Tuesday, August 9, 2016

sekolah sehari penuh

sekolah sehari penuh.
menteri baru dilantik menebar wacana itu,
lalu tanggapan bermunculan,
dari yang keren, sampai cuma olok-olok belaka.

entah apa jelasnya isi wacana itu,
tapi yang aku tau, sekolah sehari penuh itu
bukan pula melototi buku 
dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore.
bukan pula tak ada kesempatan berlari sana-sini
menikmati usia bermain.

anak-anakku sekolah sehari penuh,
sejak mereka sekolah dasar,
sampai sekolah menengah saat ini.
di sekolah anakku, sekolah sehari penuh itu
bukan tanpa aturan.

saat sekolah dasar,
belajar pagi sampai siang hari.
selepas ibadah dan makan siang.
lalu menimba ilmu agama, sebentar.
sejam kemudian, mereka akan istirahat. 
anakku berbekal bantal. ya, bantal.  buat tidur.  
wajib mereka tidur siang, bersama di perpustakaan,
beralaskan karpet tipis saja.

tak pula mereka musti tidur memejamkan mata,
kata gurunya, yang penting mereka 
menikmati jam-jam istirahat siang,
merebahkan tubuh mungil 
sambil bersenda gurau lirih, 
bersama teman-temannya.

mendekati sore,
mereka dibangunkan,
yang tak bisa bangun, tak juga dipaksa.
ibadah sore, lalu bersiap pulang.

itu kalau tidak salah sampai kelas 3.
kelas 4 berbeda perlakuan.
kelas 5 berbeda perlakuan.
kelas 6 berbeda perlakuan.

jangan tanya gimana kelas 7,8,9,10.  
ya jelaslah beda.

iyalah, masing-masing sekolah
bakal berbeda mau gimana menjalankan detailnya.
tapi mbok ya check dulu
apa sih itu sekolah sehari penuh?
kalau sudah ngerti apa dan gimananya,
baru deh boleh itu mulut dan jari belepotan
memaki-maki dan mengolok-olok.

bukan, aku bukan pembela menteri itu.
aku gak kenal menteri itu.
bisa aja yang salah memang detail dari wacana itu,
yang salah detail dari apa yang diucapkan menteri itu.
tapi apanya yang salah?
soal anak-anak sekarang lembek?
atau soal apa?
kalau sudah jelas dimana salahnya,
ya salahnya itu dong di koreksi.
jangan kayak kebakaran lahan, merembet kesana kemari.

kubaca, ada yang bilang ini program hanya untuk orang berada
lalu dihubungkan dengan makan-minum anak,
sampai termos dan kotak makan yang mahal.
jauh amat.
kalau pak menteri jadikan program nasional,
maka ya negara ini musti siap dengan termos dan kotak itu.
lha kalo disiapkan, lalu gratis, lalu makan-minum ditanggung,
selesai kan?
jadi yang gak benernya dimana?
soal termos atau soal kesiapan negara ini?
pilih dengan cerdas
pakai mulut dan jari dengan cerdas lah.

lalu, ada pula yang becanda kelewatan,
bilang menteri gak punya bapak-ibu.
hanya karena dianggap sekolah sehari penuh itu
akan menghabiskan waktu anak bersama bapak-ibunya,
lalu menteri ini dianggap tidak paham itu.
emangnya waktu anak pulang siang,
lalu semua orang tua juga bersedia bersama anak-anak?
bukannya faktanya anak diminta main bersama anak-anak lain?
atau diantar ke tempat kursus demi nilai UN yang tinggi?
atau dipaksa tidur siang, atas nama kelelahan anak.
lalu orang tua ikut tidur pula,
atau sibuk bekerja.
ah, becanda yang kelewatan kalau soal bapak-ibu.

iyalah, aku setuju untuk tidak setuju
kalau sekolah sehari penuh itu diberlakukan rata.
bakal sulit dunia indonesia ini.
karena dimana-mana juga kita sudah paham,
jangankan pemberlakuan sehari penuh,
yang setengah hari aja, sekolah banyak yang tak mampu.
bukannya banyak sekolah hanya aktif dari jam 10 pagi
lalu bubar jam 12 siang.
iya, itu sekolah yang jauuuuh dari rumahmu itu.
jauh dari kemewahanmu berinternet sambil memaki sana-sini itu.
jauh dari jalan beraspal sedepa dari rumahmu itu.
bukannya mereka itu yang juga kamu khawatirkan,
jika sekolah sehari penuh diberlakukan?
jadi, ya haruslah diatur,
itu sekolah sehari penuh akan diberlakukan dimana.
mosok kamu gak bisa mikir gitu juga?

kalau soal anak-anak yang lembek itu,
ya, memang anggapan lembek
karena sekolah sebentar, itu pernyataan lucu.
sama lucunya dengan kamu yang nyamber aja kalo ada
pancingan dari  media abal-abal.
lembek itu bukan perkara sekolah.
lembek itu perkara kita bersama,
persoalan keluarga dan lingkungan,
juga karena media,
persis kayak lembeknya kamu
yang nyamber kalo ada berita dari media abal-abal.
hahaha....

jadi,
kalau mau maki-maki
soal sekolah sehari penuh,
tolonglah pakai sedikit pikiran itu.
cari dulu berita yang benernya.
cari tau juga apa itu sekolah sehari penuh.
lalu komentarlah dengan pintar sedikit.
pilah mana yang mau diserang,
soal apa, yang mana.
kalau sembarang hajar sana-sini,
kamu kayak politisi-politisi itu,
semua sama-rata, semua sama warnanya,
dan cuma kamu yang bener.
samasekali gak ada cerdas-cerdasnya.

begitu aja, deh.
belajar lagi ya...
soalnya, yang salah itu bukan soal sekolah sehari penuh,
yang salah itu caramu menganalisis
yang salah itu caramu menyerang.

gitu deh :)