Saturday, October 31, 2015

Bahlul dan Kambing Air

Karena penyakitnya,
dokter menyarankan si Bahlul tidak makan
semua daging hewan berkaki empat,
dan menyarankan hanya konsumsi jenis binatang air.  

Lalu esoknya Bahlul membeli seekor kambing, i
a potong ke-empat kaki kambing itu hidup-hidup
dan dilemparkannya ke sungai.  

Lima menit ia biarkan kambing itu sekarat,
lalu diangkat, dimasak dan dimakan.
Begitulah kita, sedemikian rupa memanipulasi
kondisi untuk memuaskan nafsu
untuk apa yang kita sebut sebagai kebenaran.
Bahkan dengan ironi sekalipun.

[ini soal cara beribadah itu, dan soal ramai share pengumuman mundur itu]

Sunday, August 30, 2015

memilih cara yang baik; pelajaran dari para perokok GOR sempaja



tiap hari minggu, ada saja perokok yang mengepulkan asapnya di jogging track GOR sempaja, samarinda.

seperti tadi pagi, sambil menggandeng anaknya yang masih balita, pria muda berjalan santai bersama istrinya.
minggu sebelumnya, sekelompok muda belia, duduk di tepi jogging track, mengepulkan asapnya, sambil senyum gembira.  lalu seorang lelaki dewasa, berpakaian semi olahraga, sambil menelepon, mengepulkan asapnya, berdiri di pinggir lintasan.

minggu sebelumnya lagi, lelaki muda, bersama (sepertinya) pacarnya, berjalan santai, riang gembira, mengepul juga asapnya.

tidak ada larangan merokok di lintasan jogging itu.  logika pikir saja yang jalan.  bahwa mereka yang berolahraga mencari udara segar, mencari udara tak berasap.  logika saja, bahwa tidak seharusnya ada gangguan asap rokok.

setiap kali akan memulai menyapa, selalu harus tarik nafas panjang, berdoa mudahan perokok aktif itu tak naik pitam-nya.  lalu pasang senyum manis...

"selamat pagi, mas.  apakah boleh rokoknya dimatikan, mas? kasihan ini banyak yang olahraga, apalagi ada anak kecil, balita dan sepertinya tadi saya lihat ada ibu hamil juga.  mungkin bisa merokoknya di area kuliner?  terima kasih banyak, mas.  mohon maaf ya, jadi mengganggu mas yang lagi asik merokok". 

default kalimatnya nya begitulah, dan hampir tak pernah saya mendapat respon keras.  selalu membalas ramah, dan segera mematikan rokoknya.  bersyukur bisa mendapat respon begitu.

merokok di jogging track, hari minggu, di GOR Sempaja itu, tidak ada tanda larangan merokok disitu.  hanya logika saya saja yang jadi modal untuk memohon pada mereka mematikan rokoknya.  jika memang mereka bersikeras, paling juga saya sampaikan pengandaian.  jika mereka sedang makan di warung makan, lalu saya kencing di depan mereka, kira-kira mereka oke saja?  toh tak ada larangan dilarang kencing disitu.  tapi tentu etika dan logika saja yang menjadi modalnya.
tapi, mudahan tak sampailah harus saya sampaikan pengandaian itu, nanti malah jadi perkara :D

disitu saya mendapat bukti, bahwa berkomunikasi dengan cara yang baik, akan menghasilkan sesuatu yang baik.  kalau saya langsung damprat, belum tentu mereka akan mematikan rokoknya.  bisa jadi malah mereka tantang saya adu jotos. :D
berkomunikasi yang baik, memilih kata-kata yang baik, mungkin lebih menentramkan hati.  lebih nyenyak tidur, lebih damai rasanya.
tetap saja saya bisa tidak sepakat bahwa merokok di jogging track itu legal, tapi saya tidak memilih cara yang tidak baik untuk memperbaiki keadaan itu.  mudahan pilihan cara yang saya gunakan itu bisa membantu banyak orang.

disitu juga saya mendapat pelajaran, bahwa hilangnya asap rokok di jogging track GOR Sempaja itu bukan karena jasa saya, tetapi karena kebesaran hati mereka yang mematikan asap rokoknya, dan kemudian memberikan kesempatan orang lain untuk tidak menghirup asap rokoknya.  berbesar hati itu bukan tindakan yang mudah.  tersenyum setelah mematikan asap rokok itu bukan perkara gampang.  hati besarnya itu yang membuat mereka berjasa.

bagaimana dengan saya? bagaimana saya berani memilih cara yang baik untuk menumbuhkan kebaikan?  saya masih perlu belajar banyak.



Saturday, July 11, 2015

simbol-simbol (bagian dua)

lagi soal simbol,
gambar kepala babi, gambar mahluk bermata satu,
gambar garis silang, gambar berhala.

ribut sekali, panik sekali, 
seperti sembahyang menjadi tidak sah,
seperti pahala terhapus sirna dalam semalam,
hanya karena pada sajadah "ditemukan" gambar-gambar itu.

lalu aku perhatikan sajadahku,
lima semua, tak termasuk di lemari.
lalu kucari-cari simbol-simbol yang menghebohkan itu,
ya ketemulah, 
simbol bulatan yang bisa aku artikan mata dajjal,
simbol atap runcing yang bisa aku artikan sebagai rumah ibadah satu agama,
simbol mahluk yang bisa aku artikan sebagai berhala, babi, kucing dan kupu-kupu.

kalau aku bakar semua sajadah itu,
besok aku sholat langsung di atas ubin dan keramik saja,
lho, kalau di ubin dan keramik, ada pula simbol garis silang,
maka sama saja, tak akan sah sholatku.
kalau begitu besok aku bongkar saja keramik rumahku,
lalu aku semen biasa saja.
lho, hasil lantai yang disemen nanti ada bercak yang mirip wajah setan,
maka sama saja, tak bakalan Tuhan mendengarkan doa shalatku.
lalu aku harus bagaimana?  bongkar semen itu?
berlantaikan tanah? atau musti beralaskan kertas putih selebar gaban?
gimana kalau di kertas putih itu lalu muncul gambar-gambar
hasil imajinasiku sendiri?
apa perlu lalu otakku dibuang saja?
karena imajinasi itu datang dari otakku ini.

lalu aku teringat, berapa tahun silam, 
menghadiri undangan pertemuan di susteran.
masuk waktu sholat dzuhur, mesjid berkilo jauhnya di jalan raya.
lalu suster yang baik hati itu tau gelagatku,
disiapkannya kamar, entah kamar pastor atau siapa.
yang jelas itu bukan kamar kosong.

"kiblat ke arah sana, mas", kata sang suster.
ya, aku tidak bertanya, ia menyampaikan itu.
"maaf, arah kiblat tepat ke arah salib, apakah perlu saya turunkan salibnya?",
tanya suster itu lagi sambil senyum manis.
malu aku sampai ditanya begitu.

ingat lagi, kejadian lain lagi, di hulu sungai.
menginap di pastoran, saat akan makan malam.
"sudah sholat maghrib, mas?", tanya pastor kala itu.
"kiblatnya arah salib, miring kiri sedikit.  kalau salibnya mengganggu, turunkan saja",
lanjut sang pastor serius.

ingat lagi, kejadian berbeda, di kantor ibukota itu.
"mas, salibnya saya turunkan, soalnya gak enak kalau sholat 
kita menghadap salib", kata staf kantor.

lalu ingat cerita tentang percakapan dua orang berbeda agama,
yang satu islam tentunya.
tentang pertanyaan mengapa mereka yang beragama islam menyembah ka'bah.
lalu sampai pada penjelasan bahwa bukan ka'bah yang disembah,
tapi Tuhan yang tak berwujud.
lalu dianalogikan tentang kecintaan penanya pada istrinya
yang hanya dia hubungi via telepon.
lalu sampai pada kesimpulan, bahwa telepon itu hanya media,
karena cintanya pada istrinya bukan berbatas telepon.

sampai disini, 
lalu apa maksudnya heboh simbol-simbol itu?
memangnya Tuhan nongkrong di simbol-simbol itu?
memangnya selama ini menyembah simbol?
janganlah meremehkan Tuhan.

lagian, jika sholat masih terganggu dengan simbol-simbol,
lalu sebenarnya sholatnya khusu' gitu?

sebenarnya, pada apa kamu menyembah, dik?

[soal heboh simbol di sajadah itu, bikin mules]


Thursday, July 9, 2015

klorin di pembalut

"Ada sembilan merek pembalut dan tujuh pantyliner yang mengandung klorin yang bersifat racun," ujar peneliti dari YLKI, Arum Dinta, dalam siaran tertulisnya (8/7/2015). Pemicu kanker, katanya.

Lalu bermunculan reaksi. Dari produsen, bilang tidak terbukti. Dari dokter bilang tak berefek, toh tak pernah ada kasus. Dari pegiat herbal muncul penawaran produk alternatif. Banyak lagi.

Ini bukan perkara penyakit belaka. Ini menyangkut nasib bangsa ini. Perempuan (dewasa) Indonesia mana yang tak pernah pakai pembalut? Ya, pasti ada, mereka yang nun jauh di pedalaman yang terbatas aksesnya dan para aktivis kesehatan (mungkin) yang kukuh menolak pembalut berperekat itu.

Kejelasan harus segera dipublikasikan. Agar para perempuan indonesia tenang berkarya. Agar roda kegiatan negara ini berjalan sempurna. 
Silang sengketa pernyataan harus segera dihentikan, lalu segera memulai mencari titik temu.

Persoalan klorin di pembalut yang memicu kanker, lalu semua sendi kehidupan seperti berhenti. Jangan lah.


Wednesday, July 8, 2015

para penyembah simbol

rame-rame ganti sajadah
rame-rame ganti mukena
rame-rame ganti jilbab
hanya karena merasa ada simbol
yang bukan (katanya) islami.

sebenernya sedang menyembah apa, non?
saat beribadah, hatimu mengarah pada apa, non?
memgapa fokusmu pada lambang-lambang itu,
yang menurutmu mengganggu.
padahal mungkin karena yang tak fokus itu justru caramu beribadah.

tahukah kamu, caramu menghindari sajadah itu, mukena itu, jilbab itu,
malah membunuh usaha kelompok bermodal kecil,
yang ber-usaha dengan jujur.
tahukah kamu caramu itu malah mendukung pemodal besar,
yang punya mesin produksi simbol-simbol yang katamu islami,
tapi menggunakan cara yang tak islami.

sudahlah, cerdaslah sedikit jika berTuhan.
hentikan ke-lebay-an cara pandangmu
terhadap simbol-simbol itu.

Tuhan tidak berdiam dalam simbol-simbol, non.

Thursday, July 2, 2015

pelangi

lucu juga,
kelompok terbelah-belah.
akur untuk urusan politik,
tak akur urusan prinsip orientasi seksual.
lalu terpecah saling memaki.
lalu berkumpul sesama pendapat.
lalu mungkin nanti bikin partai politik.

lho??

#rainbow #religion 

Thursday, June 25, 2015

jalan baru

sebentar lagi
ada jalan baru
buat keluarga
mudahan berkah...

24 jam

lebih dari 24 jam
tidak tidur.
itu dulu, waktu Bapak sakit lalu meninggal.

barusan, sama, lebih 24 jam
tak tidur, sahur ketemu sahur,

bukan ada yang sakit
apalagi lalu meninggal.
yang ada cuma laporan organisasi
punya orang, dituliskan,
dibayar.

iya, ndak tidur lebih 24 jam,
karena uang.

apalagi?

Monday, June 22, 2015

lukman sardi

pindah keyakinan,
itu bukan urusan saya.
ini soal keyakinan,
seperti anda meyakini
jika anda lebih baik
atau lebih buruk dari saya.

istri mendiang paman saya,
tante saya itu
seorang protestan sejati
dan saya menghormatinya
seperti beliau menaruh saya
sama dengan anak-anaknya.

dulu, saya masih muda sekali
waktu mendiang paman saya
memutuskan menikah
dengan tante saya itu
dan paman memilih
menjadi protestan sebagai agamanya

bahkan semuda itu
saya sudah mengerti
bahwa keyakinan itu 
adalah hak.
walaupun seingat saya
semua orang tua yang berkumpul
naik pitamnya, lalu ingin memutuskan
tali keluarga.
ingat saya, kemudian saya berposisi
melawan mereka, 
lalu saya membela paman 
yang sebenarnya tak perlu
pembelaan saya,
karena keputusannya adalah 
keyakinannya.

jadi, keyakinan lukman sardi
bukanlah urusan saya.
buat saya, dia tetap lukman.
pemeran akhmad dahlan yang dahsyat.
pemeran lukman yang cool di the east,
dan seorang lukman sardi yang keren.

keyakinanmu tidak berarti apa-apa buatku.
juga kamu, yang membaca tulisan ini.
berkeyakinanlah dengan baik.


Saturday, June 20, 2015

bersyukur

bersyukur saja
diberi kenikmatan
masih bisa tersenyum
dibanding saudara-saudara kita
yang bahkan tersenyum pun
harus membayar mahal
dengan penderitaannya.

bersyukur saja.

Monday, June 15, 2015

soal corong mesjid itu

soal corong mesjid itu...
pernah aku tulis dulu.

biasa sajalah.

Saturday, June 13, 2015

nadya

nadya,

gadis kecil bermain bersama kawan,
lalu ditemukan tewas di selokan,
terseret arus air hujan,
jadi korban kesekian,
dari bobroknya pengelolaan lingkungan.

lalu para pejabat kota ini menundukkan kepala,
bukan untuk berduka cita,
tapi sibuk membaca,
surat edaran sang walikota,
besok harus pakai akik yang mana.

kota ini sudah gila.

Friday, June 12, 2015

angka-angka

buka amplop, nilai ujian murni.
rata-rata tujuh.
angka itu menandakan apa, anakku?

kamu bukan angka itu,
kemampuanmu bukan dinilai dengan angka itu,
hidupmu tidak dinilai dengan angka itu.

hiduplah dengan baik,
jangan mengambil hak orang lain,
tak perlu berlebihan,
jujurlah.

nanti kamu akan dengar
orang berkata bahwa kejujuran tak ada harganya,
bahwa beras tak bisa dibeli dengan kejujuran,
lalu kamu akan diajak untuk
mentertawakan kebenaran.

ketahuilah anakku, 
bahwa itulah kehidupan yang sebenarnya,
itulah soal-soal ujian yang sebenarnya,
yang jika kamu mampu menjawab dengan benar,
maka kamu akan mendapat angka yang benar, 
tapi bukan benar di hadapan gurumu, 
bukan benar di hadapan temanmu, 
bukan pula benar di hadapan teman bapak-ibumu,
tapi benar di hadapan Tuhanmu.

karena itu anakku,
tak perlu kamu pusingkan angka itu,
tak perlu kamu tundukkan kepala
hanya karena nilai teman-temanmu.
karena bukan itu nilaimu.

kamu bukan angka itu,
kemampuanmu bukan dinilai dengan angka itu,
hidupmu tidak dinilai dengan angka itu.

bapakmu ini akan tetap berkata yang sama
walau seandainya angka-angka 
di dalam amplopmu itu 
rata-rata sembilan.

[hasil ujian anakku]

Saturday, June 6, 2015

soekarno lahir di rumah sakit bersalin

soekarno lahir dimana?
jawabannya tergantung maunya penanya dan penanggap.
di blitar kata buku pelajaran.
di surabaya kata politisi.
di rumah sakit bersalin kata panduan bidan.
di pancoran kata pemerhati kucing kampung.
di cafe kata bartender.
di pub kata clubber.

kita bicara soekarno yang mana?

lalu apa pentingnya mendebatkan itu?
meluruskan sejarah, atau menurunkan presiden?
atau cuma buat gaya saja.
tolol kok ngajak-ngajak.


Tuesday, June 2, 2015

samarinda, mudahan bukan anakmu.

satu lagi anak mati
karena persoalan lingkungan
lalu tak ada tanggung jawab moral
pengelola kota ini seolah buta
buta hati nuraninya
buta tanggung jawab moralnya

semua dianggap musibah biasa
salahkan hujan, salahkan sampah,
salahkan masyarakat.
padahal tak bodoh sangat untuk paham
bahwa banjir itu sebab dari kelalaian mengelola
sebab dari tak becus jalankan tugas
yang dibayar dengan uang negara

lalu kalian pasang wajah tak bersalah
cengengesan di baliho
bilang paling peduli rakyat dan lingkungan.

mudahan bukan anakmu atau cucumu yang nanti mati
terseret arus banjir, atau tenggelam di kolam bekas tambang.

mudahan bukan.

(duka untuk Ali Setiawan, 9 tahun. Allah akan menaruhmu di tempat terbaik di sisiNya)



Monday, June 1, 2015

kopi batu drone

tiga kelompok benda itu tidak berarti apa-apa.
bukan pula kami penggila super gila
kepada kopi, batu dan drone.
ketertarikan itu bukan dari sisi kegilaan semu,
tapi dari sisi berbeda.

kopi itu bukan hanya dilihat dari rasanya
tapi sebagian teman melihat dari sejarahnya,
menciptakan generasi baru penikmat kopi.
mengupas faktor wow dari kopi-kopi itu.

batu bukan gila dipakai,
berpuluh di jari, bukan begitu.
tapi mencari kelucuan di dalamnya,
mengoleksi keajaiban alam,
bukan rata-rata batu.

drone itu kami paling lemah,
tak ada uang untuk drone asli.
memulai dengan drone kw-9
alias kelompok toys, mainan.
tapi cita-cita digantungkan tinggi,
tak main-main.
cari yang bisa dioprek,
cari yang bisa direkayasa.
nanti kami bagi ilmunya.

lalu kami ingin berbagi ilmu.
tentang apa saja.
yang paling cepat, tentang bagaimana presentasi.
sederhana gagasannya.
bagaimana bisa survive jika tak bisa menjelaskan
tentang tujuan hidup ini..

kopi, batu, drone.
bukan apa-apa,
bukan sesuatu yang akan membuat kami gila rendah.
kami pakai itu semua untuk menjadi gila,
gila tinggi, gila yang bukan seperti gila rata-rata.

kami ingin berbagi ilmu.

Monday, May 25, 2015

lalu?

Mencela sana-sini, menolong tidak.
Menyamaratakan, menolong tidak.
Pagi bilang beragam indah, sore memaki agama lain. Menolong tidak.

Kutu kupret!
Lalu?

Monday, April 27, 2015

pesta bikini usai UN

pesta bikini usai UN.
baru heboh sekarang setelah dua tahun
lalu semua pejabat angkat bicara
mengaku kecolongan tak kasat mata
kalian kemana saja selama ini?
preet!

Friday, April 10, 2015

kartu-kartu penting

Ini soal kehilangan dompet beserta isinya
3 april  2015, selagi jalan pagi bersama beberapa kawan
di kampus universitas mulawarman, samarinda.
Parkir dekat "jembatan gantung" gelatik itu.
Tak aman disitu.

Sang pencuri mencongkel jok sepeda motor
menggondol satu-satunya jaket 
dan dompet di dalamnya.
Seorang kawan yang sepeda motornya diparkir bersebelahan
malah kehilangan handphone juga
yang disimpan dalam jok motornya,
sang pencuri lagi beruntung.

Kartu-kartu penting melayang,
ktp, sim a, sim c, stnk, kartu asuransi, kartu askes
ya, tentu dompet ada uangnya, tak seberapa isinya
bukan pula tak penting uangnya
apalagi dalam situasi paceklik macam gini, 
hahaha...

Sebenarnya, nulis ini karena ingin sharing saja,
bahwa kehati-hatian itu perlu, 
dan yang utama adalah proses sesudah kehilangan itu.
Ya, setelah ini akan ditulis proses yang telah dilalui
untuk mendapat dokumen pengganti.

Mulai dengan ktp:
Pagi setelah kehilangan, lalu berkunjung ke rumah pak rt
untuk minta surat pengantar untuk urusan-urusan ini.
penting bawa kartu keluarga, 
karena pak rt disini rajin bertanya soal kartu keluarga.
(Saran saja, supaya membuat semacam surat pernyataan
yang isinya menerangkan soal kehilangan
barang apa saja yang ada di dalam dompet
lengkap dengan nomor kartu atau informasi spesifik lainnya.
Gunanya, supaya tidak perlu selalu menjelaskan apa isi dompet,
karena kecenderungannya pertanyaan itu muncul selalu).
Di rumah pak rt, tidak panjang urusan, tidak pula pak rt minta bayaran
surat keterangan diberikan.
Tanggal 3 april 2015 itu libur, sabtu instansi pemerintah tak buka, apalagi minggu.
karena itu, hanya kantor polisi yang bisa didatangi, 
untuk bikin surat kehilangan.

Membuat surat kehilangan di kantor polisi:
Diputuskan untuk melapor kehilangan di kantor polisi samarinda utara.
petugas jaga hanya sendiri dan nampak sibuk dengan tumpukan kertas.
kalimat pertama yang keluar dari petugas adalah
"Harus membawa surat pengantar atau keterangan dari instansi atau kantor
yang mengeluarkan kartu/dokumen yang hilang".
Lalu dijelaskan oleh petugas itu, bahwa polisi hanya dapat membuat
laporan kehilangan berdasarkan surat keterangan/pengantar itu.
Termasuk tak bisa pula sim dan stnk.
Artinya, pupus harapan sudah.
Tetapi, petugas rupanya iba juga melihat lelaki botak yang berwajah lesu ini.
akhirnya keluar juga satu surat kehilangan,
"hanya untuk membuat ktp, dan harus ke kelurahan sebelum ke kecamatan"
begitu pesan petugas itu.  
Baik sekali beliau.

Setelah timbang-timbang, urusan KTP ditaruh urutan belakang,
karena bakal rumit kalau urusan lainnya ditanya mana KTP.
Jadi surat lapor hilang KTP dari polisi, fotocopy KTP yang hilang,
kartu keluarga, semua dibawa kesana-kemari.
Lalu memutuskan untuk urus penggantian sim a dan sim c dulu.

Membuat penggantian sim a dan sim c:
Harus lebih dulu datang ke "loket 7" polresta samarinda
untuk meminta nomor database sim yang hilang.
(ini ditandai dengan surat dengan ukuran setengah kwarto
yang berisi informasi sim yang hilang itu).
Modalnya tentunya fotocopy sim yang hilang itu.
Agak aneh, tapi itulah gunanya toko fotocopy.
(Pesan pentingnya: fotocopy semua dokumen/kartu penting anda
dan simpan fotocopy-nya di tempat yang aman).
Setelah mendapat nomor database sim a dan sim c, 
lalu membuat (lagi) surat lapor kehilangan di kantor polisi terdekat,
hanya saja kali ini khusus untuk sim a dan sim c.
Proses tidak rumit, hanya menunjukkan surat nomor database itu
(jangan lupa, fotocopy dulu 1 lembar).  Dan perlu bermodalkan fotocopy KTP
atau surat hilang KTP.
Setelah mendapat surat keterangan hilang sim a dan sim c, lalu menuju ke bagian pembuatan sim di Polresta Samarinda.
Karena belum ada pas photo dan surat kesehatan, Petugas lalu menyarankan untuk mengajukan proses pembuatan sim
di sim corner di mall samarinda square, karena dekat dengan domisili.
Setelah bikin foto diri, lalu bergegas ke sim corner Samarinda Square.
Syarat yang diperlukan cuma surat lapor hilang SIM A dan SIM C, 
fotocopy KTP, 3 lembar pas photo ukuran 3x4.  Satu persyaratan yang tidak diminta 
adalah surat kesehatan.  Entah mengapa.
Setelah isi formulir, tunggu panggilan foto, bayar Rp. 250.000,- 
lalu selesai, SIM A dan SIM C ditangan.
Tanggal 3 hilang, tanggal 4 sudah dapat pengganti.  Cepat juga.

Membuat penggantian STNK:
Mulai dengan "check fisik" kendaraan di Samsat M Yamin.
Langsung di lantai dasar, bermodalkan fotocopy BPKB, 
fotocopy STNK yang hilang (lagi-lagi ini pentingnya toko fotocopy),
fotocopy KTP.
Selesai check fisik (yaitu mencocokkan nomor rangka dan nomor mesin 
dengan BPKB), lalu diarahkan untuk "membuat iklan kehilangan"
di salah satu koran lokal, seorang (yang katanya) karyawan koran lokal
duduk manis di pojok gedung.  Iklan ini senilai Rp. 50.000,-.
Petugas akan memberikan surat pernyataan yang harus diisi dengan 
detail informasi kendaraan dan kehilangan, isi dan tandatangani, bermaterai.
Lalu bawa semua dokumen ke Polresta Samarinda bagian Urusan Tilang,
saat itu lokasinya di lantai 3.  Ini maksudnya dilakukan pengecekan nomor STNK
dengan database.  Sepertinya juga dengan database kehilangan.
Selesai, lalu bawa ke kantor polisi terdekat untuk 
membuat surat kehilangan STNK.  Jangan lupa, fotocopy dulu.
Setelah mendapat surat laporan kehilangan STNK dari kepolisian,
silahkan bergegas kembali ke kantor Samsat untuk mengurus penggantian STNK.
Di Samsat, serahkan dokumen-dokumen ke bagian arsip (di lantai dasar saat itu),
untuk mendapatkan "nomor berkas", lalu ambil nomor antrian.
Pada loket pertama, ada biaya Rp. 50.000,- untuk "pendaftaran", begitu kata petugas.
Tapi di depan loket hanya ada tulisan "blanko STNK Motor: Rp. 50.000,-".
Tidak ada tanda terima untuk ini (update: bakal muncul keterangan biaya ini di lembar STNK)
Panggilan kedua dari loket kasir (ini dihandle oleh Bankaltim sepertinya) soal 
pajak tahunan.  Jika tidak ada pajak kendaraan yang tertanggung, maka
tidak bayar apapun.
Panggilan selanjutnya, pengampilan STNK baru, dengan stempel "duplikat".
STNK yang baru diterima tidak berselimutkan plastik (yang berlogo Polri) itu.
Kalau tidak ada plastik cadangan, bisa beli koperasi di lantai dasar 
seharga Rp. 2.000,-.  Tidak, saya tidak salah tulis, ya.. Rp. 2.000,- :)
Waktu yang diperlukan untuk urusan STNK ini jika lancar maka 
diperlukan waktu sehari penuh.  Total biaya yang dikeluarkan 
(diluar pajak kendaraan - jika ada) sebesar Rp. 52.000,- 
diluar fotocopy berkas-berkas.

Urusan KTP (lagi):
Bawa pengantar RT, fotocopy kartu keluarga, fotocopy KTP yang hilang
dan 3 lembar foto ukuran 3x4 ke kelurahan.  
Petugas akan memberi surat pengantar untuk
membuat surat kehilangan KTP ke kantor polisi (jadi prosedur yang benar
adalah: RT-Kelurahan-Kantor Polisi-Kecamatan).
Dalam kasus saya, petugas polisi berbaik hati membuatkan 
surat kehilangan KTP tanpa pengantar kelurahan.  Tapi jangan salah,
surat pengantar kelurahan tetap diperlukan nanti di kecamatan.
Jadi, tetap perlu ke kelurahan.
Dari kelurahan, lalu membuat surat kehilangan KTP ke kantor polisi.
Bawa semua berkas ke kantor Kecamatan, dan selesai.
Selesai itu maksudnya silahkan menunggu seminggu atau lebih.
Menurut seorang teman yang kerja di kecamatan, diperlukan 
waktu seminggu untuk dapat penggantian KTP (eKTP, bukan SIAK)
karena Kota Samarinda ini punya mesin cetak eKTP yang terbatas.
Kecamatan Samarinda Utara dimana saya berdomisili hanya
mendapat giliran cetak setiap Rabu, dan terbatas sebanyak 50 eKTP.
Setidaknya itu kata teman saya.
Jadi, supaya anda tidak ditangkap satpol PP saat urusan penggantian eKTP ini,
saya sarankan selalu bawa KTP sementara yang dikeluarkan kelurahan.
Juga, selalu bawa fotocopy surat kehilangan KTP dari kepolisian.

Bisa hasilnya, untuk urusan SIM A, SIM C dan STNK hanya perlu satu hari,
sedangkan untuk urusan penggantian KTP, anda perlu setidaknya 8 hari.

Jadi, mengurus penggantian kehilangan kartu-kartu penting bukanlah hal yang sulit.
Yang diperlukan cuma kesabaran dan waktu.  Soal waktu, itu karena lokasi kantor-kantor
yang lumayan jarak tempuhnya, juga antrian.  Soal kesabaran, ini diperlukan untuk
menghadapi petugas-petugas yang macam-macam karakternya.
Kalau berharap mendapat pelayanan ramah di 
instansi-instansi yang saya sebutkan di atas, sebaiknya lupakan untuk berharap.
Mengurus kehilangan, itu artinya anda yang butuh mereka.
Menyebalkan? begitulah potret pelayanan publik kita :)
Setidaknya ada perbaikan pada berkurangnya pungutan-pungutan liar lah.
Satu lagi, ada hal biasa yang selalu digolongkan menjadi force-majeure dan 
menjadi alasan ampuh untuk berhenti melayani, yaitu padam listrik!
Samarinda padam listrik? emangnya pernah gak padam? :)

Begitulah, semoga tulisan ini bisa membantu anda bersiap-siap
jika kehilangan kartu-kartu penting.
Satu hal, saya memisahkan dompet kartu-kartu bank (kartu kredit & ATM).
Sehigga saya tidak harus berhadapan dengan prosedur bank yang 
konon katanya lebih rumit.

Semoga bermanfaat.

(ah, saya belum urus kartu NPWP yang hilang)
    





Saturday, March 28, 2015

soal suka tak suka

apakah ada gunanya menuliskan kalimat mengejek, menghujat, merendahkan presiden di sosial media? rasanya tak ada,  kecuali berbangga hati supaya dikira vokal, bahwa berbeda.

terlebih sindir-sindir pemilihnya, bahwa memilih orang yang salah, mengejek kejadian yang dianggap aib negeri ini.
apa gunanya?

saya bukan pendukung fanatik presiden terpilih, bukan pula golongan penjilat pantat dominator. saya (setidaknya merasa) menjadi golongan yang ingin agar perubahan membaik pada negeri ini.

para pengejek itu, bahkan mengejek pula upaya pemusnahan korupsi di negeri ini. entah apa di balik otak dungu mereka. yang selalu berkata "tak mungkin korupsi dihapuskan, sudah mendarah daging". mendarah daging mbahmu!

lalu ada pula pegawai-pegawai pemerintah yang sok vokal, sok pasang status kritis, padahal kamuflase hanya karena kehilangan penghasilan haram mereka. bukannya bertobat dan bersyukur terhindar api neraka.

barisan pengusaha itu, sama saja, mereka yang terbiasa korup, suap pegawai pemerintah demi uang haram proyek itu, sekarang tampil vokal. menghujat pemerintah, entah apa motifnya.

Apa gunanya pasang kalimat hinaan di sosial media? entahlah, mungkin mau menunjukkan bahwa mereka berani, berani kritik pemerintah. karena memang tak ada represi sekarang. dulu, tak bakalan hidungmu kau perlihatkan, tak bakalan kamu berani berkata melawan. berani saat ini karena yang kau umpat tak represif. keberanian seorang pengecut!

harusnya, tunjukkan keberanian kamu dengan memperbaiki negeri ini. jangan kau tuhankan itu perilaku korup.
jangan kau menghamba pada tipu-menipu proyek.
jangan kau menangisi kemiskinanmu karena harta halalmu hanya sedikit.

kamu masih bisa membangun negeri ini tanpa harus menhambil hak orang lain!

ayolah!

Sunday, March 22, 2015

mengapa

tetiba saja kegusaran meruak,
tentang begal
tentang saving mr bank
tentang pagar
tentang pns korup yang sok kritis
tentang kemalasan
tentang pekerjaan
tentang socmed
tentang orang-orang kampus
mengapa....?

Thursday, March 5, 2015

ilmu yang dalam

ilmu yang dalam
diterapkan dengan dangkal
hanyalah kedangkalan didapat
tetap merasa dalam
karena meyakini dalam

ini soal keyakinan
yang mematikan keyakinan lainnya
lalu memanfaatkan bangkainya, 
menjijikan.

ilmu itu dalam,
kedangkalan pikir yang merusaknya

entahlah...

Wednesday, March 4, 2015

jualan buku

Jualan buku berapa untungnya, mas? Pertanyaan itu saya dengar saat menyerahkan buku Anak Bukan Kertas Kosong (ABKK). Si penanya membeli buku itu.  Tak salah memang, karena pada mereka berlaku jual-beli itu ada untungnya. Lalu untuk apa jual beli tanpa untung?

Jual buku ABKK (atau lebih tepatnya jadi agen buku untuk kota Samarinda), dimulai saat saya baca resensi singkat buku ini. Sesuatu yang tidak biasa melintas di pikiran. Lalu mengontak Mas Bukik, penulis yang kebetulan saya kenal itu.  Saat pesan buku, langsung pesan 4 buah, karena pikiran yang tak biasa itu tadi. Ingin berbagi saja, membeli buat teman-teman yang sepertinya punya pemikiran yang sama soal pendidikan anak-anak.
Saat posting di dinding facebook, beberapa kawan mengomentari dan tertarik. Lalu pesan kedua, dan ditawari menjadi agen buku ini.  Girang, bukan karena soal nilai nominalnya, tapi entahlah, ada sesuatu yang berbeda saja. Seperti ada suara "ini waktunya kami berbagi!".  Isi buku ini yang membuat saya girang sepertinya.

Buku ini seperti pintu buat saya, yang terbuka dan bersuara "disini pemikiranmu disetujui dan dituliskan". Lalu saya bersemangat berbagi.

Jadi, kembali ke soal pertanyaan untungnya menjual buku ini, ya tentu saja  ada untungnya. Dapat diskon 25%. Atau mudahnya, jual 10 buku dapet 1 buku gratis. Tapi, keuntungan yang jauh lebih besar buat saya adalah menyebarnya gagasan dan pemikiran soal yang saya setujui, bahwa anak bukanlah kertas kosong itu. Itu keuntungan yang sungguh  berlipat, jauh dari sekedar potongan 25% itu.

Entahlah, saya sedang berpikir tentang sesuatu yang berbeda. Ya, mungkin soal merubah jalan pekerjaan saya.  Dan itu karena buku Anak Bukan Kertas Kosong. Kita lihat saja nanti :)


Monday, January 5, 2015

apa hubungan antara @TelkomCare dan @pln_123 di Samarinda?

Saya merasa perlu menuliskan ini, hanya untuk memudahkan untuk menjelaskan pada semua kawan, maupun rekan-rekan yang bertugas di @telkomcare dan @pln_123 mengapa saya sering mention kedua layanan ini beruntun, bahkan bisa 3-4 kali sehari :)

Untuk mereka yang belum familiar dengan twitter ini, saya kasih informasi singkat saja bahwa @telkomcare adalah twitter milik PT Telkom untuk layanan produk-produk Telkom. Saya kontak/mention mereka jika saya punya masalah dengan koneksi Speedy.
Sedangkan @pln_123 adalah layanan pelanggan yang dimiliki oleh PT PLN.  Saya mention akun ini saat aliran PLN di rumah saya padam.
Kedua akun twitter ini sangat responsif, artinya sangat cepat merespon jika ada pelanggan yang mention mereka.

Untuk kasus saya, menjadi sedikit unik.  Karena hubungan kedua akun ini yang di-perantara-i oleh type koneksi speedy saya.  Ceritanya begini.... : 
Saya berdomisili di Sempaja Selatan (yang katanya nanti jadi Sempaja Timur), itu nama satu wilayah di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.  Dengan layanan paket Speedy 3Mbps (yang sebelumnya 512kbps).  Sayangnya, paket yang baru ini sangat tergantung dengan aliran listrik PLN.  Dan repotnya lagi, di wilayah saya (dan sebagian besar Samarinda), padam listrik adalah hal yang amat-sangat sering terjadi.  Kalau 1-2 kali padam perminggu itu sudah "ganas" untuk kota-kota di pusat Pulau Jawa, maka bisa dibayangkan padam listrik di wilayah saya 1-2 kali padam itu hampir mendekati perhari.  Sangat amat jarang wilayah saya bebas padam listrik dalam 7 hari.  Penyebabnya, entahlah.

Nah, kembali ke paket speedy yang baru ini, selalu saja setelah padam listrik PLN berlalu, kecepatan koneksi speedy kembali pada paket lama, yaitu 512kbps, dan ini ternyata bukan perkara modem speedy saya, atau mikrotiknya.  Ini benar benar perkara yang butuh bantuan dari @telkomcare untuk apa yang mereka sebut "refresh jaringan", untuk mengembalikan koneksi speedy saya menjadi paket 3Mbps.
Sedemikian seringnya padam listrik, sedemikian sering pula saya mention @telkomcare untuk bantu "refresh jaringan".  Syukurnya, para officer di @telkomcare kelihatannya cukup sabar melayani mention saya yang rutin bak minum obat 3x sehari itu :)
Walaupun tingkat kesuksesan bantuan @telkomcare ini tidak 100%, tetapi jelas saya terbantu untuk mempercepat pulihnya kecepatan koneksi saya.  Saya bilang tidak 100% itu maksudnya kadangkala tidak seketika itu pula kecepatan speedy saya pulih menjadi 3Mbps. Kadangkala setelah beberapa kali berbalas mention (biasanya: silahkan matikan modem 2-20 menit, ganti DNS, apakah suara telepon kemrosok, apakah digunakan lebih dari 1 PC, dll, sampe hafal saya..), para petugas @telkomcare ini kmudian akhirnya "menyerah" dan kata terakhir adalah "sudah kami laporkan, silahkan tunggu maksimal 3x24 jam".  
Kalau sudah terima kalimat itu, saya hanya bisa pasrah menunggu.  Biasanya besoknya baru kecepatan speedy saya pulih kembali.  Beberapa kali malah saya twitt ulang setelah 1x24 jam, dan tetap pula operator @telkomcare membantu melayani.  Syukurlah :)

Jadi, begitulah bagaimana PLN yang kerap padam di wilayah saya ini, membuat saya "semakin akrab" dengan para operator @telkomcare.  Tapi, tentu tidak lantas saya senang dengan kondisi ini.  Soalnya, walaupun saya dilayani dengan baik oleh @telkomcare, lha kalo saya senang, apa maksudnya saya tidak berharap agar PLN tidak memperbaiki kualitas jaringan di Samarinda ini? kan enggak begitu :)

Mudahan PLN di Samarinda ini cepet sembuh dari penyakit padam tak berkesudahan, supaya saya tidak terlalu merepotkan para operator @telkomcare (dan mungkin teknisi 147)....

Begitulah.



Thursday, January 1, 2015

2015

2015 hanya angka, bukan ideologi.
Mengganti angka 2014 menjadi angka 2015 belaka.
Tak perlulah meradang karenanya.

Seperti mengganti kata Minggu menjadi Senin, yang seringkali disertai desir keengganan, karena Senin harus bekerja.
Seperti mengganti kata Kamis menjadi Jum'at, yang seringkali disertai dengan rasa agamis, karena biasanya hanya pada Jum'at ingat pada ibadah.

Negeri ini berisi warna beragam, bung. Isinya beragam. Bukan cuma warnamu belaka. Bukan pula cuma warna yang ingin kau lihat saja. Janganlah meradang karenanya.
Kau seperti penguasa jagat raya saja, ingin agar mereka yang berbeda dengan keyakinanmu itu punah, lalu kaum-mu yang abadi. Jangan meradang, bung. Kitab sucimu bilang apa? 
Ya, bukan cuma ayat-ayat yang ingin kau lihat saja, buka matamu untuk ayat-ayat lainnya. Bukankah kitab sucimu itu bukan cuma sepenggal ayat?

Negeri ini isinya beragam, bung.
Mengingatkan boleh, memaki sambil mengutuk, jangan. Karena keberagaman itu ciptaan Tuhan, bung. Ya, ciptaan Tuhan. Masih ingat kau punya Tuhan, bung?

Entah apapun yang terjadi di muka bumi ini, didalamnya ada keragaman. Dari Gaza sampai tragedi QZ 8501, ada beragam warna di dalamnya. Ada beragam keyakinan di dalamnya. Lalu, mengapa kau hanya melihat apa yang ingin kau lihat?

Kebencianmu, yang kau bungkus dengan kalimat-kalimat berayat itu, kau lepaskan dengan standar ganda.
Kau maki orang yang tersenyum pada pergantian angka, dengan seolah-olah syahdu. Kau bilang itu bukan kepercayaanmu. Sambil kau teriakkan pada laman yang tak mau kau lihat bahwa itu karya orang yang benci keyakinannya.  
Kau teriakkan keyakinanmu lantang, dari gadgetmu yang lagi-lagi karya orang-orang yang kau benci keyakinannya. Kau pakai standar ganda, bung.
Teriakanmu tak sebanding sumringahmu waktu kau memilih cat rumahmu yang berasal dari karya orang-orang yang keyakinannya kau benci, hanya karena berbeda denganmu.

Negeri ini berisi warna beragam, bung. Isinya beragam. Bukan cuma warnamu belaka. Bukan pula cuma warna yang ingin kau lihat saja. Janganlah meradang karenanya.

Selamat menjalani 2015, bung. Jangan terlalu sering membenci. Kau ingat kata gurumu, kalau benci itu penyakit hati, lalu nanti cepat mati.

Buka mata, bung.

[untuk mereka yang memaki sambil menikmati karya orang yang mereka maki; 1 januari 2015]