Sunday, February 26, 2012

hari ini sedikit beda

hari ini sedikit beda,
sedikit produktif menuliskan apa yang ada di kepala.
mungkin karena dentaman dokumen-dokumen menjemukan itu,
atau mungkin juga karena isi kepala sedang tumpah ruah.


hari ini sedikit beda,
selalu ada kali pertama, 
hari ini beberapa "kali pertama" aku lakukan.


dimulai dari komunikasi pagi tak sengaja, dengan Ganden, kawan lama.
tak berencana, super mendadak belaka.
janji baku temu di stasiun kereta bogor, 
lokasi termudah yang bisa kami capai.


perjalanan dimulai, 
entahlah, senang aku naik komuter, 
walaupun harus berdiri sepanjang perjalanan,
dari pasar minggu.
menurutku, aneh-aneh saja kelakuan pengguna angkutan murah meriah ini.
(ah, tapi aku belum pernah mencoba versi ekonominya, konon lebih seru lagi).


tengah perjalanan, di atas komuter,
entah apa yang menyebabkan aku begitu memperhatikan sekelompok orang,
yang seperti mengatur posisi, saling memberi kode,
dan menurutku, sedikit tolol, 
karena orang seawam aku dengan mudah membaca perilaku ini.
setidaknya tiga orang yang kuperhatikan.


benar saja, 
seorang warga negara asing rupanya menjadi sasaran mereka.
sudah terkepung dia, dan beraksilah mereka.


entah karena baru magang, atau karena mimpi buruk semalam,
si copet sial itu beradu tarik dompet dengan sang bule.
tak menunggu lama, beberapa orang yang rupanya turut pula memasang mata,
kontan menghardik si copet sial.


entah sebuah kerugian, atau juga kesempatan,
dua copet itu (entah yang ke tiga, aku tak lagi perhatikan) mendekat ke depanku.
posisi ini memberikan peluang untukku.


maksud hati ingin membuat si copet tenang,
tapi dua copet itu sendiri yang menghentak-hentak,
sehingga seorang ibu dan anaknya terdorong nyaris tumbang.


entahlah, karena ibu itu, atau dipicu dengan sebuah tangan melayang dari belakangku,
atau karena isi kepala yang hampir tumpah ruah ini.
yang kulihat hanya hitam saja, dan wajah satu copet sial itu.
sesaat hiruk pikuk, lalu terang.
kulihat si copet meringis, memerah hidung dan sebagian matanya.
yang kudengar selanjutnya cuma seruan untuk mengusir keluar copet-copet sial itu,
saat itu kurasa kereta berhenti bergerak.


dan sebuah tangan menahanku, 
di sebelahku, seorang bapak tua, berbaju muslim, 
tersenyum dan berkata, "sudah...jangan...".


dua copet sial itu turun, entah berapa stasiun sebelum pemberhentian akhir.
yang ada tinggal obrolan para penumpang, dan seperti berirama sama,
"seharusnya jangan diturunkan, matiin saja disini".
"saya paling demen yang begituan pak, coba tadi kasih ke saya aja, saya habisin tuh copet"


bukan main, amarah-amarah itu seperti seragam,
penghuni kota besar ini sedemikian geram,
mungkin akumulasi dari ketidakberdayaan mereka,
dari berbagai penyebab, dari berbagai tekanan itu,


mereka seperti tak akan memberikan ampun,
dan mereka yang menghalangilah yang kemudian bersalah.
"siapa tadi yang peganging tangan gua, kalau enggak, sudah mati tu copet".
"tadi yang halangin gua, siapa tuh? temennya copet juga ya?"


energi negatif kota besar ini sedemikian hebat,
tak terbendung, dan cenderung tak bersahabat.
harusnya "non-violence", harusnya tanpa kekerasan.
dalam hatiku, kumaki orang-orang yang gemar menghakimi ini.


dan bapak tua itu, berbaju muslim itu, 
sambil memegang bahuku, bertanya,
"sakit tangannya, pak? 
keras sekali bapak pukul copet itu tadi, 
hampir pingsan dia".


selanjutnya aku tak merasa apa-apa, 
kecuali kepalan tanganku yang mendadak nyeri.


hari ini sedikit beda.
maafkan...


[komuter menuju bogor, 26 pebruari 2012, kira-kira pukul 3 sore]




No comments: