Sunday, August 30, 2015

memilih cara yang baik; pelajaran dari para perokok GOR sempaja



tiap hari minggu, ada saja perokok yang mengepulkan asapnya di jogging track GOR sempaja, samarinda.

seperti tadi pagi, sambil menggandeng anaknya yang masih balita, pria muda berjalan santai bersama istrinya.
minggu sebelumnya, sekelompok muda belia, duduk di tepi jogging track, mengepulkan asapnya, sambil senyum gembira.  lalu seorang lelaki dewasa, berpakaian semi olahraga, sambil menelepon, mengepulkan asapnya, berdiri di pinggir lintasan.

minggu sebelumnya lagi, lelaki muda, bersama (sepertinya) pacarnya, berjalan santai, riang gembira, mengepul juga asapnya.

tidak ada larangan merokok di lintasan jogging itu.  logika pikir saja yang jalan.  bahwa mereka yang berolahraga mencari udara segar, mencari udara tak berasap.  logika saja, bahwa tidak seharusnya ada gangguan asap rokok.

setiap kali akan memulai menyapa, selalu harus tarik nafas panjang, berdoa mudahan perokok aktif itu tak naik pitam-nya.  lalu pasang senyum manis...

"selamat pagi, mas.  apakah boleh rokoknya dimatikan, mas? kasihan ini banyak yang olahraga, apalagi ada anak kecil, balita dan sepertinya tadi saya lihat ada ibu hamil juga.  mungkin bisa merokoknya di area kuliner?  terima kasih banyak, mas.  mohon maaf ya, jadi mengganggu mas yang lagi asik merokok". 

default kalimatnya nya begitulah, dan hampir tak pernah saya mendapat respon keras.  selalu membalas ramah, dan segera mematikan rokoknya.  bersyukur bisa mendapat respon begitu.

merokok di jogging track, hari minggu, di GOR Sempaja itu, tidak ada tanda larangan merokok disitu.  hanya logika saya saja yang jadi modal untuk memohon pada mereka mematikan rokoknya.  jika memang mereka bersikeras, paling juga saya sampaikan pengandaian.  jika mereka sedang makan di warung makan, lalu saya kencing di depan mereka, kira-kira mereka oke saja?  toh tak ada larangan dilarang kencing disitu.  tapi tentu etika dan logika saja yang menjadi modalnya.
tapi, mudahan tak sampailah harus saya sampaikan pengandaian itu, nanti malah jadi perkara :D

disitu saya mendapat bukti, bahwa berkomunikasi dengan cara yang baik, akan menghasilkan sesuatu yang baik.  kalau saya langsung damprat, belum tentu mereka akan mematikan rokoknya.  bisa jadi malah mereka tantang saya adu jotos. :D
berkomunikasi yang baik, memilih kata-kata yang baik, mungkin lebih menentramkan hati.  lebih nyenyak tidur, lebih damai rasanya.
tetap saja saya bisa tidak sepakat bahwa merokok di jogging track itu legal, tapi saya tidak memilih cara yang tidak baik untuk memperbaiki keadaan itu.  mudahan pilihan cara yang saya gunakan itu bisa membantu banyak orang.

disitu juga saya mendapat pelajaran, bahwa hilangnya asap rokok di jogging track GOR Sempaja itu bukan karena jasa saya, tetapi karena kebesaran hati mereka yang mematikan asap rokoknya, dan kemudian memberikan kesempatan orang lain untuk tidak menghirup asap rokoknya.  berbesar hati itu bukan tindakan yang mudah.  tersenyum setelah mematikan asap rokok itu bukan perkara gampang.  hati besarnya itu yang membuat mereka berjasa.

bagaimana dengan saya? bagaimana saya berani memilih cara yang baik untuk menumbuhkan kebaikan?  saya masih perlu belajar banyak.