Wednesday, December 28, 2016

Sendal Jepit Kanan

sendal jepit kanan
apa artinya?
ya ndak ada
ini memang 
sendal jepit kanan
itu saja.
kok situ baper?

#saveSendalJepitKanan

Sunday, December 18, 2016

hari ke 79

sebenarnya sejak kemarin,
hari ke 78 sejak nyungsep.
masih belum ada dalam rentang 100%.
tapi gelagatnya 
sudah full belajar bisa lepas tongkat.

jadi, ini hari ke 79, 
mulai tanpa tongkat,
hanya nyeri biasa,
seperti kebas biasa.

segera bisa semua,
supaya tidak lagi merepotkan.
hari 79, kita mulai masuk fase lanjutan.



Thursday, December 8, 2016

terima kasih atas kesempatan kedua

masa sih perkembangan itu begitu pelan?
kan yang dirasa yang harusnya diukur?
nyeri sudah berkurang,
kaku sih biasa.
nunggu tidak nyeri,
nunggu tidak kaku,
trus kapan mulainya?

kemarin, 7 des 2016,
lepas tongkat, lepas walker.
setelah latihan siang.
tanpa bantuan, dua tangan bebas bergerak.
serasa kembali ke dunia nyata.

ini soal dikasih kesempatan  
untuk merasakan situasi
yang dirasakan mereka
yang terbatas melangkah.

ini soal dikasih kesempatan kedua
untuk memperbaiki perilaku
memperbaiki cara berTuhan.
kesempatan itu jarang datang berulang.

masih dikasih kesempatan berjualan.
masih dikasih kesempatan berinteraksi dengan teman.
masih dikasih peluang kerja lama.

terima kasih, akan dicoba
untuk memanfaatkan 
waktu yang tersisa.

terima kasih
atas kesempatan kedua
yang Kau berikan.

[dari kemarin, tanpa tongkat, di rumah]


Wednesday, December 7, 2016

Ampuni mereka, Ya Allah.

Tiap tulis sebaris kalimat, lalu kuhapus.
Tulis lagi, hapus lagi.

Aku kehabisan kata yang tepat 
Untuk mengutuk intoleransi itu.

Ampuni mereka, Ya Allah..

#KKRsambuga

Tuesday, December 6, 2016

A. Mustofa Bisri: "Aku Merindukanmu, O Muhammadku"

a. mustofa bisri:

AKU MERINDUKANMU, O MUHAMMADKU

Aku merindukanmu, o, Muhammadku 
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah 
Menatap mataku yang tak berdaya 
Sementara tangan-tangan perkasa                                                                                            Terus mempermainkan kelemahan 
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan 
Mencari-cari tangan 
Lembut-wibawamu 

Dari dada-dada tipis papan 
Terus kudengar suara serutan 
Derita mengiris berkepanjangan 
Dan kepongahan tingkah-meningkah 
Telingaku pun kutelengkan 
Berharap sesekali mendengar 
Merdu-menghibur suaramu 

Aku merindukanmu, o. Muhammadku 

Ribuan tangan gurita keserakahan 
Menjulur-julur kesana kemari 
Mencari mangsa memakan korban 
Melilit bumi meretas harapan 
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku 
Mencoba memanggil-manggilmu 

O, Muhammadku, O, Muhammadku! 

Dimana-mana sesama saudara 
Saling cakar berebut benar 
Sambil terus berbuat kesalahan 
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan 
Masing-masing mereka yang berkepentingan 
Aku pun meninggalkan mereka 
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku 

Aku merindukanmu, O, Muhammadku 

Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab 
Menitis ke sekian banyak umatmu 
O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu - 
bagaimana melawan gelombang kebodohan 
Dan kecongkaan yang telah tergayakan 
Bagaimana memerangi 
Umat sendiri? O, Muhammadku 

Aku merindukanmu, o, Muhammadku 

Aku sungguh merindukanmu. 

***
الصلاة والسلام عليك يا نبي الله, الصلاة والسلام عليك يا رسول الله, الصلاة والسلام عليك يا حبيب الله, الصلاة والسلام عليك يا صفي الله, الصلاة والسلام عليك يا صاحب الشفاعة .
Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaika yaa NabiyyaLlaah, Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaika yaa RasuulaLaah, Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaika yaa HabiibaLlaah, Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaika yaa ShafiyyaLlaah, Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaika yaa Shaahibasy-syafaa”ah.

***

Sunday, December 4, 2016

niatlah dengan baik

Setiap kali duduk di depan meja kerja ini, selalu tercium aroma tak sedap, asem dan bau apek. Kejengkelan muncul cepat, harus ditemukan siapa tersangka bau tak sedap ini. Setiap kali selalu check ke bawah meja, beberapa tas bertumpuk dicurigai, diendus satu-satu. Sebuah kain bekas celana yang jadi pengering kaki di depan pintu kamar mandi jadi tersangka. Tersangka lainnya adalah baju-baju bergantung yang agak jauh letaknya. Bukankah aroma bisa menyebar terbawa angin hingga jauh?

Pagi ini, usai berdoa pagi, setelah meniatkan untuk memulai hari dengan kebaikan, setelah tarik nafas tenang beberapa kali, setelah tersenyum dulu dan membuang aura kejengkelan yang hampir muncul, setelah merenung sejenak, tenang melihat sekitar, memeriksa dengan niat yang baik, akhirnya ditemukan juga sumber bau apek itu.

Kursi kerja yang telah menemani lebih dari sepuluh tahun ini memang dirasa sesuai dengan bentuk tulang punggung. Enak diduduki berjam-jam, dan bisa berputar. Memudahkan jika ingin mengambil segepok dokumen diujung kiri, mengambil hasil print di ujung kanan dan menonton tv pada arah balik meja kerja. Pokoknya nilai sempurna, tak ada cacat prestasinya. Sayangnya, kecerobohan sendiri membuat sandaran tangan kursi ini terluka terbuka, terkoyak, hingga mengurangi kenyamanan menggunakannya.  Setelah berpikir untuk mencari gantinya, akhirnya ilmu survival digunakan. Sandaran tangan yang terkoyak itu dibebat kain lembut, direkatkan sedemikian rupa, hingga nyaman digunakan. Hasilnya, sungguh menggembirakan. Kursi yang menghasilkan entah berapa puluh proposal, berapa puluh laporan, dan berapa ratus status facebook itu akhirnya kembali menjadi sempurna, setidaknya menurut diri sendiri.

Pagi ini, kursi kerja yang sempurna di hati itu, kain pelapis sandaran tangan buatan sendiri yang lembut itu, ternyata menjadi sumber aroma tak sedap, bukan karena kain menjadi lapuk, tetapi karena memang selalu digunakan untuk menyandarkan tangan yang sering berkeringat, bahkan lalu teringat sesekali menjadi lap membersihkan noda di tangan. Kursi yang selama ini menemani itu, terbukti menjadi tersangka utama, dan itu karena kain pelapis hasil kreatifitas sendiri, yang dinodai sendiri, dan tak pernah diganti.  




Lalu sebenarnya siapa penyebab munculnya aroma tak sedap itu?

Hanya menyimpulkan untuk hikmah diri sendiri. Bahwa jika berniat baik, memulai dengan doa yang baik, membuang amarah, menganalisa sambil tersenyum, itu jauh lebih efektif untuk menemukan sumber masalah yang mengganggu diri kita. Yang lebih utama lagi, kecenderungan untuk menaruh kesalahan pada mereka yang sepertinya berpotensi bersalah, selalu menguasai hati ini. Tak pernah memulai dengan introspeksi, menilai diri sendiri, melihat ke dalam, bahwa bukankah penyebab dari ketidaknyamanan itu adalah perilaku sendiri, kebiasaan buruk sendiri.  

Kain lapis sandaran tangan yang sudah berbau itu kini sudah dilepas, akan diganti dengan yang baru. Tidak dengan perasaan puas karena telah menemukan biang keresahan itu, tetapi justru dengan perasaan malu. Malu pada diri sendiri, karena ternyata telah mengorbankan mereka yang tak bersalah sebagai tersangka, malu karena menyadari bahwa sumber aroma tak sedap itu adalah perilaku sendiri. Malu pada kain pelapis sandaran tangan yang telah berjasa itu.

Biang dari semua persoalan itu adalah perilaku diri sendiri dan keangkuhan diri untuk introspeksi.

[kain pelapis sandaran tangan yang berjasa itu telah tiada, 4 Desember 2016. 6:30 pagi]

Friday, December 2, 2016

Doa tak sinkron

Aksi 212 itu mengagumkan.
Jumlah massa, dan ketulusan sebagian peserta.
Cuma, kalau doanya adalah tangkap dan penjarakan Ahok, apa bukan itu seperti perintah kepada Tuhan ya? Lha Ahoknya kan masih diproses hukum? Mosok ya Tuhan dipaksa-paksa? Apa ndak kuwalat?
Trus nanti kalau ternyata Tuhan buka takdir bahwa Ahok gak salah, pengadilan membebaskan, sampek ke MA juga dinyatakan gak salah, gimana? Apa trus nerima atau nolak? Kalo nolak, bukannya artinya melawan Tuhan?
Lha itu orasi habib di akhir acara ngajak revolusi kalo Ahok gak ditangkep. Gimana, bro?

Mbok ya doa yang fair gitu. Minta keadilan ditegakkan, minta supaya kebenaran ditunjukkan. Kan Tuhan sudah menggariskan.

Aksi 212 itu mengagumkan,
Kecuali habib yang teriak-teriak gak singkron dengan doa yang seharusnya dipanjatkan.

Aneh.

Tuesday, November 15, 2016

kita berhak atas surga

Intan Marbun, bocah 3 tahun, berpulang pada 14 November 2016, setelah sehari sebelumnya menjadi korban ledakan di depan gereja, di Samarinda.
Setuju dengan Mahfud MD, surga tempat Intan, tak ada tawar menawar.

Kesedihan melanda, sosmed bertambah gerah.
Anehnya, semua tampak bersedih, dengan cara yang berbeda-beda.
Yang memang sejak awal lantang berbicara menyatakan dengan terbuka kepedihannya.
Yang menyesali pertikaian sosmed berbicara dengan sabar tentang petaka itu.
Yang diam dalam kesedihan, mencoba mengiriman sinyal kepedihannya diam-diam.

Tapi yang lebih aneh adalah saling membaca keraguan atas apa yang dituliskan.
Tak percaya bahwa kepedihan yang dimaksudkan.
Lebih percaya bahwa tafsir kalimat yang tertuliskan adalah pemojokan.
Lalu debat panjang lebar hingga hilang rasa duka cita, berganti pertikaian, lagi.

Sedemikian percaya pada tafsir diri sendiri, lalu cepat menilai bahwa
mereka yang menulis sedikit berbeda, adalah mereka yang tetap tak bersedih,
lalu merespon dengan kegusaran.
Gusar bertemu gusar, lalu selesai.

Yang biadab sih memang para penikmat kekacauan ini.
Yang memang bersenang-senang dengan jumlah klik dari hasil hasutan.
Yang memang sengaja menggaruk rupiah dari kesimpang-siuran.
Dan kita tetap bodoh, menari dalam irama mereka.

Intan Marbun berpulang dengan tenang, diiringi kepedihan.
Menjadi saksi atas kebodohan dan keegoan kita.
Lalu kita pikir kita semua berhak atas surga,
Hanya karena kita merasa menjadi satu-satunya
penafsir yang benar atas keyakinan kita kepada Tuhan.

Tuhan Maha Adil. 






Sunday, November 6, 2016

Satire

Ini satire tingkat tinggi...


#penistaan

politik

berulang setiap kali pilka(da, pres).
sesama kawan perang komentar, perang status.
yang tidak cukup dewasa, lalu perang dingin, belum nemu teman saling hajar sih. jangan lah.
komik dari @dbkomik ini bercerita.


dewasalah, kawan.
(saat kontroversi pernyataan Ahok soal Al Maidah 51)

Tuesday, November 1, 2016

baca lengkap

ditengah kekisruhan itu
penting untuk membaca secara lengkap.
lalu berpositif hati.


Itu saja.

Monday, October 31, 2016

kereta api cenut-cenut

cenut-cenut
seperti kereta api
datangnya bikin bergetar
ternyata penyakit ini
panjang masa mengganggunya
seperti kereta api
kalau datang, bikin terpana.
dihadapi saja.

Friday, October 21, 2016

vertigo

pagi ini tetiba vertigo
berputar kencang
mual.

mungkin kebanyakan berbaring
karena pinggul ngilu 
jadi menghindari duduk

serba salah.
namanya juga sakit.
begitulah.


Monday, October 17, 2016

dikasih jatah istirahat

hampir sebulan memanfaatkan jatah istirahat.
tiduran saja, duduk sesekali.
29 september, lepas maghrib, belum maghriban.
tutup resto, bawa sampahnya, bermotor sembrono.
18.30 lah, sekitar itu, terbang di jalan pm noor, samarinda.
motor ke kanan, bersama arah engkel kaki kanan, 
badan tiarap ke kiri menyongsong kontainer 
yang jalan perlahan.
macet karena banjir, harusnya ndak perlu terburu.

perut dan tulang-tulang pinggang mengganjal roda kontainer.
seperti diduduki gajah-gajah tambun, sesak nafas.
beruntung sang sopir segera lompat menengok
gerangan apa mengganjal gerak kontainernya.
sekali tarik tuas, kontainer mundur beberapa centi.
seperti balon dilepaskan, rasanya.
setengah badan tidak terasa, dari pinggang ke bawah.
tapi ujung kaki masih terasa dingin menyentuh sesuatu.
coba bangkit, lirik sedikit, kaki kanan lurus, telapak ke kanan.
hih... tidak simetris.  oh, patah.  simpel saja, ya sudah.
kaki kiri masih ok nampaknya, hanya tak mampu bergerak.
belakangan tau, kalau patah tulang di sekitar pinggul itu penyebabnya.


(photo by Istri)

banyak orang baik saat itu,
motor diselamatkan, helm aman, tas berisi laptop dijaga,
sepasang sepatu selamat, hanya jam tangan yang memang 
terbang entah kemana.

sejenak dibaringkan di pinggir jalan,
beberapa detik, baru kenali lokasinya.
hape bergetar di saku celana, ambil, remuk redam ternyata si hape.
selesai umurnya disitu.
sesaat ingat itu jadwal madu flores merapat di dermaga balikpapan.
ah, siapa yang urus madu nanti?



seseorang muncul dari kerumunan, anak muda.
berbaik hati membantu menekan nomor telepon istri.
kasih kabar kejadian, lalu menunggu.

beberapa suara saling bersahutan,
minyak bintang, urut saja, di loa janan (itu nama satu tempat),
berusaha meminta agar ke rumah sakit saja, supaya semua lega.
lalu seseorang berlutut sambil menggenggam tangan,
ada seperti kertas di dalam genggamannya.
supir kontainer katanya waktu kutanya siapa.
berkali mengucap maaf.
kubilang, aku yang jatuh, bukan karena kontainernya.
kutolak segulung kertas yang sepertinya uang itu.

lalu muncul lagi seseorang,
dari kerumunan di sebelah kiri.
katanya tangannya patah.
oh, rupanya dengan dia bersenggolan.
saling jabat tangan saja, tak mustilah harus berpersoalan.

lagi, orang-orang baik menghentikan pickup,
meminta sopirnya mengantar ke rumah sakit,
abdul wahab syahranie.  
lalu seseorang berteriak, meminta supaya jangan bayar pickupnya.
kalau si sopir minta bayaran, hubungi dia.
bingung juga, gimana cara hubungi dia? kenal saja enggak. 

pickup bergerak, 
lagi, ada orang baik berteriak soal dompet.
kuraba, celana robek, pantesan pantat rasanya dingin,
tapi dompet masih ada.
kutarik, dan kuoper ke istri yang sudah ada di samping pickup.

sesaat sesosok tubuh melompat naik.
ah, Zidan, anakku, sambil memanggul tas ranselku.
sedih dia, sepanjang jalan melihat kakiku, 
kubilang tak apa, yang penting kepala masih bisa mikir.
perjalanan ke rumah sakit seperti lama sekali.

sampai di rumah sakit,
tidak banyak pertanyaan petugas medis.
langsung kerja cepat, diangkat, 
diperiksa, beberapa luka dibersihkan.
beberapa kali mata diperiksa, ditanya-tanya,
sepertinya untuk memastikan kesadaran.
sekuriti berdatangan, mencatat, bertanya kronologis.
tidak terlalu bertele-tele, sepertinya masuk kategori emergency.

beberapa check dilakukan,
pertanyaan soal kepala, tangan, kaki.
check lewat dubur juga dilakukan, entahlah,
mungkin untuk periksa luka dalam.

lalu masuk di kamar tunggu, bersama pasien lainnya.
lalu berdatangan wajah-wajah yang dikenal.
teman-teman semua, terhibur juga.
datang dengan pertanyaan yang serius dan becanda.
biasalah, yang jelas maksudnya pasti baik, menghibur.
beberapa minta aku berpose, siap, jempol diangkat.
tak ada gunanya pasang wajah meratap, 
tak segera sambung tulang kaki itu kalau meratap.
begitu kira-kira alasan kenapa musti pasang 
wajah senyum-senyum, sementara telapak dan dengkul
tidak simetris.
lalu seorang kawan bertanya serius, tidak sakit ya?
itu pertanyaan yang benar-benar menghibur saat itu, serius!


(photo by Om Adi Supriadi)

malam itu juga, dokter bedah tulang tiba,
menawarkan mengembalikan posisi kaki yang berlarian itu,
katanya sebentar saja, sakit sedikit saja.
kupilih bius saja, karena panas dan perihnya sudah sampai kepala.

malam itu juga, usg dilakukan, xray dilakukan, masuk ruang operasi.
bukan pasang pen, tapi dibetulkan posisi telapak kaki.
bius sebentar, seperti tertidur sejenak. selesai.
dokter bilang, ada patah, harus operasi, senin.
ingat saat itu malam jumat, lama sekali baru akan operasi.
ah, entahlah.

tak tau bagaimana kerumitan urusan adminstrasinya,
pasti istri berpeluh mengurusnya.
malam itu masuk dulu di ruang kelas 3, 
satu kamar isi 6 orang, sempit.
tak apa, tak penting, cuma kasihan istri,
tak bisa istirahat.
malam pertama itu dilalui dengan nyeri sepanjang malam.

besoknya, istri sudah sibuk mengurus bpjs.
dengar ceritanya saja sudah pusing.
ke polres, ke jasa raharja, lalu ke bpjs.
ah... 
hari itu, banyak teman menengok. sesak ruangan.
kasihan pasien lainnya.
tapi apa mau dikata, solidaritas itu nyata adanya.
hari itu, foto xray pra operasi, nampak patahan tulang jauh bergeser.
lagi, dokter bilang senin operasi. lama sekali.  sudahlah.
toh bermanfaat sambil menurunkan gula yang 300 itu.
katanya, operasi tidak akan dilakukan kalau gula masih di atas 200.
maka, insulin berbicara, 3 kali sehari, dan makan cuma seujung piring.
kurus deh.


(photo by Deena)


(photo by Ellie Hassan)


(photo by Kakak Ade "Ngerik" Fadli)

sore, pindah ruangan, setelah dapat bantuan koneksi dari dokter kenalan ibu.
sendiri, lebih besar, istri bisa istirahat dengan lebih baik.
tiga malam disitu, dilalui dengan nyeri yang teramat sangat.
pinggang tidak bisa diajak kompromi.

sabtu, dokter jantung menjenguk, ahli anastesi menjenguk,
protap untuk operasi senin.
puasa dari malam, dijadwal jam 9 pagi operasi.
pukul 10 baru bergerak ke ruang operasi.
bius lokal, tusuk di punggung, kebas dari pinggang ke bawah.
sambil operasi, ngobrol dengan dokternya,
sambil mendengar suara mesin bor,
dan terasa tempat tidur bergoyang,
tapi tak terasa apa-apa di bagian pinggang ke bawah.

baru tau saat operasi itu,
satu tulang patah juga di sekitar pinggul,
tapi tak lepas, jadi tak perlu operasi.
nanti nyambung sendiri, begitu kata dokter.
pantesan nyeri sangat.

begitulah,
delapan hari di rumah sakit, menahan nyeri di panggul.
kaki di-pen rasanya ya biasa saja,
namanya juga dibor, nyeri sedikit.
pinggul ini yang tak bisa kompromi.
gerak sedikit nyerinya banyak.

akhirnya, tiba di rumah,
tiduran saja, kencing di pispot,
BAB yang harus paksakan ke kamar mandi,
tak bisalah BAB di kasur, tak mau keluar dia.

terima kasih utamanya kepada Chef Danang, Adek Sapar, Kakak Ade "Ngerik" Fadli,
Om So'im, yang tak henti bergiliran menunggu dan membantu, mengorganisir.
Juga untuk menu ikan haruan dan sedikit rica untuk pelipur rindu.
terima kasih banyak, Tuhan akan membalas semua kebaikan itu.

khusus terima kasih buat Uwak Dadang atas bantuan pembotakannya..
ketombe itu sungguh tuntasss..



(photos by Istri)

terima kasih untuk semua teman yang telah bersimpati
sepanjang sakit, sejak di IGD, sampai di rumah.
banyak teman membantu.
entah doa, telepon semangat, transfer bantuan dana, becandaan,
kunjungan berkali-kali.  terharu.
banyak teman, banyak senyuman. kira-kira begitu.
Tuhan akan menempatkan kebaikan-kebaikan itu 
sebagai bekal kita semua.

tentunya, sulit untuk tidak bilang terima kasih untuk istri tercinta dan ibu,
yang susah payah mengurusi semuanya.  cinta itu tak berbatas.





terima kasih yang tak terhingga.

[17 oktober 2016, masih hanya berbaring, sempaja lestari indah]










Tuesday, August 9, 2016

sekolah sehari penuh

sekolah sehari penuh.
menteri baru dilantik menebar wacana itu,
lalu tanggapan bermunculan,
dari yang keren, sampai cuma olok-olok belaka.

entah apa jelasnya isi wacana itu,
tapi yang aku tau, sekolah sehari penuh itu
bukan pula melototi buku 
dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore.
bukan pula tak ada kesempatan berlari sana-sini
menikmati usia bermain.

anak-anakku sekolah sehari penuh,
sejak mereka sekolah dasar,
sampai sekolah menengah saat ini.
di sekolah anakku, sekolah sehari penuh itu
bukan tanpa aturan.

saat sekolah dasar,
belajar pagi sampai siang hari.
selepas ibadah dan makan siang.
lalu menimba ilmu agama, sebentar.
sejam kemudian, mereka akan istirahat. 
anakku berbekal bantal. ya, bantal.  buat tidur.  
wajib mereka tidur siang, bersama di perpustakaan,
beralaskan karpet tipis saja.

tak pula mereka musti tidur memejamkan mata,
kata gurunya, yang penting mereka 
menikmati jam-jam istirahat siang,
merebahkan tubuh mungil 
sambil bersenda gurau lirih, 
bersama teman-temannya.

mendekati sore,
mereka dibangunkan,
yang tak bisa bangun, tak juga dipaksa.
ibadah sore, lalu bersiap pulang.

itu kalau tidak salah sampai kelas 3.
kelas 4 berbeda perlakuan.
kelas 5 berbeda perlakuan.
kelas 6 berbeda perlakuan.

jangan tanya gimana kelas 7,8,9,10.  
ya jelaslah beda.

iyalah, masing-masing sekolah
bakal berbeda mau gimana menjalankan detailnya.
tapi mbok ya check dulu
apa sih itu sekolah sehari penuh?
kalau sudah ngerti apa dan gimananya,
baru deh boleh itu mulut dan jari belepotan
memaki-maki dan mengolok-olok.

bukan, aku bukan pembela menteri itu.
aku gak kenal menteri itu.
bisa aja yang salah memang detail dari wacana itu,
yang salah detail dari apa yang diucapkan menteri itu.
tapi apanya yang salah?
soal anak-anak sekarang lembek?
atau soal apa?
kalau sudah jelas dimana salahnya,
ya salahnya itu dong di koreksi.
jangan kayak kebakaran lahan, merembet kesana kemari.

kubaca, ada yang bilang ini program hanya untuk orang berada
lalu dihubungkan dengan makan-minum anak,
sampai termos dan kotak makan yang mahal.
jauh amat.
kalau pak menteri jadikan program nasional,
maka ya negara ini musti siap dengan termos dan kotak itu.
lha kalo disiapkan, lalu gratis, lalu makan-minum ditanggung,
selesai kan?
jadi yang gak benernya dimana?
soal termos atau soal kesiapan negara ini?
pilih dengan cerdas
pakai mulut dan jari dengan cerdas lah.

lalu, ada pula yang becanda kelewatan,
bilang menteri gak punya bapak-ibu.
hanya karena dianggap sekolah sehari penuh itu
akan menghabiskan waktu anak bersama bapak-ibunya,
lalu menteri ini dianggap tidak paham itu.
emangnya waktu anak pulang siang,
lalu semua orang tua juga bersedia bersama anak-anak?
bukannya faktanya anak diminta main bersama anak-anak lain?
atau diantar ke tempat kursus demi nilai UN yang tinggi?
atau dipaksa tidur siang, atas nama kelelahan anak.
lalu orang tua ikut tidur pula,
atau sibuk bekerja.
ah, becanda yang kelewatan kalau soal bapak-ibu.

iyalah, aku setuju untuk tidak setuju
kalau sekolah sehari penuh itu diberlakukan rata.
bakal sulit dunia indonesia ini.
karena dimana-mana juga kita sudah paham,
jangankan pemberlakuan sehari penuh,
yang setengah hari aja, sekolah banyak yang tak mampu.
bukannya banyak sekolah hanya aktif dari jam 10 pagi
lalu bubar jam 12 siang.
iya, itu sekolah yang jauuuuh dari rumahmu itu.
jauh dari kemewahanmu berinternet sambil memaki sana-sini itu.
jauh dari jalan beraspal sedepa dari rumahmu itu.
bukannya mereka itu yang juga kamu khawatirkan,
jika sekolah sehari penuh diberlakukan?
jadi, ya haruslah diatur,
itu sekolah sehari penuh akan diberlakukan dimana.
mosok kamu gak bisa mikir gitu juga?

kalau soal anak-anak yang lembek itu,
ya, memang anggapan lembek
karena sekolah sebentar, itu pernyataan lucu.
sama lucunya dengan kamu yang nyamber aja kalo ada
pancingan dari  media abal-abal.
lembek itu bukan perkara sekolah.
lembek itu perkara kita bersama,
persoalan keluarga dan lingkungan,
juga karena media,
persis kayak lembeknya kamu
yang nyamber kalo ada berita dari media abal-abal.
hahaha....

jadi,
kalau mau maki-maki
soal sekolah sehari penuh,
tolonglah pakai sedikit pikiran itu.
cari dulu berita yang benernya.
cari tau juga apa itu sekolah sehari penuh.
lalu komentarlah dengan pintar sedikit.
pilah mana yang mau diserang,
soal apa, yang mana.
kalau sembarang hajar sana-sini,
kamu kayak politisi-politisi itu,
semua sama-rata, semua sama warnanya,
dan cuma kamu yang bener.
samasekali gak ada cerdas-cerdasnya.

begitu aja, deh.
belajar lagi ya...
soalnya, yang salah itu bukan soal sekolah sehari penuh,
yang salah itu caramu menganalisis
yang salah itu caramu menyerang.

gitu deh :)

Saturday, July 23, 2016

kekuatan doa

percaya pada kekuatan doa,
percayalah..

ada jalannya,
karena niatnya bukan buruk.

begitulah.

Friday, June 24, 2016

mau nulis apa

mau nulis apa coba?
nulis soal beberapa kerjaan yang sepertinya ndak nyambung?
komitmen untuk wilayah utara, untuk isu jantung kalimantan?
bantu realisasikan hidroponik di hotel kawan?
siap-siap memandu para wirausahawan muda dengan facebook ads?
bantu kawan mengawal pemasaran produknya?
sesekali jadi broker yang belum pernah berhasil itu?

ndak juga ndak nyambung sih.
passionnya kena semua.
dengan senang saja melakukan semua.
perbanyak baca dan memahami arah jalannya perencanaan daerah.
melotot di depan mac, membalas pertanyaan produk jam 1 malam.
ngobrol dan menyambungkan informasi soal teknik hidroponik.
kutak-katik facebook ads untuk bahan latihan.
memahami seluk beluk memasarkan produk.
sambil bantu sambungkan permintaan dan provider.
sambil senyum-senyum melakukannya. 
tidak ada beban berlebihan.
kecuali komitmen saja.
dan itu wajar.

beberapa waktu lalu menolak habis 
tawaran untuk lanjutan pekerjaan.
ndak cocok prosesnya.
walaupun lumayan bayarannya.
tapi, siapa bisa jamin passion-nya, kan?

jadi, sekarang lakukan beberapa hal sekaligus,
untuk kegiatan... atau pekerjaan lah... yang mungkin berbeda.

untuk apa semua ini?
passionnya ada, itu aja.

[lagi mikir saja]


Monday, June 13, 2016

amarah

amarah, walaupun lewat sosmed, tetap membuat badan hangat.
lalu membawa pikiran menjadi tak tenang.
maka, amarah musti diredam,
sebelum membuat hati menghitam.

#warungbukabulanpuasa

Tuesday, May 24, 2016

belajar

Sedikit lelah sudah dengan pekerjaan yang ujungnya seperti abu-abu.
Umur juga sebagian faktornya.  Tapi keluarga menjadi utama.
Lalu mulai merubah arah perjalanan karya,
menuju arah yang berbeda, yang lebih memberikan ketenangan.

Tetap perlu belajar, untuk bisa membuat arah yang berbeda itu.
Belajar katanya tak kenal umur.
Itu benar, belajar sajalah.  Karena dengan belajar itu kita bisa memahami.

Saya belajar.
Untuk memahami, untuk menuju arah yang berbeda, untuk keluarga tentunya.

Begitulah..

Monday, April 11, 2016

ipon sakit

henponku yang ipon tadi pagi mendadak sakit keras.
sudah ada gejala sakit pada layarnya sih,
bundar hitam dua biji, makin membesar.
gegara batere dicharge double.
powerbank merangkap casing,
dicolok ke listrik,
otak oon-ku bilang
kalau nanti powerbank penuh, 
lalu otomatis charge pindah ke ipon.
semacam forward begitu.
terlalu pintar.
belakangan baca-baca, ya itu namanya double charge.
power masuk jadi dua kali lipat,
hasilnya batere gembung,
lalu menekan lcd,
lalu dua titik hitam itu muncul.
nama kerennya: lcd-nya bocor!

dibawa ke serpis di kota ini juga,
halah, malah dikasih batere palsu.
charge 2 jam, habis 2 jam. padahal bayar empat ratus ribu.
akhirnya buka yutup, beli batere online, harga dua ratus.
bongkar sendiri, kembali seperti baru.
lalu ketok-ketok kepala sendiri.

sayangnya, luka layar yang titik dua itu,
seperti kanker saja.
mulai membesar dan menjalar kesana kemari.
harusnya sudah siap beli lcd,
tapi sok gaya beranggapan lcd bisa tahan lama.

tadi pagilah kejadiannya,
saat jalan pagi, ipon lambat respon touchscreen-nya.
untungnya aplikasi mapmywalk sempat disetop.
layar hitam pekat, cuma samar garis-garis.
telepon masuk, wa masuk, sms masuk, email masuk.
notifikasinya bunyi, ndak ada tampilan apa-apa.
lcd-nya awarahum.

eh, sebentar dulu, 
bergaya sok bisa,
buka yutup, ada petunjuk,
kalau garis-garis di layar, itu perkara 
kabel fleksibel atau konektornya aja yang kendor.
lalu oprek sendiri, cabut lcd, 
lalu semua konektor layar digosok pakai sikat gigi kering,
baru, hasil comot di hotel, entah yang mana.
sambil komat-kamit baca doa,
lalu pasang kembali lcd-nya.
simsalabim!  lcd tetap gak nyala! hahaha...

buka internet, cari di bukalapak, 
layar lcd ipon 5 ori, harga miring,
check pelapak, kondite bagus,
order, bayar, kirim pesan, selesai.
tinggal nunggu lcd datang.

sementara, beli simcard baru aja,
colok ke nokia e63, andalan masa lalu.
lalu kirim sms ke sedikit orang,
nomer sementara ini akan dipakai nelepon.
maksutnya supaya jangan ditolak kalau nelepon :D

sms, wa, bunyi di ipon, 
tapi tak bisa dilihat siapa dan apa.
begitulah, saatnya istirahat pegang ipon.

ipon kesayangan, 
makanya gigih mempertahankan.
sampai saatnya tak bisa lagi diselamatkan.
tapi itu pasti nanti, masih lama.

ipon kesayangan gitu lho..

[nasibku tanpa ipon] 

Sunday, April 10, 2016

baju... baju...

pernah kutulis soal baju,
soal baju sementara,
yang tak akan abadi itu.

"baju adalah sementara,
syukuri saja,
nikmati sewajarnya,
suatu hari nanti baju itu harus kamu ganti,
entah karena memang waktunya,
atau entah kamu tak lagi berhak memilikinya."
disini dia..

entahlah, bajumu akan abadi?

[...]

marahmu

marahmu pada apa sebenarnya,
semua dihantam rata, padahal sudah dijelaskan mengapa.
soal kebijakan, bukan rasanya,
soal biaya, bukan rasanya,
sepertinya marahmu melulu soal ras dan agama.

marahmu pada apa sebenarnya,
kau tutup mata pada segunung kebaikan,
matamu jeli pada secuil kekurangan.
hingga hari ini kubaca pertanyaanmu,
tentang cara beribadah satu umat.
pertanyaan amarah rupanya.

apakah tak lelah dirimu,
membakar hatimu sendiri,
setiap hari, setiap kali.
marahmu pada apa sebenarnya.

[...]

Friday, April 8, 2016

Tuhan itu bernama sosial media

sonya depari, pelajar yang memaki polisi saat tertahan pemeriksaan kendaraan, bapaknya berpulang.

konon bapaknya yang sedang sakit itu bertambah sakitnya saat melihat video anak gadisnya mengancam polwan.
mengaku anak jendral, yang belakangan ternyata hanya kerabatnya, hanya memang jelas bukan bapaknya.

lalu berpulang bapaknya, lalu katanya sonya depresi tak terkira. lalu banyak netizen berkata sudahi saja bully dan komentar di sosial media, karena itu biang kepergian bapaknya.

entah kenapa, sosial media dianggap penyebabnya.  juga katanya wartawan videonya lakukan provokasi gila. netizen dianggap berkontribusi tak kira-kira. lalu ajal itu siapa yang kuasa?

maka resmilah sudah, bahwa Tuhan tak lagi kuasa atas nyawa manusia. maka besok bisa bangun rumah ibadah, alirannya boleh suka-suka, yang penting Tuhannya sosial media. khusus untuk urusan nyawa.

...

Wednesday, April 6, 2016

badak mati, beruang madu mati, orangutan mati.


badak yang tertangkap itu mati
lalu lebih banyak posting miring
daripada dukacita
ada juga dukacita yang miring.

dulu sekali, orangutan juga mati
beberapa waktu lalu, beruang madu mati
semua, mati saat satwa liar itu 
ada di tangan pecintanya.
seolah pecinta yang membunuhnya.

aku tak paham teknisnya
tapi aku memahami maksudnya.
setidaknya dari cerita jujur 
kawan-kawan pecinta satwa itu.

pilihan memang sulit
bukan pula pembiaran
agar terdesak di habitatnya
karena tak ada lahan lagi untuk hidup
maka mempertahankan
tetap pada habitatnya, 
bukan pilihan.

orangutan itu, beruang madu itu, badak itu,
mati dengan satu alasan.
mati karena tak punya habitat.
habitatnya habis dimakan kita semua.
lewat cara kita konsumsi gorengan,
lewat cara kita pesan meja kursi,
lewat cara kita bercocok tanam.
dan negara ini melalui mereka
yang dibayar negara
melegalkan cara kita membunuhnya.

hanya, matinya mereka
di saat berada di tangan pecinta.
yang setidaknya berusaha,
melakukan sesuatu,
memilih dalam pilihan yang tak ada.
maka riuh rendahlah caci maki.
maka berdendanglah kita
para penikmat siaran tivi.

entahlah,
jika matinya satwa itu
karena dibakar pemburu
atau dibakar pembuka hutan
atau mati tua di habitatnya
mungkin tidak riuh-rendah caci maki itu.

kita memang gemar tertawa riang
di atas kepedihan orang lain,
sambil menepuk dada berkata
andai aku, maka tak begitu.

pastilah tak ada yang mau percaya
bahwa kematian mereka ditangisi
bahkan bermalam-malam
dengan hati yang luka sedalam-dalamnya.
lalu yang ada hanyalah seringai iblis
dan berkata
binatang mati kok sampai ditangisi
dan iblis itu berseragam lingkungan
dengan bayaran dari negara ini
yang pajaknya diambil dari para
pecinta yang menangis itu.
aku saksi airnata itu.
aku saksi seringai iblis itu.

satwa-satwa itu mati
karena tak ada habitat.
dan mereka yang menghabiskan habitat
sedang tersenyum lebar
melihat pertikaian para pecinta hewan
saling menikam.
mudah nian kalian kami adu,
bahkan domba tak secepat itu
jika kami adu.

nafsu bertikai tak pernah luntur
dari jiwa-jiwa yang kerdil.

[untuk para satwa dan pecinta, juga pencaci - april 2016; adzan subuh]





Friday, March 11, 2016

bayar PBB, kayak masyarakat yang berhutang...

Capek nulis soal PBB Kota Samarinda ini..

Baca disini aja..



begitulah... :(

soal ahok dan kamu

ahok maju lewat jalur independen.
ndak tau ahok? bacalah berita,
jangan cuma update status di sosmed saja.

ahok maju, lalu mereka yang non DKI
juga turut ramai berdebat.
tak apa sih, 
karena fenomena ahok ini sebuah
preseden belajar politik yang baik.

cuma, kalau sampai nanti
gegara dukung dan tak dukung ahok 
lalu mereka yang non DKI
baku selisih sampai memaki-maki,

lalu bisa kubilang saja bahwa
tolol sajalah.

untuk apa semua debat itu?
motifmu itu yang membuatmu seperti
monyet berebut buah dikala paceklik.

sudahlah, kamu pikir dengan mempermalukan temannu sendiri
dengan argumen picik-mu itu
akan membuatmu tampak pintar?

partaimu itu bikin kamu nampak bodoh.
keluar saja dari partaimu itu,
percayalah.

...

Monday, February 29, 2016

responmu soal plastik berbayar

dan membaca respon terhadap kebijakan tas plastik berbayar. 
yang protes membandingkan kemasan produk lambat urai lah, 
yang sok bodoh mau beli sejumlah tas plastiknya lah.

taukah kamu, kalau mendebat kasir
atau malah manager on duty itu
maka sama saja kamu 
mendebat ketololanmu sendiri.

kamu tolak bayar tas plastik itu
tapi tetap kamu ambil plastik itu,
maka sama saja kamu korbankan mereka,
mereka yang akan bayar plastikmu,
dari gaji mereka yang bakal dipotong.

lalu kamu bilang,
hanya dua ratus rupiah, tak apa.
tak apa gundulmu itu.
kalau mereka melayani seratus pembeli
macam kamu, maka berapa jumlahnya?

lalu, mudah pula berkata 
mending belanja di pasar tradisional,
tas plastik masih gratis,
jadi kita mendukung pedagang lokal
lalu dapat tas plastik gratis.
lagi, gundulmu itu.
memangnya itu tujuan program ini?

protes kebijakan soal plastik berbayar
bukan dengan cara tolol macam itu.
cerdaslah berbelanja,
seperti waktu kamu menunjukkan
kecerdasanmu pasang status sosmed.

bodoh kok dibagi-bagi :(