Monday, April 16, 2012

repost: contek massal; tuhan baru bernama unas


repost:

WEDNESDAY, JUNE 15, 2011


contek massal; tuhan baru bernama unas

Kasus contek massal, dalam pelaksanaan Ujian Nasional 2011 di SD II Gadel, Tandes, Surabaya, Jawa Timur, yang menempatkan Bu Siami, seorang Ibu, orang tua siswa peserta unas, menjadi bulan-bulanan tetangganya.

Menyaksikan tayangan televisi, miris rasanya melihat Bu Siami dikejar-kejar, nyaris dihajar.  Miris rasanya melihat amarah begitu besar dari para tetangganya, yang juga orang tua siswa peserta unas.
Di koran cetak, Mendiknas M Nuh lebih suka mencari barang bukti berupa lembar jawaban siswa.  Asumsi menteri kita ini, jika pola jawaban sama, maka terbukti ada contek-mencontek massal.  Hasilnya, lantang menteri kita ini berkata bahwa tidak terjadi kecurangan, karena tidak ditemukannya pola jawaban yang sama.

Teringat saya, jaman lalu, saat bersekolah di sekolah menengah pertama, bukan milik pemerintah, yang ujiannya harus menumpang di sekolah negeri.  Menjadi warga kelas dua saat itu, kelas kambing istilah saya.  Bagaimana tidak, saat itu kami diminta (lebih tepatnya diperintahkan) untuk tidak sekalipun menunjukkan bahwa kami lebih unggul dari siswa-siswa sekolah negeri itu.
Jangan keluar dari ruangan sebelum siswa-siswa sekolah negeri itu keluar ruangan.  Jangan meladeni jika mereka menantang.  Jangan meladeni jika mereka mengolok.  Jangan berbuat sesuatu yang bakal membuat mereka (siswa-siswa dan guru2 negeri itu) naik pitam dan bakal bikin sekolah kami susah.
Maka selama empat hari ujian itu, kami menjelma menjadi kutu kupret, yang rela berjalan memutari sekolah ketimbang melintasi segerombolan siswa negeri.  Yang rela berjalan menunduk saat julukan "seragam hutan" menusuk telinga kami. (maklum seragam kami putih-hijau, lusuh pula).  Dan kamipun rela tak jajan di kantin mereka, karena kami mendapat kabar kalau pemilik kantin itupun akan memperlakukan kami secara berbeda.
Tak hanya kami, siswa-siswa, bahkan guru-guru kamipun berubah menjadi person yang berbeda.  Mereka yang kami hormati itu berubah menjadi guru yang tak banyak cakap, terlalu banyak senyum (yang dibuat-buat itu), dan terlalu sering membungkukkan badan saat melintas atau berpapasan dengan para guru sekolah negeri itu.
Setiap hari ujian itu, kami tak langsung pulang.  Kami diperintahkan untuk kembali ke sekolah kami, yang berjarak kurang lebih 3 km dari sekolah negeri itu.  Kami diwajibkan berkumpul sampai waktu sholat dzuhur, melakukan sholat, lalu berdoa.  Memohon pada Tuhan agar kami diluluskan ujian.
Jika siswa-siswa sekolah negeri itu mendapat tekanan dari unas saja, kami yang siswa swasta ini mendapat tekanan dua kali lipat, psikologis pula. 

Pak Mendiknas yang baik, jika anda menjadi saya, maka saya yakin anda akan memahami mengapa kami saat itu menjadi demikian takut terhadap proses unas yang anda kawal itu.  Betapa saat itu kami menjadi pecundang-pecundang yang merasa harus menunjukkan bahwa kami mampu menghadapi unas anda itu.  Dan sangat dimungkinkan kami akan melakukan kecurangan serupa SD II Gadel itu.  Terpikirkan kah oleh anda bahwa bencana itu juga telah terjadi hal yang sama di banyak sekolah di Indonesia?  


Pak Mendiknas, unas anda itu, telah menjadi Tuhan baru bagi kami dan seluruh siswa sekolah negeri ini.  Kami menghamba dan bergantung pada Tuhan baru, bernama Ujian Nasional.

Jadi, pertikaian hati untuk mencontek massal atau jujur, pertikaian fisik dan psikologis antara sekelompok warga Gadel dan Bu Siami, adalah karena Tuhan yang baru itu.  Bagaimana, Pak Menteri, anda bertuhan pada apa? 


***

No comments: