupanya kali ini minus sedang gemar mendekati si botak jelek itu.


tidak pada kelompok, tidak pada individu,
tidak pada jiwa, tidak pada raga.
minus menggelantung bak gumpalan badai.


kelompok itu menghujani bibir mencibir,
individu itu menampar tampar,


atas nama kesetaraan,
atas nama pengertian.


tak perlu berkabar tentang keteguhan hati,
tak penting karena sejatinya ia tetap keteguhan hati.
sesial-sialnya, disalah artikan.
bukankah berulang begitu?
sejatinya keteguhan hati, nanti akan terbukti.



lambang itu, disebut plus dan minus
rupanya kali ini minus sedang gemar mendekati si botak jelek itu.


[9-10, entah 11,12,13... february 2012]

Wednesday, February 8, 2012

omong kosong

... omong kosong ternyata,
seperti punya rasa saja,
seperti punya mampu saja,


track-changes... atau track-dut..
seperti suara kentut...


omong kosong ternyata,
seperti seolah merayap...
padahal bukan rayap..
bukan pula spiderman...


omong kosong ternyata,
bercerita soal fana,
padahal tak musti merana.


semakin kubaca, semakin kumendengar kata,
semakin keras.... dan keras,
bahwa sesungguhnya kalian macam pemanis lidah saja
yang manisnya dibuat dari gula biasa...


omong kosong semua...


[ngantuk dot kom]



Sunday, February 5, 2012

sulit?

ternyata sulit untuk membuat mereka memahami,
bahwa ini bukan main-main,
yang hanya untuk menumpuk kemewahan diri,
yang hanya dipakai untuk haha-hihi.


laku itu begitu mewarnai,
entah biru, hijau dan abu-abu.
begitu melekat, tak mudah luluhnya,
hanya dalam kata,
hanya dalam janji.


temanku meradang,
yang penting niat, itu katanya.
bantu saja, terserah nanti dijadikannya daging dan darah baginya,
atau kekuatan sejatinya,
bantu saja.



ternyata sulit untuk membuat mereka memahami,
bahwa ini bukan main-main,
yang hanya untuk menumpuk kemewahan diri,
yang hanya dipakai untuk haha-hihi.


temukanlah sejatinya, temukanlah sejatinya,
lalu, temukanlah sejatinya.


[mengumpat dalam hati, sudah lebih 60 hari aku tak menulis, hidup macam apa ini]