Wednesday, December 28, 2016

Sendal Jepit Kanan

sendal jepit kanan
apa artinya?
ya ndak ada
ini memang 
sendal jepit kanan
itu saja.
kok situ baper?

#saveSendalJepitKanan

Sunday, December 18, 2016

hari ke 79

sebenarnya sejak kemarin,
hari ke 78 sejak nyungsep.
masih belum ada dalam rentang 100%.
tapi gelagatnya 
sudah full belajar bisa lepas tongkat.

jadi, ini hari ke 79, 
mulai tanpa tongkat,
hanya nyeri biasa,
seperti kebas biasa.

segera bisa semua,
supaya tidak lagi merepotkan.
hari 79, kita mulai masuk fase lanjutan.



Thursday, December 8, 2016

terima kasih atas kesempatan kedua

masa sih perkembangan itu begitu pelan?
kan yang dirasa yang harusnya diukur?
nyeri sudah berkurang,
kaku sih biasa.
nunggu tidak nyeri,
nunggu tidak kaku,
trus kapan mulainya?

kemarin, 7 des 2016,
lepas tongkat, lepas walker.
setelah latihan siang.
tanpa bantuan, dua tangan bebas bergerak.
serasa kembali ke dunia nyata.

ini soal dikasih kesempatan  
untuk merasakan situasi
yang dirasakan mereka
yang terbatas melangkah.

ini soal dikasih kesempatan kedua
untuk memperbaiki perilaku
memperbaiki cara berTuhan.
kesempatan itu jarang datang berulang.

masih dikasih kesempatan berjualan.
masih dikasih kesempatan berinteraksi dengan teman.
masih dikasih peluang kerja lama.

terima kasih, akan dicoba
untuk memanfaatkan 
waktu yang tersisa.

terima kasih
atas kesempatan kedua
yang Kau berikan.

[dari kemarin, tanpa tongkat, di rumah]


Wednesday, December 7, 2016

Ampuni mereka, Ya Allah.

Tiap tulis sebaris kalimat, lalu kuhapus.
Tulis lagi, hapus lagi.

Aku kehabisan kata yang tepat 
Untuk mengutuk intoleransi itu.

Ampuni mereka, Ya Allah..

#KKRsambuga

Tuesday, December 6, 2016

A. Mustofa Bisri: "Aku Merindukanmu, O Muhammadku"

a. mustofa bisri:

AKU MERINDUKANMU, O MUHAMMADKU

Aku merindukanmu, o, Muhammadku 
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah 
Menatap mataku yang tak berdaya 
Sementara tangan-tangan perkasa                                                                                            Terus mempermainkan kelemahan 
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan 
Mencari-cari tangan 
Lembut-wibawamu 

Dari dada-dada tipis papan 
Terus kudengar suara serutan 
Derita mengiris berkepanjangan 
Dan kepongahan tingkah-meningkah 
Telingaku pun kutelengkan 
Berharap sesekali mendengar 
Merdu-menghibur suaramu 

Aku merindukanmu, o. Muhammadku 

Ribuan tangan gurita keserakahan 
Menjulur-julur kesana kemari 
Mencari mangsa memakan korban 
Melilit bumi meretas harapan 
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku 
Mencoba memanggil-manggilmu 

O, Muhammadku, O, Muhammadku! 

Dimana-mana sesama saudara 
Saling cakar berebut benar 
Sambil terus berbuat kesalahan 
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan 
Masing-masing mereka yang berkepentingan 
Aku pun meninggalkan mereka 
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku 

Aku merindukanmu, O, Muhammadku 

Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab 
Menitis ke sekian banyak umatmu 
O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu - 
bagaimana melawan gelombang kebodohan 
Dan kecongkaan yang telah tergayakan 
Bagaimana memerangi 
Umat sendiri? O, Muhammadku 

Aku merindukanmu, o, Muhammadku 

Aku sungguh merindukanmu. 

***
الصلاة والسلام عليك يا نبي الله, الصلاة والسلام عليك يا رسول الله, الصلاة والسلام عليك يا حبيب الله, الصلاة والسلام عليك يا صفي الله, الصلاة والسلام عليك يا صاحب الشفاعة .
Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaika yaa NabiyyaLlaah, Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaika yaa RasuulaLaah, Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaika yaa HabiibaLlaah, Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaika yaa ShafiyyaLlaah, Ash-shalaatu wassalaamu ‘alaika yaa Shaahibasy-syafaa”ah.

***

Sunday, December 4, 2016

niatlah dengan baik

Setiap kali duduk di depan meja kerja ini, selalu tercium aroma tak sedap, asem dan bau apek. Kejengkelan muncul cepat, harus ditemukan siapa tersangka bau tak sedap ini. Setiap kali selalu check ke bawah meja, beberapa tas bertumpuk dicurigai, diendus satu-satu. Sebuah kain bekas celana yang jadi pengering kaki di depan pintu kamar mandi jadi tersangka. Tersangka lainnya adalah baju-baju bergantung yang agak jauh letaknya. Bukankah aroma bisa menyebar terbawa angin hingga jauh?

Pagi ini, usai berdoa pagi, setelah meniatkan untuk memulai hari dengan kebaikan, setelah tarik nafas tenang beberapa kali, setelah tersenyum dulu dan membuang aura kejengkelan yang hampir muncul, setelah merenung sejenak, tenang melihat sekitar, memeriksa dengan niat yang baik, akhirnya ditemukan juga sumber bau apek itu.

Kursi kerja yang telah menemani lebih dari sepuluh tahun ini memang dirasa sesuai dengan bentuk tulang punggung. Enak diduduki berjam-jam, dan bisa berputar. Memudahkan jika ingin mengambil segepok dokumen diujung kiri, mengambil hasil print di ujung kanan dan menonton tv pada arah balik meja kerja. Pokoknya nilai sempurna, tak ada cacat prestasinya. Sayangnya, kecerobohan sendiri membuat sandaran tangan kursi ini terluka terbuka, terkoyak, hingga mengurangi kenyamanan menggunakannya.  Setelah berpikir untuk mencari gantinya, akhirnya ilmu survival digunakan. Sandaran tangan yang terkoyak itu dibebat kain lembut, direkatkan sedemikian rupa, hingga nyaman digunakan. Hasilnya, sungguh menggembirakan. Kursi yang menghasilkan entah berapa puluh proposal, berapa puluh laporan, dan berapa ratus status facebook itu akhirnya kembali menjadi sempurna, setidaknya menurut diri sendiri.

Pagi ini, kursi kerja yang sempurna di hati itu, kain pelapis sandaran tangan buatan sendiri yang lembut itu, ternyata menjadi sumber aroma tak sedap, bukan karena kain menjadi lapuk, tetapi karena memang selalu digunakan untuk menyandarkan tangan yang sering berkeringat, bahkan lalu teringat sesekali menjadi lap membersihkan noda di tangan. Kursi yang selama ini menemani itu, terbukti menjadi tersangka utama, dan itu karena kain pelapis hasil kreatifitas sendiri, yang dinodai sendiri, dan tak pernah diganti.  




Lalu sebenarnya siapa penyebab munculnya aroma tak sedap itu?

Hanya menyimpulkan untuk hikmah diri sendiri. Bahwa jika berniat baik, memulai dengan doa yang baik, membuang amarah, menganalisa sambil tersenyum, itu jauh lebih efektif untuk menemukan sumber masalah yang mengganggu diri kita. Yang lebih utama lagi, kecenderungan untuk menaruh kesalahan pada mereka yang sepertinya berpotensi bersalah, selalu menguasai hati ini. Tak pernah memulai dengan introspeksi, menilai diri sendiri, melihat ke dalam, bahwa bukankah penyebab dari ketidaknyamanan itu adalah perilaku sendiri, kebiasaan buruk sendiri.  

Kain lapis sandaran tangan yang sudah berbau itu kini sudah dilepas, akan diganti dengan yang baru. Tidak dengan perasaan puas karena telah menemukan biang keresahan itu, tetapi justru dengan perasaan malu. Malu pada diri sendiri, karena ternyata telah mengorbankan mereka yang tak bersalah sebagai tersangka, malu karena menyadari bahwa sumber aroma tak sedap itu adalah perilaku sendiri. Malu pada kain pelapis sandaran tangan yang telah berjasa itu.

Biang dari semua persoalan itu adalah perilaku diri sendiri dan keangkuhan diri untuk introspeksi.

[kain pelapis sandaran tangan yang berjasa itu telah tiada, 4 Desember 2016. 6:30 pagi]

Friday, December 2, 2016

Doa tak sinkron

Aksi 212 itu mengagumkan.
Jumlah massa, dan ketulusan sebagian peserta.
Cuma, kalau doanya adalah tangkap dan penjarakan Ahok, apa bukan itu seperti perintah kepada Tuhan ya? Lha Ahoknya kan masih diproses hukum? Mosok ya Tuhan dipaksa-paksa? Apa ndak kuwalat?
Trus nanti kalau ternyata Tuhan buka takdir bahwa Ahok gak salah, pengadilan membebaskan, sampek ke MA juga dinyatakan gak salah, gimana? Apa trus nerima atau nolak? Kalo nolak, bukannya artinya melawan Tuhan?
Lha itu orasi habib di akhir acara ngajak revolusi kalo Ahok gak ditangkep. Gimana, bro?

Mbok ya doa yang fair gitu. Minta keadilan ditegakkan, minta supaya kebenaran ditunjukkan. Kan Tuhan sudah menggariskan.

Aksi 212 itu mengagumkan,
Kecuali habib yang teriak-teriak gak singkron dengan doa yang seharusnya dipanjatkan.

Aneh.