Monday, January 5, 2015

apa hubungan antara @TelkomCare dan @pln_123 di Samarinda?

Saya merasa perlu menuliskan ini, hanya untuk memudahkan untuk menjelaskan pada semua kawan, maupun rekan-rekan yang bertugas di @telkomcare dan @pln_123 mengapa saya sering mention kedua layanan ini beruntun, bahkan bisa 3-4 kali sehari :)

Untuk mereka yang belum familiar dengan twitter ini, saya kasih informasi singkat saja bahwa @telkomcare adalah twitter milik PT Telkom untuk layanan produk-produk Telkom. Saya kontak/mention mereka jika saya punya masalah dengan koneksi Speedy.
Sedangkan @pln_123 adalah layanan pelanggan yang dimiliki oleh PT PLN.  Saya mention akun ini saat aliran PLN di rumah saya padam.
Kedua akun twitter ini sangat responsif, artinya sangat cepat merespon jika ada pelanggan yang mention mereka.

Untuk kasus saya, menjadi sedikit unik.  Karena hubungan kedua akun ini yang di-perantara-i oleh type koneksi speedy saya.  Ceritanya begini.... : 
Saya berdomisili di Sempaja Selatan (yang katanya nanti jadi Sempaja Timur), itu nama satu wilayah di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.  Dengan layanan paket Speedy 3Mbps (yang sebelumnya 512kbps).  Sayangnya, paket yang baru ini sangat tergantung dengan aliran listrik PLN.  Dan repotnya lagi, di wilayah saya (dan sebagian besar Samarinda), padam listrik adalah hal yang amat-sangat sering terjadi.  Kalau 1-2 kali padam perminggu itu sudah "ganas" untuk kota-kota di pusat Pulau Jawa, maka bisa dibayangkan padam listrik di wilayah saya 1-2 kali padam itu hampir mendekati perhari.  Sangat amat jarang wilayah saya bebas padam listrik dalam 7 hari.  Penyebabnya, entahlah.

Nah, kembali ke paket speedy yang baru ini, selalu saja setelah padam listrik PLN berlalu, kecepatan koneksi speedy kembali pada paket lama, yaitu 512kbps, dan ini ternyata bukan perkara modem speedy saya, atau mikrotiknya.  Ini benar benar perkara yang butuh bantuan dari @telkomcare untuk apa yang mereka sebut "refresh jaringan", untuk mengembalikan koneksi speedy saya menjadi paket 3Mbps.
Sedemikian seringnya padam listrik, sedemikian sering pula saya mention @telkomcare untuk bantu "refresh jaringan".  Syukurnya, para officer di @telkomcare kelihatannya cukup sabar melayani mention saya yang rutin bak minum obat 3x sehari itu :)
Walaupun tingkat kesuksesan bantuan @telkomcare ini tidak 100%, tetapi jelas saya terbantu untuk mempercepat pulihnya kecepatan koneksi saya.  Saya bilang tidak 100% itu maksudnya kadangkala tidak seketika itu pula kecepatan speedy saya pulih menjadi 3Mbps. Kadangkala setelah beberapa kali berbalas mention (biasanya: silahkan matikan modem 2-20 menit, ganti DNS, apakah suara telepon kemrosok, apakah digunakan lebih dari 1 PC, dll, sampe hafal saya..), para petugas @telkomcare ini kmudian akhirnya "menyerah" dan kata terakhir adalah "sudah kami laporkan, silahkan tunggu maksimal 3x24 jam".  
Kalau sudah terima kalimat itu, saya hanya bisa pasrah menunggu.  Biasanya besoknya baru kecepatan speedy saya pulih kembali.  Beberapa kali malah saya twitt ulang setelah 1x24 jam, dan tetap pula operator @telkomcare membantu melayani.  Syukurlah :)

Jadi, begitulah bagaimana PLN yang kerap padam di wilayah saya ini, membuat saya "semakin akrab" dengan para operator @telkomcare.  Tapi, tentu tidak lantas saya senang dengan kondisi ini.  Soalnya, walaupun saya dilayani dengan baik oleh @telkomcare, lha kalo saya senang, apa maksudnya saya tidak berharap agar PLN tidak memperbaiki kualitas jaringan di Samarinda ini? kan enggak begitu :)

Mudahan PLN di Samarinda ini cepet sembuh dari penyakit padam tak berkesudahan, supaya saya tidak terlalu merepotkan para operator @telkomcare (dan mungkin teknisi 147)....

Begitulah.



Thursday, January 1, 2015

2015

2015 hanya angka, bukan ideologi.
Mengganti angka 2014 menjadi angka 2015 belaka.
Tak perlulah meradang karenanya.

Seperti mengganti kata Minggu menjadi Senin, yang seringkali disertai desir keengganan, karena Senin harus bekerja.
Seperti mengganti kata Kamis menjadi Jum'at, yang seringkali disertai dengan rasa agamis, karena biasanya hanya pada Jum'at ingat pada ibadah.

Negeri ini berisi warna beragam, bung. Isinya beragam. Bukan cuma warnamu belaka. Bukan pula cuma warna yang ingin kau lihat saja. Janganlah meradang karenanya.
Kau seperti penguasa jagat raya saja, ingin agar mereka yang berbeda dengan keyakinanmu itu punah, lalu kaum-mu yang abadi. Jangan meradang, bung. Kitab sucimu bilang apa? 
Ya, bukan cuma ayat-ayat yang ingin kau lihat saja, buka matamu untuk ayat-ayat lainnya. Bukankah kitab sucimu itu bukan cuma sepenggal ayat?

Negeri ini isinya beragam, bung.
Mengingatkan boleh, memaki sambil mengutuk, jangan. Karena keberagaman itu ciptaan Tuhan, bung. Ya, ciptaan Tuhan. Masih ingat kau punya Tuhan, bung?

Entah apapun yang terjadi di muka bumi ini, didalamnya ada keragaman. Dari Gaza sampai tragedi QZ 8501, ada beragam warna di dalamnya. Ada beragam keyakinan di dalamnya. Lalu, mengapa kau hanya melihat apa yang ingin kau lihat?

Kebencianmu, yang kau bungkus dengan kalimat-kalimat berayat itu, kau lepaskan dengan standar ganda.
Kau maki orang yang tersenyum pada pergantian angka, dengan seolah-olah syahdu. Kau bilang itu bukan kepercayaanmu. Sambil kau teriakkan pada laman yang tak mau kau lihat bahwa itu karya orang yang benci keyakinannya.  
Kau teriakkan keyakinanmu lantang, dari gadgetmu yang lagi-lagi karya orang-orang yang kau benci keyakinannya. Kau pakai standar ganda, bung.
Teriakanmu tak sebanding sumringahmu waktu kau memilih cat rumahmu yang berasal dari karya orang-orang yang keyakinannya kau benci, hanya karena berbeda denganmu.

Negeri ini berisi warna beragam, bung. Isinya beragam. Bukan cuma warnamu belaka. Bukan pula cuma warna yang ingin kau lihat saja. Janganlah meradang karenanya.

Selamat menjalani 2015, bung. Jangan terlalu sering membenci. Kau ingat kata gurumu, kalau benci itu penyakit hati, lalu nanti cepat mati.

Buka mata, bung.

[untuk mereka yang memaki sambil menikmati karya orang yang mereka maki; 1 januari 2015]