Saturday, March 28, 2015

soal suka tak suka

apakah ada gunanya menuliskan kalimat mengejek, menghujat, merendahkan presiden di sosial media? rasanya tak ada,  kecuali berbangga hati supaya dikira vokal, bahwa berbeda.

terlebih sindir-sindir pemilihnya, bahwa memilih orang yang salah, mengejek kejadian yang dianggap aib negeri ini.
apa gunanya?

saya bukan pendukung fanatik presiden terpilih, bukan pula golongan penjilat pantat dominator. saya (setidaknya merasa) menjadi golongan yang ingin agar perubahan membaik pada negeri ini.

para pengejek itu, bahkan mengejek pula upaya pemusnahan korupsi di negeri ini. entah apa di balik otak dungu mereka. yang selalu berkata "tak mungkin korupsi dihapuskan, sudah mendarah daging". mendarah daging mbahmu!

lalu ada pula pegawai-pegawai pemerintah yang sok vokal, sok pasang status kritis, padahal kamuflase hanya karena kehilangan penghasilan haram mereka. bukannya bertobat dan bersyukur terhindar api neraka.

barisan pengusaha itu, sama saja, mereka yang terbiasa korup, suap pegawai pemerintah demi uang haram proyek itu, sekarang tampil vokal. menghujat pemerintah, entah apa motifnya.

Apa gunanya pasang kalimat hinaan di sosial media? entahlah, mungkin mau menunjukkan bahwa mereka berani, berani kritik pemerintah. karena memang tak ada represi sekarang. dulu, tak bakalan hidungmu kau perlihatkan, tak bakalan kamu berani berkata melawan. berani saat ini karena yang kau umpat tak represif. keberanian seorang pengecut!

harusnya, tunjukkan keberanian kamu dengan memperbaiki negeri ini. jangan kau tuhankan itu perilaku korup.
jangan kau menghamba pada tipu-menipu proyek.
jangan kau menangisi kemiskinanmu karena harta halalmu hanya sedikit.

kamu masih bisa membangun negeri ini tanpa harus menhambil hak orang lain!

ayolah!

Sunday, March 22, 2015

mengapa

tetiba saja kegusaran meruak,
tentang begal
tentang saving mr bank
tentang pagar
tentang pns korup yang sok kritis
tentang kemalasan
tentang pekerjaan
tentang socmed
tentang orang-orang kampus
mengapa....?

Thursday, March 5, 2015

ilmu yang dalam

ilmu yang dalam
diterapkan dengan dangkal
hanyalah kedangkalan didapat
tetap merasa dalam
karena meyakini dalam

ini soal keyakinan
yang mematikan keyakinan lainnya
lalu memanfaatkan bangkainya, 
menjijikan.

ilmu itu dalam,
kedangkalan pikir yang merusaknya

entahlah...

Wednesday, March 4, 2015

jualan buku

Jualan buku berapa untungnya, mas? Pertanyaan itu saya dengar saat menyerahkan buku Anak Bukan Kertas Kosong (ABKK). Si penanya membeli buku itu.  Tak salah memang, karena pada mereka berlaku jual-beli itu ada untungnya. Lalu untuk apa jual beli tanpa untung?

Jual buku ABKK (atau lebih tepatnya jadi agen buku untuk kota Samarinda), dimulai saat saya baca resensi singkat buku ini. Sesuatu yang tidak biasa melintas di pikiran. Lalu mengontak Mas Bukik, penulis yang kebetulan saya kenal itu.  Saat pesan buku, langsung pesan 4 buah, karena pikiran yang tak biasa itu tadi. Ingin berbagi saja, membeli buat teman-teman yang sepertinya punya pemikiran yang sama soal pendidikan anak-anak.
Saat posting di dinding facebook, beberapa kawan mengomentari dan tertarik. Lalu pesan kedua, dan ditawari menjadi agen buku ini.  Girang, bukan karena soal nilai nominalnya, tapi entahlah, ada sesuatu yang berbeda saja. Seperti ada suara "ini waktunya kami berbagi!".  Isi buku ini yang membuat saya girang sepertinya.

Buku ini seperti pintu buat saya, yang terbuka dan bersuara "disini pemikiranmu disetujui dan dituliskan". Lalu saya bersemangat berbagi.

Jadi, kembali ke soal pertanyaan untungnya menjual buku ini, ya tentu saja  ada untungnya. Dapat diskon 25%. Atau mudahnya, jual 10 buku dapet 1 buku gratis. Tapi, keuntungan yang jauh lebih besar buat saya adalah menyebarnya gagasan dan pemikiran soal yang saya setujui, bahwa anak bukanlah kertas kosong itu. Itu keuntungan yang sungguh  berlipat, jauh dari sekedar potongan 25% itu.

Entahlah, saya sedang berpikir tentang sesuatu yang berbeda. Ya, mungkin soal merubah jalan pekerjaan saya.  Dan itu karena buku Anak Bukan Kertas Kosong. Kita lihat saja nanti :)