Sunday, October 26, 2014

Tuhan Maha Baik

Tuhan Maha Baik
Tidak, bukan soal apa-apa
Bukan hanya perkara para menteri itu sebagian besar berwajah ramah.
Bukan juga hanya perkara ada lega.
Bukan perkara apa-apa.
Tuhan Maha Baik, 
Itu saja.

(Bersyukur saja)

Monday, October 20, 2014

presiden ketujuh

baru kali ini saya merasa memiliki presiden yang dekat.
baru kali ini juga rasa haru ada di dada saat melihat keriuhan masyarakat menyambut presiden baru.
semoga pemerintahan kali ini memenuhi rasa keadilan.
selamat bertugas pak joko.

Tuesday, October 14, 2014

dibayar berapa

fasilitator itu profesi,
bukan sampingan, bukan sambilan.

profesi fasilitator itu ada lucu-lucu gimana, gitu.
utamanya kalau sudah deal soal berapa harus dibayar.
istilah kerennya "rate-nya berapa?".

perkara yang satu ini, beberapa fasilitator seolah tabu bicara,
utamanya fasilitator dalam negeri.
malu-malu musang kalau ditanya berapa harus dibayar.
padahal kalau dibayar murah, senyum pahit di belakang,
sama saja, seperti profesi lainnya.

proses negosiasi soal harga jasa fasilitasi juga lucu-lucu sedap.
dua arah, keduanya lucu kalau pakai cara sungkan.

tahap pertama, saling kontak lalu bicara kapan jasa fasilitasi diminta.
pada tahap ini, kesepakatan bisa jadi tidak tercapai, jika jadwal bentrok.
ini perkara biasa, tidak masalah.

tahap kedua, lalu bicara apa kerja yang akan dilakukan.
biasanya sampai sepakat dengan paket jasa yang diminta.
deal soal bentuk fasilitasi dan laporan yang dipersyaratkan.
disini mulai masuk tawar menawar proses dan hasil.
tanpa disadari, angka harga jasa fasilitasi mulai berpengaruh.
mau dibayar berapa untuk proses dan hasil seperti apa.

tahap ketiga, lalu bicara harga.  berapa mau dibayar untuk jasa yang diminta.
tawar menawar terjadi, biasa saja, layaknya jasa lainnya.
pertimbangannya biasanya soal proses yang ingin digunakan.
juga hasil yang ingin dicapai.  
ini urusannya dengan dokumen akhir yang akan dihasilkan.

tiga tahap ini kadang berjalan mudah.
terutama jika pemberi kerja sudah memiliki standart kerja.
semisal permintaan penawaran untuk paket kerja yang diminta.
untuk yang seperti ini, deal menjadi lebih mudah.
pemberi jasa tinggal mengirimkan daftar layanan yang pernah ia berikan,
lengkap dengan harga jasa dan nomor kontak pemberi pekerjaan.
dari situ, si calon pemberi pekerjaan dapat melakukan verifikasi,
dengan cara mengontak nama dan nomor para pemberi kerja
yang ada dalam daftar.
jika informasi berisi dusta, proses batal. 
sesederhana itu.

masalahnya, 
kadang para calon pemberi kerja tidak juga transparan
dengan standart yang mereka punya.
walaupun sudah mulai jarang (atau saya yang sudah jarang bertemu),
tetap saja ada calon pemberi kerja yang tak mau menyebutkan
berapa mereka bisa dan berani bayar untuk jasa fasilitasi.
nanti, akhir hari fasilitasi, lalu tetiba menyodorkan amplop.
bukan sepenuhnya salah si calon pemberi kerja,
karena perkara harga ini harusnya urusan dua pihak.
jadi, jangan meringis kalau setiba di rumah isi amplop hanya setengah,
karena tak ada deal pada awal pekerjaan.
karenanya, bicarakan soal harga ini di depan,
supaya tidak ada masalah di kemudian.

masalah lain,
banyak orang menilai salah soal angka dan harga yang ditawarkan,
setidaknya itu yang saya alami.
bertahun-tahun dengan angka dan harga yang itu-itu saja, 
lalu beberapa tahun lalu saya putuskan untuk menaikkan harga,
menaikkan angka, berapa yang harus mereka bayar untuk jasa fasilitasi,
per hari.  dengan alasan, tentunya.
reaksi sudah dapat dikira. seperti belanja barang, 
bertahun-tahun pada harga yang sama, lalu tetiba harga naik,
lalu berucap "mahal".
tak mengapa, karena memang itu resikonya.
yang harus diketahui, alasan harga naik, bukan semerta-merta.

yang paling mudah dan sebagai alasan pertama, 
tentunya soal penghasilan.
jika tetap dengan angka yang sama, bertahun-tahun,
lalu logika pemenuhan kebutuhannya dimana?
UMR bergerak naik setiap tahunnya, harga barang naik setiap kali,
sesederhana itu.

alasan kedua, ini agenda pribadi saja.
regenerasi fasilitator tidak berjalan mulus disini.
mungkin karena anggapan tidak ada jaminan bahwa 
pemenuhan kebutuhan bisa terpenuhi jika fokus pada
profesi ini.
wajar saja, permintaan jasa fasilitasi tidak selalu ada setiap bulan. 
untuk mereka yang membutuhkan asupan pendapatan,
terutama asupan rutin, bulanan, maka ketidakpastian ini
adalah ancaman.
jadi, walaupun puluhan kali pelatihan fasilitasi dilakukan,
tidak menjamin akan tersedia cukup fasilitator.
menaikkan harga jasa, sebenernya juga berarti memaksa
para calon pemberi pekerjaan untuk mencari alternatif.
jika budget tak cukup, maka carilah fasilitator yang 
sesuai dengan budget.
ini akan mendorong munculnya fasilitator baru atau lama,
yang bersedia bekerja sesuai budget.
cara terbalik, dengan mendorong pasar untuk mencari pembeli.

jadi, sebenarnya kesediaan untuk bekerja dibawah standart harga
itu ancaman juga.  ancaman untuk para fasilitator lainnya, 
semua pekerjaan diambil juga, tidak memberikan ruang
untuk mereka yang ingin dan bisa berkarya.
juga ancaman pada kredibilitas sendiri. harga naik turun tanpa alasan. 
merusak pasar sendiri.  begitu kira-kira bahasa mudahnya.

tapi, dibalik itu semua,
bukanlah pula fasilitator itu berpikir ekonomi melulu.
jika isu dan pemberi kerja terbukti memerlukan,
tetap harus ada kesediaan untuk bekerja sukarela,
untuk keberpihakan pada kebenaran tentunya.

jadi, sepenuh hati bukan hanya pada proses fasilitasi,
tetapi juga pada keberpihakan.

fasilitator itu profesi,
bukan sampingan, bukan sambilan.

(SLI, oktober 2014)












Wednesday, October 8, 2014

males ah..

males ah, 
lihat logika dibolak-balik.
soal politik-politik itu.
soal klaim siapa benar siapa salah,
lalu maki-maki saja,
lalu merasa benar.

males ah,
liat para lulusan itu, 
yang ngawur cara beorganisasinya.
lalu katanya pengen berbenah,
lalu nanti tak ada jaminan ndak ngawur lagi.

males ah, 
liat gaya-gaya ndak jelas.
toleransi sudah cukup, 
silahkan.