Saturday, April 28, 2012

corong mesjid ala wapres

Membaca berita Wapres Budiono menghimbau agar corong mesjis diatur, saya inget cerita teman saya.

Bapaknya teman saya itu bisa dibilang yang punya mesjid seberang rumahnya. Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib, Isya, konon ndak pernah absen shalat di mesjid itu. Bapak ini juga yang menjabat kepala pengurus mesjid itu.  
Dan Bapak ini juga yang mencak-mencak waktu suara corong mesjidnya mengganggu tetangga sekitar.  Bapak ini berang bukan karena adzan-nya, tapi karena pra dan pasca adzan itu.   


Pada daerah-daerah tertentu, terdapat kebiasaan untuk mengaktifkan corong mesjid beberapa waktu sebelum masuk waktu shalat.  Di beberapa tempat, bisa terdengar suara orang mengaji, riil, nyata, suara manusia, live show.  Ini biasanya di kampung-kampung, dan rasanya mulai jarang ditemukan.  Sedangkan di beberapa tempat, pengurusnya lebih suka memutar rekaman orang mengaji.  Ya, rekaman saja, tayang ulang, re-run, sementara si penjaga mesjid mungkin masih bercelana pendek, menyapu.
Uniknya, di beberapa tempat lainnya, justru kaset berisi lagu-lagu (yang katanya) dari negara arab, akan diputar menjelang waktu shalat. 


Nah, lalu, apa masalahnya?  Masalahnya ya itu tadi, apa yang diperdengarkan itu.  
Hal lain, juga ada pada ukuran.  Ukuran suara, alias keras-tidaknya suara yang berasal dari corong mesjid itu.  Juga, bilamana diputar, dan seterusnya.
Simpelnya, semua kombinasi dari Apa, Dimana, Kapan, Siapa, dan Bagaimana.


Jadi, himbauan itu mustinya dilihat dari sisi yang lebih luas.  Karena faktanya, banyak juga mesjid yang memperdengarkan hal-hal yang kurang bermanfaat, dengan alasan menunggu masuk waktu shalat atau menunggu waktu berkumpul pengajian.  Ditambah lagi, tetangga sekitarnya (yang mayoritas muslim) juga merasa terganggu.


Jadi, biasa sajalah, himbauan itu himbauan biasa, tak usah sampai perlu mempertanyakan apa agama si Wapres.  Lebih-lebih yang mempertanyakan kemudian merasa dirinya paling Islam sendiri.  Ini soal gangguan ketenangan.  Toh kita menganut ajaran "semua yang berlebihan itu tidak baik".


Bapaknya teman saya itu, sudah tua, shalat 5 kali sehari tak putus, dan dia keberatan dengan suara corong mesjid yang tak perlu, dari mesjid yang dia pimpin.  Dan, dia bukan Wapres.



No comments: