Thursday, November 28, 2013

dokter


pasien mati saat dioperasi,
bukankah itu biasa saja.
namanya daging bernyawa, 
dipotong sana-sini,
beresiko merusak harmoni,
pasti resikonya mati.

menggugat kematian juga biasa saja.
jangankan dokter, tuhan pun digugat.
meratap bertanya mengapa harus dimatikan.
selalu begitu saat ada kematian.

hakim memutuskan untuk penjarakan dokter.
itu pasti ada pertimbangannya.
apalagi mahkamah agung,
walaupun masih terbayang akil mochtar,
tapi ini tak ada hubungannya.
kan dia MK, yang ini MA, ah..
toh ada bukti-bukti penting yang tak muncul
yang media tak mau beritakan,
yang ini memang akal bulus media,
supaya banyak orang bertikai,
lama, supaya oplah terpenuhi,
supaya rating tinggi.

dokter mogok, biasa saja.
namanya juga manusia, punya perasaan.
punya rasa solidaritas,
asal jangan lama-lama,
karena tugas mereka lekat dengan kemanusiaan.
asal jangan seperti buruh,
mengancam akan menambah jumlah pendemo,
kalau tuntutan tidak dipenuhi.

buruh dan dokter jelas beda.
yang satu bekerja untuk majikan,
yang satu bekerja untuk kemanusiaan.
yang buruh wajar mengancam tambah hari demo,
atau tambah massa esok hari.
yang dokter tidak bisa begitu,
karena nyawa manusia menunggu.

sumpah mereka saat dilantik itu apa,
entah, aku tak pernah membacanya.
tapi, rasanya kemanusiaan yang jadi utama,
atau sekarang sudah beda,
yang utama adalah bonus dari perusahaan obat
atau rupiah dari tempat praktek yang didapat.

dokter, 
solidaritas itu harus,
demo itu tak masalah.
tapi, kalau kau teruskan berhari-hari,
lalu kau mengancam sana-sini,
jelas makian padamu bertubi-tubi.

karena,
sebagian besar dari sejawatmu
mematok harga tinggi untuk kesembuhan,
bahkan sedikit sekali penjelasan 
yang keluar dari mulut mereka kalau kami berobat.
kami berharap banyak padamu,
sedangkan sejawatmu memandang kami sebelah mata.

sedangkan, 
sebagian dari kamu, para dokter, memilih mendedikasikan diri
jauh dari keramaian, jauh dari kekayaan, 
jauh dari kepura-puraan.
merekalah yang justru kami nantikan.

dokter,
jangan lama-lama demonstrasi,
nanti kami banyak yang mati,

lalu kami jadi hantu,
dan orang pertama yang kami datangi,
adalah kamu.


untuk Dhea


pergimu begitu cepat,
secepat aku kenal dirimu.

perjuanganmu begitu nyata,
menguatkan siapapun yang sedang bersamamu.

selamat jalan, Dhea,
selamat bertemu Sang Pencipta,
surga tempatmu

(november, 2013)