Saturday, January 6, 2018

pe-ge

“Hei! kamu siapa? darimana? anak baru?”
begitu aku teriakkan teguran pada anak baru, beransel besar dan terlihat tak tau akan kemana itu, di pelataran depan gedung kampus Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, tahun 1991.
Sesaat anak itu menoleh dan menjawab bahwa ia mahasiswa baru Fahutan UNMUL, baru tiba di kampus, dan membawa ransel berisi semua pakaiannya, dan tak tau harus kemana. 
Yang aku ingat, tak ada pancaran takut di wajahnya. Sialan, gengsi seniorku segera memenuhi kepala. Sebagai mahasiswa senior, tak ditakuti oleh junior adalah sebuah penghinaan. Lalu aku segera mendekati sang mahasiswa tak tau hormat itu.

Kutanya asal-usulnya, kutanya apa rencananya, kutanya kemana akan menuju. Dijawabnya semua dengan kata “belum tau”. Sialan! Lalu kuperintahkan ia duduk di motorku, “ikut aku, kamu kuantar ke rumah kost”, kataku setengah menghardik. Ini sebenarnya strategi senior kampung macam aku untuk menanamkan rasa takut pada junior.  Kampretnya, anak itu malah tersenyum dan santai saja menuruti hardikan-ku, “makasih, bang” katanya sambil tersenyum.

Kubawa ia ke White House, sebuah rumah kost pria (kala itu), yang biasa aku tongkrongi, setiap hari.  Disitu pula tinggal para senior kampus Kehutanan, yang dikenal garang (sebuah image yang sepertinya sengaja dibangun, agar disegani. Padahal kalau sedang memetik gitar, para senior itu juga kerap menyanyikan lagu cinta yang meratap-ratap).
Kukenalkan anak baru itu pada beberapa senior seperti Marudut Purba yang tak perlu buka suara untuk menunjukkan garangnya. Senior satu itu, cukup diam saja, menyibak rambut panjangnya, dan memandang, dijamin mahasiswa junior akan kencing di celana.  Kukenalkan juga anak baru itu kepada senior seperti Longgena Ginting, yang keliatan kalem kalau bicara, tapi menyakitkan kalau bertanya. Kujamin anak baru itu akan menyembah-nyembah kalau dihardiknya.  Juga kukenalkan ia pada Yayan “Bayi” Henri Danisukmara, senior flamboyan yang tidak cuma mahasiswa junior wanita akan bertekuk lutut pada wajah playboy-nya, bahwa Ibuk Gado-gado Isabela saja kerap terpesona oleh bujuk rayunya. Modus untuk dapat utangan makan. Biasalah, mahasiswa rantau macam Bayi ini kalau sudah tanggal tua, sama saja kondisi dompetnya. Setipis Tempe Bu Oman. Begitu seloroh kami.
Sialnya lagi, si anak baru ini, saat kukenalkan pada senior-senior berpengaruh itu, selalu tersenyum dia. Dan tak ada pancaran takut di wajahnya. Memang anak baru kampret, begitu umpatku kala itu dalam hati.

Waktu berlalu cepat, lalu tiba-tiba saja aku sudah ada dalam lingkungan yang sama dengan si anak baru itu. Lingkungan pegiat sosial, lembaga swadaya masyarakat. Lalu interaksi menjadi lebih intens di lingkungan itu. Sampai pada akhirnya aku tau bahwa usia kami tak terpaut jauh. Anak baru itu cuma 1 tahun lebih muda. Dan akhirnya aku tau juga perjalanan hidupnya yang ia ceritakan sambil menghembuskan asap rokok yang tak pernah putus itu. Ya, akhirnya kami berkawan. Anak itu tak lagi jadi juniorku. Kami menjadi setara.

Anak itu lalu menunjukkan kualitas hatinya. Ia dikenal baik hati, dan tak pernah berselisih dalam dengan semua orang. Bahkan kudengar ia menjadi sosok yang melindungi, menjadi tempat berkeluh kesah teman-temannya. Mungkin juga karena ia lebih tua, hahaha. Tapi, di luar itu semua, interaksi kami membuktikan bahwa anak itu, memang punya kualitas hati yang premium. Baik hati, dan selalu membuat orang nyaman berada di sekitarnya.

Dua hari lalu, aku bicara lewat telepon dengan anak itu, yang sudah jadi senior di sebuah organisasi. Kami mengatur janji ketemu. “Aku di kantor sampai jam 12 siang. Jam 12 aku harus ke Balikpapan antar anakku ke bandara”, begitu katanya. Lalu kami sepakat bertemu jam 10 pagi di kantornya. 
Jam menunjukkan pukul 10 waktu aku membatalkan janji bertemu. Barisan tulisan di mac-ku memaksaku menunda bertemu dengannya. “Kita ketemu hari Jum’at saja ujarku”, anak itu setuju.

Kemarin, Jumat, 5 Januari 2018, kami memang bertemu. Bertemu dengan cara berbeda. Aku di barisan jamaah, anak itu di depan, menjadi umat yang dishalatkan.  Lalu aku antar anak itu kembali mendekati kampus. Bukan untuk kuliah, bukan untuk bernostalgia. Aku antar anak itu ke peristirahatannya yang terakhir, pemakaman, dekat kampus.
Bedanya, kali ini anak itu bukan bersamaku bermotor. Tapi diantar banyak kawan yang bersedih. Diantar kerabat yang berduka.

Selamat jalan, sobat. Kamu bukan lagi juniorku. Kamu sudah menjadi senior, bahkan untukku. Banyak hal yang harus aku pelajari dari semua interaksi kita. Rendah hati, itu yang paling kuat yang selalu kamu tunjukkan. Itu akan jadi pelajaran berarti buatku.

Selamat jalan, kawan. Ini hanya soal waktu. Aku pasti akan menyusulmu, karena kepindahan ini sudah digariskan. Tunggu aku disana, kita akan bicara soal CJ-7 dan jeep keren yang selalu kamu bilang.  Selamat jalan.

Kamu, kawanku, anak itu, bernama Pajar Gumelar.

Tuhan selalu memberi jalan terbaik bagi umat terbaik-Nya.

[sempaja lestari indah, 6 januari 2017, sehari setelah PeGe berpulang]

3 comments:

Alfan Subekti said...

Al Fatihah 4 untukmu Pajar Gumelar. Indahnya cara pulangmu.. Jumat mubarokk,

whiwien alhabsyi said...

Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad no. 6582 dan At-Tirmidzi no. 1074

henricalamus said...

Semoga engkau mendapatkan yang terbaik dari yang Maha Kuasa... wahai sahabat, dimudahkan jalanmu menuju sang Khalik... sebagaimana engkau selalu ingin berbuat baik bagi sesama...