Wednesday, April 6, 2016

badak mati, beruang madu mati, orangutan mati.


badak yang tertangkap itu mati
lalu lebih banyak posting miring
daripada dukacita
ada juga dukacita yang miring.

dulu sekali, orangutan juga mati
beberapa waktu lalu, beruang madu mati
semua, mati saat satwa liar itu 
ada di tangan pecintanya.
seolah pecinta yang membunuhnya.

aku tak paham teknisnya
tapi aku memahami maksudnya.
setidaknya dari cerita jujur 
kawan-kawan pecinta satwa itu.

pilihan memang sulit
bukan pula pembiaran
agar terdesak di habitatnya
karena tak ada lahan lagi untuk hidup
maka mempertahankan
tetap pada habitatnya, 
bukan pilihan.

orangutan itu, beruang madu itu, badak itu,
mati dengan satu alasan.
mati karena tak punya habitat.
habitatnya habis dimakan kita semua.
lewat cara kita konsumsi gorengan,
lewat cara kita pesan meja kursi,
lewat cara kita bercocok tanam.
dan negara ini melalui mereka
yang dibayar negara
melegalkan cara kita membunuhnya.

hanya, matinya mereka
di saat berada di tangan pecinta.
yang setidaknya berusaha,
melakukan sesuatu,
memilih dalam pilihan yang tak ada.
maka riuh rendahlah caci maki.
maka berdendanglah kita
para penikmat siaran tivi.

entahlah,
jika matinya satwa itu
karena dibakar pemburu
atau dibakar pembuka hutan
atau mati tua di habitatnya
mungkin tidak riuh-rendah caci maki itu.

kita memang gemar tertawa riang
di atas kepedihan orang lain,
sambil menepuk dada berkata
andai aku, maka tak begitu.

pastilah tak ada yang mau percaya
bahwa kematian mereka ditangisi
bahkan bermalam-malam
dengan hati yang luka sedalam-dalamnya.
lalu yang ada hanyalah seringai iblis
dan berkata
binatang mati kok sampai ditangisi
dan iblis itu berseragam lingkungan
dengan bayaran dari negara ini
yang pajaknya diambil dari para
pecinta yang menangis itu.
aku saksi airnata itu.
aku saksi seringai iblis itu.

satwa-satwa itu mati
karena tak ada habitat.
dan mereka yang menghabiskan habitat
sedang tersenyum lebar
melihat pertikaian para pecinta hewan
saling menikam.
mudah nian kalian kami adu,
bahkan domba tak secepat itu
jika kami adu.

nafsu bertikai tak pernah luntur
dari jiwa-jiwa yang kerdil.

[untuk para satwa dan pecinta, juga pencaci - april 2016; adzan subuh]





No comments: