Sunday, December 28, 2014

mari memburu dan memakan satwa liar

dalam seminggu ini menemukan beberapa perilaku tak legal
tentang satwa liar, yang sama-sama mengherankan.

dulu, berinteraksi dengan kelompok masyarakat
yang mendiami hutan, yang harus berjuang untuk lahannya.
tak boleh berladang, tak boleh berburu, atas nama tak legal.
berhadapan dengan perusahaan kayu, dilindungi pasukan bersenjata.
berjuang untuk hidup, untuk makan keluarganya.

sekarang, mendengar dan membaca 
sekelompok orang yang cerdas-cerdas kukira,
berperilaku tak legal, memburu satwa liar, dan memakannya.
yang ini juga soal berjuang, atas nama nafsunya.
mereka tau bahwa mereka melakukan hal yang melanggar aturan,
mereka tau bahwa mudah untuk mencari tau
bahwa apakah yang mereka lakukan itu merusak alam.
tapi mereka tetap lakukan, dan lalu saling mendukung,
bangga melakukan pengrusakan.

yang memburu, padahal tak sulit untuk merubah perilaku,
burulah hama sesungguhnya, bukan memburu mahluk yang langka.
jika mau dan tak malas, mudah untuk menentukan lokasi
dimana hama merajalela.
bukankah jarak tak menjadi soal?

yang memakan, lebih mudah untuk merubah nafsu selera.
bukan pula kalian akan mati atau berubah jadi bodoh
jika tak menyantap makanan berbahan mahluk langka itu.
nafsu yang dikuasai oleh syaraf usus kalian itu
jika tak mampu kalian kendalikan, maka gantilah dengan sesuatu yang bermanfaat.
masih banyak makanan nyaman lainnya disekitar
yang bisa membantu orang lain lebih bahagia.
misalnya, jadikanlah tikus-tikus kota yang kini merajalela di got-got itu
sebagai santapan harianmu.
jangan bilang itu menjijikan, karena sebenarnya saat ini pun pemikiran kalian
tentang memakan satwa liar dilindungi itu buatku menjijikan.
jadi sama-sama menjijikkan.  tak ada yang berbeda.

mohon jangan bilang "masih banyak" 
untuk menilai populasi satwa liar yang kalian makan itu.
ukuran "banyak"-mu pakai ukuran apa?
apakah karena semakin sering dan mudah mereka terlihat
lalu itu kau bilang mereka "banyak"?
atau kamu mau bilang bahwa daging mereka tersedia di pasar
dan mudah membeli, dan lalu bilang tersedia banyak di pasar, kami beli saja.
seharusnya tidak sulit untuk menganalisa mengapa "banyak" itu.
gunakan kecerdasanmu untuk mencari tau,
mengapa mereka nampak "banyak".

begini ya teman-temanku yang berpendidikan tinggi.
satwa liar itu menjadi mudah kalian temukan,
karena mereka tak lagi punya tempat hidup yang luas.
otak bodoh mereka hanya digariskan untuk bertahan hidup,
mencari makanan untuk bertahan hidup hari ini.
tempat makanan mereka habis dihajar industri penguras sumberdaya alam,
otak bodoh mereka lalu memerintahkan mereka
untuk mencari dimanapun makanan itu berada.
lalu mereka semakin mudah dilihat
karena mereka tak punya pilihan.  
karena itu pula daging mereka ada di pasar-pasar.
tidakkah otak kalian berfikir sampai titik itu?

oh ya, satu lagi mengapa mereka jadi mudah terlihat buatmu.
tak pernahkan kamu berfikir kalau bukan mereka yang pergi mendekat,
tetapi kitalah, mahluk yang katanya lebih cerdas dan ber-IQ lebih tinggi ini,
yang mendatangi mereka, memasuki rumah mereka, mendesak mereka.
kita datangi mereka di dapur mereka, lalu kita katakan mereka masih "banyak".
dimana letak logika pikir itu?

ya, domestikasi mereka sedang berjalan.
memaksa mereka untuk bunting cepat, beranak cepat,
untuk kemudian membesar cepat, supaya bisa cepat dipotong.
domestikasi itu sedang berjalan, dan satu-dua mulai berhasil.
lalu, apakah itu artinya pasokan daging mereka mencukupi untuk nafsu makan kita?
tak pernahkah kita gunakan saja sedikit otak ini untuk mencari tau
darimana pasokan daging mereka berasal?
ayolah, jangan bilang "bukan urusanku", padahal saat yang sama
liurmu menetes deras jika melihat daging mereka di atas meja makanmu.

ya, mudah memang menyalahkan para pegawai pemerintah itu,
yang konon dibayar untuk menjaga keberadaan mereka.
mudah memang bilang kalau para pegawai penjaga lingkungan itu tak becus
menjaga satwa liar agar dagingnya tak ada di pasar.
mudah memang tinggal bilang saja, tanpa mau berpikir
tanpa harus gunakan otak sekolahan itu.

jadi, entah bagaimana kita memandang keberadaan mereka,
lalu tak melihat peran mereka dengan semakin sesaknya nafas kita,
lalu kita memaki bumi yang makin renta,
padahal kita sedang mempercepat renta itu.

tidak harus sangat pintar untuk memahami hal ini, seharusnya.

[untuk mereka, pemburu dan pemakan satwa liar.  mereka yang berpendidikan tinggi]


  

Sunday, December 21, 2014

menjelang natal

hari ini tanggal duapuluh satu desember,
sebentar lagi natal tiba,
teman-temanku yang merayakannya tentu akan menyambut sukacita.
tapi tak begitu buatku,
tiap tahun makin meradang saja soal natal ini.
bukan, bukan meradang karena natalnya,
tapi meradang dengan ocehan boleh tidak boleh,
haram tidak haram, soal menyampaikan ucapan selamat natal.

entah apapun alasan dan dalil yang mereka sampaikan,
rasanya seperti hidup ini di-kotak-kotak-an,
soal kepercayaan, soal teologi, soal prinsip,
lalu dibuat sedemikian mengerikan,
padahal hanya karena ingin berbaik dengan teman,
padahal hanya ingin menyampaikan rasa turut bersuka.

seharusnya mengucapkan selamat kepada teman,
itu dengan hati lapang, karena senang teman sedang berbahagia.
takutnya, nanti aku ucapkan selamat sambil menahan amarah,
bukan pada teman yang kuberi selamat,
tapi pada perdebatan yang cenderung provokatif itu.

iyalah, mereka klaim bahwa mereka hanya menyampaikan tafsir,
tafsir mereka terhadap ayat-ayat suci dan perjalanan rasul.
tafsir.... tafsir.... dan tafsir.
iyalah, yang kita ikuti adalah para ahli agama, siapa lagi?
dengan keterbatasan pengetahuan soal apa yang tertera di dalam kitab suci,
dengan ketipisan penegtahuan soal sejarah para nabi,
maka para ahli agamalah yang kita ikuti.

tapi tidaklah bodoh sangat harus membenci kelompok lain,
hanya karena berbeda soal mempercayai apa zat tuhanmu.
bahkan tidak harus menjadi keledai 
untuk ikuti ucapan bahwa kebaikan dan cinta kasih itu dibawah 
derajat kebenaran kepercayaan.
jadi, haruskah binasakan mereka yang baik dan cinta perdamaian,
atas nama perbedaan?
lalu menyembunyikan di balik ketiak 
ayat-ayat yang membuka ruang untuk kedamaian dan kebaikan.

hari ini tanggal duapuluh satu desember,
sebentar lagi natal tiba,
teman-temanku yang merayakannya tentu akan menyambut sukacita.

foto-foto dan gambar di laptopku sedang kupilih,
untuk kujadikan kartu selamat natal,
untuk teman-temanku yang merayakan.

mudahan kartu natal ini akan berisi rasa kedamaian,
bukannya kedamaian yang disertai kemarahan. 

[menjelang natal 2014]

Tuesday, December 2, 2014

feeling negative

feeling negative,
tidak positif,
seperti tidak ada,
seperti tidak berguna.

feeling negative.


Sunday, November 30, 2014

iwan nasution



"Nanti aku ke rumahmu saja, tanya soal HP ini..", begitu kalimat terakhirmu sebelum menutup telepon.  saat itu hari kamis, 27 november 2014, kamu tanya soal HP, seperti biasa kalau kamu ketemu masalah dengan gadget.  

Sesaat setelah itu, aku bicarakan soal sakitmu dengan Mas Cahyono, yang waktu itu sedang bersamaku menunggu anak-anak kami pulang sekolah, dijemput Wiwin, dan mereka terjebak banjir.  Sakitmu menjadi perbincangan setiap kali namamu disebut, Wan.  Biasalah, apalagi umur kita hampir sama, selalu sakitmu menjadi bahan introspeksi kami.

Shaf Iman Imawan Nasution, itu namamu.  Iwan Nasution, begitu kamu mengenalkan diri jika ada yang bertanya namamu.  Kamu yang aku kenal sejak kita sama-sama ingusan di SD Muhammadiyah jalan Berantas Samarinda itu.  Sama-sama bercelana pendek, mengganggu penjual minuman, dan makan mihun harga duapuluh lima rupiah dapat dua bungkus itu.  Lalu sejenak kita satu sekolah lagi di SMP Muhammadiyah Gang Bhakti itu, tapi kamu memutuskan pindah ke SMPN 1, beberapa bulan setelah musim belajar dimulai.  Garis perkawanan kita memang dekat, di SMAN 2 Jalan Kemakmuran itu kita kembali sekelas, bahkan sebangku, menjadi sama-sama bengal, bengalnya anak-anak SMA.  Seperti tidak cukup kita ditadirkan berkawan, kita kembali bertemu di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, di angkatan yang sama, membaca berita kelulusan di lembar koran yang sama, lalu ketawa-ketiwi sama-sama berwajah blo'on lalu sama-sama berkata "kok kita bisa lulus di UNMUL ya?".

Masih kuat terbayang, waktu kamu ajarkan aku bagaimana memecahkan telor di atas wajan dengan satu tangan.  "supaya tangan sebijinya kawa sambil menggaruk burit", begitu katamu.. hahaha...  Berulang kali kita nongkrong di rumah Ibuku, setiap kita bolos dari pelajaran SMA yang tidak kita suka, atau pulang cepat karena guru rapat.  Selalu menu yang sama kamu buat, telor ceplok, nasi dan kecap manis, itu saja.  Kamu beli sendiri telur itu, kamu goreng sendiri di dapur.  Padahal ada saja sedikit sayur di meja makan, "ndak apa, aku suka telor", begitu kamu selalu bilang sambil mencuci piring makanmu.   Belakangan aku baru sadar, itu caramu untuk tidak merepotkan teman. 

Masih pula kuat terbayang saat kita dihardik Ibu Guru SMA itu, karena kamu tak kuat menahan ketawamu yang khas itu, saat kamu melihat siluet wajah Ibu Guru yang terbentuk dari bayangan sinar matahari pagi.  Hasilnya, kamu, aku dan Gazali Rahman harus berdiri di luar kelas sambil menatap matahari, lalu seisi kelas tak belajar dan mendapat ancaman nilai buruk.  Lalu kita cekikikan meratapi nasib (dan juga mentertawakan siluet itu.. hahaha).

Masih juga aku ingat waktu kita sama-sama mencari nama kita pada daftar kelulusan SIPENMARU (apa itu singkatannya, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, ya itu dia singkatannya), lalu kita bermufakat untuk memberikan kejutan pada Ibumu.  Kamu juga yang mengatur agar Ibumu mengira kamu tak lolos masuk UNMUL.  "Panthom lulus, aku tidak lulus", begitu kamu sampaikan pada Ibumu, dengan wajah palsumu, di depanku.  Sumpah waktu itu aku takut kalau tiba-tiba Ibumu marah besar, atau malah menangis sedih.  Tapi, waktu itu Ibumu malah tersenyum dan berkata "masa sih, yang bener?", dan gagal-lah rencana kejutan itu.  "mamah lebih tau dari kalian, jangan bohongi orang tua", itu kata Ibumu masih sambil tersenyum, lalu plak! satu tepukan keras di bahumu, yang lalu membuatmu cengengesan. "iya, lulus kok", katamu.  "Ngalih memang, kada kawa kita melawan ortu, Thom", katamu sambil cengengesan lagi.

Ingat waktu kita sama-sama penelitian dulu, Wan.  Untuk kelulusan sarjana kehutanan, itu tahun 1993.  Di Batu Ampar, Muara Wahau itu.  Waktu itu transportasi hanya dengan kapal kayu itu.  Dua hari dua malam perjalanan kita tekadkan untuk mengambil data.  Aku ingat saat itu kamu sudah punya masalah dengan "asam urat"-mu.  Hari pertama ambil data, kamu jalan tertatih, ke hutan, mengukur diameter pohon hasil tebangan.  Seperti berlari kita, mendahului para penebang untuk memperkirakan diameter dan panjang pohon bebas cabang.  Lalu segera berlari menghindar sejauh mungkin karena para penebang segera menjatuhkan pohon-pohon itu.  Lalu kita harus segera pula mendekati pohon yang sama itu untuk mengukur fisiknya, diameternya, panjangnya.  Tak ingat persis apa yang mau kamu sajikan nanti dalam skripsimu, tapi yang kuingat adalah tekadmu berlari kesana-kemari untuk mendapatkan data itu, di bawah ancaman arah rebah pohon-pohon berdiameter lebih dari 200cm itu.
Hari kedua, kamu sudah tak mampu berjalan.  Kamu putuskan pulang lebih dulu ke Samarinda, karena harus berobat.  Asam uratmu memenangkan pertandingan kala itu. "Tolong selesaikan pengambilan data, nanti aku traktir", katamu.  

Sebelum sakit beratmu itu, aku ingat kamu cerita dengan tenang, saat tender-tendermu di pemerintahan itu penuh dengan perjuangan.  Dijegal sana-sini, tapi toh kamu berhasil mendapatkannya, tanpa koneksi, tanpa harus mengiba pada mereka yang punya kuasa.  "Kalau mereka baik, aku baik.  Kalau mereka memudahkan, aku juga tau balas budi", itu yang selalu kamu ucapkan setiap kali cerita soal proyek-proyekmu.  Aku tidak paham soal mengelola proyek pemerintah, tapi di kepalaku yang teringat hanya gaya santaimu saat menceritakan liku proyekmu yang kuanggap susah itu.  "Rejeki ada dimana aja, asal kita mau berusaha", itu katamu, sambil mengeluarkan tawamu yang khas itu.

Masih aku ingat juga soal wajah ceriamu, waktu kamu cerita tentang proses pembelian tanah untuk rumahmu sekarang.  Bagaimana kamu memulai negosiasi, lalu berhasil memperluas tanah yang kamu miliki sekarang.  "Aku beruntung, karena posisi tanahku sepertinya strategis", itu ujarmu saat itu.  Lalu kamu cerita tentang keputusanmu memberi nama jalan rumahmu itu, "Subulussalam nama jalannya, Thom".  Kamu ketawa ngakak waktu aku usulkan supaya nama jalan rumahmu diganti jadi "Jalan Iwan Nasution" saja.  "Lalu nanti dikira nama pahlawan, hahaha..", katamu.
 Lalu komunikasi kita menjadi sangat intensif waktu kamu mulai membangun rumahmu itu.  Mulai dari disain rumah, sampai harga batu gunung, sampai juga harga keramik.  Mungkin karena kita sama-sama sedang membangun rumah, jadi seperti kita sama-sama perlu saling dukung dan cari harga material murah.  Bedanya, sekarang rumahmu sudah selesai, dan rumahku belum! lalu nasehat sok bijakmu adalah "tunggu apalagi, selesaikan sudah rumahmu itu", katamu lagi-lagi dengan senyuman santai itu.

Satu hal yang aku tak habis pikir denganmu, yaitu keberhasilanmu "meminta" teknisi Telkomsel untuk menggeser arah pancaran signal 3G mereka, sehingga rumah barumu di Pinang Seribu itu bisa tercover sinyal 3G.  Dengan senyumanmu yang kamu manis-maniskan itu, kamu datang ke rumahku, lalu kamu tunjukkan foto coverage area signal 3G itu.  "Ini teknisi Telkomsel yang tunjukkan, kalau signal BTS-nya memang tidak meng-cover rumahku, lalu aku minta mereka putar agar rumahku masuk dalam coverage".  Ingat aku, waktu itu aku tertawa dan menyangsikan akan ada perubahan signal di rumahmu.  Aku yakin betul kala itu bahwa test signal yang kita lakukan di rumahmu waktu itu dan hasilnya adalah signal 3G naik-turun (dan lebih banyak turunnya itu) akan bertahan bertahun-tahun, hahaha.   Tapi, hanya berselang seminggu, kamu kirim BBM, dengan foto coverage sinyal Telkomsel, "sekarang rumahku sudah masuk coverage, sinyal 3G full.. hahaha", tulismu di BBM.  Sumpah, waktu itu aku memakimu sambil ngakak, dan menyesali nasib rumahku yang waktu itu masih tetap bersinyal EDGE itu.  Padahal rumahmu di Pinang Seribu, masih ke ujung Samarinda sana, dan rumahku lebih dekat ke kota.  Ilmu-mu memang tinggi kalau soal lobby-lobby, Wan.  Hahahaha...  

Terakhir kita jalan bersama itu, aku jemput kamu, ba'da subuh.  Kita ke acara Malam Keakraban Rimbawan itu, di Bukit Bangkirai.  Kamu menelepon tanya kapan aku akan kesana, dan aku tau bahwa kamu berniat bertemu kawan-kawan angkatan 88 Fahutan UNMUL disana.  Istrimu wanti-wanti supaya kamu jangan capek, dan segepok obat itu kamu bawa.  Di acara MKR itu, kamu tidak menunjukkan sakitmu, walaupun dari gerakmu semua kawan tau kamu sedang berjuang untuk pulih kembali.  "Aku harus pulang malam ini, kalau tidak ada teman yang ke Samarinda, tolong antar aku ke Simpang Samboja untuk tunggu bis disana", katamu.  Kalimat itu seperti sebuah peringatan buatku, bahwa hargailah mereka yang memperhatikanmu.  Karena memang istrimu berpesan agar kamu tidak menginap, karena kamu harus istirahat, harus menjalani beberapa treatment setiap hari.  Jadi, aku membaca bahwa niatmu untuk pulang malam itu dari Bukit Bangkirai bukanlah perkara pilih memilih tempat istirahat, atau perkara tak bawa baju ganti.  Tapi lebih karena kamu menghargai orang-orang yang mengasihimu.  Sungguh samar maksud itu, bersyukur aku bisa membacanya.
Pukul 11.30 malam kita kembali ke Samarinda, pukul 02.00 dini hari aku antarkan kamu ke rumahmu yang besar itu di Pinang Seribu.  "Terima kasih, Thom, Win", katamu sambil tetap tersenyum.  Tapi aku tau kamu lelah.  Ada sedikit sesal juga mengapa mengabulkan permintaanmu untuk ikut ke Bukit Bengkirai.  Tapi, ada kepuasan juga bisa mengajakmu bertemu teman-teman lama disana.  Mudahan yang kamu hitung yang baik-baik dari aku, Wan :).
 Maafkan aku tidak banyak menengokmu waktu kamu berobat di Bandung dan Bogor itu.  Perbincangan kita di telepon yang sesekali itu, memang tak kemudian menjadikan alasan buatku untuk tidak menengokmu.  Tapi aku yakin, tanpa harus aku katakan soal alasan-alasan itu, kamu pasti maklumi mengapa aku tak sesering teman-teman kita mengunjungimu.  Entah mengapa selalu saja ada sesuatu yang ditaruh diantara kita saat kamu sedang susah.
Seperti saat aku terima telepon Wiwin kemarin, tentang kepergianmu.  Saat itu aku sedang di depan forum pelatihan, yang tak bisa segera aku tinggalkan.  Karena itu maafkan aku yang baru bisa datang ke rumahmu saat jeda istirahat pelatihan itu, dan kamu belum dimandikan.  Maafkan juga kalau aku tidak mengantarmu ke peristirahatan terakhirmu, karena aku harus segera kembali memfasilitasi pelatihan itu.  Tidak ada alasan lainku, tapi memang itu.

Sekarang kamu sudah mendahului aku, pergi menghadap-Nya.  Tanggal 29 November 2014, hari-mu berhenti di dunia ini, dan kamu memulai hari baru di dunia berbeda.  Aku yakin orang baik seperti kamu akan dapat tempat terbaik juga.  Akan banyak do'a-do'a dari orang-orang yang sudah kamu bantu dan tak pernah kamu minta mereka membalas.  Juga dari maafmu pada orang-orang yang telah memperlakukan kamu semena-mena, menghambat kerjamu, mengambil rejekimu.  Sungguh aku belajar dari sikap menerima di balik ketegasanmu itu.

Kita akan ketemu lagi, Wan.  Mudahan kita bisa ngobrol-ngobrol lagi disana.  Masih banyak yang perlu kita obrolkan.  Soal rumahku yang belum selesai, soal kehebatan lobby-mu itu, soal gadget-mu itu, banyak lagi.

Selamat beristirahat, Wan.  Seperti kata para ahli agama, setiap mengantar kepergian seorang sahabat, maka petiklah pelajaran yang ditingalkannya.  Dan aku mau bilang bahwa aku banyak belajar dari kamu, dari perjalananmu, dari kalimat-kalimatmu.
Kami akan menyusulmu, Wan.  Hanya soal waktu.

[sempaja lestari indah, 30 November 2014, 1 hari setelah Iwan Nasution berpulang]


Sunday, November 9, 2014

cuning 2nd


punya kucing lucu itu menyenangkan
bisa diajak ngobrol, walau searah.

cuning 2nd namanya.


Saturday, November 1, 2014

kebencian

kebencian bisa disalurkan melalui apa saja.

berkreasi mengganti wajah asli, lalu tempel pada gambar porno, lalu unggah supaya orang lain tau tingkat kebencianmu. sejatinya kamu ingin orang lain berpihak padamu, untuk membencinya.
sayangnya, cara itu bukan pilihan bijak, bukan pula pilihan cerdas.
maaf kata, kendati media menaruhmu pada posisi mengiba dengan menyebutmu anak tukang tusuk sate, tapi tetap saja kamu salah memanfaatkan kecerdasanmu. 
pada titik itu, kamu tidak cerdas.

tapi, taukah kamu siapa yang menggunakanmu sebagai bahan menyalurkan kebenciannya pula?
menyalurkan kebencian tanpa harus meringkuk di dalam tahanan. malah mendapat pemberitaan, seolah berpijak pada kebenaran.

ya, itulah, orang yang seolah membelamu, padahal menerapkan standar ganda, hanya untuk memuaskan kebenciannya.

cobalah, besok kau edit foto pembela mu itu, dengan foto serupa, dengan kebencian yang sama.
lalu kita tunggu apa komentarnya.

kebencian bisa disalurkan melalui apa saja


Sunday, October 26, 2014

Tuhan Maha Baik

Tuhan Maha Baik
Tidak, bukan soal apa-apa
Bukan hanya perkara para menteri itu sebagian besar berwajah ramah.
Bukan juga hanya perkara ada lega.
Bukan perkara apa-apa.
Tuhan Maha Baik, 
Itu saja.

(Bersyukur saja)

Monday, October 20, 2014

presiden ketujuh

baru kali ini saya merasa memiliki presiden yang dekat.
baru kali ini juga rasa haru ada di dada saat melihat keriuhan masyarakat menyambut presiden baru.
semoga pemerintahan kali ini memenuhi rasa keadilan.
selamat bertugas pak joko.

Tuesday, October 14, 2014

dibayar berapa

fasilitator itu profesi,
bukan sampingan, bukan sambilan.

profesi fasilitator itu ada lucu-lucu gimana, gitu.
utamanya kalau sudah deal soal berapa harus dibayar.
istilah kerennya "rate-nya berapa?".

perkara yang satu ini, beberapa fasilitator seolah tabu bicara,
utamanya fasilitator dalam negeri.
malu-malu musang kalau ditanya berapa harus dibayar.
padahal kalau dibayar murah, senyum pahit di belakang,
sama saja, seperti profesi lainnya.

proses negosiasi soal harga jasa fasilitasi juga lucu-lucu sedap.
dua arah, keduanya lucu kalau pakai cara sungkan.

tahap pertama, saling kontak lalu bicara kapan jasa fasilitasi diminta.
pada tahap ini, kesepakatan bisa jadi tidak tercapai, jika jadwal bentrok.
ini perkara biasa, tidak masalah.

tahap kedua, lalu bicara apa kerja yang akan dilakukan.
biasanya sampai sepakat dengan paket jasa yang diminta.
deal soal bentuk fasilitasi dan laporan yang dipersyaratkan.
disini mulai masuk tawar menawar proses dan hasil.
tanpa disadari, angka harga jasa fasilitasi mulai berpengaruh.
mau dibayar berapa untuk proses dan hasil seperti apa.

tahap ketiga, lalu bicara harga.  berapa mau dibayar untuk jasa yang diminta.
tawar menawar terjadi, biasa saja, layaknya jasa lainnya.
pertimbangannya biasanya soal proses yang ingin digunakan.
juga hasil yang ingin dicapai.  
ini urusannya dengan dokumen akhir yang akan dihasilkan.

tiga tahap ini kadang berjalan mudah.
terutama jika pemberi kerja sudah memiliki standart kerja.
semisal permintaan penawaran untuk paket kerja yang diminta.
untuk yang seperti ini, deal menjadi lebih mudah.
pemberi jasa tinggal mengirimkan daftar layanan yang pernah ia berikan,
lengkap dengan harga jasa dan nomor kontak pemberi pekerjaan.
dari situ, si calon pemberi pekerjaan dapat melakukan verifikasi,
dengan cara mengontak nama dan nomor para pemberi kerja
yang ada dalam daftar.
jika informasi berisi dusta, proses batal. 
sesederhana itu.

masalahnya, 
kadang para calon pemberi kerja tidak juga transparan
dengan standart yang mereka punya.
walaupun sudah mulai jarang (atau saya yang sudah jarang bertemu),
tetap saja ada calon pemberi kerja yang tak mau menyebutkan
berapa mereka bisa dan berani bayar untuk jasa fasilitasi.
nanti, akhir hari fasilitasi, lalu tetiba menyodorkan amplop.
bukan sepenuhnya salah si calon pemberi kerja,
karena perkara harga ini harusnya urusan dua pihak.
jadi, jangan meringis kalau setiba di rumah isi amplop hanya setengah,
karena tak ada deal pada awal pekerjaan.
karenanya, bicarakan soal harga ini di depan,
supaya tidak ada masalah di kemudian.

masalah lain,
banyak orang menilai salah soal angka dan harga yang ditawarkan,
setidaknya itu yang saya alami.
bertahun-tahun dengan angka dan harga yang itu-itu saja, 
lalu beberapa tahun lalu saya putuskan untuk menaikkan harga,
menaikkan angka, berapa yang harus mereka bayar untuk jasa fasilitasi,
per hari.  dengan alasan, tentunya.
reaksi sudah dapat dikira. seperti belanja barang, 
bertahun-tahun pada harga yang sama, lalu tetiba harga naik,
lalu berucap "mahal".
tak mengapa, karena memang itu resikonya.
yang harus diketahui, alasan harga naik, bukan semerta-merta.

yang paling mudah dan sebagai alasan pertama, 
tentunya soal penghasilan.
jika tetap dengan angka yang sama, bertahun-tahun,
lalu logika pemenuhan kebutuhannya dimana?
UMR bergerak naik setiap tahunnya, harga barang naik setiap kali,
sesederhana itu.

alasan kedua, ini agenda pribadi saja.
regenerasi fasilitator tidak berjalan mulus disini.
mungkin karena anggapan tidak ada jaminan bahwa 
pemenuhan kebutuhan bisa terpenuhi jika fokus pada
profesi ini.
wajar saja, permintaan jasa fasilitasi tidak selalu ada setiap bulan. 
untuk mereka yang membutuhkan asupan pendapatan,
terutama asupan rutin, bulanan, maka ketidakpastian ini
adalah ancaman.
jadi, walaupun puluhan kali pelatihan fasilitasi dilakukan,
tidak menjamin akan tersedia cukup fasilitator.
menaikkan harga jasa, sebenernya juga berarti memaksa
para calon pemberi pekerjaan untuk mencari alternatif.
jika budget tak cukup, maka carilah fasilitator yang 
sesuai dengan budget.
ini akan mendorong munculnya fasilitator baru atau lama,
yang bersedia bekerja sesuai budget.
cara terbalik, dengan mendorong pasar untuk mencari pembeli.

jadi, sebenarnya kesediaan untuk bekerja dibawah standart harga
itu ancaman juga.  ancaman untuk para fasilitator lainnya, 
semua pekerjaan diambil juga, tidak memberikan ruang
untuk mereka yang ingin dan bisa berkarya.
juga ancaman pada kredibilitas sendiri. harga naik turun tanpa alasan. 
merusak pasar sendiri.  begitu kira-kira bahasa mudahnya.

tapi, dibalik itu semua,
bukanlah pula fasilitator itu berpikir ekonomi melulu.
jika isu dan pemberi kerja terbukti memerlukan,
tetap harus ada kesediaan untuk bekerja sukarela,
untuk keberpihakan pada kebenaran tentunya.

jadi, sepenuh hati bukan hanya pada proses fasilitasi,
tetapi juga pada keberpihakan.

fasilitator itu profesi,
bukan sampingan, bukan sambilan.

(SLI, oktober 2014)












Wednesday, October 8, 2014

males ah..

males ah, 
lihat logika dibolak-balik.
soal politik-politik itu.
soal klaim siapa benar siapa salah,
lalu maki-maki saja,
lalu merasa benar.

males ah,
liat para lulusan itu, 
yang ngawur cara beorganisasinya.
lalu katanya pengen berbenah,
lalu nanti tak ada jaminan ndak ngawur lagi.

males ah, 
liat gaya-gaya ndak jelas.
toleransi sudah cukup, 
silahkan.

Tuesday, September 9, 2014

fasilitasi

fasilitasi pertemuan di kabupaten
yang dikelilingi asap hasil bakar lahan
memulai hari dengan sesak nafas
bukan cuma karena oksigen kurang
tapi juga karena perilaku-perilaku

memulai hari harus dengan ringan
itu kunci fasilitasi
tak musti berfikir berat
apalagi berfikir negatif
sejatinya, tak ada fasilitasi yang berat
juga tak ada fasilitasi yang ringan.
kesiapan diperlukan
jangan sekali-sekali menggampangkan.

fasilitasilah dengan sepenuh hati.

(pulang pisau, september 2014) 

Saturday, September 6, 2014

kuncrit - cuning 2nd

sudah tiga hari Kuncit tak pulang.
sudah dua hari Cuning 2nd datang.

kuncrit kucing preman, tapi masih suka tidur cari teman, tak pulang tiga hari. terakhir mengeong panjang waktu aku teleponan. setelah itu tak ada kabar berita.

dua hari lalu kucing kecil berwarna kuning ada di depan rumah, entah dimana ibunya. 

seperti yang sudah-sudah, kucing kami selalu bukan dari jenis unik, selalu kucing "kampung", ambil di jalan atau ada di depan rumah, mengeong cari teman.

kali ini, bersamaan dengan tak pulangnya kucing preman, muncul kucing kuning kecil, masih belekan, pantatnya ditutup kotoran keringnya, jalannya masih bergetar.

sengaja dibiarkan di teras, mungkin ibunya mencari. tapi sampai dua hari, tak ada ibu yang mencari. mungkin terlalu jauh, atau memang tak digariskan bertemu.

si preman tak pulang, si kuning datang.

harus kembali ke titik nol, waspada jika ada kotoran dan air kencingnya di lantai. ke titik nol membersihkan belek dan pantat yang ternoda sisa buang hajat.

tak apa, kami semua suka dengannya,
kucing kecil yang suka menggigit jari, tapi masih tak mau minum susu.  kelihatannya kami akan pelihara, sambil tetap berharap si preman pulang, dan menerima keberadaan si kuning tentunya.

Kuncrit, pulanglah. Cuning 2nd, selamat datang...


Monday, September 1, 2014

Ganden

Namanya Restu Achmaliadi atau Ahmaliadi. Kira-kira begitulah.
Seperti kebanyakan mereka yang sekolah di kampus IPB itu, konon harus menyandang nama alias.
Untuk itulah ia bernama Ganden, yang konon katanya didapatnya saat kuliah.

Katanya, untuk tambah-tambah uang kuliah, maka nyambi lah ia berjualan dendeng. Aku lupa dendeng apa, tapi ia bilang itu dendeng asli dari daerahnya.
Saking laris manis, melekatlah gelar Juragan padanya. Juragan Dendeng, begitu julukannya. Maka dari situlah asal muasal julukan Ganden berasal. Itu katanya. Entah benar atau karangannya saja.

Masih dulu, waktu satu kantor NGO masih ada di sekitar taman Indraprasta (benar gitu nulisnya?) Bogor (update 2/9/2014:  Tami, teman di Bogor itu, kasih koreksi, bukan Indraprasta, tapi Taman Bogor Baru), karena dikasih ijin menginap di kantornya, Ganden inilah yang mengenalkan dan setia menemani menyantap soto kuning di taman itu. Pak tua penjual kenal baik padanya.

Terakhir kali makan bersama, Ganden dan Rio (yang sekarang jadi presiden JMHI itu) menemani menikmati sop kaki kambing. Itu tahun 2011 kira-kira.
"Aku sudah mengurangi, Thom", katanya sambil terkekeh. Siang itu Ganden menikmati sop kaki kambing setengah porsi saja.

Terakhir kontak, kami ketemu, lupa dimana. "Aku sekarang freelancer, Thom", katanya. Tapi yang kutau, dia sibuk dengan banyak pekerjaan.

Easy going dia, sikapnya seolah tak berbeban. Bukan pula ia suka meremehkan, tetapi Ganden selalu tak pernah melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang sulit.

Hari ini, 1 September 2014, puluhan kawan memasang status kepergian Ganden.  Beberapa hari di rumah sakit, beberapa foto yang mengisyaratkan pulihnya dan berbaris do'a yang kawan-kawan panjatkan. Itu semua tidak mampu melawan kasih sayang Tuhan. "Tuhan lebih sayang pada Ganden".  Begitu tulis seorang kawan pada wall-nya.

Selamat beristirahat, Nden.  Mudahan disana ada soto kuning, tanpa harus kau batasi porsinya. Kebaikanmu akan menempatkanmu pada sisi terbaikNya.

Sampai jumpa, Nden.

--

Friday, August 29, 2014

doa berkabul sebagian

doa berkabul sebagian
tidak sepenuhnya,
percaya bukan Tuhan tak suka
tapi pasti sudah diatur.

doa berkabul sebagian
tidak seluruhnya,
percaya bukan merugi
pasti sebagiannya ada disana

doa berkabul sebagian
mari bersyukur...

Thursday, August 14, 2014

kacang panjang, tomat, sawi.



lima helai kacang panjang, 1-2 butir tomat sedang, tiga lembar sawi.
katanya bagus buat pankreas.

dicoba saja, tambah sedikit jeruk
lalu madu secukupnya.

blender dengan air secukupnya.
saring supaya mudah diminum.
kalau maksa minum ampasnya,
bermanfaat untuk mempercepat ke alam baka.

ampas dimakan, bukan diminum :-) harusnya.

mari coba.

update (30/08/14):  ternyata, ampasnya berguna.
setelah disaring, bisa pilih diolah apa saja.

1) ampas ditiriskan, ulek cabai dan garam,
jika suka beri bawang merah dan terasi bakar sedikit.
campurkan ampas jus sampai rata. selesai.
anda dapat "sambel kacang panjang".. ;-)

2) ampas dioseng bersama bawang putih,
bawang bombay. sedikit garam dan merica.
minyaknya se-encrit saja.
jika berani, boleh sebutir telur dan rajangan cabai juga.
bingo! jus dapet, sayur teman makan dapet.

tinggal hati-hati, biasanya kalau lahap, nasi tak terbendung.
maksudnya sehatkan pankreas, malah berat di karbohidrat.

Saturday, August 2, 2014

jahat

yang diam tidak lagi diam
yang senyap tidak lagi lelap
diusik sudah, karenanya geram
jadi, berhadapan sudah
semoga tak salah 
kemana pisau itu mengarah
politik itu jahat, kawan.

Tuesday, July 29, 2014

lebaran

Lebaran sudah tiba
Bersukaria semua
Pilpres lupakan saja
Pendukung sini maupun sana
Saling lapangkan dada
Cuma dua hari saja
Setelahnya,
Mari saling maki bersama
Lupakan lebaran kita
Mari kembali berbuat dosa
Harga mati untuk capres tercinta

Dungu memang garis tangan kita

#pilpres2014

Wednesday, July 23, 2014

takut presiden

syukurlah presiden terpilih kali ini tidak menakutkan.
baik fisiknya, maupun tutur-lakunya.
setidaknya itu yang saya lihat di media.

tinggal bagaimana orang-orang di sekitarnya saja.
yang kutu loncat itu,  yang tentara-tentara itu,
yang terindikasi korup itu, yang masuk daftar awasi oleh KPK itu.

setidaknya, tugas para CSO sedikit lebih ringan,
tidak harus berhadapan dengan wajah temperamental,
tinggal fokus pada hal-hal substansional saja.

perjalanan negeri ini membaik,
setidaknya itu yang saya rasakan.
ada perasaan lega dibarengi perasaan was-was 
yang selalu pasti ada.
lega karena itu tadi, liat wajah presiden baru, menenangkan hati.
was-was karena wajah-wajah lama, raja korup, raja telikung,
ada di belakang sang presiden baru.

tekad harus bener, harus tepat, harus pas.
dukung presidennya, dan hajar para pencoleng di belakangnya.
jika sang presiden ternyata tak bertaring menegakkan yang benar,
apa boleh buat, tetap jadi target bersama.

untuk indonesia yang lebih baik..
selamat bertugas, pak presiden..
senang lihat wajah anda yang ramah itu..

#pilpres2014 

Tuesday, July 22, 2014

suarakan

Mau menang, mau kalah, presidennya bukan kamu.  Jangan sok merasa bisa kontrol mereka saat berkuasa.
Kontribusimu, bukan ada di dalam sekutu, itu jelas sudah. Ada di dalam kekuasaan, jelas membutakan. Berbeda, maka menjadi tersingkirkan. Kecuali kamu rebut itu kekuasaan. 

Mau kamu pro pada capres kalah atau capres menang, kebenaran harus tetap disuarakan. Lihat itu srigala-srigala lapar si belakang dua capres itu. Sama-sama mengancam, sama-sama penjilat darah rakyat.

Pesta pemilihan sudah berakhir. Kamu yang ada di kelompok pemenang, berhentilah mengangkat dagumu. Bangunlah dari mimpimu. Hentikan cemoohanmu.  Kamu yang ada di kelompok kalah, pakai logika kritismu. Targetmu bukan lagi menjatuhkan, tapi mengawal kebenaran.  Jadi, berjabat tanganlah, karena musuh kalian sekarang sama. Mereka yang akan menggunakan kekuasaan. Baik-buruk mereka, ada di tangan kalian.

Karena itu, tetap suarakan kebenaran. Berjaraklah dengan penguasa, siapapun pemenang pemilihan presiden kali ini.

Bersatulah, tetaplah suarakan, jangan bungkam.

#pilpres2014

Friday, July 11, 2014

anjing busuk

pilpres sudah lewat, menyisakan perdebatan, yang menuju pada pertikaian.
dalang-dalang konsisten memainkan peran, sementara para wayang menikmati gerakan,
berimpriovisasi menyempurnakan yang kata mereka sebagai kebenaran.

mau kalah, atau menang nantinya, sekarang bicara menang dulu. 
semua upaya dilakukan, termasuk hanya menoleh pada sekutu, bukan melihat dari hati nurani.

lalu, mereka yang ingin kedamaian, dianggap terbelakang, oportunis, kaum pinggiran.  tak menyatakan ikut berpihak, adalah pecundang, begitu mereka bilang.
penilaian selalu pada sesuatu yang kasat mata, tercium baunya, dirasa geraknya.
padahal pada saat yang sama, mereka terus berdoa, bergerak tanpa suara, tanpa dirasa.  ironi.

kalian pikir, dengan merendahkan kaum penyeru perdamaian, mereka yang enggan secara terbuka menyatakan berpihak, maka kalian adalah kebenaran? 

kalian pikir, kalian bisa lihat apa yang ada di pikiran para penyeru perdamaian itu? kalian pikir kalian tau apa yang mereka lakukan? dan apakah apa yang kalian lakukan itu jauh lebih mulia dari apa yang mereka, para penyeru perdamaian itu, lakukan?

tak boleh mengumpat, karena ini bulan puasa. tapi aku pakai pengecualian. semua pengecualian punya konsekuensi. tak apa.

kalian yang meremehkan para penyeru kedamaian, adalah anjing kurap yang merasa menjadi burung merak. nilai kalian tak lebih tinggi dari mereka yang membunuh warga gaza, atas nama hak atas tanah itu. tak lebih buatku!

bottom line, kalian dan para pembunuh warga gaza, adalah anjing busuk buatku.

#gaza #pilpres2014

Friday, May 30, 2014

karena

karena soal sepele
jika dibanding soal mereka
karena soal temeh
jika dibanding soal remeh mereka

lalu aku sedang bersusah
padahal harusnya bersyukur
masih diberi banyak keindahan
bukan malah meratapi
sedikit kekurangan

karena soal sepele
jika dibanding soal mereka
karena soal temeh
jika dibanding soal remeh mereka

Tuesday, May 6, 2014

permainkan Tuhan

kau kira Tuhan menciptakan doa 
agar kau bisa celakakan umat-Nya
kau berdoa pada Tuhan atau setan?

ya, mungkin saja Tuhan mengabulkan
bukan karena kau dekat pada-Nya
tapi mungkin karena agar kau takabur
lalu semakin dekat pada setan.

kau kira Tuhan menciptakan doa 
agar kau bisa celakakan umat-Nya
kau berdoa pada Tuhan atau setan?

mungkin kau sedang permainkan Tuhan.

Saturday, May 3, 2014

untukmu

kamu, konsisten dengan pilihanmu,
berjuang untuk sejengkal hutan terakhir,
sendirian.

tak kuragukan niat dan tekadmu,
tak sedetikpun kuingkari hasil kerjamu,
tanpa harus dibuktikan,
tanpa harus dikumandangkan.

kamu datang dengan setumpuk persoalan,
tak bisa kau selesaikan,
bukan tangan tengadah kau sodorkan,
bukan pula dorongan punggung kau dilakukan.
mari, bersamaku menghadapi persoalan.
begitu katamu sambil tersenyum.

bagiku, tumpukan persoalan itu seperti tak berujung
bukan, mungkin juga karena menurutku 
harusnya bisa selesai, 
dengan barisan pendekar-pendekar lingkungan
yang sedang berperang disana.

aku mengumpat ketidakmampuanku
juga kepengecutanku 
atau mungkin keengananku
dengan segala persoalan yang kau sodorkan.
bayang-bayang kejadian kembali muncul dimata
perilaku mereka yang sama
penyiasatan oleh mereka yang sama
tipu-tipu yang sama
seperti ahli neraka yang berselimut ahli surga

aku mengumpat ketidakmampuanku
juga kepengecutanku 
atau mungkin keengananku
untuk berjalan bersamamu.

maaf, kawan..
aku korbankan dirimu

maafkan semua keengananku
untuk mengulangi mengarungi kejadian yang sama itu.

mungkin aku sudah terlanjur bodoh.

[untuk nuto, atas semua tetes darahmu di wehea]

Wednesday, April 30, 2014

tugu rimbawan..

Tugu Rimbawan
(By AL Manurung)


Ketika engkau kuliah di Kampus Gunung Kelua
kami ajari berbagai ilmu.
Dari petang(?) hingga nanam jenis tumbuhan pun ada
masalah tanah, air dan sosial

Statistik, matematika, dilanjut ekonominya 
ya pertukangan, papan dan satwa
Jadilah engkau rimbawan yang siap hidup bertahan
dimanapun kakimu berpijak.

Reff:
Hai rimbawan, jagalah kalimantan
banyak orang ploroti hutannya.
Hutan menyempit, rakyat terjepit
disamping gubuk menangis menjerit.
Hai rimbawan, jagalah kalimantan
banyak orang ploroti hutannya.
Hutan menyempit, rakyat terjepit
disamping gubuk menangis menjerit.

Aku punya sebuah ide, yang datang berupa wangsit
mari tunjukkan sebuah karya
Sebidang kawasan hutan dikelola beredaan
kelak menjadi tugu rimbawan
kelak menjadi tugu timbawan

Reff.

donwload disini

selamatkan kalimantan

Selamatkan Kalimantan
(By AL Manurung)

Dulu disini katanya, 
hutannya lebat satwanya berlimpah
air mengalir jenih, udara bersih.

Pulau Kalimantan 
kehidupan harmonis terlihat manis
masyarakat bahagia tiada tangis
Fakta kini banyaklah berubah
banjir rutin jadi tamu rumah
Longsong menteror nyawa harta disosor
aturan kendor demi uang kotor

Tambang kebun HTI
bentuk usaha makmurkan negara
sayangnya tidak bijak membangunnya.

Reff.
Mari semua bertindaklah nyata
masalah jangan hanya diskusikan
materi rapat atau seminarkan 
kalau begitu guna kehidupan

Tambang kebun HPH
bentuk usaha makmurkan negara
sayangnya tidak bijak membangunnya.

(Reff.)

download disini

prasangka #2

prasangka tak perlu diagungkan.
jika kau telah berusaha meluruskan
tetapi nafsu telah berhasil menjadikannya
sebagai keyakinan,
maka, tinggalkanlah.

dan percayalah bahwa Tuhan 
akan mengatur semua jalan.

prasangka tak perlu diagungkan.

Tuesday, April 29, 2014

meyakini prasangka

keyakinan adalah kekuatan,
kalau anda tidak yakin, maka anda menjadi lemah.
meyakini tentang sesuatu, menjadikan anda percaya diri,
bahwa apa yang anda yakini adalah benar adanya.

keyakinan sedikit berbeda dengan prasangka.
jika keyakinan adalah informasi yang telah ditapis,
dianalisis, lalu menjadi kebenaran,
maka prasangka adalah informasi yang jauh dari tapis,
cenderung membenarkan kecurigaan,
didasari pada penilaian semu, tanpa analisis.
dan jika tidak segera disediakan penapis, 
akan menjadi pembenaran.

jika anda masih berprasangka, 
maka anda belum meyakini,
masih jauh.

maka,
berhati-hatilah jika meyakini sebuah prasangka...


Tuesday, April 22, 2014

raja kerbau dungu

Raja Kerbau Dungu
(by AL Manurung)


Dengarlah ku berkisah, ada seorang raja
Yang konon naik tahta, mengemis menghiba
Tampang tak juga gagah, badan cendrung lemah
Tapi yang mengherankan senangnya disembah.

Di dalam buku jangkrik, ulahnya terketik
Yang tak rela dikritik, oleh orang baik
Kritik dianggap badik yang siap menakik
Dikumpulkannya anjing yang lapar dan tengik

o...o...o.... raja kerbau dungu
o...o...o.... raja bodoh lucu
o...o...o.... tahta tersisa semu

Ada anjingnya tinggi, hardikannya keji
Ada bulunya kriting, berfikirnya miring
Ada bulunya lebat, yang suka menjabat
Sohibnya anjing lapar, yang pernah dibayar
Dibawah singgasana ada banyak sarang
Sejumlah tikus lapar yang tak pernah kenyang
Kalau ada masalah, sang tikus berkilah
Tak perlu ikut campur, demi makan sampah

o...o...o.... anjing-anjing sesat
o...o...o.... tikus-tikus murtad
o...o...o.... anjing tikus bangsat

Dengarlah ku berkisah, ada seorang raja
Yang konon naik tahta, mengemis menghiba
Tampang tak juga gagah, badan cendrung lemah
Tapi yang mengherankan senangnya disembah.

o...o...o.... raja kerbau dungu
o...o...o.... raja bodoh lucu
o...o...o.... tahta tersisa semu
o...o...o.... tahta tersisa semu

(diharap para pendengar berjiwa bijaksana
cari persamaan kisah, terima kasih)

download lagunya disini

Monday, April 21, 2014

Re-repost: kartini hari gini

Repost: Saturday, April 21, 2012

repost: kartini hari gini

REPOST:TUESDAY, APRIL 24, 2007

kartini hari gini

“Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia harum namanya.  Ibu kita Kartini, pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka. Wahai Ibu kita Kartini, putri yang mulia, sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia”

Kartini hari gini, ini soal kesetaraan, bukan cuma soal lomba-lomba kebaya bersanggul atau nyupir dump truck, atau juga cuma jadi dokter, polwan atau kernet angkot. Ini soal bagaimana secara hak dan kewajiban setara, setelah disepakati bagaimana kesetaraan itu dirumuskan, bukan cuma soal siapa dapat kesempatan dan siapa yang menciptakan kesempatan.

Kartini hari gini, sudahlah hentikan mengeluh soal kesempatan, atau pasang berita soal muka cengangas-cengenges prestasi mampu berkebaya serapi kue lapis legit.  Sudah jauh hari lalu waktu untuk membuktikan bahwa kualitas pikir adalah ukuran kesetaraan itu.  Tak usahlah selalu berkata tak ada kesempatan, tak ada peluang, tak ada yang memberi.  Jangan berlagak sebagai pengemis begitulah.

Ya, aku taulah, masih ada di tempat-tempat itu diskriminasi diberlakukan atas nama kelemahan, kodrat atau apa sebagainya.  Tapi, Kartini hari gini, mosok masih harus berlindung di balik ketiak berita-berita diskriminasi itu? Mungkin yang bener adalah sambil menghajar diskriminasi itu, sambil pula berinovasi soal kesetaraan pikir?  Entahlah, menurutku begitu.

Kartini hari gini, usang sudah jika masih juga menyoal apa bentuk kelamin di balik pakaian.

Saturday, April 19, 2014

menolak lupa, dengan "lupa"

Luka lama 
Iwan Fals (Single) 

Luka lama kambuh kembali 
Semakin jelas 
Semakin parah 
Menjalar di setiap hari 

Janji janji hilangkah kini 
Hanya usap 
Hanya sentuh telinga 
Lalu pergi 

Bahkan malam 
Yang biasa singgah 
Enggan menyapa 
Pada sang bulan 

Mimpi mimpi tak cantik lagi 
Sejengkal melangkah 
Bertambah nyeri 
Luka 

Kau paksa kami 
Untuk menahan luka ini 
Sedangkan kau 
Sendiri telah lupa 

Akan gaduhnya jerit 
Akan busuknya derita 
Akan hitamnya tangis 
Akan kentalnya nanah 

Bahkan malam 
Yang biasa singgah 
Enggan menyapa 
Pada sang bulan 

Mimpi mimpi tak cantik lagi 
Sejengkal melangkah 
Bertambah nyeri 
Luka 

Kau paksa kami 
Untuk menahan luka ini 
Sedangkan kau 
Sendiri telah lupa 

Akan gaduhnya jerit 
Akan busuknya derita 
Akan hitamnya tangis 
Akan kentalnya nanah 

Dikaki kami yang labil melangkah
...

Wednesday, April 16, 2014

18 maret 2014 - by A.L. Manurung

sebuah lagu, karya kawanku, A.L. Manurung..
tentang premanisme di kampusku...

download: http://tinyurl.com/18Maret-by-AL-Manurung


18 Maret 2014
(by A.L. Manurung)

delapan belas maret duaribu empat belas
sekelompok preman ngamuk-ngamuk tak jelas
tiba-tiba muncul di dalam kampus unmul
depan fakultas kehutanan

bersenjata parang dan ada juga pistol
membentak menghina dan juga rusak barang
motor digulingkan, lampu-lampu dipecah
bahkan ada dosen yang dihina

o..o...o...o....
o..o...o...o....

reff:
hai tunggulah teman, balas perbuatan
yang akan membuat hidupmu menderita
yang akan membuat hatimu tersiksa

di balik layar pastilah adalah orang
yang gunakan uang membuat hatinya senang
akan kusebutkan dia seekor beruang
yang sedang menyamar jadi orang
yang sedang menyamar jadi orang
(siapa ya namanya)