Tuesday, September 9, 2014

fasilitasi

fasilitasi pertemuan di kabupaten
yang dikelilingi asap hasil bakar lahan
memulai hari dengan sesak nafas
bukan cuma karena oksigen kurang
tapi juga karena perilaku-perilaku

memulai hari harus dengan ringan
itu kunci fasilitasi
tak musti berfikir berat
apalagi berfikir negatif
sejatinya, tak ada fasilitasi yang berat
juga tak ada fasilitasi yang ringan.
kesiapan diperlukan
jangan sekali-sekali menggampangkan.

fasilitasilah dengan sepenuh hati.

(pulang pisau, september 2014) 

Saturday, September 6, 2014

kuncrit - cuning 2nd

sudah tiga hari Kuncit tak pulang.
sudah dua hari Cuning 2nd datang.

kuncrit kucing preman, tapi masih suka tidur cari teman, tak pulang tiga hari. terakhir mengeong panjang waktu aku teleponan. setelah itu tak ada kabar berita.

dua hari lalu kucing kecil berwarna kuning ada di depan rumah, entah dimana ibunya. 

seperti yang sudah-sudah, kucing kami selalu bukan dari jenis unik, selalu kucing "kampung", ambil di jalan atau ada di depan rumah, mengeong cari teman.

kali ini, bersamaan dengan tak pulangnya kucing preman, muncul kucing kuning kecil, masih belekan, pantatnya ditutup kotoran keringnya, jalannya masih bergetar.

sengaja dibiarkan di teras, mungkin ibunya mencari. tapi sampai dua hari, tak ada ibu yang mencari. mungkin terlalu jauh, atau memang tak digariskan bertemu.

si preman tak pulang, si kuning datang.

harus kembali ke titik nol, waspada jika ada kotoran dan air kencingnya di lantai. ke titik nol membersihkan belek dan pantat yang ternoda sisa buang hajat.

tak apa, kami semua suka dengannya,
kucing kecil yang suka menggigit jari, tapi masih tak mau minum susu.  kelihatannya kami akan pelihara, sambil tetap berharap si preman pulang, dan menerima keberadaan si kuning tentunya.

Kuncrit, pulanglah. Cuning 2nd, selamat datang...


Monday, September 1, 2014

Ganden

Namanya Restu Achmaliadi atau Ahmaliadi. Kira-kira begitulah.
Seperti kebanyakan mereka yang sekolah di kampus IPB itu, konon harus menyandang nama alias.
Untuk itulah ia bernama Ganden, yang konon katanya didapatnya saat kuliah.

Katanya, untuk tambah-tambah uang kuliah, maka nyambi lah ia berjualan dendeng. Aku lupa dendeng apa, tapi ia bilang itu dendeng asli dari daerahnya.
Saking laris manis, melekatlah gelar Juragan padanya. Juragan Dendeng, begitu julukannya. Maka dari situlah asal muasal julukan Ganden berasal. Itu katanya. Entah benar atau karangannya saja.

Masih dulu, waktu satu kantor NGO masih ada di sekitar taman Indraprasta (benar gitu nulisnya?) Bogor (update 2/9/2014:  Tami, teman di Bogor itu, kasih koreksi, bukan Indraprasta, tapi Taman Bogor Baru), karena dikasih ijin menginap di kantornya, Ganden inilah yang mengenalkan dan setia menemani menyantap soto kuning di taman itu. Pak tua penjual kenal baik padanya.

Terakhir kali makan bersama, Ganden dan Rio (yang sekarang jadi presiden JMHI itu) menemani menikmati sop kaki kambing. Itu tahun 2011 kira-kira.
"Aku sudah mengurangi, Thom", katanya sambil terkekeh. Siang itu Ganden menikmati sop kaki kambing setengah porsi saja.

Terakhir kontak, kami ketemu, lupa dimana. "Aku sekarang freelancer, Thom", katanya. Tapi yang kutau, dia sibuk dengan banyak pekerjaan.

Easy going dia, sikapnya seolah tak berbeban. Bukan pula ia suka meremehkan, tetapi Ganden selalu tak pernah melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang sulit.

Hari ini, 1 September 2014, puluhan kawan memasang status kepergian Ganden.  Beberapa hari di rumah sakit, beberapa foto yang mengisyaratkan pulihnya dan berbaris do'a yang kawan-kawan panjatkan. Itu semua tidak mampu melawan kasih sayang Tuhan. "Tuhan lebih sayang pada Ganden".  Begitu tulis seorang kawan pada wall-nya.

Selamat beristirahat, Nden.  Mudahan disana ada soto kuning, tanpa harus kau batasi porsinya. Kebaikanmu akan menempatkanmu pada sisi terbaikNya.

Sampai jumpa, Nden.

--