Friday, December 29, 2017

kamu kawan

tidak ada yang mudah 
memulai sebuah perubahan.
apalagi dengan tujuan kebaikan.

kata seorang teman yang sedang sakit itu,
penghargaan tertinggi bukan pada 
kamu yang menjadi pendorong perubahan,
tapi kepada mereka yang berani berubah,
untuk kebaikan.

soal kamu, yang dibaca sebagai batu sandungan,
padahal kamu bertujuan menjadikan jalan itu tak bergelombang,
maka biarkanlah. 
waktu yang akan bercerita nanti,
bahwa batu kamu adalah penumpu jalan berlubang menganga itu.
niatkan saja untuk kebaikan, perbaiki saja caramu.
begitu katamu lagi.

tiba-tiba aku harus memaksamu untuk segera sembuh.

[ ]



Tuesday, December 5, 2017

Egosinergi

Kemarin, duduk sejenak bersama beberapa teman, pekerja proyek. Mendiskusikan bagaimana isu unit pengelola hutan di Kaltim ini dapat menjadi optimal.  Jangan mikir negatif dengan kata “proyek”.  Saya sebut sebagai “proyek”, karena sesungguhnya kegiatan-kegiatan itu adalah proyek. Dilaksanakan karena melalui proses penawaran, atau pengajuan proposal. Jadi, kata “proyek” disini tak usahlah dikonotasikan negatif. Karena yang penting nanti bagaimana kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan. Kemana orientasinya, siapa penikmat hasilnya.

Proyek-proyek ini, sebut sajalah: Forclime, GGGI, Belantara, TNC (kemarin sih yang hadir ya empat ini, tambahan lainnya bisa saya sebutin aja: WWF dan proyek-proyek para NGO macam BUMI, BIOMA, KBCF, dan banyak lah) sesungguhnya mendukung hal yang sama. Menyasar tujuan yang sama, yaitu kemampuan unit pengelola hutan (dan lingkungan, dan sumberdaya alam) yang kuat.  
Sayangnya, target-target dari setiap proyek itu, berbeda durasi dan jumlah uang yang dapat digelontorkan (dan dikelola). Belum lagi interest di dalam masing-masing keproyekan. Ini perkara gampang-gampang susah.

Buat saya, pemain bebas ini, yang memungkinkan main dimana-mana ini, yang paling penting adalah sinergi mereka. Tidak sulit sebenernya. Karena toh semua kawan-kawan sendiri, tinggal say hello, semua bisa bertemu. Toh rata-rata saling paham tentang proyek mana punya program apa, dimana area kerjanya, siapa mitranya, berapa dana tersedia.  Simpel sih.

Lalu apa yang membuat seringnya proyek-proyek ini saling balap di tikungan? atau saling menelikung?
Menurut saya sih, ini perkara keengganan untuk duduk bersama dan saling mendengarkan saja.  Dengan dalih sibuk, kejar target, jadwal penuh, maka sarapan nasi kuning bersama, saling berbagi rencana, lalu bersinergi, menjadi barang langka.  Justru yang sering adalah masing-masing proyek makan pagi bersama, tim yang sama, bicara isu yang sama, dan bikin rencana-rencana yang sudah ada dalam perencanaan sebelumnya. Perilaku yang aneh :D

Kecurigaan saya lainnya, ini perkara ego saja. Dan yang bemain adalah ego pribadi saja. Soal sentimen-sentimen kecil yang membercak di hati masing-masing pekerja proyek itu. (tau lah aku, kalau yang beginian ditanya terbuka, gak bakalan diakui, lalu beralasan pakai ribuan bab, chapter, pasal dan pengingkaran, haha).

Situasi yang semacam gunung es ini, yang punya potensi laten ini, sesekali harus dipecahkan.  Cara tergampang sih habisi duitnya. Alias, tunggu durasi proyeknya habis, duit habis, lalu yakinlah, akan ada sinergi. Lha kan gak bisa bikin apa-apa. :D

Cara yang elegan (dan rasanya bener) adalah membuat semua proyek bisa saling berkomunikasi dalam sinergi. Kuncinya sih pada komunikasi. Iya, komunikasi.  Bagaimana agar semua proyek itu bisa sharing rencana, sharing resources, sharing pelaksanaan.
Tugas ini harusnya dilakukan oleh representasi pemerintah sih. Sebagai pemegang otorita atas program-program yang berjalan di wilayahnya. Pada isu lingkungan, sumberdaya alam dan perubahan iklim, di Kalimantan Timur ini, sepertinya fungsi itu dimandatkan pada satu unit kerja yang disebut dengan DDPI itu. Ya, kepanjangan singkatan itu  adalah Dewan Daerah Perubahan Iklim. Sebuah unit kerja non struktural di Kaltim yang diberi kewenangan koordinasi pada isu itu. Tidak untuk mengambil alih fungsi OPD yang ada, tetapi untuk melengkapi. Kira-kira begitu teorinya.

Fungsi unik dari DDPI dalam hal melakukan koordinasi kerja-kerja keproyekan pada isu tadi (lebih banyak pada isu perubahan iklim, tapi melebar juga pada isu pengelolaan kawasan dan peran masyarakat) harusnya bisa dilakukan dengan obyektif. Ini perkara gampang yang sulit :D.
Agak cilakanya, DDPI ini perlahan tidak lagi mendapat pembiayaan dari pemerintah.  Peraturan tidak memungkinkan. 
Artinya, ia harus membiayai dirinya sendiri, untuk kerja yang dilakukan atas nama pemerintah Kaltim. Tak masalah sih, toh pembiayaan dari beberapa donor masih memungkinkan.  Singkatnya, dari beberapa proyek yang ada, bisalah satu-dua memberikan support langsung pada unit ini.
Cilaka kedua, pertanyaan generik saja, apakah DDPI dapat berlaku obyektif bin adil dalam melakukan koordinasi semua proyek yang ada, sedangkan pada saat yang sama ia sedang menerima support dari satu proyek?

So, gimana sentimen proyek, ego pribadi dan potensi ketidakmampuan DDPI berlaku obyekif ini berpengaruh terhadap upaya pencapaian tujuan pengelolaan hutan (dan lingkungan, dan isu perubahan iklim, dan penguatan masyarakat)? Faktualnya apa yang terjadi? Lalu apa yang harus dilakukan bersama segera?

Saya sih bukan evaluator, dan tidak sedang melakukan evaluasi terhadap kerja-kerja proyek beraroma perubahan iklim di Kaltim.  Saya ini sedang menuliskan apa yang ada di kepala saja.  Kalau anda tidak setuju ya ndak apa-apa. Kalau anda setuju, ya juga ndak apa-apa. Gak ngaruh buat proses ketombean di kepala botak saya ini.

Kayaknya sih, ini perlu apa yang disebut sebagai EGOSINERGI. Yaitu sinergi berbasis ego. :D
Apa itu? Ntar lah, kalau ada waktu saya tuliskan lagi. Dikira enak apa nulis ginian? :D

(Lalu tetiba teringat email masuk semalam, minta menghasilkan output tentang ceruk peningkatan kapasitas pengelola hutan. Kontrak belum, deal apa-apa juga belum. Perilakunya mirip-mirip proyek sebelumnya sepertinya. Bagus ditinggalkan aja kayaknya :D. Lalu pusing bayar cicilan kebun yang sudah lama ndak ditengok. Halaaaaah!)

[ lepas subuh ]

Thursday, November 30, 2017

tenggelam

tetiba ingin menulis saja.
tentang pekerjaan-pekerjaan,
tentang moment-moment.

bersyukur ada jadwal menunggu,
dengan begitu ada karya 
yang bisa melaju.

dari dokumen, sampai nasihat.
dari sakramen, sampai hianat.
kompleks sekali pekerjaan ini.

dari dedikasi tinggi
sampai tipu sana-sini
hingga enggan tersaingi
tidak aneh memang perilaku.
dari dulu, tak lewati batas maju.

bagus memang tak perlu pikirkan,
akan mendaki atau menghujam,
tak usah dipikirkan.
kecuali satu saja, yang harus aman.
yang harus sukses. 

mari tenggelam saja
dalam tumpukan dokumen,
tumpukan konsep,
atau mulai berada di belakang
seorang teman yang memulai
langkah politik.

mari tenggelam saja,
dan tak perlu muncul kembali.

bisa jadi.

[ ]

Monday, November 27, 2017

Yayasan Bumi

Baru saja selesai membantu berkumpulnya para pegiat Yayasan BUMI.  Judulnya sih menyusun renstra.  Sesuatu yang banyak orang fasih menyebutkannya.
  
Organisasi ini dibackup oleh orang-orang yang paham tentang seluk beluk perencanaan pengelolaan sumberdaya alam disini.  Punya keahlian spesifik, dan tidak punya interest terhadap sentimen politik.

Senang melihat semangat dan energi baru, yang melihat ke depan, dan bicara tentang optimisme.  Senang melihat mereka masih punya harapan besar terhadap sempurnanya planet ini dikelola.

Sebenarnya, saya tidak membantu apa-apa.  Karena mereka sudah punya semua gagasan itu.  Saya hanya memfasilitasi proses bertemu saja.  Bahkan tidak pula merasa membantu menemukan apa yang diinginkan.  Saya menyediakan suasana saja, supaya mereka nyaman saling bertukar gagasan.

Selamat berkarya, kawan-kawan Yayasan BUMI.  Semoga suasana yang saya sediakan, turut membantu kalian semua meraih apa yang dicitakan.

Organisasi itu bernama Yayasan BUMI.


[Pantai Mentari Compound, Balikpapan. 24-26 Nov 2017.]
[Hari dimana dimulainya langkah baru, untuk kebaikan semua]

Thursday, November 23, 2017

mau kemana?

teman makan teman
itu biasa dalam politik.
kalau project makan project,
itu juga biasa dalam 
perebutan kepeng.

tapi kalau tak ada kepeng
yang perlu diperebutkan,
karena kepeng sudah ada 
di tangan,
maka peperangan berikutnya
ada pada soal klaim hasil,
dan perkelahian durasi
dan lokasi eksekusi.

kalau sedang duduk bersama,
saling tersenyum,
tetapi juga terlihat saling 
menyiapkan amunisi.
saling memaki juga.
saling telikung di punggung juga.

seperti sedang diadu kambing
(domba mahal, kambing saja)
oleh kepentingan 
yang harusnya diperangi.

sebenarnya semua ini
mau kemana?

sekedar bertanya saja,
karena pelan tapi pasti,
tiba waktunya,
memilih menyiangi rumput,
menunggu pohon berbuah,
tanpa hiruk pikuk.

(lalu ingat
cicilan kebun
masih lama
lunasnya, 
sialan!)

[ ]

kantor itu #2

kantor kecil itu,
dengan energy
yang harusnya luar biasa,
rupanya sedang dalam masa
dimana pilihan cuma dua,
maju terus, atau tergerus.

potensinya sungguh menjulang,
yang diperlukan adalah 
kerjasama dan ritme yang 
tak merenggang.

gap itu terlalu jauh,
harus ada ruang untuk
mewarnai,
dan menjadikan
energy tersembunyi
mengisi ruang itu,
lalu menghapus semua
jarak, buang kerak.

aku hanya membantu,
berproses tanpa bereaksi.
itu bagian dari fasilitasi.
apa untungnya?
melihat semangat itu,
melihat laju progress itu,
cukup sudah.
tak perlu yang tersurat.
tak butuh kalimat-kalimat.

penolakan pada ide
dan usulan di luar kotak,
itu biasa. 
karena kotak memang
menutup mata kita
dari apa yang sedang 
bergejolak.
syukur kalau bisa memilih
kotak transparan.
agar gejolak di luar
sudah bisa diperkirakan.
ini proses menjadi dewasa saja.

kantor itu
harus mewarnai 
dengan tegas
pengelolaan negeri ini.

harus.

[ ]

Friday, November 17, 2017

fasilitasi

Tetiba ingin membagi saja, cerita lama soal mengapa saya menikmati menjadi fasilitator.  Yang ternyata sudah ditekuni sejak lama.

Setelah kemarin berkisah tentang cerita lama ini, dan dijawab dengan tawa renyah, bahwa tak apa, toh disuka tentang sejarah yang tak putih-putih amat. Yah, hidup musti berwarna, salah satunya adalah warna gelap. Hahaha.

Kampus tatkala itu lebih sering mendung, begitu kira-kira sandi yang kami pakai, jika otak sudah memberi isyarat perlu pasokan miring, musim mendung kami menyebutnya.  Ya, biasa itu, kalau proyek di hutan baru berakhir, lalu dompet agak tebal sedikit, maka mendunglah langit itu.

Adalah saya, dan seorang kawan bergelar Kuro Kandas yang saat tulisan ini dibuat, sedang meringkuk di kamar rawat inap, (ia keracunan antibiotik dan gula darah yang aduhai tinggi), yang kerap bertugas mencari pasokan mendung itu. 

Warung Daeng, begitu kami menyebutnya, selalu terbuka 24 jam. Karena selain warung itu mendedikasikan diri pada kelompok miring macam kami, faktualnya, warung itu memang tak berpintu. Resmikan, dan buang daun pintunya. Begitu kira-kira leluconnya.

So, dari pasokan, lalu meracik, lalu menyajikan, itu tugas saya dan seorang teman ini. Bukan, bukan perkara kami lebih junior dari peserta mendung lainnya. Ini perkara menikmati membuat proses menjadi lebih mudah. Ini perkara memfasilitasi saja. Itu dia.

Tak berhenti sampai disitu, bahkan jasa fasilitasi saya akhirnya masuk juga pada tahap sedikit putih lah. Bergiliran bolak-balik keluar masuk rumah sakit. Mengantar dan menjemput peserta mendung itu. Semua! Dengan diagnosa yang sama, malaria dan infeksi saluran kencing. Hahaha... Malaria karena abai saat proyek hutan, dan infeksi saluran kencing karena terlalu banyak mendung itu. Bukan main, penyakit seragam.

Begitulah, fasilitasi itu ternyata sudah melekat erat pada hidup saya. Tak musti putih, boleh juga sebut warna hitam. Toh ini sejarah, yang menyenangkan juga kalau dikenang.

Hari ini, masa kini, saya menekuni fasilitasi. Tentunya lebih berwarna. Tetap ada warna gelap, tapi dari sisi berbeda menilainya. 
Suka saja, mengingat masa-masa bodoh tapi pintar itu, bersama teman-teman yang saat ini berjaya di jalurnya masing-masing. Tentunya mereka punya cara menilai sendiri tentang masa-masa itu, bebas saja, putih, gelap, cerah, berwarna.  Karena hidup ini proses saja.

Fasilitasi, pekerjaan yang menyenangkan.  Begitulah.

====

Tulisan ini didedikasikan untuk KuroKandas, Bayi, LG, Marudut, DIG, Didin, Yogsof, dan segenap member kampus Mapliplop, juga penghuni WH jaman itu.
Special: untuk Alm.EdyInsu & Alm.Bowo, rest in peace, Bro!

Wednesday, November 15, 2017

nuto, sembuhlah

pagi ini
dapat kabar.
kamu tepar.
tergolek di rumah sakit.
perkara yang sama
tahunan silam. 

ingat kusodorkan
obat, kita sama ujarku.
senyum saja kamu.
kutuliskan dosisnya,
kumaki senyum sontoloyomu,
karena aku tau
kamu pasti abai.

siang ini 
aku akan datang,
menjengukmu dan
kembali memakimu.

sembuhlah, nuto.
kita mancing lagi.

[ ]

Saturday, November 4, 2017

koordi[nasi]

kembali berulang cerita begini, tentang beberapa aktifitas teman, bekerja untuk isu yang sama, untuk tujuan yang sama.

tapi target dan waktu batas yang dijanjikan pada bohir memang lebih berkuasa. lalu  abailah pada semangat bersama dan berbagi.

belum lagi soal kekacauan di dalam, yang seperti supermarket itu. datang cepat, beli cepat, pergi cepat, lalu dikonsumsi cepat. selesai.  lalu teman semeja bahkan tak tau bilamana ia bekerja.  jadi, susah pula menjahitnya. lha wong jangankan bajunya, benangnya saja tak tau rimbanya.

begitulah teman-teman itu bekerja,
dalam ritme yang luar biasa, juga harus berjibaku dengan koordinasi, yang lebih sering tinggal nasi-nya saja.
sebagai pemain bebas, gemas juga melihat kekacauan ini. tapi bisa saja, ini juga bagian dari dinamika, yang memang menjadikan kerja bersama itu makin berwarna.

mengingatkan saja, bahwa masih ada pintu-pintu yang terbuka. yang mungkin bisa menjadi jalan, untuk keterpaksaan abai karena bohir itu.

ya, cuma bisa mengingatkan.
kata teman itu, apalah kita, ratik wara belaka. :D

- - -

kantor itu

tetiba terpikir tentang kantor itu. kantor kecil dengan staf kecil. merangkak dalam gempuran kiri-kanan-atas-bawah.
kantor yang didedikasikan untuk perubahan menuju kebaikan pengelolaan sumberdaya alam.

saat niat untuk membantu muncul begitu saja, karena percaya bahwa 
niat yang baik selalu menghasilkan 
yang terbaik.

bukan sempurna sangat kantor itu, penuh debu, halaman bersemak, lalu berserak.
entahlah bagaimana bisa produktif, bila harus dalam satu ruang waktu, berjibakun dan tenggelam dalam suasana yang tak nyaman untuk bekerja.

karenanya, kutawarkan untuk membantu, bukan substansi seperti biasa, ini teknis belaka. 
urusan remeh temeh memang, tapi rupanya, tak ada sumber daya itu.
lalu, nada tunggu kembali terdengar, waktu tawaran membantu ini disampaikan.  nada tunggu yang menjemukan.

tak lega rasanya jika perkara kecil pengganjal itu belum dituntaskan.
tapi, bahkan solusi terang benderang ini  rupanya bukan pilihan.  setidaknya belum lah.

ya sudahlah, cari sinar matahari saja, karena formulanya bisa membuang bau apek dan berdebunya kantor kecil itu.
sinar matahari yang tak lelah muncul tiap pagi, walau pintu kantor itu lebih sering tertutup ketimbang mengalirkan udara segar.  hanya karena demi sejuk artificial itu.

ya sudahlah.

Friday, November 3, 2017

siapa kuat

siapa kuat
maka ia akan mendapat,
siapa kuat
maka ia akan terhebat.

siapa kuat membayar.
begitulah, macam berkembang layar.

maka sejatinya, 
hanya layar yang kuat berbayar
yang mampu segera tiba 
dengan senyum lebar.

soal subtansi
apalagi kemandirian,
tak perlulah diributkan.

siapa kuat membayar.


[ ]

Tuesday, October 31, 2017

jaring laba-laba

dalam satu pertemuan,
lalu gestur menunjukkan
ingin menguji.

mulai dengan tata bahasa,
lalu logika pikir.
lalu mulai ngawur.
lalu kesana kemari.

tidaklah sulit
membaca kemauan
karena kalau tak paham
maka tidaklah ada tujuan.

lalu mengapa dengan
sarang laba-laba?
gak ada, itu cuma 
trigger aja.
untuk membuka 
bahwa ada yang tak paham
dengan apa yang disajikan.

positif saja,
mudahan lancar semua.

(tanjakan air putih)

Friday, October 13, 2017

wajah renta dan tanya itu

sebenarnya bukan cuma sekali ini,
wajah renta itu bercerita tentang 
sesuatu yang mengganggu hatinya.

tapi, berbeda kali ini. 
kalimat pendek keluar dari lelaki 
yang pernah menjadi pemanduku 
keluar dari jenuhnya gedung batu.

wajah renta itu berkata tanpa senyum:
“apakah saya hanya menjadi beban mereka?”

dan aku tak sanggup menatap wajahnya.
terus mengiang hingga kuputuskan 
menyampaikan pada seorang kawan. 
ya hanya seorang itu, 
yang kupikir mampu membantuku 
mencari cara menjawabnya.

wajah renta yang menyisakan bercak hidup itu 
terus membayangi, bersama pertanyaannya.

aku tak akan meninggalkanmu dalam sunyi, 
begitu lirihku. 
entah janji, entah sangsi.


(tj redeb - balikpapan, 13 oktober 2017)

Thursday, October 12, 2017

menabur angin

semalam bertemu seorang staf pemerintahan,
yang sering bertemu pada event resmi.
diceritakannya amarah mereka,
pada seorang kawan yang melakukan aksi
pada hajatan resmi beberapa waktu lalu.
tak ada lagi peluang, selesai sudah kerjasama, 
begitu kira-kira ujungnya.

biasa sajalah,
semua yang ditabur, akan dituai.
asalkan tumbuh dengan baik.
yang sering lupa adalah soal tumbuh itu.
ditabur itu biasa, dituai juga biasa.
tapi merawat pertumbuhannya itu yang tidak biasa.

lalu, siapa sesungguhnya yang merawat pertumbuhan kejadian itu? 
siapa pemilih benihnya? 
siapa yang mengatur jadwal siramnya?
siapa persiapkan pupuk dan anti hamanya?

menabur itu biasa, menuai apalagi.
kalau engkau cerdas wahai kawanku,
maka tak lah sukar untuk tau,
bahwa kegemaranmu menabur dan menuai itu, 
yang tak butuh ketrampilan tinggi itu,
tengah dimanfaatkan.
itu kalau engkau cerdas berpikir.

kau tengah muram menuai badai,
dari angin yang kau tabur.
sementara mereka hingar bingar, menuai angin juga, 
hanya dalam bentuk yang berbeda.

kau menuai angin badai,
mereka menuai angin menyejukkan.

menabur itu biasa, menuai itu juga biasa.
yang luar biasa itu adalah
diam-diam merawat pertumbuhannya,
lalu menuai hasil panen terbaik
tanpa harus ikut merasakan badai.

cerdas lah sedikit, kawan.

(berau, sedang meradang karena perilaku, 20171012)

Saturday, October 7, 2017

direndahkan

sudah pernah direndahkan?
bukan, bukan seperti candaan di sosmed itu.
sudah pernah atau belum?

kalau sudah pernah, ya sudah.
kalau belum pernah, ya sudah.
.
.
.
gitu rasanya direndahkan,
gak dihitung responmu.
enak? 

Sunday, October 1, 2017

Arbi berpulang

dapat kabar
satu lagi teman berpulang
Arbi Valentinus..

soal waktu saja,
cepat atau lambat
semua berpulang juga.

selamat jalan, kawan.

barisan mantan kampus

barisan mantan kampus itu
mulai sibuk atur-atur.
siapa jadi pemimpinnya
di masa akan datang.

kalau caranya sama,
kalau membayangi dengan cara sama,
kalau mengatur dengan cara sama,
kalau gaya masih sama,
kalau prioritas masih sama,
lupakan saja.
jangan harap ada semangat baru.

berubahlah dengan serius,
juga bukan dengan cara mendendam.

bukan mudah memang,
butuh niat saja.

barisan mantan kampus itu
mulai sibuk atur-atur.

Friday, September 29, 2017

para pemerah

sapi perah itu biasa,
diambil susunya 
biasanya tanpa paksa.

tapi, dengan paksa,
lalu berlaut,
bukan cuma sapi,
tapi kambing, kucing,
ular, sampai kecoa,
semua kena perah.
tanpa peduli.

merusak nama
pemerah saja.

Tuesday, September 26, 2017

lagi, kumpulan yang sama

kumpulan orang-orang ini,
masih saja sama.
merekayasa posisi,
menggenggam kuasa.
atas nama petani,
yang selalu dibela
di dalam proposalnya.

tidak kah belajar,
bahwa kumpulan itu
bukanlah pabrik.
untuk penghasil produk,
untuk memanen uang.

proses sudah sepuluh,
masih saja 
berorganisasi seolah-olah.

yang tak kupahami,
para pendana itu.
entah tolol atau 
buta.

Saturday, February 4, 2017

takut apa?

imanmu luntur kalau salah eja?
agamamu ganti kalau masuk rumah ibadah agama yang berbeda dengan agamamu?
Tuhanmu menghilang kalau kamu berteman dengan mereka yang tak seiman denganmu?
kamu marah dengan (yang katamu) serbuan etnis tertentu.
kamu memaki-maki kemampuan etnis tertentu yang kelihatan lebih piawai dan giat bekerja.
sebenarnya, yang kamu takutkan apa sih? kehilangan iman? kehilangan Tuhan? atau kehilangan mata pencaharian?

Sunday, January 22, 2017

SIM

kemarin, 21 Januari 2017, anakku, nzr itu, mendapatkan surat izin mengemudi untuk roda dua.
sudah dewasa dia, sudah tidak lagi merepotkan ibunya untuk antar jemput. 
harusnya.

semoga menjadi anak yang baik terhadap sesama.

itu saja.

Sunday, January 1, 2017

setahun

tanggal 31 desember siang posting hujatan pada kelompok yang berseberangan
tanggal 31 desember sore posting persiapan tahun baruan
tanggal 1 januari dini hari posting doa perdamaian
tanggal 1 januari pagi posting hujatan pada kelompok yang berseberangan

sosmed gitu lho...