Friday, December 29, 2017

kamu kawan

tidak ada yang mudah 
memulai sebuah perubahan.
apalagi dengan tujuan kebaikan.

kata seorang teman yang sedang sakit itu,
penghargaan tertinggi bukan pada 
kamu yang menjadi pendorong perubahan,
tapi kepada mereka yang berani berubah,
untuk kebaikan.

soal kamu, yang dibaca sebagai batu sandungan,
padahal kamu bertujuan menjadikan jalan itu tak bergelombang,
maka biarkanlah. 
waktu yang akan bercerita nanti,
bahwa batu kamu adalah penumpu jalan berlubang menganga itu.
niatkan saja untuk kebaikan, perbaiki saja caramu.
begitu katamu lagi.

tiba-tiba aku harus memaksamu untuk segera sembuh.

[ ]



Tuesday, December 5, 2017

Egosinergi

Kemarin, duduk sejenak bersama beberapa teman, pekerja proyek. Mendiskusikan bagaimana isu unit pengelola hutan di Kaltim ini dapat menjadi optimal.  Jangan mikir negatif dengan kata “proyek”.  Saya sebut sebagai “proyek”, karena sesungguhnya kegiatan-kegiatan itu adalah proyek. Dilaksanakan karena melalui proses penawaran, atau pengajuan proposal. Jadi, kata “proyek” disini tak usahlah dikonotasikan negatif. Karena yang penting nanti bagaimana kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan. Kemana orientasinya, siapa penikmat hasilnya.

Proyek-proyek ini, sebut sajalah: Forclime, GGGI, Belantara, TNC (kemarin sih yang hadir ya empat ini, tambahan lainnya bisa saya sebutin aja: WWF dan proyek-proyek para NGO macam BUMI, BIOMA, KBCF, dan banyak lah) sesungguhnya mendukung hal yang sama. Menyasar tujuan yang sama, yaitu kemampuan unit pengelola hutan (dan lingkungan, dan sumberdaya alam) yang kuat.  
Sayangnya, target-target dari setiap proyek itu, berbeda durasi dan jumlah uang yang dapat digelontorkan (dan dikelola). Belum lagi interest di dalam masing-masing keproyekan. Ini perkara gampang-gampang susah.

Buat saya, pemain bebas ini, yang memungkinkan main dimana-mana ini, yang paling penting adalah sinergi mereka. Tidak sulit sebenernya. Karena toh semua kawan-kawan sendiri, tinggal say hello, semua bisa bertemu. Toh rata-rata saling paham tentang proyek mana punya program apa, dimana area kerjanya, siapa mitranya, berapa dana tersedia.  Simpel sih.

Lalu apa yang membuat seringnya proyek-proyek ini saling balap di tikungan? atau saling menelikung?
Menurut saya sih, ini perkara keengganan untuk duduk bersama dan saling mendengarkan saja.  Dengan dalih sibuk, kejar target, jadwal penuh, maka sarapan nasi kuning bersama, saling berbagi rencana, lalu bersinergi, menjadi barang langka.  Justru yang sering adalah masing-masing proyek makan pagi bersama, tim yang sama, bicara isu yang sama, dan bikin rencana-rencana yang sudah ada dalam perencanaan sebelumnya. Perilaku yang aneh :D

Kecurigaan saya lainnya, ini perkara ego saja. Dan yang bemain adalah ego pribadi saja. Soal sentimen-sentimen kecil yang membercak di hati masing-masing pekerja proyek itu. (tau lah aku, kalau yang beginian ditanya terbuka, gak bakalan diakui, lalu beralasan pakai ribuan bab, chapter, pasal dan pengingkaran, haha).

Situasi yang semacam gunung es ini, yang punya potensi laten ini, sesekali harus dipecahkan.  Cara tergampang sih habisi duitnya. Alias, tunggu durasi proyeknya habis, duit habis, lalu yakinlah, akan ada sinergi. Lha kan gak bisa bikin apa-apa. :D

Cara yang elegan (dan rasanya bener) adalah membuat semua proyek bisa saling berkomunikasi dalam sinergi. Kuncinya sih pada komunikasi. Iya, komunikasi.  Bagaimana agar semua proyek itu bisa sharing rencana, sharing resources, sharing pelaksanaan.
Tugas ini harusnya dilakukan oleh representasi pemerintah sih. Sebagai pemegang otorita atas program-program yang berjalan di wilayahnya. Pada isu lingkungan, sumberdaya alam dan perubahan iklim, di Kalimantan Timur ini, sepertinya fungsi itu dimandatkan pada satu unit kerja yang disebut dengan DDPI itu. Ya, kepanjangan singkatan itu  adalah Dewan Daerah Perubahan Iklim. Sebuah unit kerja non struktural di Kaltim yang diberi kewenangan koordinasi pada isu itu. Tidak untuk mengambil alih fungsi OPD yang ada, tetapi untuk melengkapi. Kira-kira begitu teorinya.

Fungsi unik dari DDPI dalam hal melakukan koordinasi kerja-kerja keproyekan pada isu tadi (lebih banyak pada isu perubahan iklim, tapi melebar juga pada isu pengelolaan kawasan dan peran masyarakat) harusnya bisa dilakukan dengan obyektif. Ini perkara gampang yang sulit :D.
Agak cilakanya, DDPI ini perlahan tidak lagi mendapat pembiayaan dari pemerintah.  Peraturan tidak memungkinkan. 
Artinya, ia harus membiayai dirinya sendiri, untuk kerja yang dilakukan atas nama pemerintah Kaltim. Tak masalah sih, toh pembiayaan dari beberapa donor masih memungkinkan.  Singkatnya, dari beberapa proyek yang ada, bisalah satu-dua memberikan support langsung pada unit ini.
Cilaka kedua, pertanyaan generik saja, apakah DDPI dapat berlaku obyektif bin adil dalam melakukan koordinasi semua proyek yang ada, sedangkan pada saat yang sama ia sedang menerima support dari satu proyek?

So, gimana sentimen proyek, ego pribadi dan potensi ketidakmampuan DDPI berlaku obyekif ini berpengaruh terhadap upaya pencapaian tujuan pengelolaan hutan (dan lingkungan, dan isu perubahan iklim, dan penguatan masyarakat)? Faktualnya apa yang terjadi? Lalu apa yang harus dilakukan bersama segera?

Saya sih bukan evaluator, dan tidak sedang melakukan evaluasi terhadap kerja-kerja proyek beraroma perubahan iklim di Kaltim.  Saya ini sedang menuliskan apa yang ada di kepala saja.  Kalau anda tidak setuju ya ndak apa-apa. Kalau anda setuju, ya juga ndak apa-apa. Gak ngaruh buat proses ketombean di kepala botak saya ini.

Kayaknya sih, ini perlu apa yang disebut sebagai EGOSINERGI. Yaitu sinergi berbasis ego. :D
Apa itu? Ntar lah, kalau ada waktu saya tuliskan lagi. Dikira enak apa nulis ginian? :D

(Lalu tetiba teringat email masuk semalam, minta menghasilkan output tentang ceruk peningkatan kapasitas pengelola hutan. Kontrak belum, deal apa-apa juga belum. Perilakunya mirip-mirip proyek sebelumnya sepertinya. Bagus ditinggalkan aja kayaknya :D. Lalu pusing bayar cicilan kebun yang sudah lama ndak ditengok. Halaaaaah!)

[ lepas subuh ]