Monday, October 31, 2016

kereta api cenut-cenut

cenut-cenut
seperti kereta api
datangnya bikin bergetar
ternyata penyakit ini
panjang masa mengganggunya
seperti kereta api
kalau datang, bikin terpana.
dihadapi saja.

Friday, October 21, 2016

vertigo

pagi ini tetiba vertigo
berputar kencang
mual.

mungkin kebanyakan berbaring
karena pinggul ngilu 
jadi menghindari duduk

serba salah.
namanya juga sakit.
begitulah.


Monday, October 17, 2016

dikasih jatah istirahat

hampir sebulan memanfaatkan jatah istirahat.
tiduran saja, duduk sesekali.
29 september, lepas maghrib, belum maghriban.
tutup resto, bawa sampahnya, bermotor sembrono.
18.30 lah, sekitar itu, terbang di jalan pm noor, samarinda.
motor ke kanan, bersama arah engkel kaki kanan, 
badan tiarap ke kiri menyongsong kontainer 
yang jalan perlahan.
macet karena banjir, harusnya ndak perlu terburu.

perut dan tulang-tulang pinggang mengganjal roda kontainer.
seperti diduduki gajah-gajah tambun, sesak nafas.
beruntung sang sopir segera lompat menengok
gerangan apa mengganjal gerak kontainernya.
sekali tarik tuas, kontainer mundur beberapa centi.
seperti balon dilepaskan, rasanya.
setengah badan tidak terasa, dari pinggang ke bawah.
tapi ujung kaki masih terasa dingin menyentuh sesuatu.
coba bangkit, lirik sedikit, kaki kanan lurus, telapak ke kanan.
hih... tidak simetris.  oh, patah.  simpel saja, ya sudah.
kaki kiri masih ok nampaknya, hanya tak mampu bergerak.
belakangan tau, kalau patah tulang di sekitar pinggul itu penyebabnya.


(photo by Istri)

banyak orang baik saat itu,
motor diselamatkan, helm aman, tas berisi laptop dijaga,
sepasang sepatu selamat, hanya jam tangan yang memang 
terbang entah kemana.

sejenak dibaringkan di pinggir jalan,
beberapa detik, baru kenali lokasinya.
hape bergetar di saku celana, ambil, remuk redam ternyata si hape.
selesai umurnya disitu.
sesaat ingat itu jadwal madu flores merapat di dermaga balikpapan.
ah, siapa yang urus madu nanti?



seseorang muncul dari kerumunan, anak muda.
berbaik hati membantu menekan nomor telepon istri.
kasih kabar kejadian, lalu menunggu.

beberapa suara saling bersahutan,
minyak bintang, urut saja, di loa janan (itu nama satu tempat),
berusaha meminta agar ke rumah sakit saja, supaya semua lega.
lalu seseorang berlutut sambil menggenggam tangan,
ada seperti kertas di dalam genggamannya.
supir kontainer katanya waktu kutanya siapa.
berkali mengucap maaf.
kubilang, aku yang jatuh, bukan karena kontainernya.
kutolak segulung kertas yang sepertinya uang itu.

lalu muncul lagi seseorang,
dari kerumunan di sebelah kiri.
katanya tangannya patah.
oh, rupanya dengan dia bersenggolan.
saling jabat tangan saja, tak mustilah harus berpersoalan.

lagi, orang-orang baik menghentikan pickup,
meminta sopirnya mengantar ke rumah sakit,
abdul wahab syahranie.  
lalu seseorang berteriak, meminta supaya jangan bayar pickupnya.
kalau si sopir minta bayaran, hubungi dia.
bingung juga, gimana cara hubungi dia? kenal saja enggak. 

pickup bergerak, 
lagi, ada orang baik berteriak soal dompet.
kuraba, celana robek, pantesan pantat rasanya dingin,
tapi dompet masih ada.
kutarik, dan kuoper ke istri yang sudah ada di samping pickup.

sesaat sesosok tubuh melompat naik.
ah, Zidan, anakku, sambil memanggul tas ranselku.
sedih dia, sepanjang jalan melihat kakiku, 
kubilang tak apa, yang penting kepala masih bisa mikir.
perjalanan ke rumah sakit seperti lama sekali.

sampai di rumah sakit,
tidak banyak pertanyaan petugas medis.
langsung kerja cepat, diangkat, 
diperiksa, beberapa luka dibersihkan.
beberapa kali mata diperiksa, ditanya-tanya,
sepertinya untuk memastikan kesadaran.
sekuriti berdatangan, mencatat, bertanya kronologis.
tidak terlalu bertele-tele, sepertinya masuk kategori emergency.

beberapa check dilakukan,
pertanyaan soal kepala, tangan, kaki.
check lewat dubur juga dilakukan, entahlah,
mungkin untuk periksa luka dalam.

lalu masuk di kamar tunggu, bersama pasien lainnya.
lalu berdatangan wajah-wajah yang dikenal.
teman-teman semua, terhibur juga.
datang dengan pertanyaan yang serius dan becanda.
biasalah, yang jelas maksudnya pasti baik, menghibur.
beberapa minta aku berpose, siap, jempol diangkat.
tak ada gunanya pasang wajah meratap, 
tak segera sambung tulang kaki itu kalau meratap.
begitu kira-kira alasan kenapa musti pasang 
wajah senyum-senyum, sementara telapak dan dengkul
tidak simetris.
lalu seorang kawan bertanya serius, tidak sakit ya?
itu pertanyaan yang benar-benar menghibur saat itu, serius!


(photo by Om Adi Supriadi)

malam itu juga, dokter bedah tulang tiba,
menawarkan mengembalikan posisi kaki yang berlarian itu,
katanya sebentar saja, sakit sedikit saja.
kupilih bius saja, karena panas dan perihnya sudah sampai kepala.

malam itu juga, usg dilakukan, xray dilakukan, masuk ruang operasi.
bukan pasang pen, tapi dibetulkan posisi telapak kaki.
bius sebentar, seperti tertidur sejenak. selesai.
dokter bilang, ada patah, harus operasi, senin.
ingat saat itu malam jumat, lama sekali baru akan operasi.
ah, entahlah.

tak tau bagaimana kerumitan urusan adminstrasinya,
pasti istri berpeluh mengurusnya.
malam itu masuk dulu di ruang kelas 3, 
satu kamar isi 6 orang, sempit.
tak apa, tak penting, cuma kasihan istri,
tak bisa istirahat.
malam pertama itu dilalui dengan nyeri sepanjang malam.

besoknya, istri sudah sibuk mengurus bpjs.
dengar ceritanya saja sudah pusing.
ke polres, ke jasa raharja, lalu ke bpjs.
ah... 
hari itu, banyak teman menengok. sesak ruangan.
kasihan pasien lainnya.
tapi apa mau dikata, solidaritas itu nyata adanya.
hari itu, foto xray pra operasi, nampak patahan tulang jauh bergeser.
lagi, dokter bilang senin operasi. lama sekali.  sudahlah.
toh bermanfaat sambil menurunkan gula yang 300 itu.
katanya, operasi tidak akan dilakukan kalau gula masih di atas 200.
maka, insulin berbicara, 3 kali sehari, dan makan cuma seujung piring.
kurus deh.


(photo by Deena)


(photo by Ellie Hassan)


(photo by Kakak Ade "Ngerik" Fadli)

sore, pindah ruangan, setelah dapat bantuan koneksi dari dokter kenalan ibu.
sendiri, lebih besar, istri bisa istirahat dengan lebih baik.
tiga malam disitu, dilalui dengan nyeri yang teramat sangat.
pinggang tidak bisa diajak kompromi.

sabtu, dokter jantung menjenguk, ahli anastesi menjenguk,
protap untuk operasi senin.
puasa dari malam, dijadwal jam 9 pagi operasi.
pukul 10 baru bergerak ke ruang operasi.
bius lokal, tusuk di punggung, kebas dari pinggang ke bawah.
sambil operasi, ngobrol dengan dokternya,
sambil mendengar suara mesin bor,
dan terasa tempat tidur bergoyang,
tapi tak terasa apa-apa di bagian pinggang ke bawah.

baru tau saat operasi itu,
satu tulang patah juga di sekitar pinggul,
tapi tak lepas, jadi tak perlu operasi.
nanti nyambung sendiri, begitu kata dokter.
pantesan nyeri sangat.

begitulah,
delapan hari di rumah sakit, menahan nyeri di panggul.
kaki di-pen rasanya ya biasa saja,
namanya juga dibor, nyeri sedikit.
pinggul ini yang tak bisa kompromi.
gerak sedikit nyerinya banyak.

akhirnya, tiba di rumah,
tiduran saja, kencing di pispot,
BAB yang harus paksakan ke kamar mandi,
tak bisalah BAB di kasur, tak mau keluar dia.

terima kasih utamanya kepada Chef Danang, Adek Sapar, Kakak Ade "Ngerik" Fadli,
Om So'im, yang tak henti bergiliran menunggu dan membantu, mengorganisir.
Juga untuk menu ikan haruan dan sedikit rica untuk pelipur rindu.
terima kasih banyak, Tuhan akan membalas semua kebaikan itu.

khusus terima kasih buat Uwak Dadang atas bantuan pembotakannya..
ketombe itu sungguh tuntasss..



(photos by Istri)

terima kasih untuk semua teman yang telah bersimpati
sepanjang sakit, sejak di IGD, sampai di rumah.
banyak teman membantu.
entah doa, telepon semangat, transfer bantuan dana, becandaan,
kunjungan berkali-kali.  terharu.
banyak teman, banyak senyuman. kira-kira begitu.
Tuhan akan menempatkan kebaikan-kebaikan itu 
sebagai bekal kita semua.

tentunya, sulit untuk tidak bilang terima kasih untuk istri tercinta dan ibu,
yang susah payah mengurusi semuanya.  cinta itu tak berbatas.





terima kasih yang tak terhingga.

[17 oktober 2016, masih hanya berbaring, sempaja lestari indah]