Monday, April 11, 2016

ipon sakit

henponku yang ipon tadi pagi mendadak sakit keras.
sudah ada gejala sakit pada layarnya sih,
bundar hitam dua biji, makin membesar.
gegara batere dicharge double.
powerbank merangkap casing,
dicolok ke listrik,
otak oon-ku bilang
kalau nanti powerbank penuh, 
lalu otomatis charge pindah ke ipon.
semacam forward begitu.
terlalu pintar.
belakangan baca-baca, ya itu namanya double charge.
power masuk jadi dua kali lipat,
hasilnya batere gembung,
lalu menekan lcd,
lalu dua titik hitam itu muncul.
nama kerennya: lcd-nya bocor!

dibawa ke serpis di kota ini juga,
halah, malah dikasih batere palsu.
charge 2 jam, habis 2 jam. padahal bayar empat ratus ribu.
akhirnya buka yutup, beli batere online, harga dua ratus.
bongkar sendiri, kembali seperti baru.
lalu ketok-ketok kepala sendiri.

sayangnya, luka layar yang titik dua itu,
seperti kanker saja.
mulai membesar dan menjalar kesana kemari.
harusnya sudah siap beli lcd,
tapi sok gaya beranggapan lcd bisa tahan lama.

tadi pagilah kejadiannya,
saat jalan pagi, ipon lambat respon touchscreen-nya.
untungnya aplikasi mapmywalk sempat disetop.
layar hitam pekat, cuma samar garis-garis.
telepon masuk, wa masuk, sms masuk, email masuk.
notifikasinya bunyi, ndak ada tampilan apa-apa.
lcd-nya awarahum.

eh, sebentar dulu, 
bergaya sok bisa,
buka yutup, ada petunjuk,
kalau garis-garis di layar, itu perkara 
kabel fleksibel atau konektornya aja yang kendor.
lalu oprek sendiri, cabut lcd, 
lalu semua konektor layar digosok pakai sikat gigi kering,
baru, hasil comot di hotel, entah yang mana.
sambil komat-kamit baca doa,
lalu pasang kembali lcd-nya.
simsalabim!  lcd tetap gak nyala! hahaha...

buka internet, cari di bukalapak, 
layar lcd ipon 5 ori, harga miring,
check pelapak, kondite bagus,
order, bayar, kirim pesan, selesai.
tinggal nunggu lcd datang.

sementara, beli simcard baru aja,
colok ke nokia e63, andalan masa lalu.
lalu kirim sms ke sedikit orang,
nomer sementara ini akan dipakai nelepon.
maksutnya supaya jangan ditolak kalau nelepon :D

sms, wa, bunyi di ipon, 
tapi tak bisa dilihat siapa dan apa.
begitulah, saatnya istirahat pegang ipon.

ipon kesayangan, 
makanya gigih mempertahankan.
sampai saatnya tak bisa lagi diselamatkan.
tapi itu pasti nanti, masih lama.

ipon kesayangan gitu lho..

[nasibku tanpa ipon] 

Sunday, April 10, 2016

baju... baju...

pernah kutulis soal baju,
soal baju sementara,
yang tak akan abadi itu.

"baju adalah sementara,
syukuri saja,
nikmati sewajarnya,
suatu hari nanti baju itu harus kamu ganti,
entah karena memang waktunya,
atau entah kamu tak lagi berhak memilikinya."
disini dia..

entahlah, bajumu akan abadi?

[...]

marahmu

marahmu pada apa sebenarnya,
semua dihantam rata, padahal sudah dijelaskan mengapa.
soal kebijakan, bukan rasanya,
soal biaya, bukan rasanya,
sepertinya marahmu melulu soal ras dan agama.

marahmu pada apa sebenarnya,
kau tutup mata pada segunung kebaikan,
matamu jeli pada secuil kekurangan.
hingga hari ini kubaca pertanyaanmu,
tentang cara beribadah satu umat.
pertanyaan amarah rupanya.

apakah tak lelah dirimu,
membakar hatimu sendiri,
setiap hari, setiap kali.
marahmu pada apa sebenarnya.

[...]

Friday, April 8, 2016

Tuhan itu bernama sosial media

sonya depari, pelajar yang memaki polisi saat tertahan pemeriksaan kendaraan, bapaknya berpulang.

konon bapaknya yang sedang sakit itu bertambah sakitnya saat melihat video anak gadisnya mengancam polwan.
mengaku anak jendral, yang belakangan ternyata hanya kerabatnya, hanya memang jelas bukan bapaknya.

lalu berpulang bapaknya, lalu katanya sonya depresi tak terkira. lalu banyak netizen berkata sudahi saja bully dan komentar di sosial media, karena itu biang kepergian bapaknya.

entah kenapa, sosial media dianggap penyebabnya.  juga katanya wartawan videonya lakukan provokasi gila. netizen dianggap berkontribusi tak kira-kira. lalu ajal itu siapa yang kuasa?

maka resmilah sudah, bahwa Tuhan tak lagi kuasa atas nyawa manusia. maka besok bisa bangun rumah ibadah, alirannya boleh suka-suka, yang penting Tuhannya sosial media. khusus untuk urusan nyawa.

...

Wednesday, April 6, 2016

badak mati, beruang madu mati, orangutan mati.


badak yang tertangkap itu mati
lalu lebih banyak posting miring
daripada dukacita
ada juga dukacita yang miring.

dulu sekali, orangutan juga mati
beberapa waktu lalu, beruang madu mati
semua, mati saat satwa liar itu 
ada di tangan pecintanya.
seolah pecinta yang membunuhnya.

aku tak paham teknisnya
tapi aku memahami maksudnya.
setidaknya dari cerita jujur 
kawan-kawan pecinta satwa itu.

pilihan memang sulit
bukan pula pembiaran
agar terdesak di habitatnya
karena tak ada lahan lagi untuk hidup
maka mempertahankan
tetap pada habitatnya, 
bukan pilihan.

orangutan itu, beruang madu itu, badak itu,
mati dengan satu alasan.
mati karena tak punya habitat.
habitatnya habis dimakan kita semua.
lewat cara kita konsumsi gorengan,
lewat cara kita pesan meja kursi,
lewat cara kita bercocok tanam.
dan negara ini melalui mereka
yang dibayar negara
melegalkan cara kita membunuhnya.

hanya, matinya mereka
di saat berada di tangan pecinta.
yang setidaknya berusaha,
melakukan sesuatu,
memilih dalam pilihan yang tak ada.
maka riuh rendahlah caci maki.
maka berdendanglah kita
para penikmat siaran tivi.

entahlah,
jika matinya satwa itu
karena dibakar pemburu
atau dibakar pembuka hutan
atau mati tua di habitatnya
mungkin tidak riuh-rendah caci maki itu.

kita memang gemar tertawa riang
di atas kepedihan orang lain,
sambil menepuk dada berkata
andai aku, maka tak begitu.

pastilah tak ada yang mau percaya
bahwa kematian mereka ditangisi
bahkan bermalam-malam
dengan hati yang luka sedalam-dalamnya.
lalu yang ada hanyalah seringai iblis
dan berkata
binatang mati kok sampai ditangisi
dan iblis itu berseragam lingkungan
dengan bayaran dari negara ini
yang pajaknya diambil dari para
pecinta yang menangis itu.
aku saksi airnata itu.
aku saksi seringai iblis itu.

satwa-satwa itu mati
karena tak ada habitat.
dan mereka yang menghabiskan habitat
sedang tersenyum lebar
melihat pertikaian para pecinta hewan
saling menikam.
mudah nian kalian kami adu,
bahkan domba tak secepat itu
jika kami adu.

nafsu bertikai tak pernah luntur
dari jiwa-jiwa yang kerdil.

[untuk para satwa dan pecinta, juga pencaci - april 2016; adzan subuh]