Tuesday, October 31, 2017

jaring laba-laba

dalam satu pertemuan,
lalu gestur menunjukkan
ingin menguji.

mulai dengan tata bahasa,
lalu logika pikir.
lalu mulai ngawur.
lalu kesana kemari.

tidaklah sulit
membaca kemauan
karena kalau tak paham
maka tidaklah ada tujuan.

lalu mengapa dengan
sarang laba-laba?
gak ada, itu cuma 
trigger aja.
untuk membuka 
bahwa ada yang tak paham
dengan apa yang disajikan.

positif saja,
mudahan lancar semua.

(tanjakan air putih)

Friday, October 13, 2017

wajah renta dan tanya itu

sebenarnya bukan cuma sekali ini,
wajah renta itu bercerita tentang 
sesuatu yang mengganggu hatinya.

tapi, berbeda kali ini. 
kalimat pendek keluar dari lelaki 
yang pernah menjadi pemanduku 
keluar dari jenuhnya gedung batu.

wajah renta itu berkata tanpa senyum:
“apakah saya hanya menjadi beban mereka?”

dan aku tak sanggup menatap wajahnya.
terus mengiang hingga kuputuskan 
menyampaikan pada seorang kawan. 
ya hanya seorang itu, 
yang kupikir mampu membantuku 
mencari cara menjawabnya.

wajah renta yang menyisakan bercak hidup itu 
terus membayangi, bersama pertanyaannya.

aku tak akan meninggalkanmu dalam sunyi, 
begitu lirihku. 
entah janji, entah sangsi.


(tj redeb - balikpapan, 13 oktober 2017)

Thursday, October 12, 2017

menabur angin

semalam bertemu seorang staf pemerintahan,
yang sering bertemu pada event resmi.
diceritakannya amarah mereka,
pada seorang kawan yang melakukan aksi
pada hajatan resmi beberapa waktu lalu.
tak ada lagi peluang, selesai sudah kerjasama, 
begitu kira-kira ujungnya.

biasa sajalah,
semua yang ditabur, akan dituai.
asalkan tumbuh dengan baik.
yang sering lupa adalah soal tumbuh itu.
ditabur itu biasa, dituai juga biasa.
tapi merawat pertumbuhannya itu yang tidak biasa.

lalu, siapa sesungguhnya yang merawat pertumbuhan kejadian itu? 
siapa pemilih benihnya? 
siapa yang mengatur jadwal siramnya?
siapa persiapkan pupuk dan anti hamanya?

menabur itu biasa, menuai apalagi.
kalau engkau cerdas wahai kawanku,
maka tak lah sukar untuk tau,
bahwa kegemaranmu menabur dan menuai itu, 
yang tak butuh ketrampilan tinggi itu,
tengah dimanfaatkan.
itu kalau engkau cerdas berpikir.

kau tengah muram menuai badai,
dari angin yang kau tabur.
sementara mereka hingar bingar, menuai angin juga, 
hanya dalam bentuk yang berbeda.

kau menuai angin badai,
mereka menuai angin menyejukkan.

menabur itu biasa, menuai itu juga biasa.
yang luar biasa itu adalah
diam-diam merawat pertumbuhannya,
lalu menuai hasil panen terbaik
tanpa harus ikut merasakan badai.

cerdas lah sedikit, kawan.

(berau, sedang meradang karena perilaku, 20171012)

Saturday, October 7, 2017

direndahkan

sudah pernah direndahkan?
bukan, bukan seperti candaan di sosmed itu.
sudah pernah atau belum?

kalau sudah pernah, ya sudah.
kalau belum pernah, ya sudah.
.
.
.
gitu rasanya direndahkan,
gak dihitung responmu.
enak? 

Sunday, October 1, 2017

Arbi berpulang

dapat kabar
satu lagi teman berpulang
Arbi Valentinus..

soal waktu saja,
cepat atau lambat
semua berpulang juga.

selamat jalan, kawan.

barisan mantan kampus

barisan mantan kampus itu
mulai sibuk atur-atur.
siapa jadi pemimpinnya
di masa akan datang.

kalau caranya sama,
kalau membayangi dengan cara sama,
kalau mengatur dengan cara sama,
kalau gaya masih sama,
kalau prioritas masih sama,
lupakan saja.
jangan harap ada semangat baru.

berubahlah dengan serius,
juga bukan dengan cara mendendam.

bukan mudah memang,
butuh niat saja.

barisan mantan kampus itu
mulai sibuk atur-atur.