Wednesday, April 30, 2014

tugu rimbawan..

Tugu Rimbawan
(By AL Manurung)


Ketika engkau kuliah di Kampus Gunung Kelua
kami ajari berbagai ilmu.
Dari petang(?) hingga nanam jenis tumbuhan pun ada
masalah tanah, air dan sosial

Statistik, matematika, dilanjut ekonominya 
ya pertukangan, papan dan satwa
Jadilah engkau rimbawan yang siap hidup bertahan
dimanapun kakimu berpijak.

Reff:
Hai rimbawan, jagalah kalimantan
banyak orang ploroti hutannya.
Hutan menyempit, rakyat terjepit
disamping gubuk menangis menjerit.
Hai rimbawan, jagalah kalimantan
banyak orang ploroti hutannya.
Hutan menyempit, rakyat terjepit
disamping gubuk menangis menjerit.

Aku punya sebuah ide, yang datang berupa wangsit
mari tunjukkan sebuah karya
Sebidang kawasan hutan dikelola beredaan
kelak menjadi tugu rimbawan
kelak menjadi tugu timbawan

Reff.

donwload disini

selamatkan kalimantan

Selamatkan Kalimantan
(By AL Manurung)

Dulu disini katanya, 
hutannya lebat satwanya berlimpah
air mengalir jenih, udara bersih.

Pulau Kalimantan 
kehidupan harmonis terlihat manis
masyarakat bahagia tiada tangis
Fakta kini banyaklah berubah
banjir rutin jadi tamu rumah
Longsong menteror nyawa harta disosor
aturan kendor demi uang kotor

Tambang kebun HTI
bentuk usaha makmurkan negara
sayangnya tidak bijak membangunnya.

Reff.
Mari semua bertindaklah nyata
masalah jangan hanya diskusikan
materi rapat atau seminarkan 
kalau begitu guna kehidupan

Tambang kebun HPH
bentuk usaha makmurkan negara
sayangnya tidak bijak membangunnya.

(Reff.)

download disini

prasangka #2

prasangka tak perlu diagungkan.
jika kau telah berusaha meluruskan
tetapi nafsu telah berhasil menjadikannya
sebagai keyakinan,
maka, tinggalkanlah.

dan percayalah bahwa Tuhan 
akan mengatur semua jalan.

prasangka tak perlu diagungkan.

Tuesday, April 29, 2014

meyakini prasangka

keyakinan adalah kekuatan,
kalau anda tidak yakin, maka anda menjadi lemah.
meyakini tentang sesuatu, menjadikan anda percaya diri,
bahwa apa yang anda yakini adalah benar adanya.

keyakinan sedikit berbeda dengan prasangka.
jika keyakinan adalah informasi yang telah ditapis,
dianalisis, lalu menjadi kebenaran,
maka prasangka adalah informasi yang jauh dari tapis,
cenderung membenarkan kecurigaan,
didasari pada penilaian semu, tanpa analisis.
dan jika tidak segera disediakan penapis, 
akan menjadi pembenaran.

jika anda masih berprasangka, 
maka anda belum meyakini,
masih jauh.

maka,
berhati-hatilah jika meyakini sebuah prasangka...


Tuesday, April 22, 2014

raja kerbau dungu

Raja Kerbau Dungu
(by AL Manurung)


Dengarlah ku berkisah, ada seorang raja
Yang konon naik tahta, mengemis menghiba
Tampang tak juga gagah, badan cendrung lemah
Tapi yang mengherankan senangnya disembah.

Di dalam buku jangkrik, ulahnya terketik
Yang tak rela dikritik, oleh orang baik
Kritik dianggap badik yang siap menakik
Dikumpulkannya anjing yang lapar dan tengik

o...o...o.... raja kerbau dungu
o...o...o.... raja bodoh lucu
o...o...o.... tahta tersisa semu

Ada anjingnya tinggi, hardikannya keji
Ada bulunya kriting, berfikirnya miring
Ada bulunya lebat, yang suka menjabat
Sohibnya anjing lapar, yang pernah dibayar
Dibawah singgasana ada banyak sarang
Sejumlah tikus lapar yang tak pernah kenyang
Kalau ada masalah, sang tikus berkilah
Tak perlu ikut campur, demi makan sampah

o...o...o.... anjing-anjing sesat
o...o...o.... tikus-tikus murtad
o...o...o.... anjing tikus bangsat

Dengarlah ku berkisah, ada seorang raja
Yang konon naik tahta, mengemis menghiba
Tampang tak juga gagah, badan cendrung lemah
Tapi yang mengherankan senangnya disembah.

o...o...o.... raja kerbau dungu
o...o...o.... raja bodoh lucu
o...o...o.... tahta tersisa semu
o...o...o.... tahta tersisa semu

(diharap para pendengar berjiwa bijaksana
cari persamaan kisah, terima kasih)

download lagunya disini

Monday, April 21, 2014

Re-repost: kartini hari gini

Repost: Saturday, April 21, 2012

repost: kartini hari gini

REPOST:TUESDAY, APRIL 24, 2007

kartini hari gini

“Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia harum namanya.  Ibu kita Kartini, pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka. Wahai Ibu kita Kartini, putri yang mulia, sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia”

Kartini hari gini, ini soal kesetaraan, bukan cuma soal lomba-lomba kebaya bersanggul atau nyupir dump truck, atau juga cuma jadi dokter, polwan atau kernet angkot. Ini soal bagaimana secara hak dan kewajiban setara, setelah disepakati bagaimana kesetaraan itu dirumuskan, bukan cuma soal siapa dapat kesempatan dan siapa yang menciptakan kesempatan.

Kartini hari gini, sudahlah hentikan mengeluh soal kesempatan, atau pasang berita soal muka cengangas-cengenges prestasi mampu berkebaya serapi kue lapis legit.  Sudah jauh hari lalu waktu untuk membuktikan bahwa kualitas pikir adalah ukuran kesetaraan itu.  Tak usahlah selalu berkata tak ada kesempatan, tak ada peluang, tak ada yang memberi.  Jangan berlagak sebagai pengemis begitulah.

Ya, aku taulah, masih ada di tempat-tempat itu diskriminasi diberlakukan atas nama kelemahan, kodrat atau apa sebagainya.  Tapi, Kartini hari gini, mosok masih harus berlindung di balik ketiak berita-berita diskriminasi itu? Mungkin yang bener adalah sambil menghajar diskriminasi itu, sambil pula berinovasi soal kesetaraan pikir?  Entahlah, menurutku begitu.

Kartini hari gini, usang sudah jika masih juga menyoal apa bentuk kelamin di balik pakaian.

Saturday, April 19, 2014

menolak lupa, dengan "lupa"

Luka lama 
Iwan Fals (Single) 

Luka lama kambuh kembali 
Semakin jelas 
Semakin parah 
Menjalar di setiap hari 

Janji janji hilangkah kini 
Hanya usap 
Hanya sentuh telinga 
Lalu pergi 

Bahkan malam 
Yang biasa singgah 
Enggan menyapa 
Pada sang bulan 

Mimpi mimpi tak cantik lagi 
Sejengkal melangkah 
Bertambah nyeri 
Luka 

Kau paksa kami 
Untuk menahan luka ini 
Sedangkan kau 
Sendiri telah lupa 

Akan gaduhnya jerit 
Akan busuknya derita 
Akan hitamnya tangis 
Akan kentalnya nanah 

Bahkan malam 
Yang biasa singgah 
Enggan menyapa 
Pada sang bulan 

Mimpi mimpi tak cantik lagi 
Sejengkal melangkah 
Bertambah nyeri 
Luka 

Kau paksa kami 
Untuk menahan luka ini 
Sedangkan kau 
Sendiri telah lupa 

Akan gaduhnya jerit 
Akan busuknya derita 
Akan hitamnya tangis 
Akan kentalnya nanah 

Dikaki kami yang labil melangkah
...

Wednesday, April 16, 2014

18 maret 2014 - by A.L. Manurung

sebuah lagu, karya kawanku, A.L. Manurung..
tentang premanisme di kampusku...

download: http://tinyurl.com/18Maret-by-AL-Manurung


18 Maret 2014
(by A.L. Manurung)

delapan belas maret duaribu empat belas
sekelompok preman ngamuk-ngamuk tak jelas
tiba-tiba muncul di dalam kampus unmul
depan fakultas kehutanan

bersenjata parang dan ada juga pistol
membentak menghina dan juga rusak barang
motor digulingkan, lampu-lampu dipecah
bahkan ada dosen yang dihina

o..o...o...o....
o..o...o...o....

reff:
hai tunggulah teman, balas perbuatan
yang akan membuat hidupmu menderita
yang akan membuat hatimu tersiksa

di balik layar pastilah adalah orang
yang gunakan uang membuat hatinya senang
akan kusebutkan dia seekor beruang
yang sedang menyamar jadi orang
yang sedang menyamar jadi orang
(siapa ya namanya)


Sunday, April 13, 2014

tuhan-nya banyak

tuhan-nya banyak,
hari ini tuhan-nya hari minggu,
entah menjadi hari olahraga, entah lainnya.

kemarin beda lagi,
mungkin tuhan-nya profit, berapa keuntungan, berapa rupiah didapat.
kemarin-nya lagi, beda lagi,
mungkin tuhan-nya ayat-ayat suci,
yang dicari dengan sepenuh hati,
tapi bermuara pada benci,
bukan mengasihi.

tuhan-nya banyak,
entah sadar atau tidak,
semua seperti sah saja di-tuhan-kan,
semua yang dianggap baik dan benar,
lalu menjadi tuhan,
entah sadar atau tidak.

mungkin ini yang dilambangkan dengan
penghancuran berhala-berhala itu,
jadi bukan wujud fisik yang dimaksud,
tetapi wujud maya yang dimaksud.

tuhan-nya banyak,
lalu tiba-tiba bisa pula menjadi tuhan,
menentukan siapa dapat neraka, 
siapa dapat surga.
menentukan diri sebagai ahli surga,
sambil tetap mengambil hak orang lain,
sambil sesekali menipu,
hari ini bicara soal kebenaran adalah kaumnya,
lalu besok duduk menunduk menghamba pada mereka yang di belakang dihina-hina,
menunduk atas nama pengetahuan,
dihina atas nama keyakinan.

tuhan-nya banyak,
hari ini tuhan-nya hari minggu,
entah menjadi hari olahraga, entah lainnya.

(pada mereka yang ber-tuhan banyak)



Friday, April 11, 2014

republik upil

gila, lama sekali tak menulis disini...
sibuk tidak, waktu punya, malas pangkal setan saja penyebabnya...

republik upil..

ya, tulisan ini bagus diberi judul republik upil.
bukan karena bentuknya, karena jelas kepulauan ini tak sama dengan besar dengan upil (bisa dibayangkan jika besar upil se-kepulauan indonesia, berapa besar hidung tempat bersarangnya?), bukan pula karena baunya.  ah, tak perlulah ditanya bagaimana bau indonesia ini.

republik ini, dua hari lalu selesai dengan pemilihan legislatif-nya,
sekian banyak orang-orang yang merasa (dan sebagian memang) berkualitas untuk mewakili rakyat, berlomba mengeruk suara, dengan berbagai cara.
dari janji surga, sampai janji neraka (mungkin lho, ya.... janji yang tak masuk akal, apa itu bukan janji neraka namanya?).
dari gratisan, sampai jutaan rupiah modal mengumpulkan suara...

(mandi dulu, jumatan.... kalau ndak jumatan, nanti berdosa, lalu masuk neraka... itu kata ibuku..).

lanjut lagi.. (setelah menikmati khotbah jum'at yang standart, soal kebaikan, kejahatan, surga, neraka, ya memang harus begitu khotbah jum'at).
sampai dimana tadi, oh ya.. sampai soal caleg.

ada pula caleg yang iklan mati-matian di socmed, atau lewat teman atau orang-orangnya, mencoba meyakinkan kehandalan dirinya.  segala rupalah...

pilleg kali ini rada serius ikutnya.  browsing caleg yang pas, riset kecil track-record-nya, korek sana-sini, sampai 1 menit menjelang nyoblos, masih bingung mau pilih siapa wakil nantinya di kota.  kalau DPD sih, ndak ngitunglah..
tapi, berhasil juga menjatuhkan pilihan, dengan bantuan sana-sini.
keluar bilik, setiba di rumah, kirim sms ke para caleg yang dipilih, syukurnya kok dibalas, padahal yang kenal baik cuma satu (itupun nomer tak disimpannya, tak apa, tak penting itu), sisanya tak kenal, hanya punya referensi "baik", "jujur", "pinter".... bismillah saja, semoga baik.

seperti biasa, pilleg kali ini diwarnai saling serang kelompok golput yang tak memilih itu, dan kelompok golna (golongan berwarna, yang memilih itu).  alasannya sama saja seperti pemilu yang lain, soal tidak puas, soal jangan sampai orang jahat menguasai parlemen, soal suara yang sia-sia, sampai juga soal dosa dan neraka.  berat amat menjadi warga negara ya...

hari ini hingar bingar mulai mereda, beberapa caleg kirim pesan terima kasih di socmed dan sms, katanya kepilih atau gak, mari jadikan indonesia yang bersih.  ini pasti caleg serius.  yang gak serius pasti sibuk kasak-kusuk cari peluang limpahan karunia dari partainya.  syukur-syukur gak jadi gila.  
para caleg tak bersih itu, mencari-cari celah, seperti membersihkan hidung saja, mencari-cari dimana upil potensial tersembunyi.  karena sudah paham hidung sendiri, cara mengorek pasti lebih terarah, berharap upil terbesar yang keluar, tak penting warna, tak penting tingkat kekenyalan.  begitu upil kecil didapat, hembusan nafas kekecewaan yang ada.  upil besar, menggumpal, akan berdampak pada kegembiraan luar biasa.
upil kecil, membawa petaka.  sejumlah modal harus dikembalikan, sejumlah uang harus dipertanggungjawabkan segera.  upil besar adalah berkah, tetap saja modal dan uang harus dikembalikan, tetapi bisa nanti, setelah duduk dikursi.

demikianlah, jika caleg-caleg tak bersih itu yang terpilih, maka sebangsa upil-lah negeri ini.
karena itu, republik ini, seperti republik upil.  untuk berkuasa, cari yang besar, tapi yang kecil juga disikat.  lalu bicara kepada semua orang, bahwa kebersihan hidung adalah pangkal kesehatan.

selamat datang di republik upil...