Sunday, December 28, 2014

mari memburu dan memakan satwa liar

dalam seminggu ini menemukan beberapa perilaku tak legal
tentang satwa liar, yang sama-sama mengherankan.

dulu, berinteraksi dengan kelompok masyarakat
yang mendiami hutan, yang harus berjuang untuk lahannya.
tak boleh berladang, tak boleh berburu, atas nama tak legal.
berhadapan dengan perusahaan kayu, dilindungi pasukan bersenjata.
berjuang untuk hidup, untuk makan keluarganya.

sekarang, mendengar dan membaca 
sekelompok orang yang cerdas-cerdas kukira,
berperilaku tak legal, memburu satwa liar, dan memakannya.
yang ini juga soal berjuang, atas nama nafsunya.
mereka tau bahwa mereka melakukan hal yang melanggar aturan,
mereka tau bahwa mudah untuk mencari tau
bahwa apakah yang mereka lakukan itu merusak alam.
tapi mereka tetap lakukan, dan lalu saling mendukung,
bangga melakukan pengrusakan.

yang memburu, padahal tak sulit untuk merubah perilaku,
burulah hama sesungguhnya, bukan memburu mahluk yang langka.
jika mau dan tak malas, mudah untuk menentukan lokasi
dimana hama merajalela.
bukankah jarak tak menjadi soal?

yang memakan, lebih mudah untuk merubah nafsu selera.
bukan pula kalian akan mati atau berubah jadi bodoh
jika tak menyantap makanan berbahan mahluk langka itu.
nafsu yang dikuasai oleh syaraf usus kalian itu
jika tak mampu kalian kendalikan, maka gantilah dengan sesuatu yang bermanfaat.
masih banyak makanan nyaman lainnya disekitar
yang bisa membantu orang lain lebih bahagia.
misalnya, jadikanlah tikus-tikus kota yang kini merajalela di got-got itu
sebagai santapan harianmu.
jangan bilang itu menjijikan, karena sebenarnya saat ini pun pemikiran kalian
tentang memakan satwa liar dilindungi itu buatku menjijikan.
jadi sama-sama menjijikkan.  tak ada yang berbeda.

mohon jangan bilang "masih banyak" 
untuk menilai populasi satwa liar yang kalian makan itu.
ukuran "banyak"-mu pakai ukuran apa?
apakah karena semakin sering dan mudah mereka terlihat
lalu itu kau bilang mereka "banyak"?
atau kamu mau bilang bahwa daging mereka tersedia di pasar
dan mudah membeli, dan lalu bilang tersedia banyak di pasar, kami beli saja.
seharusnya tidak sulit untuk menganalisa mengapa "banyak" itu.
gunakan kecerdasanmu untuk mencari tau,
mengapa mereka nampak "banyak".

begini ya teman-temanku yang berpendidikan tinggi.
satwa liar itu menjadi mudah kalian temukan,
karena mereka tak lagi punya tempat hidup yang luas.
otak bodoh mereka hanya digariskan untuk bertahan hidup,
mencari makanan untuk bertahan hidup hari ini.
tempat makanan mereka habis dihajar industri penguras sumberdaya alam,
otak bodoh mereka lalu memerintahkan mereka
untuk mencari dimanapun makanan itu berada.
lalu mereka semakin mudah dilihat
karena mereka tak punya pilihan.  
karena itu pula daging mereka ada di pasar-pasar.
tidakkah otak kalian berfikir sampai titik itu?

oh ya, satu lagi mengapa mereka jadi mudah terlihat buatmu.
tak pernahkan kamu berfikir kalau bukan mereka yang pergi mendekat,
tetapi kitalah, mahluk yang katanya lebih cerdas dan ber-IQ lebih tinggi ini,
yang mendatangi mereka, memasuki rumah mereka, mendesak mereka.
kita datangi mereka di dapur mereka, lalu kita katakan mereka masih "banyak".
dimana letak logika pikir itu?

ya, domestikasi mereka sedang berjalan.
memaksa mereka untuk bunting cepat, beranak cepat,
untuk kemudian membesar cepat, supaya bisa cepat dipotong.
domestikasi itu sedang berjalan, dan satu-dua mulai berhasil.
lalu, apakah itu artinya pasokan daging mereka mencukupi untuk nafsu makan kita?
tak pernahkah kita gunakan saja sedikit otak ini untuk mencari tau
darimana pasokan daging mereka berasal?
ayolah, jangan bilang "bukan urusanku", padahal saat yang sama
liurmu menetes deras jika melihat daging mereka di atas meja makanmu.

ya, mudah memang menyalahkan para pegawai pemerintah itu,
yang konon dibayar untuk menjaga keberadaan mereka.
mudah memang bilang kalau para pegawai penjaga lingkungan itu tak becus
menjaga satwa liar agar dagingnya tak ada di pasar.
mudah memang tinggal bilang saja, tanpa mau berpikir
tanpa harus gunakan otak sekolahan itu.

jadi, entah bagaimana kita memandang keberadaan mereka,
lalu tak melihat peran mereka dengan semakin sesaknya nafas kita,
lalu kita memaki bumi yang makin renta,
padahal kita sedang mempercepat renta itu.

tidak harus sangat pintar untuk memahami hal ini, seharusnya.

[untuk mereka, pemburu dan pemakan satwa liar.  mereka yang berpendidikan tinggi]


  

Sunday, December 21, 2014

menjelang natal

hari ini tanggal duapuluh satu desember,
sebentar lagi natal tiba,
teman-temanku yang merayakannya tentu akan menyambut sukacita.
tapi tak begitu buatku,
tiap tahun makin meradang saja soal natal ini.
bukan, bukan meradang karena natalnya,
tapi meradang dengan ocehan boleh tidak boleh,
haram tidak haram, soal menyampaikan ucapan selamat natal.

entah apapun alasan dan dalil yang mereka sampaikan,
rasanya seperti hidup ini di-kotak-kotak-an,
soal kepercayaan, soal teologi, soal prinsip,
lalu dibuat sedemikian mengerikan,
padahal hanya karena ingin berbaik dengan teman,
padahal hanya ingin menyampaikan rasa turut bersuka.

seharusnya mengucapkan selamat kepada teman,
itu dengan hati lapang, karena senang teman sedang berbahagia.
takutnya, nanti aku ucapkan selamat sambil menahan amarah,
bukan pada teman yang kuberi selamat,
tapi pada perdebatan yang cenderung provokatif itu.

iyalah, mereka klaim bahwa mereka hanya menyampaikan tafsir,
tafsir mereka terhadap ayat-ayat suci dan perjalanan rasul.
tafsir.... tafsir.... dan tafsir.
iyalah, yang kita ikuti adalah para ahli agama, siapa lagi?
dengan keterbatasan pengetahuan soal apa yang tertera di dalam kitab suci,
dengan ketipisan penegtahuan soal sejarah para nabi,
maka para ahli agamalah yang kita ikuti.

tapi tidaklah bodoh sangat harus membenci kelompok lain,
hanya karena berbeda soal mempercayai apa zat tuhanmu.
bahkan tidak harus menjadi keledai 
untuk ikuti ucapan bahwa kebaikan dan cinta kasih itu dibawah 
derajat kebenaran kepercayaan.
jadi, haruskah binasakan mereka yang baik dan cinta perdamaian,
atas nama perbedaan?
lalu menyembunyikan di balik ketiak 
ayat-ayat yang membuka ruang untuk kedamaian dan kebaikan.

hari ini tanggal duapuluh satu desember,
sebentar lagi natal tiba,
teman-temanku yang merayakannya tentu akan menyambut sukacita.

foto-foto dan gambar di laptopku sedang kupilih,
untuk kujadikan kartu selamat natal,
untuk teman-temanku yang merayakan.

mudahan kartu natal ini akan berisi rasa kedamaian,
bukannya kedamaian yang disertai kemarahan. 

[menjelang natal 2014]

Tuesday, December 2, 2014

feeling negative

feeling negative,
tidak positif,
seperti tidak ada,
seperti tidak berguna.

feeling negative.