Sunday, November 30, 2014

iwan nasution



"Nanti aku ke rumahmu saja, tanya soal HP ini..", begitu kalimat terakhirmu sebelum menutup telepon.  saat itu hari kamis, 27 november 2014, kamu tanya soal HP, seperti biasa kalau kamu ketemu masalah dengan gadget.  

Sesaat setelah itu, aku bicarakan soal sakitmu dengan Mas Cahyono, yang waktu itu sedang bersamaku menunggu anak-anak kami pulang sekolah, dijemput Wiwin, dan mereka terjebak banjir.  Sakitmu menjadi perbincangan setiap kali namamu disebut, Wan.  Biasalah, apalagi umur kita hampir sama, selalu sakitmu menjadi bahan introspeksi kami.

Shaf Iman Imawan Nasution, itu namamu.  Iwan Nasution, begitu kamu mengenalkan diri jika ada yang bertanya namamu.  Kamu yang aku kenal sejak kita sama-sama ingusan di SD Muhammadiyah jalan Berantas Samarinda itu.  Sama-sama bercelana pendek, mengganggu penjual minuman, dan makan mihun harga duapuluh lima rupiah dapat dua bungkus itu.  Lalu sejenak kita satu sekolah lagi di SMP Muhammadiyah Gang Bhakti itu, tapi kamu memutuskan pindah ke SMPN 1, beberapa bulan setelah musim belajar dimulai.  Garis perkawanan kita memang dekat, di SMAN 2 Jalan Kemakmuran itu kita kembali sekelas, bahkan sebangku, menjadi sama-sama bengal, bengalnya anak-anak SMA.  Seperti tidak cukup kita ditadirkan berkawan, kita kembali bertemu di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, di angkatan yang sama, membaca berita kelulusan di lembar koran yang sama, lalu ketawa-ketiwi sama-sama berwajah blo'on lalu sama-sama berkata "kok kita bisa lulus di UNMUL ya?".

Masih kuat terbayang, waktu kamu ajarkan aku bagaimana memecahkan telor di atas wajan dengan satu tangan.  "supaya tangan sebijinya kawa sambil menggaruk burit", begitu katamu.. hahaha...  Berulang kali kita nongkrong di rumah Ibuku, setiap kita bolos dari pelajaran SMA yang tidak kita suka, atau pulang cepat karena guru rapat.  Selalu menu yang sama kamu buat, telor ceplok, nasi dan kecap manis, itu saja.  Kamu beli sendiri telur itu, kamu goreng sendiri di dapur.  Padahal ada saja sedikit sayur di meja makan, "ndak apa, aku suka telor", begitu kamu selalu bilang sambil mencuci piring makanmu.   Belakangan aku baru sadar, itu caramu untuk tidak merepotkan teman. 

Masih pula kuat terbayang saat kita dihardik Ibu Guru SMA itu, karena kamu tak kuat menahan ketawamu yang khas itu, saat kamu melihat siluet wajah Ibu Guru yang terbentuk dari bayangan sinar matahari pagi.  Hasilnya, kamu, aku dan Gazali Rahman harus berdiri di luar kelas sambil menatap matahari, lalu seisi kelas tak belajar dan mendapat ancaman nilai buruk.  Lalu kita cekikikan meratapi nasib (dan juga mentertawakan siluet itu.. hahaha).

Masih juga aku ingat waktu kita sama-sama mencari nama kita pada daftar kelulusan SIPENMARU (apa itu singkatannya, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, ya itu dia singkatannya), lalu kita bermufakat untuk memberikan kejutan pada Ibumu.  Kamu juga yang mengatur agar Ibumu mengira kamu tak lolos masuk UNMUL.  "Panthom lulus, aku tidak lulus", begitu kamu sampaikan pada Ibumu, dengan wajah palsumu, di depanku.  Sumpah waktu itu aku takut kalau tiba-tiba Ibumu marah besar, atau malah menangis sedih.  Tapi, waktu itu Ibumu malah tersenyum dan berkata "masa sih, yang bener?", dan gagal-lah rencana kejutan itu.  "mamah lebih tau dari kalian, jangan bohongi orang tua", itu kata Ibumu masih sambil tersenyum, lalu plak! satu tepukan keras di bahumu, yang lalu membuatmu cengengesan. "iya, lulus kok", katamu.  "Ngalih memang, kada kawa kita melawan ortu, Thom", katamu sambil cengengesan lagi.

Ingat waktu kita sama-sama penelitian dulu, Wan.  Untuk kelulusan sarjana kehutanan, itu tahun 1993.  Di Batu Ampar, Muara Wahau itu.  Waktu itu transportasi hanya dengan kapal kayu itu.  Dua hari dua malam perjalanan kita tekadkan untuk mengambil data.  Aku ingat saat itu kamu sudah punya masalah dengan "asam urat"-mu.  Hari pertama ambil data, kamu jalan tertatih, ke hutan, mengukur diameter pohon hasil tebangan.  Seperti berlari kita, mendahului para penebang untuk memperkirakan diameter dan panjang pohon bebas cabang.  Lalu segera berlari menghindar sejauh mungkin karena para penebang segera menjatuhkan pohon-pohon itu.  Lalu kita harus segera pula mendekati pohon yang sama itu untuk mengukur fisiknya, diameternya, panjangnya.  Tak ingat persis apa yang mau kamu sajikan nanti dalam skripsimu, tapi yang kuingat adalah tekadmu berlari kesana-kemari untuk mendapatkan data itu, di bawah ancaman arah rebah pohon-pohon berdiameter lebih dari 200cm itu.
Hari kedua, kamu sudah tak mampu berjalan.  Kamu putuskan pulang lebih dulu ke Samarinda, karena harus berobat.  Asam uratmu memenangkan pertandingan kala itu. "Tolong selesaikan pengambilan data, nanti aku traktir", katamu.  

Sebelum sakit beratmu itu, aku ingat kamu cerita dengan tenang, saat tender-tendermu di pemerintahan itu penuh dengan perjuangan.  Dijegal sana-sini, tapi toh kamu berhasil mendapatkannya, tanpa koneksi, tanpa harus mengiba pada mereka yang punya kuasa.  "Kalau mereka baik, aku baik.  Kalau mereka memudahkan, aku juga tau balas budi", itu yang selalu kamu ucapkan setiap kali cerita soal proyek-proyekmu.  Aku tidak paham soal mengelola proyek pemerintah, tapi di kepalaku yang teringat hanya gaya santaimu saat menceritakan liku proyekmu yang kuanggap susah itu.  "Rejeki ada dimana aja, asal kita mau berusaha", itu katamu, sambil mengeluarkan tawamu yang khas itu.

Masih aku ingat juga soal wajah ceriamu, waktu kamu cerita tentang proses pembelian tanah untuk rumahmu sekarang.  Bagaimana kamu memulai negosiasi, lalu berhasil memperluas tanah yang kamu miliki sekarang.  "Aku beruntung, karena posisi tanahku sepertinya strategis", itu ujarmu saat itu.  Lalu kamu cerita tentang keputusanmu memberi nama jalan rumahmu itu, "Subulussalam nama jalannya, Thom".  Kamu ketawa ngakak waktu aku usulkan supaya nama jalan rumahmu diganti jadi "Jalan Iwan Nasution" saja.  "Lalu nanti dikira nama pahlawan, hahaha..", katamu.
 Lalu komunikasi kita menjadi sangat intensif waktu kamu mulai membangun rumahmu itu.  Mulai dari disain rumah, sampai harga batu gunung, sampai juga harga keramik.  Mungkin karena kita sama-sama sedang membangun rumah, jadi seperti kita sama-sama perlu saling dukung dan cari harga material murah.  Bedanya, sekarang rumahmu sudah selesai, dan rumahku belum! lalu nasehat sok bijakmu adalah "tunggu apalagi, selesaikan sudah rumahmu itu", katamu lagi-lagi dengan senyuman santai itu.

Satu hal yang aku tak habis pikir denganmu, yaitu keberhasilanmu "meminta" teknisi Telkomsel untuk menggeser arah pancaran signal 3G mereka, sehingga rumah barumu di Pinang Seribu itu bisa tercover sinyal 3G.  Dengan senyumanmu yang kamu manis-maniskan itu, kamu datang ke rumahku, lalu kamu tunjukkan foto coverage area signal 3G itu.  "Ini teknisi Telkomsel yang tunjukkan, kalau signal BTS-nya memang tidak meng-cover rumahku, lalu aku minta mereka putar agar rumahku masuk dalam coverage".  Ingat aku, waktu itu aku tertawa dan menyangsikan akan ada perubahan signal di rumahmu.  Aku yakin betul kala itu bahwa test signal yang kita lakukan di rumahmu waktu itu dan hasilnya adalah signal 3G naik-turun (dan lebih banyak turunnya itu) akan bertahan bertahun-tahun, hahaha.   Tapi, hanya berselang seminggu, kamu kirim BBM, dengan foto coverage sinyal Telkomsel, "sekarang rumahku sudah masuk coverage, sinyal 3G full.. hahaha", tulismu di BBM.  Sumpah, waktu itu aku memakimu sambil ngakak, dan menyesali nasib rumahku yang waktu itu masih tetap bersinyal EDGE itu.  Padahal rumahmu di Pinang Seribu, masih ke ujung Samarinda sana, dan rumahku lebih dekat ke kota.  Ilmu-mu memang tinggi kalau soal lobby-lobby, Wan.  Hahahaha...  

Terakhir kita jalan bersama itu, aku jemput kamu, ba'da subuh.  Kita ke acara Malam Keakraban Rimbawan itu, di Bukit Bangkirai.  Kamu menelepon tanya kapan aku akan kesana, dan aku tau bahwa kamu berniat bertemu kawan-kawan angkatan 88 Fahutan UNMUL disana.  Istrimu wanti-wanti supaya kamu jangan capek, dan segepok obat itu kamu bawa.  Di acara MKR itu, kamu tidak menunjukkan sakitmu, walaupun dari gerakmu semua kawan tau kamu sedang berjuang untuk pulih kembali.  "Aku harus pulang malam ini, kalau tidak ada teman yang ke Samarinda, tolong antar aku ke Simpang Samboja untuk tunggu bis disana", katamu.  Kalimat itu seperti sebuah peringatan buatku, bahwa hargailah mereka yang memperhatikanmu.  Karena memang istrimu berpesan agar kamu tidak menginap, karena kamu harus istirahat, harus menjalani beberapa treatment setiap hari.  Jadi, aku membaca bahwa niatmu untuk pulang malam itu dari Bukit Bangkirai bukanlah perkara pilih memilih tempat istirahat, atau perkara tak bawa baju ganti.  Tapi lebih karena kamu menghargai orang-orang yang mengasihimu.  Sungguh samar maksud itu, bersyukur aku bisa membacanya.
Pukul 11.30 malam kita kembali ke Samarinda, pukul 02.00 dini hari aku antarkan kamu ke rumahmu yang besar itu di Pinang Seribu.  "Terima kasih, Thom, Win", katamu sambil tetap tersenyum.  Tapi aku tau kamu lelah.  Ada sedikit sesal juga mengapa mengabulkan permintaanmu untuk ikut ke Bukit Bengkirai.  Tapi, ada kepuasan juga bisa mengajakmu bertemu teman-teman lama disana.  Mudahan yang kamu hitung yang baik-baik dari aku, Wan :).
 Maafkan aku tidak banyak menengokmu waktu kamu berobat di Bandung dan Bogor itu.  Perbincangan kita di telepon yang sesekali itu, memang tak kemudian menjadikan alasan buatku untuk tidak menengokmu.  Tapi aku yakin, tanpa harus aku katakan soal alasan-alasan itu, kamu pasti maklumi mengapa aku tak sesering teman-teman kita mengunjungimu.  Entah mengapa selalu saja ada sesuatu yang ditaruh diantara kita saat kamu sedang susah.
Seperti saat aku terima telepon Wiwin kemarin, tentang kepergianmu.  Saat itu aku sedang di depan forum pelatihan, yang tak bisa segera aku tinggalkan.  Karena itu maafkan aku yang baru bisa datang ke rumahmu saat jeda istirahat pelatihan itu, dan kamu belum dimandikan.  Maafkan juga kalau aku tidak mengantarmu ke peristirahatan terakhirmu, karena aku harus segera kembali memfasilitasi pelatihan itu.  Tidak ada alasan lainku, tapi memang itu.

Sekarang kamu sudah mendahului aku, pergi menghadap-Nya.  Tanggal 29 November 2014, hari-mu berhenti di dunia ini, dan kamu memulai hari baru di dunia berbeda.  Aku yakin orang baik seperti kamu akan dapat tempat terbaik juga.  Akan banyak do'a-do'a dari orang-orang yang sudah kamu bantu dan tak pernah kamu minta mereka membalas.  Juga dari maafmu pada orang-orang yang telah memperlakukan kamu semena-mena, menghambat kerjamu, mengambil rejekimu.  Sungguh aku belajar dari sikap menerima di balik ketegasanmu itu.

Kita akan ketemu lagi, Wan.  Mudahan kita bisa ngobrol-ngobrol lagi disana.  Masih banyak yang perlu kita obrolkan.  Soal rumahku yang belum selesai, soal kehebatan lobby-mu itu, soal gadget-mu itu, banyak lagi.

Selamat beristirahat, Wan.  Seperti kata para ahli agama, setiap mengantar kepergian seorang sahabat, maka petiklah pelajaran yang ditingalkannya.  Dan aku mau bilang bahwa aku banyak belajar dari kamu, dari perjalananmu, dari kalimat-kalimatmu.
Kami akan menyusulmu, Wan.  Hanya soal waktu.

[sempaja lestari indah, 30 November 2014, 1 hari setelah Iwan Nasution berpulang]


Sunday, November 9, 2014

cuning 2nd


punya kucing lucu itu menyenangkan
bisa diajak ngobrol, walau searah.

cuning 2nd namanya.


Saturday, November 1, 2014

kebencian

kebencian bisa disalurkan melalui apa saja.

berkreasi mengganti wajah asli, lalu tempel pada gambar porno, lalu unggah supaya orang lain tau tingkat kebencianmu. sejatinya kamu ingin orang lain berpihak padamu, untuk membencinya.
sayangnya, cara itu bukan pilihan bijak, bukan pula pilihan cerdas.
maaf kata, kendati media menaruhmu pada posisi mengiba dengan menyebutmu anak tukang tusuk sate, tapi tetap saja kamu salah memanfaatkan kecerdasanmu. 
pada titik itu, kamu tidak cerdas.

tapi, taukah kamu siapa yang menggunakanmu sebagai bahan menyalurkan kebenciannya pula?
menyalurkan kebencian tanpa harus meringkuk di dalam tahanan. malah mendapat pemberitaan, seolah berpijak pada kebenaran.

ya, itulah, orang yang seolah membelamu, padahal menerapkan standar ganda, hanya untuk memuaskan kebenciannya.

cobalah, besok kau edit foto pembela mu itu, dengan foto serupa, dengan kebencian yang sama.
lalu kita tunggu apa komentarnya.

kebencian bisa disalurkan melalui apa saja