Sunday, March 24, 2013

selamat earth hour

earth hour bukan sekedar mematikan lampu 60 menit, tidak ada yang tidak setuju.
earth hour bukan sekedar aksi pasang lilin atau lampu templok 60 menit, tidak ada yang menolak.
earth hour bukan cuma kata-kata, tetapi aksi, hundred percent agree deh.

eath hour itu adalah kampanye efisiensi, ramah lingkungan, mengorek kesadaran bahwa energi terbarukan harus diutamakan. 

earth hour itu soal kampanye pertobatan atas buruknya perlakuan manusia pada lingkungan.

jadi, pesan itu harus sampai.  pesan moral yang maha berat itu harus terang benderang.

jika buka lembar demi lembar, laman demi laman, maka berita apa yang didapat tentang earth hour? ketik saja pada mesin pencari, dan nikmati hasilnya.  hanya itu, kawan.

kampanye, itu bukan sekedar jiplak sana sini, lalu bikin hal yang sama disini.
kampanye, itu bukan sekedar aksi heroik digelembungkan, berbungkus kuantitas dan bearoma restu penguasa.
kampanye, untuk perubahan perilaku, harus seirama, antara konsep dan pelaksanaan.

di kota yang gemar memakamkan listrik ini, gerakan mematikan lampu, yang malah ditambahkan dengan kalimat "yang tak perlu", itu seperti aksi lucu-lucuan.  
bukan karena prosesnya, bukan karena ide-nya, tapi karena tak cocok situasinya.

sang pemasok listrik pun turut berkomentar, bahwa ini adalah pilihan, silahkan ikuti jika beriman, dan silahkan tinggalkan jika berkenan.  sungguh, dimana-mana, kebaikan itu pasti diminati.  kebaikan itu pasti disetujui.  persoalannya, apakah kebaikan itu di jalankan dengan proses yang punya sensitivitas tinggi? 
di situasi dimana pasokan listrik seperti ingus di hidung orang dewasa, yang selalu dipaksa naik-turun, beraroma aneh, dan kadang berwarna tak sejuk, maka berkampanye mematikan lampu tak perlu itu, dapat menuai cacimaki saja.  kontra kampanye, bahwa kampanye-nya membunuh kampanye itu sendiri.  bunuh diri kampanye.  dan semakin bunuh diri saat si pemasok listrikpun turut serta berceramah tentang matikan lampu tak perlu.  sumpah, tak perlu di-ceramah-i, tiap pengguna listrik di daerah ingus ini juga paham bahwa lampu tak perlu yang masih menyala itu sama dengan sekian  rupiah yang harus dibayarkan, maka padamkanlah.  lagi, tak perlu ceramah itu.

di koran online, berita earth hour, operasi bibir sumbing massal di tepi sungai, sukses, disyukuri banyak orang, pasti berpahala.  lalu, apa hubungannya dengan soal kepedulian pada lingkungan? tentu mudah, soal kebaikan, itu mudah untuk dijelaskan.
yang menjadi soal, apakah ada perubahan perilaku setelahnya?

di koran online juga, berita earth hour, diperingati dengan mengarungi sungai kotor, mengangkut sampah, menanam pohon, membakar ribuan lilin, bahkan rencana tidur bersama kecoak.  lagi, apa hubungannya dengan lingkungan?  lagi, yang menjadi soal, apakah ada perubahan perilaku setelahnya?

menjadi lelucon menarik, jika sepulang operasi sumbing, mengarungi sungai kotor, mengangkut sampah, menanam pohon dan membakar lilin, lalu dengan santai gemulai melepas penat di tepi jalan sambil membeli belah penganan berbungkus 3 lapis plastik.
perilaku apa yang berubah?

jadi, sodaraku.  tidak mungkin anjuran baik itu ditolak.  tidak mungkin kebaikan itu terkalahkan.  persoalannya, adalah pilihan cara, memikat hati para pemakai bumi ini, untuk turut dalam alunan melodi itu.  dan lalu menjadikannya sebagai melodi pilihan hati, untuk kemudian mereka menyanyikannya, dimanapun, kapanpun. 

selamat earth hour.

(untuk mereka yang telah berusaha keras menjadikan bumi ini berumur panjang) 

coretan jaman dahulu kala, soal yang sama disini.